Fikroh.com - Pada artikel sebelumnya telah dijelaskan mengenai hukum adzan dan keutamaannya. Pembahasan berikutnya adalah tentang syarat-syarat adzan dan kriteria yang hendaknya dimiliki seorang muadzin. Berikut ini adalah penjelasan selengkapnya.

Syarat-syarat Adzan

Syarat adzan ada dua, pertama masuk waktu shalat dan kedua niat. Berikut ulasannya.

1. masuk waktu sholat

Disyariatkanya adzan ketika masuk waktu shalat fardhu. Tidak sah adzan dilakukan sebelum masuknya waktu shalat (kecuali shalat fajr) dan disunnahkan ketika masuk waktu hendaknya mengumandangkan adzan pada awal waktu, untuk memberitahukan kepada kaum muslimin supaya mereka bersiap melaksanakan shalat. Dari Jabir bin Samrah berkata :

كَانَ بِلَالٌ يُؤَذِّنُ إِذَا زَالَتِ الشَّمْسُ لَا يَخْرِمُ[1]، ثُمَّ لَا يُقِيمُ حَتَّى يَخْرُجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ "، قَالَ: " فَإِذَا خَرَجَ أَقَامَ حِينَ يَرَاهُ2

“Bilal adzan apabila matahari telah tergelincir tidak dikuranginya lafadz itu, kemudian ia tidak iqamah sampai Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam keluar. Apabila beliau telah keluar, barulah Bilal iqamah, yaitu setelah melihat Rasulullah”.

Adapun shalat fajar, Imam Malik, Imam Syafi’i, al-Auza’i, Imam Ahmad, Ishaq, Abu Tsur, Abu Yusuf dan Ibnu Hazm berpendapat bahwa disyariatkan untuk mengumandangkan adzan shalat shubuh sebelum waktunya (sebelum munculnya fajar shadiq)[3]. Sesuai hadist Ibnu ‘Umar radhiallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ بِلاَلًا يُؤَذِّنُ بِلَيْلٍ، فَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يُنَادِيَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ»، ثُمَّ قَالَ: وَكَانَ رَجُلًا أَعْمَى، لاَ يُنَادِي حَتَّى يُقَالَ لَهُ: أَصْبَحْتَ أَصْبَحْتَ

“Sesungguhnya Bilal adzan pada waktu malam, makan dan minumlah kalian sampai Ibnu Ummu Maktum mengumandangkan adzan”. kemudian Ibnu Umar berkata, “Ibnu Ummu Maktum adalah seorang yang buta. Ia tidak mengumandangkan adzan sampai ada seseorang yang berkata kepadanya, engkau telah berada di waktu shubuh”[4].

Adanya adzan (pertama) adalah untuk membangunkan orang yang tidur agar bersiap-siap mengerjakan shalat dan memberitahukan kepada orang yang masih bangun supaya beristirahat untuk melaksanakan shalat shubuh dengan segar bugar, serta memberitahukan waktu sahur jika ada seseorang yang berkeinginan berpuasa. Seperti dalam hadist Ibnu Mas’ud, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

لاَ يَمْنَعَنَّ أَحَدَكُمْ أَذَانُ بِلاَلٍ مِنْ سَحُورِهِ، فَإِنَّهُ يُؤَذِّنُ بِلَيْلٍ لِيَرْجِعَ قَائِمَكُمْ، وَلِيُنَبِّهَ نَائِمَكُمْ

“Janganlah sekali-kali adzan Bilal menghalangi kalian dari sahurnya, karena sesungguhnya dia mengumandangkan adzan atau berseru pada malam hari, agar orang-orang yang melakukan qiyamul lail kembali beristirahat dan membangunkan orang-orang yang masih tidur diantara kalian”. [5]

Jumhur ulama mensunnahkan adzan yang kedua ketika memasuki waktu shalat dan mereka berpendapat boleh hanya mengumandangkan sekali adzan untuk shalat fajar. Pendapat yang shahih menurut Ibnu al-Mundzir dan Ibnu Hazm adalah harus mengumandangkan adzan yang kedua ketika masuk waktu shalat karena itu adalah pokok. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam:

إذا حضرت الصلاة فليؤذن لكم أحدكم

“Jika telah tiba waktu shalat, maka kumandangkanlah adzan salah seorang diantara kalian”.

Hadits ini bersifat umum, tidak ada pengecualian apapun darinya serta tidak juga bertentangan dengan hadist:

إِنَّ بِلَالًا يُؤَذِّنُ بِلَيْلٍ

“Sesungguhnya Bilal mengumandangkan adzan pada malam hari”.

Sebagaimana dijelaskan di awal adzan pada malam hari tersebut adalah bukan adzan untuk shalat subuh. Adapun ats-Tsauri dan imam Abu Hanifah berpendapat[1] bahwa tidaklah seorang muadzin adzan kecuali setelah munculnya fajar shadiq sebagai pengkiasan pada semua shalat fardhu. Diriwayatkan dari Syadad maula ‘iyadh bin ‘Amir bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata kepada Bilal,

لَا تُؤَذِّنْ حَتَّى يَسْتَبِينَ لَكَ الْفَجْرُ

“Janganlah engkau mengumandangkan adzan sampai tampak jelas bagimu fajar” [2]

tetapi hadist ini dhaif dan tidak shahih.

Hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Umar, bahwa Bilal mengumandangkan adzan sebelum munculnya fajar, kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menyuruhnya mengulangi dan adzanlah Bilal:

أَلَا إِنَّ الْعَبْدَ قَدْ نَامَ[3]

“Supaya manusia tidak bermalas-malasan”.

Hadist ini mempunyai cacat menurut para imam hadist sehingga tidak dapat digunakan sebagai hujjah.

Adapun qiyas para ulama berdasarkan nash yang ada tentang penetapan adzan sebelum fajar, yaitu Bilal melakukannya secara terus menerus dan Rasulullah mengakuinya dan tidak melarangnya. Jadi adzan sebelum fajar boleh bahkan disunnahkan. Adapaun hadist-hadist yang menunjukan hal tersebut (adzan sebelum fajar) namun ada kecacatan tidak bisa digunakan sebagai dalil karena tertolak dengan adanya hadist shahih. Wallahu a’laam.

2. Niat Adzan. 

Syarat sahnya adzan adalah niat, sebagaimana ibadah yang lain, karena sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam,

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

“Sesungguhnya segala perbuatan itu tergantung dengan niat”. [1]

Jika ada seseorang bertakbir dengan niat dzikir kepada Allah, kemudian setelah itu dia ingin adzan, maka dia harus memulai adzan dari awal (dari mulai takbir lagi) karena takbir yang awal tersebut diniatkan untuk dzikir bukan untuk adzan. Ini menurut Mazhab Malikiyah dan Hanabilah[2].

Mengumandangkannya dengan Bahasa Arab[3]. Disyaratkan mengumandangkan adzan dengan Bahasa Arab dan tidak sah mengumandangkannya dengan bahasa lain meskipun merupakan kalimat adzan (yang diterjemahkan). Ini merupakan pendapat Mazhab Hanafi dan Hanabilah, begitu juga Syafi’iyah, syafi’iyah berkata, “Jika tidak ada yang bisa mengumandangkan adzan dalam bahasa arab, maka cukuplah dengan bahasa selainnya.”

Tidak keliru dalam melafalkan azan yang merubah makna[4]. Seperti memanjangkan huruf hamzah ( أكبر ) atau huruf ba’nya ataupun lainnya yang bisa merubah makna. Seperti halnya menambah panjang dari kalimat yang memang harus dibaca panjang. Jika maknanya berubah, maka adzannya menjadi batal atau makruh menurut jumhur ulama, berbeda dengan pendapat Hanafiyah.

Tertib dalam mengucapkan kalimat-kalimatnya[5]. Diharuskan bagi seorang muadzin untuk mengumandangkan adzan dengan kalimat-kalimat adzan yang tertib urutannya sebagaimana yang telah dijelaskan dalam sunnah tanpa mendahulukan ataupun mengakhirkan kalimat yang satu dengam lainnya. Apabila seorang muadzin melakukan hal tersebut, maka hendaknya ia memulai kembali dari awal (menurut jumhur, selain mazhab Hanafiyah) karena seorang muadzin yang tidak tertib dalam mengumandangkannya sehingga merubah maksud. Adzan sudah ada aturannya sendiri dan tidak boleh dilanggar. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Siapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada dalam ajaran kami (islam) , maka amalan tersebut ditolak”. [6]

Mengumandangkannya dengan Bahasa Arab[3]. Berturut-turut antara satu lafal dengan lafal lainnya[7]. Maksudnya adalah, bersambung tanpa disela dengan ucapan atau perbuatan lain di luar adzan. Jika disela dengan perkara yang sepele, seperti hausnya seorang muadzin pada saat mengumandangkan adzan maka menurut jumhur, dia tidak harus mengulang dari awal. Namun jika disela dengan sesuatu yang lama misal disela dengan pembicaraan atau pingsan maka adzannya batal dan harus diualngi dari awal, adzan tersebut juga tidak boleh diteruskan orang lain kecuali orang lain tersebut memulai lagi dari awal.

Suara azan terdengar oleh orang-orang yang belum hadir[1]. Dengan suara tinggi ataupun dengan microfone agar maksud dari adzan tercapai (memberi tahu orang-orang tentang masuknya waktu shalat). Jika seorang muadzin mengumandangkan adzan hanya untuk dirinya, maka tidak disyaratkan meninggikan suara, kecuali sebatas didengar oleh dirinya ataupun didengar oleh orang yang berada bersamanya. Telah dijelaskan dalam hadist Ibnu Sa’id

فَارْفَعْ صَوْتَكَ بِالنِّدَاءِ، فَإِنَّهُ لا يَسْمَعُ مَدَى صَوْتِ الْمُؤَذِّنِ جِنٌّ وَلاَ إِنْسٌ إِلَّا شَهِدَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Tinggikanlah suaramu tatkala mengumandangkan adzan, sesungguhnya jin dan manusia tidaklah mendengar apapun dari suara muadzin, melainkan semuanya akan menjadi saksi untuknya pada hari kiamat”. [2]

Rasulullah berkata kepada Abdullah bin Zaid :

“Belajarlah kepada Bilal, karena sesungguhnya Bilal lebih indah dan lebih panjang suaranya daripada kamu”. [3]

Persyaratan ini menurut Syafi’iyah, Hanabilah dan salah satu pendapat dari Hanafiyah. Persyaratan ini sunnah menurut mazhab Malikiyah dan yang rajih adalah menurut mazhab Hanafiyah.

Apakah sah mengumandangkan adzan melalui radio atau kaset?

Mengumandangkan adzan dengan radio atau rekaman tidaklah sah, karena adzan adalah suatu ibadah dan sudah dijelaskan bahwa adzan lebih utama daripada posisi imam shalat. Sama halnya juga tidak sah seseorang yang mengikuti seorang imam dalam shalat rekaman, begitu juga adzan. Wallahu a’laam. [4]

Bolehkah berbicara ketika adzan dan iqamah?

Ulama berbeda pendapat dalam hal ini, ada beberapa pendapat[5] :

Pertama: Boleh berbicara pada waktu adzan secara mutlak, pendapat ini dikatakan oleh Hasan, ‘Atho’, Qotadah, Ahmad (namun Imam Ahmad melarang berbicara ketika iqamah), ini juga merupakan riwayat dari Sulaiman bin Shard, dan ‘Urwah ibnu Az-zubair. Dalil mereka sebagai berikut:

Bahwa ibnu ‘Abbas memerintahkan muadzin pada hari jum’at di saat hujan, sampai pada kalimat “hayya ‘alash-shalah”, beliau memerintahkan untuk mengucapakan “ash-shalah firrihal” kemudian orang-orang berkata, “Apa ini?”, Ibnu Abbas berkata “Hal ini telah dilakukan oleh orang yang lebih baik dariku”[1].

Dari Musa bin Abdullah bin Zaid, bahwa Sulaiman bin Shard (ketika itu ia mengumandangkan adzan di perkemahan militer), ia memerintahkan sesuatu kepada anaknya, padahal waktu itu ia sedang mengumandangkan adzan[2].

Kedua: Makruh berbicara di sela-sela adzan dan iqamah. Pendapat ini diungkapkan an-Nakha’i, Ibnu Sirrin, al-Auza’i, Malik, ats-Tsauri, Imam Syafi’I dan Imam Abu Hanifah.

Ketiga: Tidak selayaknya bagi muadzin berbicara disela-sela adzannya, kecuali perkataan tentang perkara shalat, seperti “shallu fi rihalikum”. Ini menurut pendapat Ishaq dan pilihan dari Ibnu Mundzir.

Keempat : Jika seorang muadzin berbicara pada saat iqamah, maka ia harus mengulanginya, ini pendapat az-Zuhri.

Sifat-sifat Seorang Muadzin

Seorang muadzin seharusnya memiliki sifat-sifat atau kriteria sebagai berikut:

1. Hendaknya ikhlas karena Allah. Jangan meminta upah atas adzan serta iqamahnya, karena pemberian upah atas suatu keta’atan tidak boleh. Rasulallah shallallahu 'alaihi wasallam berkata kepada ‘Utsman bin ‘Ash[3] :

واتخذا مؤذنا لا يأخذ على أذانه أجرا

“Jadilah seseorang muadzin, yang tidak meminta upah dari adzannya”.

Apabila tidak ada yang seperti itu, maka imam yang memberinya (sebagai upah) dariBaitul Mal yang telah didirikan untuk memenuhi kebutuhan umat islam.

2. Adil dan dapat dipercaya[4]. Karena “muadzin adalah orang yang dipercaya”, yaitu dipercaya atas waktu-waktu shalat dan dipercaya pendapatnya terbebas dari perkara yang jelek. Adzan orang yang fasik sah, namun makruh menurut jumhur. Pendapat syaikh Islam, orang yang menampakan kefasikan tidak boleh malakukan adzan, karena tidak sesuai dengan perintah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, hal ini menurut Mazhab Hanabilah[5].

3. Memiliki suara yang bagus[6]. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata kepada ‘Abdullah bin Zaid :

فَقُمْ مَعَ بِلالٍ فَأَلْقِ عَلَيْهِ مَا رَأَيْتَ ، فَلْيُؤَذِّنْ بِهِ ، فَإِنَّهُ أَنْدَى صَوْتًا مِنْكَ

“Berdirilah bersama Bilal, sampaikanlah kepadanya apa yang kamu dapatkan dalam mimpimu agar ia mengumandangkan adzan tersebut. Karena dia lebih lantang suaranya darimu”.

Disunnahkan bagi seorang muadzin untuk menggunakan peralatan sound syistem yang modern untuk memperindah suara dan penyampaiannya, namun makruh melagukan dan memperpanjangnya.

4. Mengetahui kapan masuknya waktu shalat. Seorang muadzin harus mengetahui awal waktu masuknya shalat. Boleh bagi seseorang yang tidak bisa mengetahui waktu sendiri (seperti buta) mengumandangkan adzan bersama orang yang memberi tahu waktu adzan. Seperti yang terjadi pada Ibnu Ummu Maktum (seorang buta). Ia tidak mengumandangkan adzan sampai ada seseorang yang berkata kepadanya, “Engkau telah berada diwaktu shubuh.”[]

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama