Fikroh.com - Fenomena linglung atau kebingungan bukan hanya sekadar istilah psikologis modern. Dalam perspektif Islam, kondisi ini dapat mencerminkan lemahnya kesadaran hati (qalb), kekacauan pikiran, hingga hilangnya arah hidup karena jauh dari bimbingan wahyu. Oleh sebab itu, membahas ciri-ciri orang linglung menurut Islam penting agar seorang Muslim mampu mawas diri sekaligus mencari solusi dari ajaran syariat.
Makna Linglung dalam Perspektif IslamSecara bahasa, linglung berarti bingung, kehilangan konsentrasi, dan tidak mampu berpikir jernih. Dalam khazanah Islam, kondisi ini dapat disamakan dengan istilah al-hairah (kebingungan), yang muncul ketika seseorang tidak mengetahui arah kebenaran atau tidak mampu menentukan pilihan yang benar.
Allah ﷻ menggambarkan keadaan orang-orang yang jauh dari petunjuk Al-Qur’an dengan kata hayrah, yaitu kebingungan yang membuat mereka berpaling dari kebenaran:
ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمُ اسْتَحَبُّوا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا عَلَى الْآخِرَةِ وَأَنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ
“Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan dunia lebih dari akhirat, dan sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum kafir.” (QS. An-Nahl: 107)
Ayat ini menjelaskan bahwa kecenderungan berlebihan pada dunia dapat melahirkan kebingungan batin dan kebutaan hati terhadap jalan kebenaran.
Ciri-Ciri Orang Linglung Menurut Islam
Ada 6 ciri-ciri seseorang terkena linglung. Berikut rinciannya:
1. Hilangnya Kesadaran Hati (ghaflah)
Orang linglung dalam pandangan Islam identik dengan orang yang lalai dari mengingat Allah. Hatinya kosong dari dzikir, sehingga mudah diliputi kebingungan. Allah ﷻ berfirman:
“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik.” (QS. Al-Hasyr: 19)
Orang yang linglung mudah kehilangan jati diri, karena hatinya tidak lagi terikat dengan Sang Pencipta.
وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik.” (QS. Al-Hasyr: 19)
Orang yang linglung mudah kehilangan jati diri, karena hatinya tidak lagi terikat dengan Sang Pencipta.
2. Tidak Konsisten dalam Ibadah
Linglung juga ditandai dengan ketidakstabilan amal. Kadang rajin beribadah, lalu tiba-tiba lalai; kadang bersemangat menuntut ilmu, lalu berhenti tanpa sebab. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling konsisten walaupun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ketidakmampuan menjaga konsistensi menunjukkan adanya kebingungan batin dan kelemahan tekad.
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling konsisten walaupun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ketidakmampuan menjaga konsistensi menunjukkan adanya kebingungan batin dan kelemahan tekad.
3. Mudah Terombang-Ambing oleh Lingkungan
Orang linglung tidak memiliki prinsip kuat. Mereka mudah terpengaruh oleh tren, opini, atau tekanan sosial, meski bertentangan dengan syariat. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi ﷺ:
عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَكُونُوا إِمَّعَةً تَقُولُونَ إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَحْسَنَّا وَإِنْ ظَلَمُوا ظَلَمْنَا وَلَكِنْ وَطِّنُوا أَنْفُسَكُمْ إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَنْ تُححْسِنُوا وَإِنْ أَسَاءُوا فَلَا تَظْلِمُوا
Dari Hudzaifah, Rasulullah bersabda: “Janganlah kalian menjadi orang yang tidak punya pendirian, yang berkata: ‘Aku ikut saja dengan orang banyak; jika mereka berbuat baik, aku pun ikut; dan jika mereka berbuat zalim, aku pun ikut.’ Tetapi teguhkanlah diri kalian: jika orang lain berbuat baik, berbuatlah baik; jika mereka berbuat buruk, janganlah kalian ikut berbuat buruk.” (HR. Tirmidzi).
4. Gelisah dan Sulit Menentukan Pilihan
Kebingungan yang berlarut-larut membuat orang linglung kehilangan ketenangan. Dalam Al-Qur’an, orang munafik digambarkan sebagai kaum yang bimbang:
“Mereka dalam keadaan ragu-ragu (bimbang) antara yang demikian; tidak ke pihak ini dan tidak pula ke pihak itu.” (QS. An-Nisa: 143)
Ayat ini menjadi potret nyata kebingungan orang yang tidak memiliki pijakan iman.
مُذَبْذَبِينَ بَيْنَ ذَٰلِكَ لَا إِلَىٰ هَٰؤُلَاءِ وَلَا إِلَىٰ هَٰؤُلَاءِ
“Mereka dalam keadaan ragu-ragu (bimbang) antara yang demikian; tidak ke pihak ini dan tidak pula ke pihak itu.” (QS. An-Nisa: 143)
Ayat ini menjadi potret nyata kebingungan orang yang tidak memiliki pijakan iman.
5. Cenderung Putus Asa
Linglung juga kerap ditandai dengan kehilangan harapan terhadap rahmat Allah. Padahal, sikap putus asa merupakan larangan keras dalam Islam. Allah ﷻ berfirman:
“Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir.” (QS. Yusuf: 87)
Putus asa hanya memperdalam kebingungan dan menjauhkan seseorang dari solusi yang benar.
إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ
“Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir.” (QS. Yusuf: 87)
Putus asa hanya memperdalam kebingungan dan menjauhkan seseorang dari solusi yang benar.
6. Lemah dalam Mengambil Pelajaran
Orang linglung jarang mengambil hikmah dari pengalaman hidup, meski berkali-kali mendapatkan peringatan. Dalam QS. Al-Hashr: 2, Allah mengingatkan:
“Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, wahai orang-orang yang mempunyai pandangan.”
Ketiadaan sikap i‘tibar (mengambil pelajaran) menunjukkan kelemahan dalam berpikir jernih.
Jalan Keluar dari Linglung Menurut IslamIslam tidak hanya mengungkap ciri-ciri, tetapi juga menawarkan solusi. Di antaranya:
فَاعْتَبِرُوا يَا أُولِي الْأَبْصَارِ
“Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, wahai orang-orang yang mempunyai pandangan.”
Ketiadaan sikap i‘tibar (mengambil pelajaran) menunjukkan kelemahan dalam berpikir jernih.
Jalan Keluar dari Linglung Menurut IslamIslam tidak hanya mengungkap ciri-ciri, tetapi juga menawarkan solusi. Di antaranya:
- Menguatkan iman dengan memperbanyak dzikir dan tadabbur Al-Qur’an.
- Istikharah dalam mengambil keputusan, agar hati diberi ketenangan oleh Allah.
- Konsistensi ibadah harian meski kecil, agar hati selalu terhubung dengan Allah.
- Mencari lingkungan yang baik, karena teman yang shalih adalah penolong dalam menjaga istiqamah.
- Bertafakur dan mengambil hikmah, agar pengalaman hidup menjadi jalan menuju kedewasaan iman.
Doa Berlindung dari Kepikunan
Rasulullah ﷺ memberikan tuntunan kepada umatnya agar senantiasa memohon perlindungan dari Allah ﷻ supaya terhindar dari kelemahan pikiran dan kepikunan di usia lanjut. Salah satu doa yang beliau ajarkan adalah:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ
Allâhumma innî a‘ûdzu bika minal-jubni, wa a‘ûdzu bika an uradda ilâ ardzalil-‘umur.
Artinya: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut, dan aku berlindung kepada-Mu dari dikembalikan ke usia yang paling buruk (pikun).” (HR. Ibnu Majah)
Artinya: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut, dan aku berlindung kepada-Mu dari dikembalikan ke usia yang paling buruk (pikun).” (HR. Ibnu Majah)
Penutup
Ciri-ciri orang linglung menurut Islam bukan sekadar masalah psikologis, tetapi menyangkut kebersihan hati dan keteguhan iman. Linglung lahir dari kelalaian, kebimbangan, dan jauhnya hati dari Allah ﷻ. Namun Islam telah menyediakan jalan keluar melalui dzikir, istiqamah, doa, dan lingkungan yang baik.
Dengan memahami hal ini, seorang Muslim diharapkan mampu menjaga hati dan pikirannya agar tidak terjerumus dalam kebingungan, melainkan hidup dengan penuh arah menuju ridha Allah ﷻ.
Dengan memahami hal ini, seorang Muslim diharapkan mampu menjaga hati dan pikirannya agar tidak terjerumus dalam kebingungan, melainkan hidup dengan penuh arah menuju ridha Allah ﷻ.
