Notification

×

Iklan

Iklan

Ucapan-Ucapan Ketika Ada Kematian, Antara yang Boleh Dan Terlarang

Kamis | September 11, 2025 WIB | 0 Views
Ucapan-Ucapan Ketika Ada Kematian

Fikroh.com - Ketika mendengar kabar kematian, Islam telah memberikan tuntunan ucapan-ucapan yang sesuai dengan syariat. Ucapan ini bukan hanya bentuk doa, tetapi juga pengingat iman agar tetap sabar, tawakal, dan ridha terhadap ketentuan Allah ﷻ. Artikel ini membahas secara lengkap ucapan-ucapan ketika ada kematian, disertai dalil-dalil shahih.

Pembaca Budiman, Kematian adalah takdir yang pasti akan dialami setiap manusia. Allah ﷻ menegaskan dalam Al-Qur’an:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.” (QS. Ali ‘Imran: 185)

Diantara ajaran Islam saat mendengar adanya kematian adalah memberikan ucapan-ucapan yang baik dan berisi doa kebaikan baik untuk si mayit maupun bagi yang masih hidup. Berikut ini beberapa bacaan dan ucapan saat mendengar kematian.
 
1. Mengucapkan Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raji’un

Ucapan pertama yang disyariatkan ketika mendengar kabar duka adalah membaca:

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ. اللَّهُمَّ أَجِرْنِي فِي مُصِيبَتِي، وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا

Artinya: “Sesungguhnya kami milik Allah, dan sesungguhnya kepada-Nya lah kami kembali. Ya Allah, berilah aku pahala dalam musibahku ini dan gantikan untukku dengan sesuatu yang lebih baik darinya.” (QS. Al-Baqarah: 156)

Ayat ini turun dalam konteks orang beriman yang ditimpa musibah. Allah ﷻ menjanjikan rahmat dan hidayah bagi mereka yang bersabar:

أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

“Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 157)

Ucapan ini mengingatkan bahwa setiap jiwa adalah milik Allah ﷻ, dan kematian bukan akhir, melainkan perjalanan kembali kepada-Nya.
 
2. Doa untuk Jenazah Muslim

Selain ucapan istirja’, umat Islam dianjurkan mendoakan jenazah agar mendapatkan ampunan dan rahmat. Nabi ﷺ mengajarkan doa:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ، وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ

“Ya Allah, ampunilah dia, rahmatilah dia, selamatkanlah dia, dan maafkanlah dia.” (HR. Muslim, no. 963)

Doa ini menunjukkan bentuk kasih sayang sesama muslim, karena setiap orang sangat membutuhkan doa ketika telah wafat.

3. Redaksi Ucapan dan Doa lainnya 

أَحْسَنَ اللَّهُ عَزَاءَكَ، وَجَبَرَ مُصَابَكَ، وَغَفَرَ لِمَيِّتِكَ، وَرَحِمَهُ، وَخَلَفَهُ فِي عَقِبِهِ بِخَيْرٍ

Artinya: “Semoga Allah memberikan ketabahan kepadamu, memperbaiki (keadaan) musibahmu, mengampuni mayitmu, merahmatinya, dan menjadikan penggantinya pada keturunannya dengan kebaikan.”

3. Ucapan Takziyah kepada Keluarga yang Ditimpa Musibah

Takziyah berarti menghibur keluarga yang ditinggalkan dengan ucapan baik agar mereka bersabar. Nabi ﷺ memberikan contoh ucapan:

إِنَّ لِلَّهِ مَا أَخَذَ وَلَهُ مَا أَعْطَى، وَكُلٌّ عِنْدَهُ بِأَجَلٍ مُسَمًّى، فَلْتَصْبِرْ وَلْتَحْتَسِبْ

“Sesungguhnya milik Allah apa yang Dia ambil, milik Allah pula apa yang Dia berikan, dan segala sesuatu di sisi-Nya ada ajal yang telah ditetapkan. Maka hendaklah engkau bersabar dan mengharap pahala dari Allah.” (HR. Bukhari no. 1284, Muslim no. 923)

Ucapan ini menegaskan bahwa musibah kematian adalah bagian dari takdir, dan jalan terbaik bagi keluarga adalah bersabar sambil mengharap ganjaran.
 
4. Doa untuk Diri Sendiri dan Kaum Muslimin

Ketika mendengar kabar kematian, kita juga dianjurkan untuk mendoakan diri sendiri dan kaum muslimin secara umum, sebagaimana doa:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلَهُ

“Ya Allah, ampunilah kami dan dia.” (HR. Abu Dawud, no. 3201; dinilai shahih oleh Al-Albani)

Doa ini menunjukkan kesadaran bahwa musibah kematian adalah peringatan bagi yang hidup agar senantiasa memohon ampunan.
 
5. Ucapan untuk Anak Kecil yang Wafat

Apabila yang meninggal adalah anak kecil, maka doa khusus dianjurkan, karena anak-anak yang wafat akan menjadi penolong bagi kedua orang tuanya di akhirat. Nabi ﷺ bersabda:

اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ فَرَطًا وَذُخْرًا لِوَالِدَيْهِ، وَشَفِيعًا مُجَابًا، اللَّهُمَّ ثَقِّلْ بِهِ مَوَازِينَهُمَا، وَأَعْظِمْ بِهِ أُجُورَهُمَا، وَأَلْحِقْهُ بِصَالِحِ الْمُؤْمِنِينَ، وَاجْعَلْهُ فِي كَفَالَةِ إِبْرَاهِيمَ، وَقِهِ بِرَحْمَتِكَ عَذَابَ الْجَحِيمِ

“Ya Allah, jadikanlah ia sebagai pendahulu dan simpanan bagi kedua orang tuanya, serta syafaat yang diterima. Ya Allah, beratkan timbangan amal keduanya dengan (keberkahan) anak ini, besarkanlah pahala keduanya dengannya, gabungkanlah ia dengan orang-orang shalih, jadikanlah ia dalam tanggungan Ibrahim, dan lindungilah ia dengan rahmat-Mu dari siksa neraka.” (HR. Ibnu Majah no. 1603, dinilai hasan oleh Al-Albani)
 
6. Menjauhi Ucapan Terlarang

Islam melarang ucapan yang menunjukkan penolakan terhadap takdir, seperti meratap dengan kata-kata putus asa, mencaci kematian, atau menyalahkan Allah ﷻ. Nabi ﷺ bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَطَمَ الْخُدُودَ، وَشَقَّ الْجُيُوبَ، وَدَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ

“Bukan termasuk golongan kami orang yang menampar pipi, merobek baju, dan menyeru dengan seruan jahiliyah.” (HR. Bukhari no. 1294, Muslim no. 103)

Dengan demikian, seorang muslim hendaknya menjaga lisannya agar tetap dalam ucapan yang diridhai Allah ﷻ.
 
7. Hikmah Ucapan dalam Musibah Kematian

Ucapan-ucapan yang disyariatkan memiliki hikmah yang mendalam:
 
  • Meneguhkan iman bahwa kematian adalah ketentuan Allah.
  • Menghibur keluarga agar tidak larut dalam kesedihan.
  • Mengajarkan kesabaran sebagai jalan meraih pahala besar.
  • Mengokohkan ukhuwah dengan saling mendoakan.
  • Menghindarkan diri dari ucapan keluh kesah yang dilarang.

Kesimpulan


Ucapan-ucapan ketika ada kematian dalam Islam bukan sekadar formalitas, melainkan bentuk ibadah lisan yang mendatangkan pahala, menumbuhkan kesabaran, dan memperkuat keyakinan akan takdir Allah ﷻ.

Ucapan istirja’, doa untuk jenazah, doa takziyah, serta doa bagi keluarga yang ditinggalkan semuanya memiliki dasar dalil yang shahih. Sebaliknya, ucapan yang bernuansa ratapan, protes, atau meratapi takdir adalah terlarang.

Dengan memahami tuntunan syariat ini, umat Islam dapat menjaga lisannya dalam menghadapi musibah, sekaligus menjadi penghibur bagi sesama yang sedang berduka.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الْأُولَى

“Sesungguhnya kesabaran itu adalah pada saat pertama kali mendapat musibah.” (HR. Bukhari no. 1283, Muslim no. 926)
×
Berita Terbaru Update