Panduan Ringkas Shalat Jenazah Lengkap dengan Doa-doanya

Fikroh.com - Bismillah. Pada kesempatan ini akan kami muat tulisan tentang tata cara shalat jenazah sesuai sunnah. Semoga tulisan ini bisa menambah wawasan dan bisa jadi panduan dalam mensholatkan janazah

Hukum Shalat Jenazah

Shalat jenazah, hukumnya fardhu kifayah; jika telah dikerjakan oleh sekelompok orang, maka kewajibannya gugur bagi yang lainnya.

Kewajiban ini didasarkan pada hadis Abu Hurairah radhiyallahu anhu ia berkata;

ﺃَﻥَّ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻛَﺎﻥَ ﻳُﺆْﺗَﻰ ﺑِﺎﻟﺮَّﺟُﻞِ ﺍﻟْﻤُﺘَﻮَﻓَّﻰ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻟﺪَّﻳْﻦُ ﻓَﻴَﺴْﺄَﻝُ " ﻫَﻞْ ﺗَﺮَﻙَ ﻟِﺪَﻳْﻨِﻪِ ﻓَﻀْﻼً ." ﻓَﺈِﻥْ ﺣُﺪِّﺙَ ﺃَﻧَّﻪُ ﺗَﺮَﻙَ ﻟِﺪَﻳْﻨِﻪِ ﻭَﻓَﺎﺀً ﺻَﻠَّﻰ، ﻭَﺇِﻻَّ ﻗَﺎﻝَ ﻟِﻠْﻤُﺴْﻠِﻤِﻴﻦَ : ﺻَﻠُّﻮﺍ ﻋَﻠَﻰ ﺻَﺎﺣِﺒِﻜُﻢْ .

Bahwa Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam pernah didatangkan seorang mayat laki-laki yang memiliki hutang, lalu beliau bertanya, “Apakah ia meninggalkan sesuatu yang bisa melunasi hutangnya?” Apabila diberitahu bahwa ia meninggalkannya maka beliau menshalatinya, dan jika tidak maka beliau tidak menshalatinya, beliau mengatakan, “Shalatilah shahabat kalian ini.” [HR. Al-Bukhâri 6731 dan Muslim 1619].

Posisi Shalat Jenazah

Bila menshalatkan jenazah laki-laki, imam berdiri searah kepalanya; kalau jenazah wanita, ditengah-tengahnya.

Ketentuan ini didasarkan pada hadits Anas bin Malik radhiyallâhu ‘anhu, bahwa Abu Ghâlib berkata, “Aku pernah shalat bersama Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu atas seorang jenazah laki-laki, di mana ia berdiri di hadapan kepalanya. Kemudian orang-orang membawa jenazah perempuan dari suku Quraisy. Maka, mereka berkata, “Wahai Abu Hamzah, shalatlah atasnya.” Maka dia pun berdiri di dekat bagian tengah keranda. Maka al-‘Alâ’ bin Ziyâd bertanya kepadanya, “Beginikah engkau dulu pernah menyaksikan Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam berdiri saat menshalatkan jenazah wanita seperti posisimu ini dan saat menshalatkan jenazah laki-laki seperti posisimu tersebut?” Dia menjawab, “Ya.” Setelah selesai, dia berkata, “Ingatlah selalu.” [Shahih. HR. Abu Dâwud 3194 dan at-Tirmidzi 1034].

Tata Cara Shalat jenazah

Ulama sepakat bahwa shalat jenazah hanya dilakukan dengan berdiri, tanpa rukuk, sujud, duduk dan bertasyahhud.

Jumlah Takbir dalam shalat jenazah

Takbir shalat jenazah adalah empat atau lima takbir.

Untuk yang empat takbir didasarkan pada hadis Abu Hurairah radhiyallahu anhu;

ﻧَﻌَﻰ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲُّ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺍﻟﻨَّﺠَﺎﺷِﻲَّ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻴَﻮْﻡِ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻣَﺎﺕَ ﻓِﻴﻪِ , ﺧَﺮَﺝَ ﺑِﻬِﻢْ ﺇﻟَﻰ ﺍﻟْﻤُﺼَﻠَّﻰ , ﻓَﺼَﻒَّ ﺑِﻬِﻢْ , ﻭَﻛَﺒَّﺮَ ﺃَﺭْﺑَﻌﺎ .

"Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam pernah mengumumkan berita kematian an-Najasyi pada hari kematiannya. Kemudian beliau keluar bersama orang-orang ketempat shalat, lalu membuat barisan bersama mereka, dan bertakbir empat kali takbir.” [HR. Al-Bukhâri 1333 dan Muslim 951].

Sedang yang lima takbir, didasarkan pada hadits Zaid bin Arqam, bahwa ‘Abdurrahman bin Abi Laila, bercerita, “Zaid (bin Arqam) pernah menshalatkan jenazah kami dengan takbir empat kali. Dan dia juga pernah bertakbir lima kali atas suatu jenazah. Lalu aku tanyakan kepadanya mengenai hal itu, maka dia pun menjawab, “Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam pernah melakukan takbir ini.” [Muslim 597].

Adapun enam atau tujuh takbir, maka tidak ada hadits marfû’ tentang itu, yang ada adalah beberapa atsar shahabat. Diantara atsar tersebut ada yang shahih dan ada dha’if. Diantara shahabat semisal

‘Umar radhiyallâhu ‘anhu berpendapat tidak adanya tambahan takbir lebih dari empat sedang ‘Ali dan beberapa shahabat lain radhiyallâhu ‘anhum berpendapat bolehnya tambahan tersebut hingga tujuh takbir. Dalam kaedah disebutkan bahwa jika ada khilaf diantara para shahabat maka kita merujuk kepada nash-nash yang terdapat dalam al-quran maupun as-sunnah. Dan sunnah yang shahih menunjukkan bahwa Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam tidak pernah takbir jenazah lebih dari lima takbir. Adapun sembilan takbir yang dilakukan oleh Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam atas jenazah Hamzah, maka tidak sedikit dari ulama hadits yang menganggapnya sebagai hadits munkar. Wallâhu a’lam.

Rincian Tata Cara Shalat jenazah

Dimulai dengan takbir pertama disertai dengan mengangkat kedua tangan. Mengangkat kedua tangan pada setiap takbir didasarkan pada atsar Abdullah bin Umar (HR. Al-Bukhari dalam Raf'ul Yadain 110) dan Ibnu Abbas (Talkhisul Khabir 2/147) radhiyallahu anhuma. Atsar ini memiliki hukum marfu’, karena hal seperti ini tidak mungkin dikerjakan oleh seorang sahabat dengan hasil ijtihadnya.

Setelah takbir langsung membaca surat Al Fatihah tanpa doa istiftah sebelumnya dan tanpa bacaan surat setelahnya.

ﻋَﻦْ ﻃَﻠْﺤَﺔَ ﺑْﻦِ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺑْﻦِ ﻋَﻮْﻑٍ ﻗَﺎﻝَ ﺻَﻠَّﻴْﺖُ ﺧَﻠْﻒَ ﺍﺑْﻦِ ﻋَﺒَّﺎﺱٍ ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻨْﻬُﻤَﺎ ﻋَﻠَﻰ ﺟَﻨَﺎﺯَﺓٍ ﻓَﻘَﺮَﺃَ ﺑِﻔَﺎﺗِﺤَﺔِ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ ﻗَﺎﻝَ ﻟِﻴَﻌْﻠَﻤُﻮﺍ ﺃَﻧَّﻬَﺎ ﺳُﻨَّﺔٌ .

Dari Thalhah bin ‘Abdillah bin ‘Auf berkata, “Aku pernah shalat atas seorang jenazah dibelakang Ibnu ‘Abbâs, lalu dia membaca al-Fatihah. Dia (Ibnu ‘Abbâs) berkata, “Agar kalian mengetahui bahwa hal itu adalah sunnah.” [HR. Al-Bukhâri 1335].

Kemudian bertakbir yang kedua lalu disusul dengan membaca shalawat kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam (Ini adalah pendapat mayoritas ulama). Dan shalawat yang sempurna adalah seperti shalawat yang dibaca sewaktu tasyahhud di dalam salam.

Hal ini disandarkan kepada hadits Umamah bin Sahl dari salah seorang shahabat Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam;

ﺃَﻥَّ ﺍﻟﺴُّﻨَّﺔَ ﻓﻲ ﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓِ ﻋﻠﻰ ﺍﻟْﺠِﻨَﺎﺯَﺓِ ﺃَﻥْ ﻳُﻜَﺒِّﺮَ ﺍﻟْﺈِﻣَﺎﻡُ ﺛُﻢَّ ﻳَﻘْﺮَﺃَ ﺑِﻔَﺎﺗِﺤَﺔِ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ ﺑَﻌْﺪَ ﺍﻟﺘَّﻜْﺒِﻴﺮَﺓِ ﺍﻟْﺄُﻭﻟَﻰ ﺳِﺮًّﺍ ﻓﻲ ﻧَﻔْﺴِﻪِ ﺛُﻢَّ ﻳﺼﻠﻰ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭَﻳُﺨْﻠِﺺَ ﺍﻟﺪُّﻋَﺎﺀَ ﻟِﻠْﻤَﻴِّﺖِ ﻓﻲ ﺍﻟﺘَّﻜْﺒِﻴﺮَﺍﺕِ ﺍﻟﺜﻼﺙ 

"Sunnah dalam sholat jenazah adalah Imam bertakbir kemudian membaca alFatihah tidak dikeraskan setelah takbir pertama kemudian bershalawat kepada Nabi, dan mengikhlaskan doa untuk mayit pada tiga takbir (setelahnya) (H.R asy-Syafi’i dalam al-Umm (1/270)

Namun bagi imam Asy-Syaukani dan Ibnu Hazm bahwa shalawat itu terletak setelah bacaan Al-Fatihah pada takbir yang pertama. Adapun setelah takbir kedua hingga terakhir adalah membacakan doa untuk mayit. Dan inilah yang unggul berdasarkan dzahir hadis Umamah diatas.

Kemudian bertakbir yang ketiga lalu disusul dengan doa yang ma'tsur (doa yang datang dari Nabi shallallahu alaihi wasallam). Dasarnya lihat hadis Umamah diatas.

Kemudian bertakbir yang keempat lalu disusul dengan doa yang ma'tsur. Dasarnya lihat hadis Umamah diatas.

Lalu bersalam; boleh dengan salam satu kali dan boleh dengan dua salam.

Dasar untuk satu salam adalah hadis Abu Hurairah radhiyallahu anhu ia berkata;

ﺃَﻥَّ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺻَﻠَّﻰ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﺠَﻨَﺎﺯَﺓِ ﻓَﻜَﺒَّﺮَ ﻋَﻠَﻴْﻬَﺎ ﺃَﺭْﺑَﻌًﺎ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺗَﺴْﻠِﻴْﻤَﺔً ﻭَﺍﺣِﺪَﺓً

Sesungguhnya Rasulullah dahulu shalat jenazah; Beliau bertakbir empat kali dan salam satu kali. (HR Ad Daraquthni dan Al Hakim). Al Baihaqi meriwayatkan dari jalan Abul ‘Anbas dari bapaknya dari Abu Hurairah.(Ahkamul Janaiz, 128).

Sedang untuk dua salam, yaitu hadis Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu anhu ia berkata;

ﺛَﻼَﺙُ ﺧِﻼَﻝٍ ﻛَﺎﻥَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻳَﻔْﻌَﻠُﻬُﻦَّ ﺗَﺮَﻛَﻬُﻦَّ ﺍﻟﻨَّﺎُﺱ , ﺇِﺣْﺪَﺍﻫُﻦَّ ﺍﻟﺘَّﺴْﻠِﻴْﻢُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﺠَﻨَﺎﺯَﺓِ ﻣِﺜْﻞُ ﺍﻟﺘَّﺴْﻠِﻴْﻢِ ﻓِﻲ ﺍﻟﺼَّﻼَﺓِ

“(Ada) tiga kebiasaan (yang pernah) dikerjakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun kebanyakan orang meninggalkannya. Salah satunya, (yaitu) salam dalam shalat jenazah seperti salam di dalam shalat.” (HR Al Baihaqi).

Doa-doa Shahih shalat jenazah, diantaranya;

ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺍﻏْﻔِﺮْ ﻟَﻪُ ﻭَﺍﺭْﺣَﻤْﻪُ ﻭَﻋَﺎﻓِﻪِ ﻭَﺍﻋْﻒُ ﻋَﻨْﻪُ ﻭَﺃَﻛْﺮِﻡْ ﻧُﺰُﻟَﻪُ ﻭَﻭَﺳِّﻊْ ﻣُﺪْﺧَﻠَﻪُ ﻭَﺍﻏْﺴِﻠْﻪُ ﺑِﺎﻟْﻤَﺎﺀِ ﻭَﺍﻟﺜَّﻠْﺞِ ﻭَﺍﻟْﺒَﺮَﺩِ ﻭَﻧَﻘِّﻪِ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺨَﻄَﺎﻳَﺎ ﻛَﻤَﺎ ﻧَﻘَّﻴْﺖَ ﺍﻟﺜَّﻮْﺏَ ﺍﻟْﺄَﺑْﻴَﺾَ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺪَّﻧَﺲِ ﻭَﺃَﺑْﺪِﻟْﻪُ ﺩَﺍﺭًﺍ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﻣِﻦْ ﺩَﺍﺭِﻩِ ﻭَﺃَﻫْﻠًﺎ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﻣِﻦْ ﺃَﻫْﻠِﻪِ ﻭَﺯَﻭْﺟًﺎ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﻣِﻦْ ﺯَﻭْﺟِﻪِ ﻭَﺃَﺩْﺧِﻠْﻪُ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ ﻭَﺃَﻋِﺬْﻩُ ﻣِﻦْ ﻋَﺬَﺍﺏِ ﺍﻟْﻘَﺒْﺮِ ﻭَﻣِﻦْ ﻋَﺬَﺍﺏِ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ

Wahai, Allah! Berilah ampunan baginya dan rahmatilah dia. Selamatkanlah dan maafkanlah ia. Berilah kehormatan untuknya, luaskanlah tempat masuknya, mandikanlah ia dengan air, es dan salju. Bersihkanlah dia dari kesalahan sebagaimana Engkau bersihkan baju yang putih dari kotoran. Gantikanlah baginya rumah yang lebih baik dari rumahnya, keluarga yang lebih baik dari keluarganya semula, isteri yang lebih baik dari isterinya semula. Masukkanlah ia ke dalam surga, lindungilah dari adzab kubur dan adzab neraka. [HR Muslim dari ‘Auf bin Malik]

ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺍﻏْﻔِﺮْ ﻟِﺤَﻴِّﻨَﺎ، ﻭَﻣَﻴِّﺘِﻨَﺎ، ﻭَﺻَﻐِﻴﺮِﻧَﺎ، ﻭَﻛَﺒِﻴﺮِﻧَﺎ، ﻭَﺫَﻛَﺮِﻧَﺎ ﻭَﺃُﻧْﺜَﺎﻧَﺎ، ﻭَﺷَﺎﻫِﺪِﻧَﺎ ﻭَﻏَﺎﺋِﺒِﻨَﺎ، ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻣَﻦْ ﺃَﺣْﻴَﻴْﺘَﻪُ ﻣِﻨَّﺎ ﻓَﺄَﺣْﻴِﻪِ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﺈِﻳﻤَﺎﻥِ، ﻭَﻣَﻦْ ﺗَﻮَﻓَّﻴْﺘَﻪُ ﻣِﻨَّﺎ ﻓَﺘَﻮَﻓَّﻪُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡِ، ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻟَﺎ ﺗَﺤْﺮِﻣْﻨَﺎ ﺃَﺟْﺮَﻩُ، ﻭَﻟَﺎ ﺗُﻀِﻠَّﻨَﺎ ﺑَﻌْﺪَﻩُ

“Ya Allah, ampunilah yang masih hidup dari kami, yang telah mati, yang masih kecil, yang dewasa, yang laki-laki, yang perempuan, yang sedang bersama kami, dan yang tidak bersama kami. Ya Allah, siapa yang Engkau hidupkan dari kami maka hidupkanlah ia dalam keimanan, dan siapa yang Engkau matikan darikami maka matikanlah ia dalam keadaan Islam. Ya Allah, janganlah Engkau halangi kami dari pahalanya, dan jangalah Engkau sesatkan kami setelah kepergiannya”. [Shahih. HR. Abu Dawud]

ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺇِﻥَّ ﻓُﻠَﺎﻥَ ﺑْﻦَ ﻓُﻠَﺎﻥٍ ﻓِﻲ ﺫِﻣَّﺘِﻚَ، ﻭَﺣَﺒْﻞِ ﺟِﻮَﺍﺭِﻙَ، ﻓَﻘِﻪِ ﻣِﻦْ ﻓِﺘْﻨَﺔِ ﺍﻟْﻘَﺒْﺮِ، ﻭَﻋَﺬَﺍﺏِ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ، ﻭَﺃَﻧْﺖَ ﺃَﻫْﻞُ ﺍﻟْﻮَﻓَﺎﺀِ ﻭَﺍﻟْﺤَﻖِّ، ﻓَﺎﻏْﻔِﺮْ ﻟَﻪُ ﻭَﺍﺭْﺣَﻤْﻪُ، ﺇِﻧَّﻚَ ﺃَﻧْﺖَ ﺍﻟْﻐَﻔُﻮﺭُ ﺍﻟﺮَّﺣِﻴﻢُ

“Ya Allah, sesungguhnya si Fulan bin Fulan (menyebutkan nama orang yang meninggal) berada dalam lindungan dan penjagaanmu, maka lindungilah ia dari cobaan kubur dan siksaan neraka. Engkaulah yang paling berhak menunaikan janji dan hak, maka ampunilah ia dan rahmatilah ia, sesungguhnya Engkau Yang Maha Pengampun dan Penyayang”. [Shahih. Sunan Ibnu Majah]. Wallohu a'lam.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama