Penjelasan Hadits, Manusia Seperti Unta

Fikroh.com - Pendekatan melalui permisalan dalam menjelaskan sebuah maksud adalah metode Nabi yang sangat efektif dan mengena. Tak terbilang hadits nabi dalam berbagai topik yang menggunakan metode perumpamaan dalam redaksinya. Salah satunya adalah apa yang terkandung dalam hadits di bawah ini. Tatkala Rasulullah hendak menggambarkan kondisi umat Islam, beliau mengambil unta sebagai perumpamaannya. Lalu apa maksud dan hikmah dibalik perumpamaan ini? Berikut penjelasannya.

Rasulullah SAW bersabda,

إِنَّمَا النَّاسُ كَالْإِبِلِ الْمِائَةِ لَا تَكَادُ تَجِدُ فيها راحلة

“Sesungguhnya manusia itu tidak lain seperti kawanan seratus ekor unta, hampir-hampir engkau tidak bisa menemukan di dalamnya seekor unta yang mampu menempuh perjalahan jauh.” (Diriwayatkan Bukhari dari Abdullah bin Umar ra.) 

Penilaian Terhadap Hadits

Hadits shahih diriwayatkan Bukhari dalam Shahih-nya Kitab Ar-Raqaq bab Raf'il Amanah (6498). 

Kilas Penjelasan Hadits

Dengan hadits ini Rasulullah saw. ingin mengisyaratkan bahwa menemukan orang-orang yang betul-betul kuat dan tangguh untuk memikul beban amanah dan jihad adalah sesuatu yang sangat sulit, seperti memilih seekor unta yang mampu melakukan perjalanan jauh di antara seratus kawanan unta. Oleh karena itu, kita perlu mengetahui bagaimana langkah dan strategi Rasulullah saw. dalam mencari dan mencetak orang-orang kuat dan tangguh ini sehingga mereka mampu memikul beban-beban perjuangan dan jihad yang sangat berat dengan penuh tanggungjawab dan keikhlasan demi meraih ridha Allah Ta'ala.

Mengapa Rasulullah Saw. Memilih Unta Sebagai Perumpamaan Mengenai Kekuatan dan Ketangguhan?

Ada beberapa rahasia yang penulis mencoba untuk menggalinya. Berikut ini beberapa alasan penggunaan unta sebagai simbol kekuatan.

  • Karena unta adalah hewan berkaki empat yang mampu bangkit dari posisi duduknya dengan beban berat yang melebihi berat badannya di atas punggungnya. Berbeda dengan sapi atau kuda bahkan gajah sekalipun tidak mampu melakukannya.
  • Unta adalah hewan tunggangan yang paling tangguh di tengah gurun sahara, karena ia mampu menyimpan air dalam kantong perutnya dalam waktu yang cukup lama. 
  • Unta memiliki kekuatan ingatan yang luar biasa sehingga sangat tepat apabila dijadikan sebagai kendaraan di tengah padang pasir yang membentang luas dan kondisinya berubahubah karena angin gurun yang sangat dahsyat. 

Mengapa Sulit Mencari Orang-Orang yang Kuat dan Tangguh? 

Saat ini kualitas kaum muslimin tidaklah sebanding dengan generasi salaf dari kalangan sahabat Nabi. Apa gerangan yang menjadikan penurunan kualitas pada umat islam kini? Berikut analisanya.

a. Karena kelemahan adalah sifat dasar manusia. Firman-Nya, "Dan manusia itu diciptakan dalam keadaan lemah." (An-Nisa': 28) Bahkan Allah menyebutkan asal penciptaan manusia adalah kelemahan. Firman-Nya,

"Allah telah menciptakan kamu dari kelemahan.” (Ar-Ruum: 54) 

b. Karena manusia sering berbuat maksiat, sedang maksiat menyebabkan kelemahan pada diri manusia. Ibnul Qayyim berkata, ”Kemaksiatan akan melemahkan hati dan badan. Kelemahan hati akibat kemaksiatan adalah sesuatu yang sudah sangat jelas, bahkan kemaksiatan akan terus-menerus melemahkannya hingga hati itu betul-betul mengalami kematian secara total. Sedangkan kelemahan badan akibat kemaksiatan, karena sesungguhnya kekuatan seorang mukmin terletak pada hatinya. Selama hatinya kuat, maka akan kuat pula badannya. Sedangkan seorang tukang maksiat meskipun fisiknya kuat akan menjadi orang yang paling lemah ketika ia membutuhkan kekuatannya. Karena kekuatannya akan mengkhianati dirinya pada saat ia sangat membutuhkannya. Perhatikanlah kekuatan fisik pasukan Rumawi dan Persia Bagaimana kekuatan mereka mengkhianati diri mereka pada saat mereka sangat membutuhkan kekuatan tersebut, sehingga mereka dengan mudah dikalahkan orang orang beriman dengan kekuatan fisik dan hatinya." (Al-Iawabul Kafz: 59) 

c. Karena tabiat manusia seringkali merasa lemah dan menghindari beban dan tanggungjawab yang berat. Firman Nya, "Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya, ”Dalam keadaan bagaimana kamu ini?" Mereka menjawab, Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri ( Mekkah).” Para malaikat berkata, "Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?" Orang-orang itu tempatnya neraka jahannam, dan jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali." (An-Nisa’: 97) Karena sedikitnya orang yang mengetahui sisi-sisi kekuatan dan keunggulan pada dirinya, dan sedikit pula orang yang mampu mengeksplorasi kekuatan itu untuk kemaslahatan diri dan umatnya. Oleh karena itulah, mengapa orang-orang su kses dan para pahlawan dalam setiap generasi jumlahnya selalu sedikit, karena kebanyakan manusia tidak mampu menggali kekuatan dahsyat yang ada pada dirinya, dan kalaupun mengetahui, sedikit sekali yang mau dan mampu menumbuhkernbangkan serta memberdayakannya untuk kemaslahatan diri dan umatnya.

Bagaimana Langkah dan Strategi Rasulullah Saw. dalam Mengatasi Kelangkaan Orang-Orang yang Kuat dan Tangguh Ini?

Melakukan rekruitmen orang-orang kuat yang ada di tengah masyarakat. 

Banyak cara yang ditempuh Rasulullah saw. untuk merekrut orang-orang kuat dan tangguh dari berbagai kabilah di Jazirah Arab, di antaranya adalah:

Melakukan wawancara langsung dengan rombongan kabilah-kabilah Arab di tempat-tempat singgah mereka. Sebagai contoh, Rasulullah saw. bersama Abu Bakar mendatangi Bani Syaiban bin Tsa'labah dan melakukan wawancara dengan mereka seperti dalam petikan berikut ini. Abu Bakar bertanya, ”Berapa jumlah kalian?” Ia menjawab, ”Jumlah kami lebih dari seribu orang, dan seribu orang adalah jumlah yang besar untuk mewujudkan kemenangan.” Ia bertanya, "Bagaimana dengan pertahanan kalian?” Ia menjawab, ”Kami adalah orang-orang yang senantiasa mencurahkan seluruh kemampuan, tetapi setiap kaum pasti pernah mengalami keberhasilan dan kegagalan.” Ia bertanya, ”Bagaimana dengan perang yang terjadi antara kalian dengan musuh-musuh kalian?" Ia menjawab, ”Kami orang yang paling murka ketika berhadapan dengan musuh, dan paling berani berhadapan dengan musuh ketika sedang murka. Karni lebih mencintai kuda perang daripada anak-anak, dan lebih senang dengan senjata daripada seekor unta yang banyak menghasilkan susu. Akan tetapi kemenangan berada di tangan Allah, kadang Ia menggulirkannya kepada kami, dan kadang menggulirkannva kepada musuh-musuh kami.” 

Membina bibit-bibit unggul dan menggembleng mereka serta menciptakan lingkungan yang kondusif untuk menumbuhkembangkan kekuatan dan keunggulan mereka sehingga yang memiliki keunggulan maupun yang memiliki kekurangan sejak lahirmendapatkan peluang yang sama untuk menjadi orang-orang kuat dan tangguh. Adapun kiat-kiat yang ditempuh Rasul saw. adalah: 

Mengubah nama-nama shahabat yang mengundang kelemahan, kenestapaan, dan keburukan menjadi namanama yang mengundang kekuatan, keberuntungan dan kebaikan. Misalnya Hazan yang berarti kesedihan diubah menjadi Sahl yang berarti kemudahan dan kegembiraan. Beliau juga memuji nama-nama yang mengesankan kesungguhan dan ketangguhan. Beliau bersabda, 

"Nama yang paling jujur adalah Harits (yang berarti pembajak sawah) dan Hammam (yang memiliki tekad kuat)." (HR. Ahmad), 

Memberi kesempatan kepada anak-anak untuk mengekspresikan kekuatan dan ketangguhan mereka sejak dini. Diriwayatkan, ketika melewati serombongan anak-anak yang berlomba memanah, Rasulullah saw. men-support mereka seraya bersabda, 

”Bidiklah wahai putra-putra Ismail, karena sesungguhnya bapak kalian dulu adalah seorang pemanah.” (HR. Bukhari) 

Ketika Abu Bakar menjatuhkan hukuman mati kepada seorang penjahat, beliau menyerahkan eksekusinya kepada anak-anak kaum Muhajirin. Lalu Abdullah bin Zubair berkata kepada teman-temannya, ”Jadikanlah aku sebagai pemimpin kalian." Lalu mereka pun mengangkatnya menjadi pemimpin dan beramai-ramai membawanya ke pekuburan Baqi' dan membunuh penjahat itu di sana. (Tahdzib Ibnu Asakir: 7/399) 

Memberikan gelar yang menunjukkan keberanian dan kepahlawanan kepada para shahabat. Misalnya memberikan gelar ”Saifullah Al-Maslul” (pedang Allah yang terhunus) kepada Khalid bin Walid, ”Al-Faruq" (Sang Pembeda antara hak dan batil) kepada Umar bin Khathab, ”Hawarir Rasul” (pembela Rasul) kepada Zubair bin Awwam, ”Farisul Islam" (Tentara berkuda yang membela Islam) kepada Sa'd bin Abi Waqqash dan masih banyak lagi gelar yang lainnya. Semua ini memberikan pengaruh kekuatan kepada diri mereka dan orang-orang di sekitar mereka. 

Mensupport orang-orang yang memiliki kekurangan pada fisik mereka agar mengundang rasa hormat orang lain kepada mereka. Kondisi seperti ini akan melahirkan figur-figur pahlawan meski dari kalangan orang-orang yang memiliki kekurangan fisik. Ketika pada suatu hari para shahabat tertawa cekikikan karena melihat kecilnya betis Abdullah bin Mas'ud, Rasulullah saw. pun bersabda, 

”Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, sungguh kedua betisnya itu lebih berat dalam timbangan akhirat daripada gunung Uhud.” (HR. Ahmad) 

Ketika Amru bin Jamuh yang berkaki pincang ingin ikut serta dalam jihad, anak-anaknya menahannya seraya menyatakan bahwa dirinya telah bebas dari kewajiban jihad. Namun ia tetap ngotot untuk ikut berjihad, lalu ia mendatangi Rasul saw. seraya berkata, ”Wahai Rasulullah, anak-anakku menahanku agar aku tidak ikut berjihad bersamamu. Demi Allah, aku berharap dengan kakiku yang pincang ini aku bisa masuk surga.” Beliau pun mengizinkannya ikut berjihad hingga meraih kesyahidan. (Udhama'ul Islam: 65) 

Memberikan pembinaan khusus kepada masing-masing shahabat sesuai bakat, potensi dan kecenderungan mereka. Abu Mahdzurah dan Bilal dibina secara khusus untuk menjadi mu'adzin karena suara mereka merdu dan keras. Mu'adz bin Jabal dididik menjadi da'i yang handal, lalu Rasulullah saw. mengirimnya ke Yaman setelah lulus fi t and proper test, uji kepatutan dan kelayakan. Abu Bakar. dan Umar disiapkan secara khusus untuk menjadi pemimpin besar sehingga ada sebagian shahabat yang berkomentar, "Rasulullah saw. bepergian dan yang menyertainya adalah Abu Bakar dan Umar. Rasulullah saw. datang dan yang menyertainya adalah Abu Bakar dan Umar.” 

Melatih kader-kader muda untuk mengemban tugas kepemimpinan yang besar. Seperti yang dilakukan Rasulullah saw. menjelang wafatnya. Beliau mengangkat Usamah bin Zaid yang masih berumur 17 tahun untuk memimpin pasukan yang beranggotakan para shahabat senior, di antaranya adalah Abu Bakar dan Umar. Namun belum sempat terlaksana beliau meninggal dunia sehingga Abu Bakar yang akhirnya memberangkatkan pasukan ini di bawah kepemimpinan Usamah. 

Itulah sebagian langkah-langkah yang ditempuh Rasulullah saw. dalam mencari dan mencetak figur-figur yang kuat dan tangguh demi kesuksesan dakwah dan jihad untuk menyebarkan rahmat keseluruh penjuru dunia.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama