Notification

×

Iklan

Iklan

Asal Usul Nama Selat Hormuz dan Kisah Sejarah Pertempuran Besarnya Dalam Islam

Sabtu | Februari 28, 2026 WIB | 0 Views
Asal Usul Nama Selat Hormuz dan Kisah Sejarah Pertempuran Besarnya Dalam Islam

Fikroh.com - Sebagian besar sejarawan berpendapat bahwa nama “Hormuz” berasal dari sebuah pulau yang terletak di pintu masuk selat tersebut, yaitu Pulau Hormuz. Pulau ini berada sekitar dua kilometer dari pesisir Iran saat ini. Nama tersebut berkaitan erat dengan Kerajaan Hormuz, sebuah kerajaan maritim yang berkembang pesat pada abad ke-10 Masehi.

Kerajaan ini memiliki pengaruh perdagangan yang sangat luas, membentang dari wilayah Bahrain dan Al-Ahsa hingga Oman serta kawasan pesisir Teluk lainnya. Karena kekuatan dan dominasinya di jalur perdagangan laut, kerajaan ini bahkan dijuluki sebagai “Penguasa Lautan” (Sayyidat al-Bihar).

Dari sisi bahasa, kata “Hormuz” diyakini berasal dari bahasa Persia kuno. Istilah ini berakar dari nama dewa dalam ajaran Zoroaster, yaitu “Ahura Mazda,” yang berarti “Tuhan Yang Maha Bijaksana.” Selain itu, dalam tradisi Persia, nama “Hormuz” juga digunakan untuk menyebut planet Jupiter. Banyak raja Persia di masa lampau yang menggunakan nama ini, sehingga menjadikannya sangat populer dalam budaya kawasan tersebut. Bahkan dalam tradisi Arab klasik, istilah “Hormuz” pernah digunakan untuk menyebut para raja besar bangsa Persia.

Duel Bersejarah: Hormuz vs Khalid bin Walid 


Salah satu kisah paling dramatis yang melibatkan nama Hormuz terjadi pada masa awal penaklukan Islam di wilayah Irak. Pada tahun 12 Hijriah (633 M), pasukan kaum Muslimin bertemu dengan tentara Persia dalam sebuah pertempuran besar yang dikenal sebagai Perang Dzat as-Salasil, yang terjadi di wilayah Kazhimah, dekat Kuwait.

Sesuai tradisi peperangan pada masa itu, pertempuran diawali dengan duel antara para panglima. Dari pihak Muslimin, maju seorang komandan besar, Khalid bin Walid radhiyallahu ‘anhu, yang dikenal sebagai “Saifullah al-Maslul” (Pedang Allah yang Terhunus). Dari pihak Persia, tampil panglima mereka, Hormuz.

Kedua pemimpin itu saling mendekat hingga posisi mereka lebih dekat ke barisan Persia daripada pasukan Muslimin. Hormuz kemudian turun dari kudanya dan menantang Khalid untuk bertarung di darat sebagai bentuk keberanian sejati. Khalid menerima tantangan tersebut dan ikut turun dari kudanya. Keduanya lalu menyerahkan kuda mereka kembali ke pasukan masing-masing.

Dua pasukan besar itu pun terdiam dalam ketegangan. Sebuah duel langka akan terjadi: panglima tertinggi dari masing-masing pihak bertarung satu lawan satu di medan terbuka. Pertarungan dengan berjalan kaki ini membuat peluang keselamatan semakin kecil, dan hampir pasti salah satu akan gugur.

Namun, di balik tantangan itu, Hormuz telah merancang tipu daya. Ia telah menyiapkan lima prajurit terbaiknya untuk menyerang Khalid secara tiba-tiba di tengah duel. Begitu pertempuran dimulai dan pedang mulai beradu, Hormuz memberi isyarat. Lima prajurit itu segera bergerak cepat untuk mengeroyok Khalid secara licik.

Dalam situasi genting tersebut, Khalid menyadari bahaya besar yang mengancamnya. Jaraknya dari pasukan Muslimin cukup jauh, dan bantuan tampaknya sulit tiba tepat waktu. Namun, pertolongan datang dari arah yang tidak terduga.

Seorang sahabat pemberani, Al-Qa’qa’ bin ‘Amr at-Tamimi, melihat gerakan mencurigakan para prajurit Persia. Ia segera memahami bahwa itu adalah upaya pengkhianatan. Tanpa ragu, ia melesat cepat menuju lokasi duel seperti anak panah.

Al-Qa’qa’ tiba tepat pada saat kritis. Ia berhasil menewaskan prajurit pertama, lalu dengan cepat mengalahkan prajurit kedua. Dalam waktu singkat, beberapa pasukan Muslimin lainnya juga tiba, sehingga medan duel berubah menjadi serangkaian pertarungan kecil antara para prajurit.

Sementara itu, Khalid bin Walid kembali fokus menghadapi Hormuz. Dengan keahlian tempur yang luar biasa, ia menguasai jalannya duel. Tidak lama kemudian, Khalid berdiri tegak, sementara pedangnya berlumuran darah—menandakan berakhirnya hidup panglima Persia tersebut.

Kematian Hormuz memberikan pukulan telak bagi pasukan Persia. Mereka yang sebelumnya memandang rendah bangsa Arab kini diliputi keterkejutan dan kepanikan. Melihat momentum tersebut, Khalid bin Walid tidak memberi kesempatan kepada musuh untuk bangkit. Ia segera memerintahkan serangan umum.

Akibat kehilangan pemimpin dan kacau-balau formasi, pasukan Persia tidak mampu bertahan lama. Barisan mereka tercerai-berai, dan pasukan Muslimin berhasil menembus pertahanan mereka hingga akhirnya memenangkan pertempuran.

Peristiwa ini menjadi salah satu kemenangan penting dalam sejarah awal Islam, sekaligus memperlihatkan kepemimpinan dan kejeniusan militer Khalid bin Walid sebagai salah satu panglima terbesar dalam sejarah peperangan.
×
Berita Terbaru Update