Pengertian Air Musta'mal, Dalil, Hukum dan Contohnya
Fikroh.com - Melalui artikel ini penulis akan menguraikan secara detail mengenai air Musta'mal, pengertian, hukum dan Contohnya. Air musta'mal masuk dalam kategori air suci tidak menyucikan. Imam al-Nawawฤซ (w. 676 H) mengatakan:
ุฃََّู ุงْูู
ُุณْุชَุนْู
ََู ุทَุงِูุฑٌ ุนِْูุฏََูุง ุจَِูุง ุฎَِูุงٍู ََْูููุณَ ุจِู
ُุทَِّูุฑٍ ุนََูู ุงูู
َุฐَْูุจِ
“๐ด๐๐ ๐๐ข๐ ๐ก๐’๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ (๐ ๐ก๐๐ก๐ข๐ ๐๐ฆ๐) ๐ ๐ข๐๐ ๐ก๐๐๐๐ ๐โ๐๐๐๐. ๐ก๐๐ก๐๐๐ ๐ก๐๐๐๐ ๐๐๐๐ฆ๐ข๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐งโ๐๐”
๐๐๐ง๐ ๐๐ซ๐ญ๐ข๐๐ง ๐๐ข๐ซ ๐๐ฎ๐ฌ๐ญ๐’๐ฆ๐๐ฅ
Air musta’mal adalah air yang sudah digunakan untuk bersuci fardhu yang berfungsi untuk menghilangkan penghalang -selanjutnya diistilahkan dengan mฤni’-, baik itu penghalang dari ibadah atau penghalang dari kebolehan menggauli istri.
Mฤni’ ini bisa berupa najis, hadas atau yang semakna dengan hadas. Baik najis atau hadas yang merupakan penghalang sahnya ibadah, semuanya bisa dihilangkan dengan air.
Air bekas penghilang mฤni’ inilah yang kemudian disebut dengan air musta’mal. Syekh Sa’id bin Muhammad Ba’aly Ba’isyn al-Haแธrami (w. 1270 H) mengatakan:
ََُููู ู
َุง ุฃُุฒَِْูู ุจِِู ู
َุงِูุนٌ ู
ِْู ุฎَุจَุซٍ ََْููู ู
َุนُْููุงً ุนَُْูู ุฃَْู ู
ِْู ุญَุฏَุซٍ
“๐ด๐๐ ๐๐ข๐ ๐ก๐’๐๐๐ ๐๐๐๐๐โ ๐๐๐ ๐ฆ๐๐๐ ๐ก๐๐๐โ ๐๐๐๐ข๐๐๐๐๐ ๐ข๐๐ก๐ข๐ ๐๐๐๐โ๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐̄๐๐’ ๐๐๐๐ข๐๐ ๐๐๐๐๐ -๐๐๐ ๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐’๐๐ข ‘๐๐โ๐ข- ๐๐ก๐๐ข ๐๐๐๐ข๐๐ โ๐๐๐๐ .”
Sebagai contoh, air bekas basuhan ketujuh dalam proses menghilangkan najis mugallaแบah atau air bekas basuhan pertama dalam proses menghilangkan najis mukhaffafah atau najis mutawasiแนญah, air tersebut masuk dalam definisi air musta’mal.
Begitu juga air bekas mandi janabah atau wudhu, baik wudhunya itu wudhu yang normal, yakni wudhu untuk mengangkat hadas atau wudhu lil-istibฤhah, yakni wudhunya orang dฤim al-hadas untuk dapat melaksankan shalat yang sah. Air bekas itu semua masuk definisi air musta’mal.
Bahkan lebih jauh lagi, al-Bฤjuriy (w. 1276 H) mendefinisikan air musta’mal ini dengan begitu lengkap, beliau mengatakan:
َُูู ู
َุง ุฃُุฏَِّู ุจِِู ู
َุง َูุง ุจُุฏَّ ู
ُِْูู ุฃَุซِู
َ ุงูุดَّุฎْุตُ ุจِุชَุฑِِْูู ุฃَู
ْ َูุง ุนِุจَุงุฏَุฉً َูุงَู ุฃَู
ْ َูุง
“๐ด๐๐ ๐๐ข๐ ๐ก๐’๐๐๐ ๐๐๐๐๐โ ๐๐๐ ๐ฆ๐๐๐ ๐ก๐๐๐โ ๐๐๐๐ข๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐ข๐๐ ๐๐๐๐โ๐ข. ๐ต๐๐๐ ๐ข๐๐ ๐๐๐, ๐๐๐๐ ๐ฆ๐๐๐ ๐ ๐๐๐๐ก๐๐ฆ๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐ก๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐ก๐๐ข ๐ก๐๐๐๐, ๐๐ก๐๐ข ๐๐๐ก๐๐ฃ๐๐ก๐๐ ๐ฆ๐๐๐ ๐๐๐๐ข๐๐ ๐๐๐๐๐โ ๐๐ก๐๐ข ๐๐ข๐๐๐.”
Sebagai contoh, anak kecil yang hendak แนญawaf disyaratkan untuk berwudhu terlebih dahulu, padahal anak kecil ini jika tidak แนญawaf pun tidak berdosa karena tidak wajib. Air bekas wudhu anak ini masuk dalam definisi air musta’mal.
Begitu juga seorang wanita ahli kitab yang telah berhenti haid, dia melakukan aktivitas mandi supaya halal digauli oleh suaminya yang muslim. Maka dalam hal ini, mandi yang dilakukan wanita tadi bukanlah ibadah tetapi air bekas mandi itu masuk definisi air musta’mal.
Adapun air bekas penggunaan bersuci yang sifatnya sunah, maka air ini tidak termasuk air musta’mal, air ini masih sah digunakan sebagai media bersuci. Ibnu Hajar al-Haitami (w. 974 H) mengatakan:
َูุงูู
ُุณْุชَุนْู
َُู ِْูู ุทُْูุฑٍ ู
َุณٍُْْููู َูุงูุบَุณَْูุฉِ ุงูุซَّุงَِّููุฉِ َูุงูุซَّุงِูุซَุฉِ َูุงُููุถُْูุกِ ุงูู
ُุฌَุฏَّุฏِ َูุงูุบُุณِْู ุงูู
َุณُِْْููู ุชَุตِุญُّ ุงูุทََّูุงุฑَุฉُ ุจِِู ِูุฃََُّูู َูู
ْ َْููุชَِْูู ุฅَِِْููู ู
َุงِูุนٌ
“๐ด๐๐๐๐ข๐ ๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐ข๐๐ ๐ฆ๐๐๐ ๐ ๐๐๐๐ก๐๐ฆ๐ ๐ ๐ข๐๐โ, ๐ ๐๐๐๐๐ก๐ ๐๐๐ ๐ขโ๐๐ ๐๐๐๐ข๐ ๐๐ก๐๐ข ๐๐๐ก๐๐๐ (๐๐๐๐๐ ๐ค๐ข๐โ๐ข) ๐๐ก๐๐ข ๐๐๐๐๐๐๐๐โ๐๐๐ข๐ ๐ค๐ข๐โ๐ข, ๐๐ก๐๐ข ๐๐๐๐๐ ๐ ๐ข๐๐โ, ๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐ข๐๐ ๐๐๐๐๐๐ข๐๐๐๐๐ ๐๐๐ ๐๐ก๐ข ๐ ๐๐๐ข๐ (โ๐ข๐๐ข๐๐๐ฆ๐) ๐ ๐โ, ๐๐๐๐๐๐ ๐๐̄๐๐ ๐ก๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐โ ๐๐ ๐๐๐ ๐๐ก๐ข.”
Ringkasnya, karena bersuci sunah itu tidak berfungsi sebagai penghilang mฤni’, maka air yang digunakan untuk itu pun tidak tertular mฤni’, sehingga masih sah digunakan untuk bersuci.
๐๐ฒ๐๐ซ๐๐ญ ๐๐ข๐ซ ๐๐ฎ๐ฌ๐ญ๐’๐ฆ๐๐ฅ
Suatu air dapat dikatakan sebagai musta’mal atau terkena pengaruh isti’mal (pemakaian) apabila telah memenuhi empat syarat. Sayyid Abu Bakr Syaแนญฤ (w. 1310 H) mengatakan:
َูุงุนَْูู
ْ ุฃََّู ุดُุฑُْูุทَ ุงِูุงุณْุชِุนْู
َุงِู ุฃَุฑْุจَุนَุฉٌ، ุชُุนَْูู
ُ ู
ِْู ََููุงู
ِِู: َِّููุฉُ ุงูู
َุงุกِ َูุงุณْุชِุนْู
َุงُُูู ِْููู
َุง َูุง ุจُุฏَّ ู
ُِْูู، َูุฃَْู ََْูููุตَِู ุนَْู ุงูุนُุถِْู، َูุนَุฏَู
ُ َِّููุฉِ ุงูุงِุบْุชِุฑَุงِู ِْูู ู
َุญََِّููุง
“๐พ๐๐ก๐โ๐ข๐๐๐โ, ๐๐โ๐ค๐ ๐ ๐ฆ๐๐๐๐ก (๐๐๐๐๐๐๐ข๐๐ฆ๐) โ๐ข๐๐ข๐ ๐๐ ๐ก๐’๐๐๐ ๐๐๐ ๐๐๐๐๐ก; ๐ ๐๐๐๐๐๐ก๐๐ฆ๐ (๐๐ข๐๐๐ก๐๐ก๐๐ ) ๐๐๐, ๐๐๐๐๐๐ข๐๐๐๐๐๐ฆ๐ ๐ข๐๐ก๐ข๐ ๐๐๐๐ ๐ข๐๐ ๐๐๐๐โ๐ข, ๐๐๐๐๐ฆ๐ ๐ ๐ข๐๐โ ๐ก๐๐๐๐๐ ๐โ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐ก๐ข๐๐ขโ (๐ฆ๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐ขโ), ๐ก๐๐๐๐ ๐๐๐ ๐๐๐๐ก ๐๐๐ก๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐ก๐๐๐๐๐ก๐๐ฆ๐.”
๐. ๐๐ฎ๐๐ง๐ญ๐ข๐ญ๐๐ฌ ๐๐ข๐ซ ๐๐๐๐ข๐ค๐ข๐ญ
Syarat pertama yaitu terkait kuantitas atau volume air, air mutlak yang dapat berubah menjadi air musta’mal hanyalah air dengan kuantitas sedikit, yakni kurang dari dua kulah . Ibnu Hajar al-Haitami (w. 974 H) mengatakan:
ุฃََّู ุงِูุงุณْุชِุนْู
َุงَู َูุง َูุซْุจُุชُ ุฅَّูุง ู
َุนَ َِّููุฉِ ุงْูู
َุงุก
“๐๐ก๐๐ก๐ข๐ ๐๐ข๐ ๐ก๐’๐๐๐ ๐ก๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ข ๐๐๐๐ข๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ (๐๐๐๐๐๐ ๐) ๐ ๐๐๐๐๐๐ก๐๐ฆ๐ (๐๐ข๐๐๐ก๐๐ก๐๐ ) ๐๐๐.”
Air dengan kuantitas yang banyak -yaitu dua kulah atau lebih-, tidak akan menjadi air musta’mal meskipun digunakan berkali-kali untuk bersuci. Imam al-Mawardi (w. 450 H) mengatakan:
َูุฅِْู َูุงَู َُّููุชَِْูู َْููุชَ ุงุณْุชِุนْู
َุงِِูู َูุฌُُูุจٍ ุงุบْุชَุณََู ِูู َُّููุชَِْูู ู
ِْู ู
َุงุกٍ، َูุงْูู
َุงุกُ ุทَุงِูุฑٌ، َูุฎَุงุฑِุฌٌ ุนَْู ุญُْูู
ِ ุงْูู
ُุณْุชَุนْู
َِู
“๐ด๐๐๐๐๐๐ (๐ฃ๐๐๐ข๐๐) ๐๐๐ ๐๐ก๐ข ๐๐ข๐ ๐๐ข๐๐โ ๐ ๐๐๐ก ๐๐๐๐ข๐๐๐๐๐, ๐ ๐๐๐๐๐ก๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐ข๐๐ข๐ ๐ฆ๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐ ๐๐ข๐ ๐๐ข๐๐โ, ๐๐๐๐ ๐๐๐ ๐๐ก๐ข (๐ก๐๐ก๐๐) ๐ ๐ข๐๐ ๐๐๐ ๐ก๐๐๐๐ ๐๐๐ ๐ข๐ ๐ ๐ก๐๐ก๐ข๐ ๐๐ข๐ ๐ก๐’๐๐๐.”
๐. ๐๐๐ง๐ ๐ก๐ข๐ฅ๐๐ง๐ ๐ค๐๐ง ๐a๐ง๐ข’
Syarat kedua ini sudah dijelaskan dengan cukup rinci pada pembahasan pengertian air musta’mal dan yang setelahnya. Intinya, bahwa air mutlak dapat berubah menjadi air musta’mal adalah ketika air tersebut telah digunakan sebagai penghilang mฤni’.
Menghilangkan mฤni’ ini bisa dengan cara berwudhu untuk mengangkat hadas kecil, wudhu lil-istibฤhah bagi dฤim al-hadas, mandi mengangkat janabah dan membasuh objek yang terkena najis.
Adapun air bekas bersuci yang tidak berfungsi menghilangkan mฤni’, seperti memperbaharui wudhu atau mandi sunah, maka air bekas itu tidak masuk definisi air musta’mal.
๐. ๐๐ฅ-๐๐ง๐๐ขshal
Syarat ketiga adalah al-infiแนฃฤl, yakni terpisahnya air dari objek yang dibasuh dalam proses bersuci. Al-Khaแนญib al-Syirbini (w. 977 H) mengatakan:
َูุง َُُْูููู ุงูู
َุงุกُ ู
ُุณْุชَุนْู
ًَูุง ุฅَِّูุง ุฅِุฐَุง ุงَْููุตََู ุนَِู ุงْูุนُุถِْู
“๐ด๐๐ (๐๐ข๐ก๐๐๐) ๐ก๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ (๐๐๐) ๐๐ข๐ ๐ก๐’๐๐๐ ๐๐๐๐ข๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐ ๐ก๐๐๐โ ๐ก๐๐๐๐๐ ๐โ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐ก๐ข๐๐ขโ (๐ฆ๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐ขโ).”
Artinya, selama air itu masih menempel pada tubuh yang dibasuh, maka air itu tidak disebut air musta’mal.
Infiแนฃฤl ini ada dua jenis; Infiแนฃฤl dalam arti faktual (haqฤซqatan) dan Infiแนฃฤl dalam arti status hukum (hukman). Infiแนฃฤl dalam arti faktual misalnya air yang dipakai membasuh sudah terpisah dan jatuh dari bagian tubuh yang dibasuh, sementara Infiแนฃฤl secara hukum misalnya air yang dipakai membasuh tangan saat berwudhu mengalir hingga melewati batas tangan. Melewatnya air dari batas tangan saat membasuh tangan inilah yang disebut Infiแนฃฤl hukman.
Baik Infiแนฃฤl haqฤซqatan atau Infiแนฃฤl hukman, keduanya memberi dampak perubahan status air, yang tadinya air mutlak yang suci menyucikan menjadi air musta’mal yang suci tapi tidak menyucikan.
Kesimpulannya; bahwa air basuhan yang masih menempel pada anggota tubuh wudhu orang yang berwudhu atau menempel pada tubuh orang junub yang mandi janabah, status air tersebut masih suci menyucikan. Begitu juga air basuhan yang menempel pada benda mutanajis, selama air itu tidak berubah sifatnya maka masih berstatus suci menyucikan. Al-Khaแนญib al-Syirbini (w. 977 H) mengatakan:
َูุงْูู
َุงุกُ ุงْูู
ُุชَุฑَุฏِّุฏُ ุนََูู ุนُุถِْู ุงْูู
ُุชََูุถِّุฆِ َูุนََูู ุจَุฏَِู ุงْูุฌُُูุจِ َูุนََูู ุงْูู
ُุชََูุฌِّุณِ ุฅْู َูู
ْ َูุชَุบََّูุฑْ ุทَُููุฑٌ
“๐ด๐๐ ๐ฆ๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ก๐ ๐ก๐ข๐๐ขโ ๐ค๐ข๐โ๐ข ๐๐๐๐๐ ๐ฆ๐๐๐ ๐๐๐๐ค๐ข๐โ๐ข, ๐๐ก๐๐ข ๐ฆ๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐ฆ๐๐๐ (๐๐๐๐๐) ๐๐ข๐๐ข๐, ๐๐ก๐๐ข ๐ฆ๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐ข๐ก๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐ก๐๐๐๐ ๐๐๐๐ข๐๐โ (๐ ๐๐๐๐ก๐๐ฆ๐), ๐๐๐๐ (๐ ๐ก๐๐ก๐ข๐ ๐๐๐ ๐ก๐๐๐ ๐๐๐ข๐ก) ๐ ๐ข๐๐ ๐๐๐๐ฆ๐ข๐๐๐๐๐.”
๐. ๐๐ข๐๐๐ค ๐๐๐ซ๐ง๐ข๐๐ญ ๐๐ ๐ญ๐ข๐ซo๐
Syarat keempat terjadinya status musta’mal pada air adalah ketiadaan niat igtirฤf pada saat menggunakan air. Igtirฤf sendiri secara bahasa artinya menciduk, yakni mengambil air menggunakan tangan.
Adapun niat igtirฤf, maka maksudnya adalah kesadaran hati untuk mengambil air dari dalam wadah untuk kemudian digunakan untuk membasuh di luar wadah itu.
Walhasil, jika saat menciduk air terbersit kesadaran hati semacam itu maka dia sudah niat igtirฤf, dan bekas air yang diciduk tersebut tidak menjadi air musta’mal. Al-Khaแนญib al-Syirbini (w. 977 H) mengatakan:
ุฅุฐَุง ََููู ุงِูุงุบْุชِุฑَุงَู ุจِุฃَْู َูุตَุฏَ ََْููู ุงْูู
َุงุกِ ู
ِْู ุงْูุฅَِูุงุกِ َูุงْูุบَุณَْู ุจِِู ุฎَุงุฑِุฌَُู َูู
ْ َูุตِุฑْ ู
ُุณْุชَุนْู
ًَูุง
“๐ท๐๐๐๐๐ ๐ ๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ก ๐๐๐ก๐๐๐̄๐, ๐ฆ๐๐๐ก๐ข ๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐ข๐ ๐๐๐๐๐๐๐โ๐๐๐ ๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐ค๐๐๐โ, ๐๐๐๐ข ๐๐๐๐๐๐ ๐ขโ ๐๐ ๐๐ข๐๐ ๐ค๐๐๐โ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐ ๐๐ก๐ข, ๐๐๐๐ (๐๐๐๐๐ ๐๐๐ ๐๐ ๐ค๐๐๐โ) ๐ก๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐ข๐ ๐ก๐’๐๐๐.”
Inilah hakikat niat igtirฤf itu dan hampir semua orang ketika menciduk air dalam hatinya terbesit kesadaran semacam ini, bahkan orang awam yang belum pernah belajar tentang masalah igtirฤf ini sekali pun. Syekh Muhammad bin Sulaiman al-Kurdi (w. 1193 H) mengatakan:
َูุธَุงِูุฑٌ ุฃََّู ุฃَْูุซَุฑَ ุงَّููุงุณِ ุญَุชَّู ุงْูุนََูุงู
ّ ุฅَّูู
َุง َْููุตِุฏَُูู ุจِุฅِุฎْุฑَุงุฌِ ุงْูู
َุงุกِ ู
ِْู ุงْูุฅَِูุงุกِ ุบَุณَْู ุฃَْูุฏِِููู
ْ ุฎَุงุฑِุฌَُู ََููุง َْููุตِุฏَُูู ุบَุณََْููุง ุฏَุงุฎَُِูู ََููุฐَุง َُูู ุญََِูููุฉُ َِّููุฉِ ุงِูุงุบْุชِุฑَุงِู
“๐ท๐๐ ๐๐๐๐๐ , ๐๐โ๐ค๐ ๐๐๐๐๐๐ฆ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐โ๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐ค๐๐ ๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐ข๐, (๐๐๐ก๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ข๐) ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐ข๐ ๐ข๐๐ก๐ข๐ ๐๐๐๐๐๐๐ข๐๐๐๐๐ ๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐ค๐๐๐โ ๐ข๐๐ก๐ข๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐ขโ ๐ก๐๐๐๐๐ ๐๐ ๐๐ข๐๐ ๐ค๐๐๐โ ๐๐ก๐ข, ๐๐๐๐๐๐ ๐ก๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐ข๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐ขโ ๐ก๐๐๐๐๐ (๐๐๐๐ ๐๐๐) ๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐ค๐๐๐โ. ๐ผ๐๐๐๐โ โ๐๐๐๐๐๐ก ๐๐๐๐ ๐๐๐๐ก ๐๐๐ก๐๐๐̄๐.”
Adapun jika saat menciduk air tidak terbesit niat igtirฤf, maka bekas air tersebut berubah status menjadi air musta’mal. Syekh Abdul Hamid al-Syarwฤni al-Dagistani (w. 1301 H) dalam Hฤsyiahnya mengatakan:
ََْููู ุบَุฑََู ุจَِِِّููู ุฌُُูุจٌ ََููู ุฑَْูุนَ ุงْูุฌََูุงุจَุฉِ ุฃَْู ู
ُุญْุฏِุซٌ ุจَุนْุฏَ ุบَุณِْู َูุฌِِْูู ุงْูุบَุณََูุงุชِ ุงูุซََّูุงุซِ ุฅْู َูู
ْ ُูุฑِุฏْ ุงِูุงْูุชِุตَุงุฑَ ุนََูู ุฃَََّูู ู
ِْู ุงูุซََّูุงุซِ ู
ِْู ู
َุงุกٍ ٍَِูููู ََููู
ْ َِْููู ุงِูุงุบْุชِุฑَุงَู ุจِุฃَْู ََููู ุงุณْุชِุนْู
َุงًูุง ุฃَْู ุฃَุทََْูู ุตَุงุฑَ ู
ُุณْุชَุนْู
َูุง
“๐ด๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐ข๐๐ข๐ ๐๐๐๐๐๐๐ข๐ ๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ก ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ก ๐๐๐๐๐๐โ ๐๐๐๐๐๐ข๐๐๐๐๐ ๐ก๐๐๐๐๐๐๐ฆ๐ ๐๐ก๐๐ข ๐๐๐๐๐ ๐ฆ๐๐๐ ๐๐ข๐๐ฆ๐ โ๐๐๐๐ ๐ ๐๐ก๐๐๐โ ๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐ขโ ๐ค๐๐๐โ ๐ก๐๐๐ ๐๐๐๐ -๐๐๐๐ ๐ก๐๐๐๐ ๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐ข๐ ๐๐๐๐๐ข๐๐ข๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐ ๐๐ก๐ข ๐๐๐๐ ๐๐๐ ๐ขโ๐๐-, ๐๐๐ (๐๐๐๐๐๐๐ข๐) ๐๐๐ ๐ ๐๐๐๐๐๐ก ๐๐ก๐ข ๐ก๐๐๐๐ ๐๐๐ ๐๐๐๐ก ๐๐โ๐ก๐๐๐๐, - ๐ ๐๐๐๐๐ก๐ ๐๐๐๐ก ๐๐๐๐๐๐ข๐๐๐๐๐ ๐๐๐ (๐ข๐๐ก๐ข๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐ขโ) ๐๐ก๐๐ข ๐๐๐๐ก ๐๐๐๐๐ ๐ ๐๐๐- ๐๐๐๐ ๐๐๐ ๐๐ก๐ข ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐ ๐๐ข๐ ๐ก๐’๐๐๐.”
Jelasnya, apabila orang yang junub mandi janabah menggunakan air sedikit (kurang dari dua kulah), dalam proses mandinya itu dia menciduk air tersebut, sementara dalam hatinya tidak terbersit niat igtirฤf, maka air bekas cidukan tadi menjadi air musta’mal.
Begitu juga dalam wudhu, orang yang sudah membasuh wajahnya , lalu dia menciduk air tanpa ada niat igtirฤf dalam hatinya, maka air tersebut menjadi air musta’mal.
๐๐๐ง๐ ๐ฎ๐๐๐ก ๐๐ข๐ซ ๐๐ฎ๐ฌ๐ญ๐’๐ฆ๐๐ฅ ๐๐๐ง๐ฃ๐๐๐ข ๐๐ข๐ซ ๐๐ฎ๐ญ๐ฅ๐๐ค
Air musta’mal dapat kembali menjadi air mutlak -air yang suci menyucikan- dengan cara mengumpulkannya hingga mencapai dua kulah. Syekh al-Islam Zakariya al-Anแนฃฤrฤซ (w. 926 H) mengatakan:
َูุฅِْู ุฌُู
ِุนَ ุงْูู
ُุณْุชَุนْู
َُู َูุจََูุบَ َُّููุชَِْูู ุตَุงุฑَ ุทَُููุฑًุง
“๐ฝ๐๐๐ ๐๐๐ ๐๐ข๐ ๐ก๐’๐๐๐ ๐๐๐๐ข๐๐๐ข๐๐๐๐ โ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐ข๐ ๐๐ข๐๐โ, ๐๐๐๐ ๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐ ๐ข๐๐ ๐๐๐๐ฆ๐ข๐๐๐๐๐.”
Alasannya adalah sebagaimana disampaikan oleh al-Syirbini, bahwa kenajisan itu lebih berat dari isti’mal, jika saja air mutanajis dikumpulkan hingga dua kulah dapat menjadi air mutlak, apalagi hanya sebatas air musta’mal;
ِูุฃََّู ุงَّููุฌَุงุณَุฉَ ุฃَุดَุฏُّ ู
ِْู ุงِูุงุณْุชِุนْู
َุงِู، َูุงْูู
َุงุกُ ุงْูู
ُุชََูุฌِّุณِ َْูู ุฌُู
ِุนَ ุญَุชَّู ุจََูุบَ َُّููุชَِْูู ุฃَْู ََููุง ุชَุบَُّูุฑَ ุจِِู ุตَุงุฑَ ุทَُููุฑًุง َูุทْุนًุง َูุงْูู
ُุณْุชَุนْู
َُู ุฃََْููู
“(๐ด๐๐๐ ๐๐๐๐ฆ๐) ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐โ ๐๐๐๐๐ก ๐๐๐๐ ๐๐ ๐ก๐’๐๐๐. ๐ด๐๐ ๐๐ข๐ก๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐ข๐๐๐ข๐๐๐๐ โ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐ข๐ ๐๐ข๐๐โ -๐ก๐๐๐๐ ๐๐๐ ๐๐๐๐ข๐๐โ๐๐ ๐ ๐๐๐๐ก- ๐๐๐ ๐๐๐ฆ๐ ๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐ ๐ ๐ข๐๐ ๐๐๐๐ฆ๐ข๐๐๐๐๐, ๐๐๐๐ ๐๐๐ ๐๐ข๐ ๐ก๐’๐๐๐ ๐๐๐๐โ ๐๐๐ฆ๐๐ (๐ข๐๐ก๐ข๐ ๐๐ก๐ข).”
Adapun hal yang menunjukkan bahwa najis lebih berat dari isti’mal dapat dilihat dari pengaruhnya pada air; najis apabila mengenai air mutlak yang sedikit, maka najis itu akan menghilangkan dua status yang disandang air tersebut, yaitu status suci dan status menyucikan. Sementara isti’mal hanya menghilangkan satu status saja, yaitu status menyucikannya. Wallahu a'lam.

Posting Komentar untuk "Pengertian Air Musta'mal, Dalil, Hukum dan Contohnya"