Fikroh.com - Di balik nama besar Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullāh, kita mengenal beliau sebagai sosok imam besar Ahlus Sunnah, ahli hadits, ahli fiqih, dan ulama yang keteguhannya menjadi teladan sepanjang zaman. Tetapi jarang yang mengetahui bahwa salah satu sumber kekuatan beliau di masa paling berat datang dari seorang lelaki sederhana, bahkan seorang pendosa besar, seorang residivis bernama Abul Haitsam.
Hari-Hari Gelap Fitnah Mihnah
Kisah ini terjadi pada masa kelam dalam sejarah Islam, dikenal dengan sebutan al-Mihnah. Saat itu, para penguasa Abbasiyah memaksakan doktrin sesat bahwa al-Qur’an adalah makhluk, dan siapa pun yang menolak harus disiksa.
Imam Ahmad adalah salah satu ulama yang menolak tunduk pada keyakinan itu. Beliau menegaskan:
"Al-Qur’an adalah kalamullah, bukan makhluk."
Sikap tegas ini membuat beliau ditangkap, dipenjara, dan dicambuk dengan cambukan yang begitu keras hingga tubuh beliau hampir tak berdaya. Malam-malam beliau lalui dalam gelap, dingin, dan penuh penderitaan.
Suara Misterius di Bawah Tanah
Suatu malam, ketika Imam Ahmad berada di penjara bawah tanah yang gelap gulita, beliau merasakan sebuah sentuhan kecil di bahunya. Suara asing berbisik:
“Apakah engkau Ahmad bin Hanbal?”
Dengan suara lemah, beliau menjawab:
“Benar.”
Orang itu melanjutkan, “Apakah engkau mengenalku?”
Imam Ahmad menjawab, “Tidak.”
Lalu terdengarlah jawaban yang mengejutkan:
“Aku adalah Abul Haitsam, perampok jalanan, peminum khamr, tukang begal. Dalam catatan Amirul Mukminin, aku telah menerima 18 ribu cambukan karena kejahatan yang kulakukan. Namun aku bersabar menanggung semua itu… demi jalan setan.”
Ia berhenti sejenak, lalu berkata dengan nada penuh keyakinan:
“Maka engkau, wahai Ahmad… bersabarlah. Engkau berada di jalan Allah!”
Kekuatan dari Seorang Pendosa
Ucapan itu begitu sederhana, namun menancap dalam hati Imam Ahmad. Beliau menyadari:
“Jika seorang pendosa rela bersabar disiksa demi maksiat, maka bagaimana mungkin aku tidak bersabar demi mempertahankan kalamullah?”
Sejak malam itu, setiap kali cambukan mendarat di tubuhnya, Imam Ahmad mengingat perkataan Abul Haitsam. Beliau menguatkan diri dengan kalimat dalam hati:
“Bersabarlah wahai Ahmad… engkau di jalan Allah!”
Doa Imam Ahmad untuk Abul Haitsam
Pengalaman itu begitu membekas, hingga putra beliau, Abdullah bin Ahmad, suatu hari bertanya:
“Wahai ayahanda, siapakah Abul Haitsam? Aku sering mendengar engkau berdoa: Ya Allah, ampunilah Abul Haitsam. Ya Allah, rahmatilah Abul Haitsam.”
Imam Ahmad menjawab:
“Dia adalah seorang A‘rab yang wajahnya bahkan tak pernah aku lihat dengan jelas. Tetapi ucapannya menguatkanku di saat paling sulit dalam hidupku.”
Sejak itu, Imam Ahmad tak pernah lupa mendoakan Abul Haitsam. Bagi beliau, meski Abul Haitsam adalah seorang pendosa besar, tetapi melalui lisannya Allah telah menurunkan keteguhan.
Hikmah Besar dari Kisah Ini
Kisah Imam Ahmad dan Abul Haitsam menyimpan banyak pelajaran:
- Hikmah bisa datang dari siapa saja
- Bahkan dari lisan seorang perampok, Allah bisa menurunkan kalimat yang menguatkan seorang imam besar.
- Kesabaran di jalan Allah lebih layak daripada kesabaran di jalan maksiat
- Jika seorang pendosa mampu menahan ribuan cambukan demi mengikuti hawa nafsu, maka seorang mukmin seharusnya lebih kuat menahan cobaan demi mempertahankan iman.
Kelapangan hati seorang ulama
Imam Ahmad tidak menghina Abul Haitsam karena dosanya, sebaliknya beliau mendoakan rahmat dan ampunan baginya. Inilah akhlak seorang alim rabbani.
Jangan meremehkan siapa pun
Terkadang orang yang kita pandang rendah justru menjadi sebab kita mendapat kekuatan di saat genting.
Penutup
Kisah ini diriwayatkan dalam kitab Manaqib al-Imam Ahmad bin Hanbal (hal. 450–451). Ia menjadi pengingat bahwa pertolongan Allah bisa datang dari arah yang sama sekali tak disangka. Bahwa seorang residivis, perampok, bahkan pemabuk sekalipun, bisa menjadi jalan Allah menguatkan hamba-Nya yang shalih.
Imam Ahmad tetaplah imam besar Ahlus Sunnah. Tetapi di balik keteguhan beliau, ada seorang pendosa bernama Abul Haitsam yang turut berperan. Sehingga benar adanya: jangan pernah meremehkan siapa pun, karena Allah bisa mengirimkan pelajaran hidup melalui siapa saja.
