Sketsa Biografi Muhammad Syahrur dan Buah Karya Pemikirannya
Fikroh.com - Muhammad Syahrur adalah satu dari sekian banyak 'intelektual' Arab kontemporer, yang turut mewarnai dialektika pemikiran Arab kontemporer. Khususnya melalui karyanya yang berjudul al-Kitab wa aI-Quran: Qira'ah Mu'ashirah, Syahrur berupaya menggugat monopoli pembacaan teks suci dan berupaya meruntuhkan metode yang ditawarkan ulama klasik yang cenderung 'unscientific'. Gugatan tersebut tidak serta-merta diarahkan pada ulama klasik yang karyanya menempati posisi yang berharga di masanya, melainkan kepada generasi selanjutnya yang memposisikan turats pada wilayah yang tak dapat didebat (ghairu qabil lin-niqasy). Konsekuensinya, mereka sulit melepaskan diri dari jeratan masa lalunya dan mereka menduga bahwa produk pemikiran pendahulunya melampaui ruang dan waktu (shalih Ii kulli zaman wa makan).

Biografi Syahrur dan Latar Belakang Keilmuannya

Muhammad Syahrur merupakan seorang insinyur berkebangsaan Syria, dilahirkan pada tanggal 11 April 1938. Syahrur mengawali karir ntelektualnya pada pendidikan dasar dan menengah di tanah kelahirannya, tepatnya di lembaga pendidikan Abdurrahman al Kawakibi, Damaskus. Pendidikan menengahnya ia rampungkan pada tahun 1957, dan segera setelah nenuntaskan pendidikan menengahnya, Syahrur melanjutkan studinya ke Moskow, Uni Soviet (sekarang Rusia) untuk mempelajari teknik sipil handasah madaniyah atas beasiswa pemerintah setempat. Di negara inilah, Syahrur mulai berkenalan dan kemudian mengagumi pemikiran Marxisme, sungguhpun ia tidak mendakwa sebagai penganut aliran tersebut. Namun demikian. sebagaimana dikemukakannya sendiri pada Peter Clark, ia mengakui banyak berhutang budi pada sosok Hegel dan Alfred North Whitehead. Gelar diploma dalam bidang tersebut, ia raih pada tahun 1964.

Setelah meraih gelar diploma, pada tahun I964, Syahrur kembali Syiria untuk mengabdikan dirinya sebagai dosen pada Fakultas Teknik di Universitas Damaskus. Pada tahun itu pula. Syahrur kembali melajutkan studi ke lrlandia, tepatnya di University College, Dublin dalam bidang yang sama. Pada tahun 1967, Syahrur berhak untuk melakukan penelitian pada imperial College, London. Pada bulan Juni tahun itu, terjadilah perang antara Inggris dan Syria yang mengakibatkan renggangnya hubungan diplomatik antara dua negara tersebut. Namun hal tersebut tidak mcnghambatnya untuk segera menyelesaikan studinya. Terbukti ia segera berangkat kembali ke Dublin untuk menyelesaikan program Master dan Doktor-nya di bidang mekanika pertanahan (soil mechanics) dan teknik bangunan (foundation engineering). Gelar doktornya ia peroleh pada tahun 1972. sejak itulah. Syahrur secara resmi menjadi staf pengajar di Universitas Damaskus hingga beberapa tahun kemudian.

Buah Karya Pemikiran Syahrur

Meski disiplin utama keilmuannya pada bidang teknik, namun itu tidak menghalanginya untuk mendalami disiplin yang lain semisal filsafat. Ini terjadi, terutama setelah pertemuannya dengan Ja'far Dek al-Bab, rekan sealmamater di Syria dan teman seprofesi di Universitas Damaskus. Kontaknya itu, telah memberi arti yang cukup berarti dalam pemikirannya. yang kemudian tertuang dalam karya monumentalnya, yaitu al-Kitab wa al-Qur'an, Qira'ah Mu'ashirah

Sebagaimana diakuinya, buku tersebut disusun selama kurang lebih dua puluh tahun, tepatnya mulai tahun 1970-1990. Dalam pengantar buku tersebut, Syahrur menjelaskan proses penyusunan buku tesebut. termasuk sejauh mana pengaruh rekannya Ja'far Dek al-Bab dalam perumusan metodologi yang ia tawarkan dalam buku tersebut pada tiga tahapan, yakni:

Tahap pertama: 1970-1980. Masa ini diawali ketika beliau berada di Universitas Dublin. Masa ini merupakan masa pengkajian (muraja'at) serta peletakan dasar awal metodologi pemahaman al-Dzikr, al-Kitab, al-Risalah, aI-Nubuwwah dan sejumlah kata kunci lainnya.

Tahap kedua: 1980-1986. Masa ini merupakan masa yang penting dalam pembentukan kesadaran linguistiknya dalam pembacaan kitab suci. Pada masa ini ia berjumpa dengan teman sealmamaternya Ja’far Dek al-Bab yang menekuni Linguistik di Universitas Moskow. Melalui Dek al-Bab itulah, Syahrur banyak diperkenalkan dengan pemikiran linguis Arab semisal al-Farra’, Abu Ali al-Farisi, Ibn Jinny, serta al-Jurjani. Melalui tokoh-tokoh tersebut, Syahrur memperoleh tesis tentang tidak adanya sinonimitas (‘adamu aI-taradduf) dalam bahasa. Sejak tahun 1984, Syahrur mulai menulis pikiran-pikiran penting yang diambil dari ayat-ayat yang tertuang dalam kitab suci. Melalui diskusi bersama Dek al-Bab Syahrur berhasil mengumpulkan hasil pikirannya yang masih terpisah-pisah.

Tahap ketiga: 1986-1990. Syahrur mulai mengumpulkan hasil pemikirannya yang masih berserakan. Hingga tahun 1987, Syahrur telah berhasil merampungkan bagian pertama yang berisi gagasan-gagasan dasarnya. Segera setelah itu, bersama Dek al-Bab, Syahrur berhasil menyusun “hukum dialektika umum” yang ia bahas di bagian kedua buku tersebut.

Pada tahun 1990, cetakan pertama buku ini diterbitkan. Buku tersebut, untuk pertama kali diterbitkan oleh al-Ahali Publishing House, Damaskus dan mengalami sukses luar biasa dan dinilai sebagai salah satu buku terlaris (best seller) di Timur Tengah. Terbukti, buku tersebut mengalami cetak ulang dari kurang lebih 20.000 eksemplar buku yang telah terjual hanya untuk kawasan Syria saja. Bahkan, versi bajakan dan foto copy banyak beredar di banyak negara semisal Lebanon, Yordania, Mesir, Jazirah Arab.

Pada tahun 1994, al-Ahali Publishing House kembali menerbitkan karya kedua Syahrur, yaitu “Dirosa‘t al-Islamiyah al-Mu’ashirah fi al-Dawlah wa al-Mujtama.” Buku ini secara spesifik menguraikan tema-tema sosial politik yang terkait dengan persoalan warga negara (civil) maupun negara (state). Secara konsisten, Syahrur menguraikan tema-tema tersebut dengan senantiasa terikat pada tawaran rumusan teoritis sebagaimana termaktub dalam buku pertamanya. Pada tahun 1996, Syahrur mengelurkan karyanya lagi dengan tajuk al-Islam wa al-Iman: Manzhzumah aI-Qiyam dengan penerbit yang sama. Buku ini mencoba mendekonstruksi konsep klasik mengenai pengertian dan pilar-pilar (arkan) Islam dan Iman. Pada tahun 2000 dengan penerbit yang tetap sama, Syahrur memunculkan lagi karya berjudul “Nahwa Ushul Jadidah Li al-Fiqh al-Islamy: Fiqh al Mar’ah.” 

Selain karyanya yang berbentuk buku, Syahrur juga banyak menulis artikel yang lebih pendek di beberapa majalah dan jurnal, seperti “Islam and the 1995 Beijing World Conference on Women,” dalam Kuwaiti Newspaper, yang kemudian diterbitkan dalam buku Liberal Islam: a Sourcebook (1998); “The Devine Text and Pluralism in Muslim Societies,” dalam "Muslim Politic Report”, selanjutnya “Mitsaq al‘Amal al-Islamy” (1999) yang diterbitkan oleh al-Ahali Publishing House, yang dalam edisi Bahasa Inggris, diterjemahkan oleh Dale F. Eickelman dan Islamil S. Abu Shehadeh dengan judul “Proposal For an Islamic Covenant” (2000). Selain itu, ia juga sering mempresentasikan pokok-pokok pikirannya tentang al-Quran kaitannya dengan masalah-masalah sosial dan politik, seperti hak-hak wanita, pluralisme dalam banyak konferensi internasional.

Beragam tanggapan, baik yang setuju maupun yang menentang terhadap pemikiran Syahrur dalam buku-buku yang ditulisnya. Mereka yang tidak setuju dengan pemikirannya tidak segan-segan memberikan julukan seperti musuh Islam (an enemy of Islam) atau Agen Barat dan Zionis (a Western and Zionist Agent). Sebaliknya mereka yang setuju dengan pemikiran atau semangat reformasinya, memberikan penghargaan dan nilai yang positif terhadap karyanya. Sultan Qaboos di Oman misalnya membagikan karya Syahrur tersebut kepada menteri-menterinya dan merekomendasikannya untuk dibaca.

Sumber: Jurnal Millah (2003)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama