Dahsyat! Inilah Manfaat dan Buah Tafakur

Fikroh.com - Tafakur merupakan istilah dalam bahasa arab yang berarti memfikirkan sesuatu untuk tercapainya sebuah makna yang terkandung. Tafakur terhadap ayat Qur'an berarti merenugkan akan keajaiban-keajaiban isinya. Tafakur dengan alam berarti merenungi sesuatu untuk tercapainya sebuah pelajaran.

Bagi seorang muslim, tafakur memiliki manfaat yang besar untuk menopang kekuatan iman. Oleh karena itu pada kondisi tertentu kita sangat dianjurkan untuk melakukan tafakur. Baik terhadap tanda-tanda qauliyah maupun kauniyah.

Lalu apa hikmah yang bisa kita dapatkan dari perintah Alloh untuk bertafakur tentang ciptaan Alloh. Sebagimana yang tertuang dalam sebuah hadits berikut ini ;

تَفَكَّرُوا فِي خَلْقِ اللَّهِ ، وَلا تَفَكَّرُوا فِي اللَّهِ (رواه أبو نعيم عن ابن عباس)


"Berpikiriah kamu tentang ciptaan Allah, dan janganlah kamu berpikir tentang Dzat Allah.” (Diriwayatkan Abu Nu 'aim dan“ Ibnu Abbas)

A. PENILAIAN TERHADAP HADITS 

Hadits ini dihasankan oleh Syaikh. Nashiruddin AI-Albani dalam Shahihul jami’ish Shaghir (2976) dan Silsilatu Ahadits Ash-Shahihah (1788). 

B. KILAS PENJELASAN 

Salah satu ciri khas manusia yang membedakannya dari makhluk lain adalah ”berpikir…” Karenanya, ada sebagian ilmuwan yang mendefinisikan manusia dengan ungkapan, ”Manusia adalah binatang yang berpikir." Dengan berpikir manusia bisa meraih berbagai kemajuan, kemanfaatan, dan kebaikan. Dengan berpikir pula manusia bisa mengalami kesesatan dan kebinasaan, Oleh karena itu, dalam hadits ini Rasulullah saw. memerintahkan kita untuk melakukan tafakur yang akan mengantarkan kita kepada kemanfaatan, kebaikan, ketaatan, keimanan dan ketundukan kepada Allah Ta'ala, yaitu dengan tafakur mengenai makhluk ciptaan Allah. Sebaliknya, beliau. melarang kita berpikir tentang Dzat Allah karena kita tidak akan mampu menjangkaunya, juga bisa mengantarkan kita kepada kesesatan dan kebinasaan sebagaimana yang dialami para filosof dan kaum rasionalis yang memaksakan diri berpikir tentang Dzat Allah sehingga mereka terjerumus dalam kesesatan di bidang aqidah dan keyakinan. Wal 'iyadzu lillah. 

C. HIKMAH TARBAWIYAH 

1. Keutamaan Tafakur tentang Ciptaan Allah

Rasulullah saw. memerintahkan kita untuk melakukan tafakur tentang ciptaan Allah karena hal ini memiliki berbagai keutamaan yang besar di antaranya adalah: 

a. Allah memuji orang-orang yang senantiasa bertafakur dan berdzikir dalam setiap situasi dan kondisi

Allah Ta'ala berfirman, 

إِنَّ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱخْتِلَٰفِ ٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ لَءَايَٰتٍۢ لِّأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ ﴿ە۱۹﴾ ٱلَّذِينَ يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَٰمًۭا وَقُعُودًۭا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَٰطِلًۭا سُبْحَٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ' 

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit langit dan bumi, dan bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka mani-kirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): ’Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka, " (Ali Imran: 190-191)

Syaikh Sa'id Hawwa berkata, "Dari ayat ini kita memahami bahwa kesempurnaan akal tidak akan terwujud kecuali dengan perpaduan antara dzikir dan pikir pada diri manusia. Apabila kita mengetahui bahwa kesempurnaan akal berarti kesempurnaan seorang manusia, maka kita bisa memahami peran penting dzikir dan pikir dalam menyucikan jiwa manusia. Oleh karena itulah, para ahli suluk yang berupaya mendekatkan diri kepada Allah senantiasa memadukan antara dzikir dan pikir di awal perjalanannya menuju Allah. Sebagai contoh; di saat bertafakur tentang berbagai hal, mereka mengiringinya dengan tasbih, tahmid, takbir dan tath (AI-Almustakhlash Fi Tazkiyatinnafs: 93)

Dari sini, kita bisa memahami mengapa Allah menceritakan orang-orang yang melakukan tafakur dan ddzikir dengan maksud memberikan pujian dan takdlim kepada mereka. 

b. Tafakur termasuk amal yang terbaik dan bisa mengungguli ibadah

Diriwayatkan dalam atsar,

"Berfikir sesaat lebih utama daripada ibadah setahun." (HR. Ibnu Hibban)

Karena tafakur sesaat bisa jadi memberikan manfaat-manfaat yang tidak bisa dihasilkan suatu ibadah yang dilakukan selama setahun. Ketika ditanya mengenai amalannya yang paling utama Abu Darda' menjawab, 'tafakur' Karena dengan tafakur orang bisa memahami hakikat sesuatu, mengetahui yang haq dari yang batil, mengerti yang bermanfaat dari yang membahayakan. Begitu pula dengan tafakur, ia bisa melihat bahaya hawa nafsu yang tersembunyi, mengetahui tipu daya setan, dan menyadari bujuk rayu duniawi.” (Syarah Matnil Hikam libni Atha 'illah:/37) 

c. Tafakur bisa mengantarkan kita kepada kemuliaan dunia dan akhirat

Karena kemuliaan dunia dan akhirat hanya bisa dicapai dengan ilmu yang mengantarkan kapada ketepatan dalam bertindak dan berucap, serta melahirkan ketaatan dan keimanan kepada Allah. Karenanya, Ka'ab berkata, ”Barangsiapa menghendaki kemuliaan akhirat maka hendaknya ia memperbanyak tafakur.” Hatim berkata, ”Dengan merenungkan perumpamaan bertambahlah ilmu pengetahuan, dengan mengingat-ingat nikmat Allah bertambahlah kecintaan kepada-Nya, dan dengan bertafakur bertambahlah ketakwaan kepada-Nya." Imam Syafii berkata, ”Milikilah kepandaian berbicara dengan banyak diam dan milikilah kepandaian dalam mengambil keputusan dengan berpikir.” (Mau'idhatul Mu'minin/1010) 

d. Tafakur adalah pangkal segala kebaikan

Ibnul Qayyim berkata, Berpikir akan membuahkan pengetahuan. pengetahuan akan melahirkan perubahan keadaan yang terjadi pada hati, perubahan keadaan hati akan melahirkan kehendak, kehendak akan melahirkan amal perbuatan. Jadi. berpikir adalah asas dan kunci semua kebaikan. Hal ini bisa menunjukkan kepadamu keutamaan dan kemuliaan tafakur, dan bahwasanya tafakur termasuk amalan hati yang paling utama dan bermanfaat sampai-sampai dikatakan, "Tafakur sesaat lebih baik daripada ibadah setahun. Tafakur bisa mengubah dari kelalaian menuju kesadaran, dari hal-hal yang dibenci Allah menuju hal-hal yang dicintai-Nya, dari ambisi dan keserakahan menuju zuhud dan qana'ah, dari penjara dunia menuju luasnya akhirat, dari sempitnya kejahilan menuju bentangan ilmu pengetahuan, dari penyakit syahwat dan kecintaan kepada dunia menuju keselembuhan ruhani dan pendekatan diri kepada Allah, dari bencana buta, tuli dan bisu menuju nikmat penglihatan, pendengaran dan pemahaman tentang Allah, dan dari berbagai penyakit syubhat menuju keyakinan yang menyejukkan hati dan keimanan yang menentramkan batin.” (Miftah Daris Sa'adah / 226).

D. Buah dan Manfaat Tafakur tentang Ciptaan Allah

Ketika mentelaah dan mengaplikasikan ayat-ayat Al-Qur'an yang memerintahkan tafakur tentang tanda-tanda kekuasaan Allah yang ada di langit dan bumi, kita akan memetik banyak manfaat di balik semua itu. Di antaranya adalah

a. Dengan tafakur kita bisa mengetahui hikmah dan tujuan di balik penciptaan semua makhluk di langit dan bumi sehingga menambah keimanan dan rasa syukur kita kepada Allah Ta'ala:

Firman-Nya, : "Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia benarbenar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya." (Ar-Ruum: 8)

b. Kita bisa membedakan mana yang bermanfaat sehingga kita bersemangat untuk meraihnya dan mana yang membahayakan sehingga kita berusaha menghindarinya.

Firman-Nya, "Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: ”Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya." Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: 'Yang lebih dari keperluan. ” Demikianlah Allah menerangkan ayatayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir (Al-Baqarah: 219)

c. Kita bisa memiliki keyakinan yang kuat mengenai sesuatu dan menghindarkan diri dari sikap ikut-ikutan terhadap opini umum yang sedang berkembang, di mana seringkali opini yang berkembang ini cenderung menyesatkan seperti opini masyarakat kafir Quraisy tentang diri Muhammad saw. sebagaimana dalam Firman-Nya, "Katakanlah, ”Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu suatu hal saja, yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri; kemudian kamu fikirkan ( tentang Muhammad) tidak ada penyakit gila sedikit pun pada kawanmu itu.Dia tidak lain hanyalah pemberi peringatan bagi kamu sebelum (menghadapi) adzab yang keras. " (Saba': 46)

d. Kita bisa memperhatikan hak-hak diri kita untuk mendapatkan kebaikan sehingga tidak hanya berusaha memperbaiki orang lain dengan melupakan diri sendiri. Firman-Nya, ”Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al-Kitab (Taurat) Maka tidakkah kamu berpikir. " (Al-Baqarah: 44)

e. Kita bisa memahami bahwa akhirat itu lebih utama dari dunia sehingga kita berusaha menjadikan dunia sebagai sarana untuk membangun kebahagiaan akhirat. Firman-Nya,

"Tidakkah mereka bepergian di muka bumi lalu melihat bagaimana kesudahan arang-orang sebelum mereka (para pendusla rasul) dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memikirkannya." (Yusuf: 109)

”Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang disisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak memahaminya?” (Al-Qashash: 60)

f. Kita bisa menghindarkan diri dari kebinasaan yang pernah menimpa orang-orang sebelum kita. Firman-Nya,

”Maka apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi sehingga mereka dapat memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka; Allah telah menimpakan kebinasaan atas mereka dan orang-orang kafir akan menerima (akibat-akibat) seperti itu." (Muhammad: 10).

g. Kita bisa menghindarkan diri dari siksa neraka karena bisa memahami dan mengamalkan ajaran agama dan meninggalkan berbagai kemaksiatan dan dosa-dosa besar, terutama kesyirikan. Firman-Nya, "Dan mereka berkata, ”Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu ) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala. ” (Al-Mulk: 10)

”Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahami?" (Al-Anbiya': 67)

E. Hikmah-hikmah di balik larangan tafakur mengenai Dzat Allah

Dalam hadits ini Rasulullah saw. melarang tafakur tentang Dzat Allah, yang akan berusaha kami singkap hikmah-hikmah di balik larangan ini sebagai berikut:

a. Karena kita tidak akan sanggup menjangkau kadar keagungan-Nya Diriwayatkan bahwa ketika ada sekelompok orang yang memikirkan Dzat Allah, Nabi saw. bersabda kepada mereka, 'Berpikirlah tentang ciptaan (Sang Pencipta) dan jangan berpikir tentang Sang Pencipta, karena sesungguhnya kamu tidak akan mampu menjangkau kadar-Nya.” (Abu Syaikh)

Mengapa kita tidak akan mampu menjangkaunya? Kiranya ada beberapa sebab yang bisa kami kemukakan.

Karena Allah Maha Suci dari ikatan ruang dan waktu, serta ikatan yang membelenggu manusia. Di mana seseorang tidak dapat membayangkan suatu kejadian kecuali jika dikaitkan dengan unsur ruang dan waktu tertentu. Dia tidak dibatasi waktu karena Dia yang menciptakan waktu. Abdullah bin Mas'ud berkata, ”Bagi Tuhan kamu tidak ada malam, tidak pula siang. Cahaya seluruh langit dan bumi berasal dari cahaya wajah-Nya, dan Dia-lah cahaya langit dan bumi. Pada hari kiamat nanti, ketika Allah datang untuk memberikan keputusan bumi akan terang oleh cahaya-Nya." (Al-Fawaid: 182) 

Dia Allah yang. "Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy-Syura: 11) Seseorang tidak dapat membayangkan tentang sesuatu kecuali dikaitkan dengan pengalaman pengalamannya di masa lampau. Coba Anda membayangkan seekor hewan baru yang tidak seperti hewan-hewan yang sudah pernah anda lihat sebelumnya. Meskipun berusaha sekuat tenaga, anda tidak akan dapat menangkap gambaran tentang hewan itu kecuali dengan modal gambaran atau bayangan pengalaman tentang hewan yang telah anda ketahui sebelumnya. Sedangkan di alam semesta ini tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Allah untuk kita jadikan sebagai sandaran dalam bertafakur tentang Dzat Allah. Oleh karena itu, para ulama mengatakan, Apa yang terbetik dalam hatimu mengenai Dzat Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Tinggi, jauh dari apa yang kamu bayangkan itu." (At-Tafakur/ 66) 

Kalau pengetahuan manusia tentang kehidupan yang fana ini sangat terbatas dan tidak mampu menjangkaunya, maka bagaimana mungkin ia akan mampu menjangkau Dzat Allah yang, 'Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedangkan Dia dapat melihat segala penglihatan." (Al-An'am: 103). 

Karena dzat Allah merupakan sesuatu yang tidak dapat dilihat dan diketahui oleh selain-Nya. Di mana seorang mukmin hanya dapat mengetahui sebatas sifat-sifat yang digunakan oleh Allah untuk mengenalkan dzat-Nya kepada hamba-hamba yang dicintai-Nya. Ibnu Abbas berkata, ”Dzat Allah terhalang oleh tirai sifat-sifat-Nya, dan sifat-sifat-Nya terhalang oleh tirai karya-karya-Nya. Bagaimana mungkin kamu bisa membayangkan keindahan Dzat yang ditutupi dengan sifat-sifat kesempurnaan dan diselimuti oleh sifat-sifat keagungan dan kebesaran.” (Al-Fawaid: 182).

b. Karena kita akan terjerumus dalam kesesatan dan kebinasaan

Sebab, ketika melakukan tafakur tentang dzat Allah berarti kita telah menggunakan akal untuk memikirkan Dzat yang tidak terjangkau oleh hukum akal, sehingga hasil tafakur tersebut pasti akan menjerumuskan kita kepada salah satu dari dua kesesatan:

Memberlakukan hukum sang Khalik terhadap makhluk. Ini adalah sikap ghuluw yang telah dilakukan oleh aliranaliran sesat seperti kaum Rafidhah yang berlebih-lebihan dalam mengkultuskan figur tertentu sampai-sampai mereka memberikan kepadanya sifat-sifat ketuhanan seperti yang mereka lakukan terhadap Ali ra.

Atau memberlakukan hukum makhluk terhadap sang Khalik. Ini adalah sikap taqshir yang telah dilakukan oleh aliran-aliran sesat seperti musyabbihah yang telah menghinakan Allah dengan memberikan kepada-Nya sifat-sifat seperti sifat makhluk-Nya. Mereka mengatakan bahwa Allah memiliki wajah yang sama dengan wajah makhluk-Nya, memiliki kaki sama dengan kaki makhluk-Nya, memiliki mata sama dengan mata makhluk-Nya dan seterusnya. (Al-Milal wan Nihal/l8). Wallohu a'lam

Ust Fakhruddin Nursyam Lc.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama