Notification

×

Iklan

Iklan

Masuk 10 Hari Terakhir Ramadhan, Ini 4 Amalan yang Sangat Dianjurkan

Senin | Maret 09, 2026 WIB | 0 Views

Fikroh.com - Sepuluh malam terakhir bulan Ramadan adalah malam-malam yang paling besar pahalanya dan paling agung keutamaannya. Pada malam-malam ini terdapat limpahan karunia yang sangat besar serta pahala yang berlimpah dan mulia. Keutamaannya saling berpadu: keutamaan ibadah dan keutamaan waktu. Pada malam-malam ini terdapat hembusan rahmat dan keberkahan, penghapusan kesalahan, pengabulan doa, serta pembebasan dari dosa-dosa yang membinasakan. Di dalamnya berkumpul antara waktu yang mulia dan keadaan yang penuh kemuliaan.

Sepuluh malam ini bagaikan mahkota di atas kepala waktu. Ia penuh dengan keberkahan dan memiliki saat-saat yang sangat berharga. Pada malam-malam inilah terjadi awal mula kebangkitan Islam dan terbitnya cahaya pertama dari sinarnya yang terang. Pada saat itu pula terjadi keterhubungan antara bumi dan langit dengan turunnya ayat-ayat pertama Al-Qur’an:

{اقرأ باسم ربك الذي خلق}

Ayat-ayat tersebut diturunkan pada bulan Ramadan, tepatnya pada sepuluh malam terakhirnya, yaitu pada malam Lailatul Qadar, sebagaimana firman Allah:

{إنا أنزلناه في ليلة القدر}

Apabila bulan Ramadan adalah bulan yang terbaik dan paling utama, maka sepuluh malam terakhirnya adalah bagian yang paling utama dari Ramadan. Karena itu, sepuluh malam terakhir merupakan keutamaan di atas keutamaan dan kebaikan di atas kebaikan. Sementara Lailatul Qadar adalah malam yang paling utama di antara sepuluh malam tersebut. Demi Allah, tidaklah berlebihan seseorang bersungguh-sungguh mencarinya sepanjang sepuluh malam, satu bulan, bahkan sepanjang hidupnya.

Para ulama melalui penelitian terhadap berbagai dalil menyimpulkan bahwa waktu-waktu yang utama dan masa-masa yang diberkahi biasanya bagian akhirnya lebih baik daripada bagian awalnya, seperti hari Jumat yang paling utama adalah menjelang akhirnya, malam yang paling utama adalah sepertiga akhirnya, dan bulan Ramadan yang paling utama adalah sepuluh malam terakhirnya.

Hamba yang beruntung adalah orang yang menyadari bahwa akhir yang baik dapat menutupi kekurangan pada permulaan. Siapa tahu, keberkahan amal ibadahmu di bulan Ramadan justru tersembunyi pada bagian akhirnya. Sebab, sesungguhnya segala amal bergantung pada penutupnya.

Ukuran kemuliaan bukanlah panjangnya usia, melainkan baiknya amal perbuatan. Satu momen bersama Rasulullah ﷺ yang dialami para sahabat tidak dapat disamai dengan ibadah sepanjang masa. Shalat di Masjidil Haram setara dengan seratus ribu shalat di tempat lain. Dan Lailatul Qadar lebih baik daripada seribu bulan.

Keistimewaan Sepuluh Malam Terakhir dan Keadaan Nabi di Dalamnya


Allah Ta’ala telah memberikan keistimewaan khusus kepada sepuluh malam terakhir Ramadan dengan berbagai keutamaan yang tidak terdapat pada waktu lainnya. Pada malam-malam ini terdapat karunia yang tidak bisa diperoleh di selainnya. Rasulullah ﷺ pun mengkhususkannya dengan berbagai amal ibadah yang agung. Di antaranya adalah sebagai berikut.

1. Bersungguh-sungguh dalam beribadah


Rasulullah ﷺ lebih bersungguh-sungguh dalam beribadah pada sepuluh malam terakhir dibandingkan pada waktu lainnya. Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:

قالت عائشة رضي الله عنها: (كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يجتهد في العشر الأواخر ما لا يجتهد في غيره) رواه مسلم.

“Rasulullah ﷺ bersungguh-sungguh pada sepuluh malam terakhir dengan kesungguhan yang tidak beliau lakukan pada waktu lainnya.” (HR. Muslim)

Beliau juga menghidupkan seluruh malam dengan berbagai bentuk ibadah seperti shalat, dzikir, dan membaca Al-Qur’an. Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:

(كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا دخل العشر أحيا الليل ، وأيقظ أهله ، وجَدَّ وشدَّ المئزر) رواه مسلم.

“Apabila telah masuk sepuluh malam terakhir, Rasulullah ﷺ menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, bersungguh-sungguh, dan mengencangkan ikat pinggangnya.” (HR. Muslim)

Beliau membangunkan keluarganya pada malam-malam tersebut untuk shalat dan berdzikir, agar mereka juga dapat memanfaatkan malam-malam yang penuh kemuliaan itu dengan ibadah yang layak dilakukan di dalamnya.

Ibnu Rajab berkata: “Apabila telah tersisa sepuluh hari terakhir Ramadan, Nabi ﷺ tidak membiarkan seorang pun dari keluarganya yang mampu bangun malam kecuali beliau membangunkannya.”

Makna “mengencangkan ikat pinggang” adalah kiasan dari meninggalkan hubungan suami istri serta menjauhi wanita demi fokus pada kesungguhan dalam ibadah.

2. I’tikaf


Dalam kitab Shahih Bukhari dan Muslim, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha disebutkan:

(أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يعتكف في العشر الأواخر من رمضان حتى توفاه الله، ثم اعتكف أزواجه من بعده).

“Nabi ﷺ selalu beri’tikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadan hingga Allah mewafatkan beliau. Setelah itu, istri-istri beliau melanjutkan i’tikaf tersebut.” (Muttafaq ‘alaih)

Rasulullah ﷺ terus menjaga amalan i’tikaf ini hingga akhir hayatnya.

Secara bahasa, i’tikaf berarti menetap pada sesuatu dan menahan diri untuk tetap berada di dalamnya. Adapun secara syariat, i’tikaf berarti berdiam diri di dalam masjid oleh orang tertentu dengan tata cara tertentu.

Hakikat i’tikaf adalah berpaling dari kesibukan dunia, memusatkan diri pada ibadah, serta membersihkan jiwa dari berbagai kesibukan selain ketaatan dan pendekatan diri kepada Allah. Oleh karena itu, seorang yang beri’tikaf tidak seharusnya menyibukkan diri dengan hal-hal yang menghalanginya dari tujuan tersebut.

Masjid tempat i’tikaf tidak seharusnya dijadikan tempat kunjungan bagi orang-orang yang justru mengganggu kekhusyukan dan kesendiriannya. Jika seseorang telah meninggalkan kesibukan dunia untuk mendekat kepada Allah, maka tidak pantas baginya membawa kembali urusan dunia ke dalam tempat i’tikafnya.

Di antara hal yang dianjurkan bagi orang yang beri’tikaf adalah mengurangi makan dan minum, agar tidak menjadi berat untuk beribadah dan taat kepada Allah.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

نهى النبي صلى الله عليه وسلم عن الوصال في الصوم فقال له رجل من المسلمين: إنك تواصل يا رسول الله. قال: "وأيكم مثلي! إني أبيت عند ربي يطعمني ويسقيني". (متفق عليه)

“Nabi ﷺ melarang puasa wishal (menyambung puasa tanpa berbuka). Lalu seorang sahabat berkata, ‘Tetapi engkau melakukannya wahai Rasulullah.’ Beliau menjawab:

"وأيكم مثلي! إني أبيت عند ربي يطعمني ويسقيني"

‘Siapa di antara kalian yang seperti aku? Aku bermalam di sisi Tuhanku; Dia memberi makan dan minum kepadaku.’” (Muttafaq ‘alaih)

Yang dimaksud di sini tentu bukan makanan dan minuman secara fisik, melainkan makanan ruhani dan limpahan karunia dari Allah. Nabi ﷺ melarang para sahabat melakukan wishal agar mereka tidak menjadi lemah dalam beribadah dan bersungguh-sungguh dalam ketaatan.

Semua yang beliau lakukan menunjukkan bagaimana beliau memanfaatkan waktu sebaik-baiknya dan tidak menyia-nyiakan sedikit pun darinya, bahkan untuk makan ataupun tidur.

3. Mencari Lailatul Qadar


Kesungguhan dan i’tikaf Rasulullah ﷺ pada sepuluh malam terakhir adalah bentuk pengosongan diri untuk beribadah, menjauh dari berbagai kesibukan, serta mencari Lailatul Qadar, malam yang agung dan penuh keberkahan.

Allah menjadikan amal ibadah pada malam itu lebih baik daripada amal selama seribu bulan. Allah berfirman:

{ليلة القدر خير من ألف شهر}

“Lailatul Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan.” (Al-Qadr: 3)

Pada malam itu ditetapkan berbagai takdir makhluk sepanjang satu tahun: ditentukan siapa yang hidup dan siapa yang wafat, siapa yang bahagia dan siapa yang celaka, juga ditetapkan ajal serta rezeki mereka. Allah berfirman:

{فيها يفرق كل أمر حكيم}

“Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” (Ad-Dukhan: 4)

Pada malam tersebut pintu-pintu langit dibuka, doa-doa didengar, dan permohonan dikabulkan. Malam itu adalah malam turunnya Al-Qur’an dan awal kebangkitan Islam. Malam yang penuh keselamatan, karena Allah menghendaki keselamatan bagi dunia: keselamatan masyarakat, keselamatan hati dan jiwa, serta keselamatan hubungan antar manusia.

Allah berfirman:

{سلام هي حتى مطلع الفجر}

“Malam itu penuh kesejahteraan hingga terbit fajar.”

Allah menyembunyikan penentuan malam tersebut dari para hamba-Nya agar mereka memperbanyak ibadah dan bersungguh-sungguh dalam beramal. Dengan demikian akan terlihat siapa yang benar-benar serius mencarinya dan siapa yang lalai.

Malam yang agung ini dianjurkan untuk dicari pada sepuluh malam terakhir Ramadan, terutama pada malam-malam ganjil. Dalam Shahih Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa Nabi ﷺ bersabda:

(التمسوها في العشر الأواخر من رمضان، ليلة القدر في تاسعة تبقى، في سابعة تبقى، في خامسة تبقى).

“Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir Ramadan, yaitu ketika tersisa sembilan malam, tujuh malam, atau lima malam.” (Muttafaq ‘alaih)

Kemungkinan besar malam itu berada pada tujuh malam terakhir. Dalam hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma disebutkan bahwa beberapa sahabat bermimpi melihat Lailatul Qadar pada tujuh malam terakhir. Rasulullah ﷺ bersabda:

(أرى رؤياكم قد تواطأت في السبع الأواخر، فمن كان متحريها فليتحرها في السبع الأواخر) رواه البخاري.

“Aku melihat bahwa mimpi kalian saling bertepatan pada tujuh malam terakhir. Maka barang siapa yang ingin mencarinya, hendaklah ia mencarinya pada tujuh malam terakhir.” (HR. Bukhari)

Bahkan malam yang paling kuat kemungkinannya adalah malam ke-27, sebagaimana sabda Nabi ﷺ:

(ليلة القدر ليلة سبع وعشرين) رواه أبو داود.

“Lailatul Qadar adalah malam kedua puluh tujuh.” (HR. Abu Dawud)

Karena itu, bersungguh-sungguhlah dalam beribadah pada malam-malam dan hari-hari tersebut. Sambutlah hembusan rahmat dari Allah Yang Maha Pemurah. Mudah-mudahan salah satu hembusan rahmat-Nya menyentuh kita sehingga seseorang tidak akan sengsara setelahnya.

Perbanyaklah doa dan permohonan kepada Allah, terutama doa yang diajarkan Rasulullah ﷺ kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha ketika ia bertanya:

“Wahai Rasulullah, jika aku mendapati Lailatul Qadar, apa yang harus aku ucapkan?”

Beliau menjawab:

(قولي: اللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عني) رواه أحمد وغيره.

“Katakanlah:

اللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عني

‘Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan mencintai pemaafan, maka maafkanlah aku.’”

Maka perbaikilah pada akhir bulan Ramadan apa yang mungkin terlewat pada awalnya. Tutupilah bulan ini dengan amal yang baik, karena segala amal bergantung pada penutupnya. Barang siapa memperbaiki apa yang tersisa, niscaya Allah akan mengampuni apa yang telah berlalu.
×
Berita Terbaru Update