Notification

×

Iklan

Iklan

Ketika KH Ahmad Dahlan Dijuluki “Kiai Kafir"

Jumat | April 03, 2026 WIB | 0 Views
Ketika KH Ahmad Dahlan Dijuluki “Kiai Kafir"

Fikroh.com - Pada awal abad ke-20, ketika umat Islam di Nusantara masih diliputi praktik bid’ah, khurafat, dan tahayul, seorang ulama sederhana dari Kauman Yogyakarta berani mengusung api pembaruan. Namanya KH Ahmad Dahlan. Namun, justru karena keberaniannya itu, beliau sempat dijuluki “Kiai Kafir” oleh sebagian kelompok tradisionalis yang belum memahami ruh gerakan tajdid (pembaruan) Islam. Tuduhan ini muncul tepat pada masa pendirian Muhammadiyah tahun 1912. Apa sebenarnya yang membuat beliau dicap kafir? Dan mengapa tuduhan itu akhirnya sirna, bahkan kini Muhammadiyah menjadi salah satu organisasi Islam terbesar di dunia?

Mari kita telusuri kisah ini secara lengkap, penuh hikmah, dan relevan untuk umat Islam hari ini.

Siapa KH Ahmad Dahlan?


KH Ahmad Dahlan, lahir dengan nama Muhammad Darwis pada 1 Agustus 1868 di Kauman, Yogyakarta, adalah putra seorang Khatib Masjid Agung Kesultanan Yogyakarta, KH Abu Bakar. Beliau berasal dari garis keturunan Walisongo dan tumbuh dalam lingkungan pesantren yang kental. Meski tidak pernah mengenyam pendidikan formal Belanda, beliau hafal Al-Qur’an sejak kecil dan mendalami berbagai ilmu agama dari ayahnya serta ulama-ulama besar.

Dua kali beliau menunaikan ibadah haji dan menetap di Mekkah (1883–1888 dan 1903–1905). Di sana, beliau berguru kepada tokoh-tokoh pembaharu seperti Syekh Ahmad Khatib, Kyai Mahfud Termas, serta mempelajari karya-karya Muhammad Abduh, Jamaluddin al-Afghani, dan Rasyid Ridha. Ilmu falak (astronomi), tauhid, fiqih, dan qira’at menjadi bekal utamanya. Pulang ke tanah air, beliau melihat umat Islam terbelakang: pendidikan tradisional yang kaku, ibadah yang tercampur adat, dan organisasi keagamaan yang masih sporadis.

Visi beliau sederhana namun revolusioner: kembalikan Islam kepada Al-Qur’an dan Sunnah yang murni, padukan ilmu agama dengan ilmu pengetahuan modern, dan wujudkan amal shaleh yang terorganisir.

Lahirnya Muhammadiyah dan Badai Tuduhan “Kiai Kafir”


Pada 18 November 1912 (8 Dzulhijjah 1330 H), di sebuah surau kecil di Kauman, KH Ahmad Dahlan mendirikan Persyarikatan Muhammadiyah. Awalnya hanya berupa madrasah kecil bernama Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah yang didirikan sejak awal 1912. Tujuannya jelas: “menyebarkan pengajaran Kanjeng Nabi Muhammad SAW kepada penduduk bumiputera dan memajukan hal agama Islam”.

Namun, langkah pembaruan beliau langsung menuai badai. Beberapa tuduhan keras yang dilontarkan:

1. Dituduh mendirikan agama baru yang menyalahi Islam.
2. Disebut Kiai Palsu karena “meniru orang Belanda yang Kristen”.
3. Dijuluki Kiai Kafir bahkan Kiai Kristen atau Ulama Busuk.

Beberapa surat ancaman terbuka dikirimkan kepadanya. Bahkan ada yang mengancam akan membunuhnya. Keluarga dan masyarakat sekitar sempat menentang. Mengapa? Karena tiga pembaruan utama yang dianggap “khariqul adat” (di luar kelaziman):

1. Pendidikan Modern Ala Belanda: Meja dan Kursi yang “Kafir”

Saat itu, sekolah tradisional (pesantren) masih menggunakan sistem lesehan di atas tikar. KH Ahmad Dahlan mendirikan sekolah dengan meja, kursi, papan tulis, dan kurikulum yang menggabungkan pelajaran agama (Al-Qur’an, Hadits, Fiqih) dengan ilmu umum (matematika, ilmu alam, sejarah, bahasa Belanda). Model ini mirip sekolah Belanda yang saat itu dianggap “sekuler” atau “Kristen”.

Bagi sebagian ulama kolot, ini dianggap meniru kafir. Padahal, tujuan beliau adalah mencetak ulama intelek sekaligus intelek ulama — generasi Muslim yang beriman kuat sekaligus cerdas menghadapi zaman modern. Hasilnya? Muhammadiyah kini memiliki ribuan sekolah, madrasah, dan universitas yang melahirkan pemimpin-pemimpin bangsa.

2. Penentuan Arah Kiblat dengan Ilmu Falak

Salah satu kontroversi terbesar adalah ketika KH Ahmad Dahlan menggunakan ilmu falak untuk meluruskan arah kiblat Masjid Gedhe Kauman dan masjid-masjid lain di Yogyakarta. Beliau menemukan bahwa kiblat masjid-masjid saat itu melenceng hingga 25 derajat dari arah Ka’bah.

Dengan perhitungan astronomi yang akurat (berdasarkan ilmu yang dipelajarinya di Mekkah), beliau memutar arah kiblat ke kanan. Bagi kelompok tradisionalis yang terbiasa mengikuti adat leluhur tanpa verifikasi, ini dianggap “mengubah ajaran Islam”. Padahal, Rasulullah SAW sendiri mengajarkan shalat menghadap Ka’bah secara tepat, dan ilmu falak adalah bagian dari ilmu syar’i yang dibolehkan.

3. Sistem Organisasi Modern yang Terstruktur

Muhammadiyah bukan sekadar pengajian biasa. Beliau menerapkan sistem organisasi modern: pengurus pusat, cabang, ranting, bagian wanita (Aisyiyah tahun 1917), bagian pemuda, serta program sosial seperti Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO) yang mendirikan rumah yatim, rumah miskin, dan rumah sakit. Bahkan beliau sendiri sering mengenakan jas ala Belanda (disebut Sinyo Londo) dipadukan sorban dan jarik Jawa — penampilan yang dianggap “aneh” dan “kafir”.

Semua ini dilihat sebagai “meniru Barat” atau “meninggalkan mazhab”. Padahal, organisasi ini justru menjadi alat dakwah yang efektif, sesuai semangat amar ma’ruf nahi munkar dan tajdid yang diajarkan Rasulullah SAW.

Mengapa Tuduhan Itu Muncul? Konteks Sejarah dan Hikmahnya


Tuduhan “Kiai Kafir” lahir dari ketidakpahaman terhadap gerakan tajdid. Umat saat itu masih terjebak taqlid buta dan takut terhadap segala yang berbau modern. KH Ahmad Dahlan sendiri pernah berkata bahwa pembaruan ini adalah upaya memurnikan tauhid dan membersihkan Islam dari campuran adat yang menyimpang.

Beliau menghadapi semua itu dengan sabar, tawakal, dan dakwah yang lembut. Tidak ada balas dendam. Beliau tetap berdakwah sambil berdagang batik untuk menghidupi keluarga. Perlahan, hasil nyata pembaruan terlihat: umat menjadi lebih cerdas, organisasi berkembang pesat hingga ke luar Jawa, dan Muhammadiyah turut serta membangun nasionalisme menuju kemerdekaan.

Pada 23 Februari 1923, beliau wafat dalam usia 55 tahun. Jenazahnya dimakamkan di Karangkajen, Yogyakarta. Tahun 1961, pemerintah RI menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional.

Warisan dan Pelajaran untuk Kita Hari Ini


Kini, Muhammadiyah telah berusia lebih dari 113 tahun. Dengan ribuan amal usaha di bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial, organisasi ini menjadi bukti bahwa pembaruan yang berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah membawa rahmat, bukan kerusakan.

Hikmah yang bisa kita petik:


  1. Tajdid bukan bid’ah. Pembaruan adalah kewajiban umat, sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Sesungguhnya Allah akan mengutus untuk umat ini pada setiap awal abad orang yang memperbarui agamanya” (HR. Abu Dawud).
  2. Ilmu dan teknologi bukan musuh agama. KH Ahmad Dahlan mengajarkan bahwa ilmu falak, organisasi modern, dan pendidikan sekolah justru memperkuat keimanan.
  3. Sabar menghadapi fitnah. Beliau tetap teguh meski dicap kafir. Itu pelajaran bagi setiap dai dan pembaharu hari ini.
  4. Pahami dulu sebelum menuduh. Banyak tuduhan lahir karena ketidaktahuan. Mari kita belajar dari sejarah ini agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Semoga Allah meridhai perjuangan KH Ahmad Dahlan dan para pembaharu. Semoga kita termasuk generasi yang melanjutkan semangat tajdid dengan ikhlas dan berilmu. Amin. Wallahu a’lam bish-shawab.

Referensi utama: Sejarah resmi Muhammadiyah, biografi KH Ahmad Dahlan, dan catatan sejarah pembaruan Islam di Indonesia.
×
Berita Terbaru Update