Dari Buronan Menjadi Presiden: Kisah Ahmad Al-Sharaa yang Mengubah Panggung Dunia
Fikroh.com - New York – Aula besar Concordia Annual Summit mendadak hening ketika dua sosok yang dulu saling berhadapan di medan perang kini duduk berdampingan di meja dialog. Presiden Suriah Ahmad Al-Sharaa dan Jenderal (Purn) David Petraeus, mantan Direktur CIA sekaligus komandan pasukan Amerika Serikat di Irak, saling bertukar kata penuh simbol.
“Setelah dulu bertemu di medan tempur, akhirnya sekarang kita bertemu di meja dialog,” ujar Presiden Al-Sharaa, dengan nada yang setengah berseloroh namun mengandung makna mendalam.
Petraeus, yang di masa lalu dikenal sebagai salah satu tokoh militer paling berpengaruh di Washington, tersenyum lebar. “Sekarang Anda punya banyak penggemar, Tuan Presiden. Terus terang, saya pun salah satunya. Anda sibuk sekali sekarang, mungkin sudah jarang bisa tidur nyenyak.”
Disambut tawa hadirin, Al-Sharaa menimpali dengan kalimat yang segera menjadi kutipan utama media internasional. “Misi saya di Suriah jauh lebih sulit daripada misi Anda dulu di Irak. Saat itu Anda punya opsi meninggalkan Irak, sementara kami tidak punya pilihan meninggalkan Suriah yang telah hancur.”
Dialog ini bukan sekadar basa-basi. Bagi publik, momen itu menjadi simbol betapa cepat sejarah berbalik arah. David Petraeus, pria yang dulu menjadi “arsitek” strategi militer AS di Timur Tengah, adalah sosok yang pernah mengumumkan bounty 10 juta dolar AS bagi siapa pun yang bisa menyerahkan kepala Abu Muhammad Al-Jaulani—pemimpin kelompok bersenjata di Suriah yang dianggap ancaman serius bagi stabilitas kawasan.
Namun siapa sangka, di hadapan dunia, Petraeus justru menyebut dirinya penggemar Presiden Ahmad Al-Sharaa. Ironi ini menjadi perbincangan hangat, mengingat sosok Al-Sharaa adalah orang yang sama dengan Al-Jaulani, meskipun kini tampil dengan wajah, jabatan, dan narasi yang berbeda.
“Ya Subhanak ya Muqallibal Qulub wal Ahwal,” ucap salah seorang ulama Suriah yang hadir, mengutip doa tentang kuasa Allah yang membolak-balikkan hati manusia dan keadaan zaman.
Sebelum 8 Desember 2024, nama Abu Muhammad Al-Jaulani identik dengan perlawanan bersenjata di Suriah. Banyak warga Suriah, khususnya yang tinggal di wilayah rezim Assad, hanya mengenalnya lewat propaganda media. Bagi mereka, Jaulani adalah simbol perpecahan, alasan di balik bombardir Idlib, dan musuh yang pantas dibenci.
Tidak sedikit rakyat yang bahkan bersorak ketika pesawat tempur Rusia menggempur basis-basis kelompok yang dipimpinnya. Mereka percaya, jatuhnya Idlib berarti berkurangnya penderitaan.
Namun, segala sesuatu berubah setelah 8 Desember 2024. Pada hari itu, sosok yang dulu dicap “musuh” tampil dalam wajah baru: Ahmad Hussein Al-Sharaa, atau lebih dikenal sekarang sebagai Presiden Ahmad Al-Sharaa.
Dalam waktu singkat, persepsi rakyat Suriah mengalami transformasi radikal. Sosok yang dulu ditolak, kini justru dipuja. “Mungkin yang mereka benci adalah Abu Muhammad Al-Jaulani, tetapi yang mereka cintai adalah Ahmad Al-Sharaa,” ungkap seorang analis politik Timur Tengah di Doha.
Kesan itu juga terpantul dalam anekdot rakyat. Seorang pedagang bakso di Damaskus mengatakan, “Itu sebabnya waktu KTT Doha kemarin, Presiden Suriah cuma berpidato 47 detik. Karena dia Ahmad Al-Sharaa—anak Mazzeh yang kalem dan penyabar. Kalau sampai yang bicara itu Abu Muhammad Al-Jaulani, pasti lain lagi ceritanya.”
Kalimat sederhana itu menggambarkan kontras antara dua identitas: Jaulani sang komandan lapangan yang keras dan Sharaa sang presiden yang kalem. Dua wajah, satu sosok.
Bagi rakyat Suriah, transformasi Al-Sharaa adalah simbol harapan baru. Ia dianggap mampu menyeberangi jurang perpecahan dan menyatukan negara yang hancur akibat perang panjang.
Sementara bagi dunia internasional, kisah ini mencerminkan paradoks politik global. Seorang yang dulu diburu kini justru dipeluk sebagai mitra dialog. Seorang yang dulu dicap radikal kini tampil di forum diplomatik dunia sebagai presiden sah.
Bagi Petraeus sendiri, pertemuan ini adalah cermin betapa sejarah bisa menertawakan rencana manusia. Dulu, ia menandatangani perintah operasi militer untuk melacak Al-Jaulani. Kini, ia berjabat tangan dengan orang yang sama sambil menyebutnya “Sayyid Rais”.
Transformasi ini tidak lepas dari dinamika psikologis rakyat Suriah. Dalam situasi krisis, mereka mencari figur yang dianggap mampu membawa stabilitas. Propaganda yang dulu membentuk citra buruk Jaulani kini terkikis oleh realitas baru.
“Yang mereka lihat sekarang bukan lagi komandan perang, tetapi seorang presiden yang hadir di mimbar internasional, berbicara dengan tenang, membawa nama Suriah dengan cara yang bermartabat,” jelas seorang pengamat politik Suriah di Istanbul.
Hal itu menjelaskan mengapa dalam waktu singkat, dukungan rakyat terhadap Al-Sharaa nyaris bersifat ijma’. Dari yang awalnya memusuhi, mereka kini mendukung dengan sepenuh hati.
Pertemuan Al-Sharaa dan Petraeus di New York bukan sekadar momen diplomatik. Ia adalah simbol ironis tentang bagaimana dunia bekerja. Musuh lama bisa menjadi sahabat, buronan bisa menjadi presiden, dan seorang jenderal AS bisa dengan ringan hati menyebut dirinya penggemar sosok yang dulu ia buru.
Seperti kata pepatah Arab, “Al-ayam dawlah”—hari-hari berputar bagaikan roda. Tidak ada yang abadi, kecuali perubahan itu sendiri.
Ahmad Al-Sharaa, yang dulu dikenal dengan nama Abu Muhammad Al-Jaulani, kini menjadi wajah baru Suriah. Ia adalah contoh nyata bagaimana sejarah tidak pernah berjalan lurus, melainkan penuh tikungan tajam yang mengejutkan.
Dan dunia hanya bisa menyaksikan, bagaimana seorang yang dulu disebut “musuh” kini berdiri di podium internasional sebagai pemimpin negara.
Fikroh.com - New York – Aula besar Concordia Annual Summit mendadak hening ketika dua sosok yang dulu saling berhadapan di medan perang kini duduk berdampingan di meja dialog. Presiden Suriah Ahmad Al-Sharaa dan Jenderal (Purn) David Petraeus, mantan Direktur CIA sekaligus komandan pasukan Amerika Serikat di Irak, saling bertukar kata penuh simbol.
“Setelah dulu bertemu di medan tempur, akhirnya sekarang kita bertemu di meja dialog,” ujar Presiden Al-Sharaa, dengan nada yang setengah berseloroh namun mengandung makna mendalam.
Petraeus, yang di masa lalu dikenal sebagai salah satu tokoh militer paling berpengaruh di Washington, tersenyum lebar. “Sekarang Anda punya banyak penggemar, Tuan Presiden. Terus terang, saya pun salah satunya. Anda sibuk sekali sekarang, mungkin sudah jarang bisa tidur nyenyak.”
Disambut tawa hadirin, Al-Sharaa menimpali dengan kalimat yang segera menjadi kutipan utama media internasional. “Misi saya di Suriah jauh lebih sulit daripada misi Anda dulu di Irak. Saat itu Anda punya opsi meninggalkan Irak, sementara kami tidak punya pilihan meninggalkan Suriah yang telah hancur.”
Dari Medan Perang ke Meja Dialog
Dialog ini bukan sekadar basa-basi. Bagi publik, momen itu menjadi simbol betapa cepat sejarah berbalik arah. David Petraeus, pria yang dulu menjadi “arsitek” strategi militer AS di Timur Tengah, adalah sosok yang pernah mengumumkan bounty 10 juta dolar AS bagi siapa pun yang bisa menyerahkan kepala Abu Muhammad Al-Jaulani—pemimpin kelompok bersenjata di Suriah yang dianggap ancaman serius bagi stabilitas kawasan.
Namun siapa sangka, di hadapan dunia, Petraeus justru menyebut dirinya penggemar Presiden Ahmad Al-Sharaa. Ironi ini menjadi perbincangan hangat, mengingat sosok Al-Sharaa adalah orang yang sama dengan Al-Jaulani, meskipun kini tampil dengan wajah, jabatan, dan narasi yang berbeda.
“Ya Subhanak ya Muqallibal Qulub wal Ahwal,” ucap salah seorang ulama Suriah yang hadir, mengutip doa tentang kuasa Allah yang membolak-balikkan hati manusia dan keadaan zaman.
Jejak Masa Lalu: Dari Jaulani ke Sharaa
Sebelum 8 Desember 2024, nama Abu Muhammad Al-Jaulani identik dengan perlawanan bersenjata di Suriah. Banyak warga Suriah, khususnya yang tinggal di wilayah rezim Assad, hanya mengenalnya lewat propaganda media. Bagi mereka, Jaulani adalah simbol perpecahan, alasan di balik bombardir Idlib, dan musuh yang pantas dibenci.
Tidak sedikit rakyat yang bahkan bersorak ketika pesawat tempur Rusia menggempur basis-basis kelompok yang dipimpinnya. Mereka percaya, jatuhnya Idlib berarti berkurangnya penderitaan.
Namun, segala sesuatu berubah setelah 8 Desember 2024. Pada hari itu, sosok yang dulu dicap “musuh” tampil dalam wajah baru: Ahmad Hussein Al-Sharaa, atau lebih dikenal sekarang sebagai Presiden Ahmad Al-Sharaa.
Perubahan Citra dan Cinta Rakyat
Dalam waktu singkat, persepsi rakyat Suriah mengalami transformasi radikal. Sosok yang dulu ditolak, kini justru dipuja. “Mungkin yang mereka benci adalah Abu Muhammad Al-Jaulani, tetapi yang mereka cintai adalah Ahmad Al-Sharaa,” ungkap seorang analis politik Timur Tengah di Doha.
Kesan itu juga terpantul dalam anekdot rakyat. Seorang pedagang bakso di Damaskus mengatakan, “Itu sebabnya waktu KTT Doha kemarin, Presiden Suriah cuma berpidato 47 detik. Karena dia Ahmad Al-Sharaa—anak Mazzeh yang kalem dan penyabar. Kalau sampai yang bicara itu Abu Muhammad Al-Jaulani, pasti lain lagi ceritanya.”
Kalimat sederhana itu menggambarkan kontras antara dua identitas: Jaulani sang komandan lapangan yang keras dan Sharaa sang presiden yang kalem. Dua wajah, satu sosok.
Simbol dari Perubahan Zaman
Bagi rakyat Suriah, transformasi Al-Sharaa adalah simbol harapan baru. Ia dianggap mampu menyeberangi jurang perpecahan dan menyatukan negara yang hancur akibat perang panjang.
Sementara bagi dunia internasional, kisah ini mencerminkan paradoks politik global. Seorang yang dulu diburu kini justru dipeluk sebagai mitra dialog. Seorang yang dulu dicap radikal kini tampil di forum diplomatik dunia sebagai presiden sah.
Bagi Petraeus sendiri, pertemuan ini adalah cermin betapa sejarah bisa menertawakan rencana manusia. Dulu, ia menandatangani perintah operasi militer untuk melacak Al-Jaulani. Kini, ia berjabat tangan dengan orang yang sama sambil menyebutnya “Sayyid Rais”.
Dari Benci Menjadi Cinta
Transformasi ini tidak lepas dari dinamika psikologis rakyat Suriah. Dalam situasi krisis, mereka mencari figur yang dianggap mampu membawa stabilitas. Propaganda yang dulu membentuk citra buruk Jaulani kini terkikis oleh realitas baru.
“Yang mereka lihat sekarang bukan lagi komandan perang, tetapi seorang presiden yang hadir di mimbar internasional, berbicara dengan tenang, membawa nama Suriah dengan cara yang bermartabat,” jelas seorang pengamat politik Suriah di Istanbul.
Hal itu menjelaskan mengapa dalam waktu singkat, dukungan rakyat terhadap Al-Sharaa nyaris bersifat ijma’. Dari yang awalnya memusuhi, mereka kini mendukung dengan sepenuh hati.
Refleksi: Ironi Sejarah
Pertemuan Al-Sharaa dan Petraeus di New York bukan sekadar momen diplomatik. Ia adalah simbol ironis tentang bagaimana dunia bekerja. Musuh lama bisa menjadi sahabat, buronan bisa menjadi presiden, dan seorang jenderal AS bisa dengan ringan hati menyebut dirinya penggemar sosok yang dulu ia buru.
Seperti kata pepatah Arab, “Al-ayam dawlah”—hari-hari berputar bagaikan roda. Tidak ada yang abadi, kecuali perubahan itu sendiri.
Ahmad Al-Sharaa, yang dulu dikenal dengan nama Abu Muhammad Al-Jaulani, kini menjadi wajah baru Suriah. Ia adalah contoh nyata bagaimana sejarah tidak pernah berjalan lurus, melainkan penuh tikungan tajam yang mengejutkan.
Dan dunia hanya bisa menyaksikan, bagaimana seorang yang dulu disebut “musuh” kini berdiri di podium internasional sebagai pemimpin negara.
