Ternyata Inilah Orang yang Termasuk Pembantu Kezaliman Penguasa

Hati-hati, Inilah Orang Yang Termasuk Pembantu Kezaliman Penguasa

Fikroh.com - Dalam literatur Islam, terdapat banyak kisah penuh hikmah dari para ulama salaf yang menjadi teladan bagi umat. Salah satunya adalah kisah Imam Ahmad ibn Hanbal – rahimahullah –, seorang ulama besar Ahlus Sunnah yang dikenal teguh dalam mempertahankan kebenaran meskipun harus menghadapi cobaan berat, termasuk dipenjara karena mempertahankan akidah yang benar.

Salah satu kisah menarik dari beliau adalah ketika ditanya oleh seorang sipir penjara mengenai hadis tentang orang-orang zalim dan para pembantunya. Kisah ini bukan hanya memberikan pelajaran tentang bahaya kezaliman, tetapi juga mengingatkan umat Islam agar tidak menjadi bagian dari pihak yang mendukung perbuatan zalim.

Pertanyaan Sipir Penjara kepada Imam Ahmad

Diriwayatkan bahwa ketika Imam Ahmad berada di dalam penjara, seorang sipir mendekatinya lalu bertanya:

"Wahai Abu Abdillah, apakah benar hadis yang diriwayatkan tentang orang-orang zalim dan para pembantunya itu sahih?"

Imam Ahmad dengan tegas menjawab: "Ya."

Sipir itu kemudian merasa gelisah lalu berkata:

"Kalau begitu, apakah saya termasuk pembantu orang-orang zalim?"

Pertanyaan ini menunjukkan adanya rasa takut dalam diri sipir tersebut, sebab ia merasa pekerjaannya bisa termasuk dalam kategori membantu penguasa zalim.

Jawaban Tegas Imam Ahmad ibn Hanbal

Imam Ahmad kemudian menjawab dengan kalimat yang sangat mendalam:

"Para pembantu orang-orang zalim itu adalah orang yang menyisirkan rambut mereka, mencucikan pakaian mereka, dan menyediakan makanan serta minuman untuk mereka. Adapun kamu, maka engkau termasuk orang-orang zalim itu sendiri."

Jawaban ini menunjukkan betapa beratnya kedudukan orang yang terlibat langsung dalam kezaliman. Imam Ahmad tidak hanya menegaskan kebenaran hadis, tetapi juga memberikan nasihat keras bahwa siapa pun yang menjadi bagian dari sistem zalim, apalagi yang menindas kebenaran, akan mendapatkan dosa besar.

Makna Hadis tentang Orang Zalim dan Para Pembantunya

Hadis yang dimaksud merujuk pada sabda Nabi Muhammad ﷺ:

«سَيَكُونُ بَعْدِي أُمَرَاءُ فَمَنْ دَخَلَ عَلَيْهِمْ فَصَدَّقَهُمْ بِكَذِبِهِمْ وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَلَيْسَ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ وَلَيْسَ بِوَارِدٍ عَلَيَّ الْحَوْضَ، وَمَنْ لَمْ يَدْخُلْ عَلَيْهِمْ وَلَمْ يُعِنْهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَهُوَ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُ وَسَيَرِدُ عَلَيَّ الْحَوْضَ»

"Artinya: "Akan datang setelahku para penguasa. Barangsiapa yang masuk kepada mereka, lalu membenarkan kebohongan mereka, dan membantu mereka dalam kezaliman, maka ia bukan dari golonganku dan aku bukan darinya, serta ia tidak akan mendatangiku di telaga. Barangsiapa yang tidak masuk kepada mereka dan tidak membantu mereka dalam kezaliman, maka ia termasuk golonganku dan aku darinya, dan kelak ia akan datang kepadaku di telaga."

Hadis ini mengingatkan kita agar tidak terlibat dalam aktivitas yang menguatkan atau mendukung kezaliman. Bahkan pekerjaan yang terlihat kecil sekalipun—seperti melayani, menyiapkan kebutuhan, atau menjaga kepentingan orang zalim—dapat membuat seseorang tercatat sebagai bagian dari mereka.

Pesan Moral dari Kisah Imam Ahmad

Kisah ini memberikan beberapa pelajaran penting:

  1. Bahaya besar berada di pihak orang zalim
    Islam menegaskan bahwa kezaliman adalah kegelapan pada hari kiamat. Siapa pun yang mendukungnya akan ikut menanggung akibatnya.

  2. Ulama selalu menjaga integritas
    Imam Ahmad ibn Hanbal tidak takut untuk menyampaikan kebenaran meski berada di penjara. Hal ini menunjukkan keberanian ulama dalam menegakkan prinsip.

  3. Hati-hati dalam mencari nafkah
    Seorang Muslim harus memperhatikan apakah pekerjaannya mendukung keadilan atau justru memperkuat kezaliman. Harta yang diperoleh dari jalan yang salah akan membawa mudarat di dunia maupun akhirat.

  4. Tidak semua orang dianggap sama
    Imam Ahmad membedakan antara pembantu orang zalim dengan pelaku zalim. Hal ini menunjukkan betapa beratnya konsekuensi jika seseorang terlibat langsung dalam struktur kezaliman.

Relevansi untuk Kehidupan Umat Islam Saat Ini

Kisah ini tidak hanya relevan di masa Imam Ahmad, tetapi juga menjadi cermin bagi kehidupan umat Islam di era modern. Dalam kehidupan sehari-hari, kita harus waspada agar tidak menjadi bagian dari sistem yang mendukung kezaliman, baik dalam bentuk pekerjaan, transaksi bisnis, maupun dukungan politik.

Bagi seorang Muslim, prinsip keadilan harus ditegakkan dalam setiap aspek kehidupan. Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an:

وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ
"Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka." (QS. Hud: 113)

Ayat ini sejalan dengan nasihat Imam Ahmad yang mengingatkan agar kita tidak bersandar, mendukung, atau menjadi bagian dari orang zalim.

Kesimpulan

Kisah Imam Ahmad ibn Hanbal bersama sipir penjara adalah pelajaran berharga tentang bahaya kezaliman dan pentingnya menjaga diri dari membantu orang-orang zalim. Islam mengajarkan umatnya untuk selalu berada di jalan keadilan, tidak condong kepada kebatilan, dan berani menyuarakan kebenaran meskipun harus menghadapi ujian berat.

Bagi kita yang hidup di zaman ini, nasihat tersebut tetap relevan. Setiap Muslim hendaknya berhati-hati dalam memilih pekerjaan, pergaulan, maupun sikap politik, agar tidak tergolong sebagai bagian dari orang-orang zalim ataupun para pembantunya.

Posting Komentar untuk "Ternyata Inilah Orang yang Termasuk Pembantu Kezaliman Penguasa"