Fikih Adzan (Keutamaan, Hukum dan Dalil-Dalilnya)

Fikroh.com - Diantara syiar islam yang mulia adalah adzan. Selain termasuk ibadah, adzan adalah syiar agama yang indah. Berasal dari wahyu yang sempurna, adzan memiliki keistimewaan dan keutamaan tersendiri.

Keutamaan Adzan

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاَةِ أَدْبَرَ الشَّيْطَانُ، وَلَهُ ضُرَاطٌ، حَتَّى لاَ يَسْمَعَ التَّأْذِينَ، فَإِذَا قَضَى النِّدَاءَ أَقْبَلَ، حَتَّى إِذَا ثُوِّبَ بِالصَّلاَةِ أَدْبَرَ، حَتَّى إِذَا قَضَى التَّثْوِيبَ أَقْبَلَ، حَتَّى يَخْطِرَ بَيْنَ المَرْءِ وَنَفْسِهِ، يَقُولُ: اذْكُرْ كَذَا، اذْكُرْ كَذَا، لِمَا لَمْ يَكُنْ يَذْكُرُ حَتَّى يَظَلَّ الرَّجُلُ لاَ يَدْرِي كَمْ صَلَّى

“Ketika adzan dikumandangkan untuk melaksanakan shalat, maka larilah syetan ke belakang sambil kentut, sehingga ia tidak mendengar lagi suara adzan tersebut. Ketika adzan selesai dikumandangkan, ia pun datang lagi. Ketika dikumandangkan iqamah, maka ia berlari kebelakang dan bila iqamah telah dikumandangkan ia datang kembali dan ia membisik-bisikkan (menggoda) antara seseorang itu dengan hatinya sendiri sambil mengucapkan, “ingatlah ini dan ingatlah itu” yaitu sesuatu yang tidak diingatnya sebelum ia melakukan shalat, sampai-sampai seseorang itu tidak lagi mengetahui sudah berapa raka’atkah ia shalat”. (Hadits Riwayat: Al-Bukhari (608))

2. Diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri, beliau berkata kepada Ibnu Abu Sha’sha’ah,

إِنِّي أَرَاكَ تُحِبُّ الغَنَمَ وَالبَادِيَةَ، فَإِذَا كُنْتَ فِي غَنَمِكَ، أَوْ بَادِيَتِكَ، فَأَذَّنْتَ بِالصَّلاَةِ فَارْفَعْ صَوْتَكَ بِالنِّدَاءِ، فَإِنَّهُ: «لاَ يَسْمَعُ مَدَى صَوْتِ المُؤَذِّنِ، جِنٌّ وَلاَ إِنْسٌ وَلاَ شَيْءٌ، إِلَّا شَهِدَ لَهُ يَوْمَ القِيَامَةِ. قَالَ أَبُو سَعِيدٍ: سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Aku melihat engkau suka mengembala domba dan tinggal di padang pasir. Maka apabila engkau berada diantara kambing-kambing dan berada di padang pasir, kumandangkanlah adzan untuk melaksanakan shalat dengan suara yang keras, karena sesungguhnya para jin dan manusia tidak mendengar apapun dari suara muadzin, melainkan semuanya akan menjadi saksi untuknya pada hari kiamat nanti”. Abu Sa’id berkata, “aku mendengar ucapan tersebut dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam”. (Hadits Riwayat: Al-Bukhari (609))

3. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, bahwa rasulallah shalallahua alaihi wassalam bersabda:

لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الأَوَّلِ، ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لاَسْتَهَمُوا، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِي التَّهْجِيرِ لاَسْتَبَقُوا إِلَيْهِ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِي العَتَمَةِ وَالصُّبْحِ، لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا

“Seandainya manusia mengetahui rahasia yang terdapat pada adzan dan shaf awal, kemudian mereka tidak mendapatkan cara untuk meraihnya melainkan dengan cara mengundinya, niscaya mereka akan melakukannya. Andaikata mereka tahu rahasia yang terdapat dalam menyegerakan shalat, niscaya mereka akan berlomba-lomba dan andaikata mereka mengetahui rahasia yang ada pada shalat isya’ dan shubuh, niscaya mereka akan mendatangi keduanya walaupun terpaksa dengan merangkak”. (Hadits Riwayat: Al-Bukhari (615))

4. Diriwayatkan dari Mu’awiyah bin Abu Sufyan radhiallahu 'anhu berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

الْمُؤَذِّنُونَ أَطْوَلُ النَّاسِ أَعْنَاقًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Para muadzin adalah manusia yang paling panjang lehernya pada hari kiamat “. [Hadits Riwayat: Muslim (387)]

5. Diriwayatkan dari ‘Uqbah bin ‘Amir berkata, aku mendengar Rasulallah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

يَعْجَبُ رَبُّكُمْ مِنْ رَاعِي غَنَمٍ فِي رَأْسِ شَظِيَّةٍ بِجَبَلٍ، يُؤَذِّنُ بِالصَّلَاةِ، وَيُصَلِّي، فَيَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: انْظُرُوا إِلَى عَبْدِي هَذَا يُؤَذِّنُ، وَيُقِيمُ الصَّلَاةَ، يَخَافُ مِنِّي، قَدْ غَفَرْتُ لِعَبْدِي وَأَدْخَلْتُهُ الْجَنَّةَ

“Rabb kalian kagum terhadap penggembala kambing yang berada di atas bukit ia adzan untuk shalat, kemudian melaksanakan shalat. Kemudian Allah Azza wajalla berfirman, “Lihatlah (wahai para malaikat) kepada hambaku ini, ia beradzan dan beriqamah untuk shalat karena takut kepadaku. Maka benar-benar Aku telah mengampuni dosanya dan memasukkannya ke dalam surga”. [Hadits Riwayat: Abu Daud (1203)]

6. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, bahwa Rasulallah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

الْإِمَامُ ضَامِنٌ وَالْمُؤَذِّنُ مُؤْتَمَنٌ، اللَّهُمَّ أَرْشِدِ الْأَئِمَّةَ وَاغْفِرْ لِلْمُؤَذِّنِينَ

“Imam shalat adalah orang yang bertanggung jawab, sedangkan muadzin adalah orang yang dipercaya. Sehingga Allah memberi petunjuk kepada para imam dan memaafkan dosa para muadzin”. [Hadits Riwayat: Abu Daud (517)]

7. Adzan lebih utama daripada Imam Shalat, Berdasarkan hadist-hadist yang telah disebutkan sebelumnya dalam keutamaan adzan serta lafadz yang menyebutkan“Imam shalat adalah orang yang bertanggung jawab, sedangkan muadzin adalah orang yang dipercaya” amanah lebih tinggi daripada tanggung jawab dan ampunan lebih utama daripada petunjuk. Adapun Rasulullah dan khulafa’ur rasyidin tidak pernah menempati posisi adzan, karena posisi imam shalat pada waktu itu sudah ditentukan untuk mereka dan hal itu merupakan tugas dari khalifah. Tidak mungkin menggabungkan posisi sebagai imam dan muadzin karena sempitnya waktu mereka. Tugas-tugas mereka lebih penting, seperti pengaturan perkara umat muslim sehingga posisi imam shalat lebih utama daripada adzan karena kekhususan hal ihwal mereka pada saat itu. Namun bagi kebanyakan orang biasa, adzan lebih utama.

Pendapat ini menurut Mazhab Imam Syafi’I, dua riwayat yang paling shahih dari Ahmad dan atas pilihan kebanyakan mazhab hanbali dan Mazhab Malikiyah. Serta pilihan syaikh islam Ibnu taimiyah. [Al-Mughni (1/402)].

Kapan disyariatkannya adzan?

Adzan pertama kali disyari’atkan di kota madinah pada tahun pertama hijriyah (pendapat yang paling benar). Ada hadist-hadist shahih yang menjelaskan tentang permasalahan ini, diantaranya hadist Ibnu ‘Umar, beliau berkata, ketika kaum muslimin tiba di madinah pada tahun pertama hijriyah, mereka melaksanankan shalat tanpa adanya seruan untuk shalat. Umat muslim pada waktu itu berdiskusi tentang perihal tersebut, sebagian berkata, ambillah lonceng seperti loncengnya orang nashrani, kemudian yang lain berkata, ambillah terompet seperti terompetnya orang yahudi. Kemudian Umar berkata, mengapa kalian tidak mengutus seorang laki-laki menyerukan ajakan shalat? Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pun kemudian berkata,

يَا بِلاَلُ قُمْ فَنَادِ بِالصَّلاَةِ

“Wahai Bilal, berdirilah, kemudian serulah manusia untuk shalat”. [Hadits Riwayat: Al-Bukhari (604)]

Hukum Adzan

Umat islam sepakat disyari’atkannya adzan dan perbuatan ini telah berlangsung sejak masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sampai hari ini, tanpa adanya pertentangan. Kemudian ulama berbeda pendapat dalam permasalahan hukum adzan, apakah adzan wajib? Ataukah sunnah muakkad?

Pendapat yang shahih, yang tidak diragukan lagi hukumnya sebagaimana ibadah-ibadah lainnya, hukum adzan adalah fardhu kifayah. Maka tidak wajib bagi seluruh penduduk kota ataupun desa untuk adzan dan iqamah. Pengambilan dalil ini adalah sebagai berikut:

Adzan adalah salah satu syiar islam yang agung dan merupakan alat untuk menyebarkan agama. Adzan telah dikumandangkan sejak disyari’atkannya oleh Allah hingga wafatnya Rasulullah siang dan malam pada saat sulit ataupun ketika mudah. Belum pernah ada suatu hal yang membolehkan atau keringanan untuk meninggalkan adzan.

Rasulallah shallallahu 'alaihi wasallam menjadikan adzan sebagai identitas islam, sebagai dalil atas terjaganya islam dan masuk islamnya seseorang. Dari Anas, bahwa Rasulullah SAW bersabda

كَانَ إِذَا غَزَا بِنَا قَوْمًا، لَمْ يَكُنْ يَغْزُو بِنَا حَتَّى يُصْبِحَ وَيَنْظُرَ، فَإِنْ سَمِعَ أَذَانًا كَفَّ عَنْهُمْ، وَإِنْ لَمْ يَسْمَعْ أَذَانًا أَغَارَ عَلَيْهِمْ،

“Ketika nabi bersama kami untuk memerangi suatu kaum, beliau tidak melakukan perang tersebut hingga waktu pagi. Beliau pun menunggu, apabila beliau mendengar adzan maka beliau tidak memerangi mereka dan apabila beliau tidak mendengar adzan, maka beliau menyerang mereka”. [Hadits Riwayat: Al-Bukhari (610)]

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan untuk adzan. Dari Malik bin al-Hawayrats radhiallahu 'anhu, bahwa Rasulullah SAW berkata kepadanya dan kepada sahabat-sahabat beliau,

فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكُمْ، وَلْيَؤُمَّكُمْ أَكْبَرُكُمْ

“Apabila waktu shalat telah tiba, maka adzanlah salah seorang dari kalian, kemudian yang paling tua diantara kalian, hendaklah ia menjadi imam”. [Hadits Riwayat: Al-Bukhari (631)]

Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiallahu 'anhuma ia berkata:

أُمِرَ بِلاَلٌ أَنْ يَشْفَعَ الأَذَانَ، وَأَنْ يُوتِرَ الإِقَامَةَ

“Bilal diperintahkan untuk menggenapkan adzan dan mengganjilkan iqamah”. [Hadits Riwayat: Al-Bukhari (605)]

Diriwayatkan dari Abdullah bin Yazid yang bermimpi tentang adzan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

إِنَّهَا لَرُؤْيَا حَقٌّ إِنْ شَاءَ اللَّهُ ، ثم أمر بالتأذين

“Sesungguhnya mimpi itu benar, insya Allah. Kemudian Nabi memerintahkan untuk adzan”. [Hadits Riwayat: Abu Daud (499)]

Sabda Rasulullah kepada ‘Utsman bin Abi ‘Ash :

اتَّخِذْ مُؤَذِّنًا لَا يَأْخُذُ عَلَى أَذَانِهِ أَجْرًا

“Angkatlah seorang muadzin yang tidak mengambil upah atas adzannya”. (Hadits Riwayat: Abu Daud (531))

Dari Abu Darda’ berkata, saya mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

مَا مِنْ ثَلَاثَةٍ فِي قَرْيَةٍ وَلَا بَدْوٍ لَا تُقَامُ فِيهِمُ الصَّلَاةُ إِلَّا قَدِ اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ

"Tidaklah tiga orang di suatu desa atau lembah yang tidak didirikan (adzan) shalat berjamaah di lingkungan mereka, melainkan setan telah menguasai mereka.’’ [Hadits Riwayat: Abu Daud (547)]

Hadist tersebut menunjukkan atas wajibny adzan, karena meninggalkanya adalah satu bagian dari kemenangan setan yang wajib untuk dihindari.

Yang berpendapat wajibnya adzan diantaranya Imam Malik, Imam Ahmad, kalangan Syafi’iyah, ‘Atha’, Mujahid, al-Auza’i, Daud, Ibnu Hazm, Ibnu al-Mundzir dan Syaikh Islam Ibnu Taimiyah. [Al-Inshaf (1/408)].

Adapun menurut Imam Abu Hanifah dan Imam Syafi’I serta qoul Imam Malik, hukumnya adalah sunnah muakkad.

Penulis berkata, Tidak diragukan, bahwa pendapat yang pertama lebih rajih, sedangkan Hanafiyah -yang mengatakan bahwa hukumnya sunnah- menjelaskan bahwa kesunahannya seperti wajib adanya dosa (jika tidak dikerjakan) [Ibnul ‘Abidin (1/384)], maka perbedaannya diantara mereka hanyalah perbedaan secara lafadz. Wallahu a’laam.

Catatan tambahan:

Adzan bagi musafir, wajib bagi orang yang sedang bepergian untuk adzan jika mereka hendak melaksanakan shalat, seperti halnya orang yang bermukim. Karena keumuman dalil dan apa yang telah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, baik itu dalam perjalanan ataupun dalam keadaan bermukim. Nabi juga memerintahkan adzan kepada Malik bin al-Huwairits dan para sahabat-sahabat beliau tatkala mereka dalam perjalanan menuju kota mereka. Pendapat ini benar, akan tetapi ada perbedaan menurut Mazhab Hanabilah dan jumhur.

Adzan untuk shalat yang terlewatkan, wajib adzan untuk shalat lima waktu, baik itu shalat qadha maupun yang saat itu. Telah disinggung dalam hadist tidurnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan para sahabat beliau (dalam perjalanan mereka) dari shalat shubuh hingga munculnya matahari. Rasulullah pun memerintahkan bilal untuk adzan dan iqamah. Hadist tersebut menunjukkan keumumam seperti halnya umumnya sabda beliau kepada Malik bin al-Huwarits:

إذا حضرت الصلاة، فليؤّن لكم أحدكم

“Tatkala shalat telah tiba, maka adzanlah salah seorang dari kalian.”

Tetapi, jika dalam suatu negeri semua tertidur dari shalat sampai waktu shalat habis, kemudian ketika terbangun maka salah seorang dari mereka adzan dalam Negeri tersebut. Maka tidak wajib bagi mereka untuk mengqadha adzan yang terlewatkan, karena cukup dengan satu adzan dalam satu Negeri, gugurlah kewajiban adzan dari mereka. [Al-Syarhul Al-Mumti’ (2/41)].

Hukum Adzan dan Iqamah bagi wanita

Menurut jumhur ulama’ salaf dan khalaf, dari empat imam dan zhahiriyah, tidak wajib bagi wanita untuk adzan dan iqamah. Hadist dari asma’ secara marfu’,

ليس للنساء أذان ولا إقامة ولا جمعة

“Tidak wajib bagi wanita adzan, iqamah serta shalat jum’at.” [Hadits Riwayat: Al-Baihaqi (1/408). Dhaif]

Namun hadist ini dhaif dan tidak sah, dan juga tidak ada hadist yang memerintahkan wanita untuk adzan dan iqamah.

Menurut Jumhur selain Mazhab hanafiyah: Wanita tidak boleh adzan untuk laki-laki. Karena adzan untuk pemberitahuan dan disyari’atkan adzan dengan suara yang keras dan tidak disyari’atkan bagi wanita untuk mengeraskan suaranya. Tidak pernah ada pada zaman nabi, sahabat, ataupun pada zaman setelahnya adzan yang disyari’atkan untuk memberitahukan masuknya waktu shalat dilakukan oleh wanita.

Ulama berbeda pendapat dalam permasalan adzan dan iqamah wanita ketika mereka terpisah dari laki-laki. Ada yang mengatakan, adzan serta iqamahnya makruh, ada yang mengatakan, keduanya mubah, ada juga yang mengatakan, keduanya sunnah dan ada juga yang mengatakan, disunnahkan iqamah tanpa adzan.

Jika wanita terpisah dari laki-laki, maka mereka boleh adzan serta iqamah, bahkan itu merupakan hal yang baik. Adzan dan iqamah adalah mengingat Allah Subhanahu wata'ala dan tidak ada dalil yang melarang keduanya. Ibnu ‘Umar pernah ditanya oleh seseorang, “Apakah boleh adzan bagi wanita?” Ibnu ‘Umar marah dan berkata, “Apakah mengingat Allah itu dilarang?!” [Hadits Riwayat: Ibnu Abi Syibah (1/223)]

Dari Mu’tamar bin Sulaiman dari ayahnya berkata, “Kita bertanya kepada Anas, “Apakah boleh bagi wanita adzan dan iqamah?”. Anas menjawab, “Tidak, andaikan mereka melakukannya itu adalah sebuah dzikir untuk Allah”. [Hadits Riwayat: Ibnu Abi Syibah (1/223). Sanadnya Shahih].

Hal ini adalah pendapat Imam Syafi’i, sebuah riwayat dari Imam Ahmad dan pendapat Ibnu Hazm. Imam Syafi’I berkata, “Wanita tidak boleh mengeraskan suara, jika melakukan adzan hanya untuk dirinya saja dan didengarkan oleh sahabat-sahabat wanitanya, begitu juga jika ia beriqamah.

Adzan untuk shalat sendiri atau berjamaah dimasjid yang telah selesai shalat berjamaah:

Siapa yang shalat sendirian di suatu negri yang telah dilakukan adzan maka cukup dengan adzannya muadzin negri tersbut. Namun apabila ia adzan serta iqamah, maka itu lebih baik untuk memperoleh keutamaan adzan. Sesuai dengan hadist Abi Sa’id dan ‘Uqbah bin ‘Amir yang sudah dijelaskan sebelumnya pada bab (keutamaan-keutamaan adzan).

Begitupula jika seseorang telah tertinggal shalat jama’ah dan menghadiri masjid yang didalamnya para jama’ah telah menyelesaikan shalat berjama’ah, maka cukup dengan adzannya mereka (tidak perlu adzan lagi). Akan tetapi yang paling utama hendaknya ia adzan dan juga iqamah seperti yang pernah dilakukan oleh Anas bin Malik. Dari Abu ‘Utsman berkata, “Anas bin Malik mendatangi kami di Masjid Bani Tsa’labah, Anas berkata, “Kalian sudah selesai shalat?” (pada waktu itu shalat shubuh). Kami berkata, “Iya, sudah”. Kemudian Anas berkata kepada seorang laki-laki, “Adzanlah”, laki-laki itu pun kemudian adzan serta iqamah, kemudian Anas bin Malik shalat berjama’ah. [Hadits Riwayat: Ibnu Abi Syibah (1/221)]”.

Imam Syafi’i, Imam Ahmad, Imam Malik dan al-Auza’i berkata, ia hanya iqamah tidak adzan. Imam Abu Hanifah dan para pnegikutnya berkata, ia tidak adzan juga tidak iqamah. [Al-Umm (1/84)].

Hukum Adzan untuk shalat jama’

Jika dua shalat dijama’ dalam satu waktu, seperti menjama’ ashar dengan dzuhur pada waktu dzuhur di padang arafah dan seperti menjama’ maghrib dengan isya’ di muzdalifah, maka cukuplah dengan satu kali adzan dan melakukan iqamah setiap satu shalat. Seperti yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam (hadist akan disebutkan pada bab haji). Ini merupakan pendapat jumhur selain Malikiyah. Malikiyah berpendapat agar melakukan adzan untuk setiap kali shalat[3].

Shalat-shalat yang disyari’atkan untuk adzan :

Ahli ilmu sepakat bahwa adzan disyari’atkan hanya untuk shalat lima waktu yang diwajibkan. Selain itu tidak disyari’atkan, seperti shalat jenazah, witir, shalat dua ‘id dan sebagainya. Karena adzan untuk pemberitahuan masuknya waktu shalat dan shalat-shalat wajib dikhususkan dengan waktu-waktu tertentu sedangkan shalat sunnah mengikuti kepada shalat fardlu. Adapun shalat jenazah bukanlah shalat secara hakiki, karena tidak ada bacaan, ruku’ dan sujud di dalamnya.

Dari itu muncullah hadist dari Jabir bin Samrah beliau berkata, “ Saya shalat ‘id dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak sekali, maupun dua kali tanpa adzan dan tanpa iqamah." [Hadits Riwayat: Muslim (887)].

Bagaimana cara mengumumkan shalat yang tidak ada adzan?

Imam Syafi’I berpendapat, untuk memanggil orang-orang pada setiap shalat yang tanpa adzan cukup dengan ucapan “ash-shalatu jami’ah” . Imam Hambali pun sepakat dalam pelaksanaan shalat id, gerhana matahari, shalat minta hujan. Sedangkan mazhab Hanafi dan Maliki pada shalat gerhana matahari saja. [Ibnul ‘Abidin (1/565)].

Penulis berkata, yang rajih hendaknya seseorang menetapkan permasalahan ini mengikuti nash yaitu dengan ucapan “ash-shalatu jami’ah” disunnahkan melakukannya, kecuali jika belum disyari’atkan. Dalam hal ini akan dijelakan secara terpisah dalam babnya, insya Allah.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama