Doa Berlindung Dari Buruknya Takdir dan Penjelasannya

Fikroh.com - Doa adalah senjata orang mukmin. Demikian salah satu bunyi hadits Nabi. Ia sangat berguna untuk digunakan selayaknya sebuah senjata. Terlebih saat kondisi sulit yang melemahkan kemampuan fisik maupun psikis kita. Maka sombong orang yang enggan berdoa. 

Berikut ini doa yang diajarkan Rasulullah minta perlindungan dari takdir buruk dan aneka musibah.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم، يَتَعَوَّذُ مِنْ جَهْدِ الْبَلاَءِ، وَدَرَكِ الشَّقَاءِ، وَسُوءِ الْقَضَاءِ، وَشَمَاتَةِ الأَعْدَاءِ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: "Bahwasanya Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam berlindung  kepada Allah dari kerasnya musibah, turunnya kesengsaraan yang terus menerus, buruknya takdir dan senangnya musuh (karena musibah yang menimpa umat Islam).” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Pelajaran dari Hadits di atas:

Hadits di atas menjelaskan kepada kita, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sering berdoa kepada Allah meminta berlindung dari dari empat yang membawa madharat dunia dan akhirat.  Empat hal tersebut adalah sebagai berikut:

PELAJARAN PERTAMA: Kerasnya Musibah

جَهْدِ الْبَلاَءِ 

“Kerasnya musibah”

Penjelasan Makna (جَهْدِ الْبَلاَءِ) mempunyai dua arti, yaitu:

(a) Jahdi al-Bala’ artinya semua yang menimpa manusia dan menyebabkannya dalam kepedihan dan penderitaan. 

(b) Juhdi al-Bala’ artinya musibah yang tidak mampu dihadapinya dan sangat berat untuk ditanggungnya. Yaitu musibah yang tidak bisa dihindarinya. Saking hebatnya musibah tersebut sehingga seseorang memilih mati daripada mendapatkan musibah seperti ini. 

Sebagian ulama menjelaskan bahwa musibah secara umum terbagi menjadi dua bentuk;

Bentuk Pertama: Musibah Dunia. Musibah Dunia adalah musibah yang menimpa manusia pada anggota badan dan jiwanya, serta menimpa benda-benda yang ada disekitarnya.  Musibah ini tidak terkait dengan agama dan keyakinan yang dianutnya.  

Musibah dalam bentuk pertama ini meliputi tiga hal;

(a) Musibah Fisik (Jasmani), yaitu setiap musibah yang menimpa manusia pada salah satu anggota badannya, seperti sakit kepala, patah kaki, batuk-batuk, masuk angin.    

(b) Musibah Psikis (Ruhani), yaitu setiap musibah yang menimpa manusia pada kejiwaannya seperti sedih, stress, galau, khawatir, kecewa. Ini pernah dialami oleh dua wanita yang disebutkan di dalam al-Qur’an, yaitu Maryam binti ‘Imran yang difitnah oleh orang-orang Yahudi sebagai wanita yang tidak berakhlak, sebagaimana yang tercantum di dalam Qs. Maryam: 16-37. Begitu juga yang dialami oleh ‘Aisyah binti Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anha yang difitnah melakukan selingkuh dengan salah satu sahabat, sebagaimana yang tersebut di dalam Qs. an-Nur: 11-26.  

(c) Musibah Besar, yaitu musibah yang menimpa manusia dalam jumlah yang banyak dan bebarengan, seperti meletusnya perang, terjadinya tanah longsor, banjir, gempa bumi, gunung meletus dan kebakaran.

Musibah besar ini pernah dialami oleh Bani Israel, ketika mereka ditindas oleh Fir’aun, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta'ala,

وَإِذْ نَجَّيْنَاكُمْ مِنْ آلِ فِرْعَوْنَ يَسُومُونَكُمْ سُوءَ الْعَذَابِ  يُذَبِّحُونَ أَبْنَاءَكُمْ  وَيَسْتَحْيُونَ نِسَاءَكُمْ وَفِي ذَلِكُمْ بَلَاءٌ مِنْ رَبِّكُمْ عَظِيمٌ

“Dan (ingatlah) ketika Kami selamatkan kamu dari (Fir’aun) dan pengikut-pengikutnya; mereka menimpakan kepadamu siksaan yang seberat-beratnya, mereka menyembelih anak-anakmu yang laki-laki dan membiarkan hidup anak-anakmu yang perempuan. Dan pada yang demikian itu terdapat cobaan-cobaan yang besar dari Tuhanmu.” (Qs. al-Baqarah: 49)

Sebagian manusia tertimpa musibah-musibah di atas, kemudian tidak bisa bersabar terhadapnya. Justru dia mengeluh, mencaci maki, bahkan meninggalkan imannya. Ini sesuai dengan firman Allah, 

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَى حَرْفٍ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انْقَلَبَ عَلَى وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ ذَلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ 

"Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (Qs. al-Hajj: 11) 

Bentuk Kedua: Musibah Agama

Musibah agama adalah musibah yang menimpa manusia dalam menjalankan ajaran agamanya. Seperti seorang muslim yang menjadi ragu-ragu terhadap ajaran agamanya, sehingga memutuskan untuk pindah agama atau murtad dari Islam. Begitu juga seseorang yang melakukan perbuatan syirik,  maksiat dan dosa, baik dosa besar maupun dosa kecil. 

Musibah agama ini lebih berbahaya dari musibah dunia, karena akan membawa kesengsaraan dunia dan akhirat sekaligus. Musibah agama ini disebut juga (Daraki asy-Syaqa’) yang akan diterangkan pada doa selanjutnya. 

Oleh karena itu, kita diperintahkan untuk meminta perlindungan dari segala musibah. Di dalam hadits Abu Ubaidah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 

سَلُوا اللَّهَ الْعَافِيَةَ فَإِنَّهُ لَمْ يُعْطَ عَبْدٌ شَيْئًا أَفْضَلَ مِنْ الْعَافِيَةِ 

“Mintalah keselamatan kepada Allah, karena sesungguhnya Allah tidak memberikan sesuatu yang paling baik kepada seorang hamba daripada keselamatan.” (HR. Ahmad)

Ini dikuatkan oleh hadits Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِينِي وَدُنْيَايَ وَأَهْلِي وَمَالِي

“Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepadamu keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepadamu ampunan dan keselamatan dalam agamaku, duniaku, keluargaku dan hartaku." (HR. al-Bukhari)

PELAJARAN KEDUA: Datangnya Kesengsaraan

 وَدَرَكِ الشَّقَاءِ 

“Datangnya  kesengsaraan.”

Yang dimaksud dengan (Daraki asy-Syaqa’)di sini adalah mendapatkan kesengsaraan dunia dan akhirat akibat perbuatan syirik, kufur, maksiat, dan dosa. Ini disebutkan juga dengan musibah agama. Kalau musibah sebelumnya, yaitu (Jahdi al-Bala’) adalah musibah dunia.

Untuk menghindari (Daraki asy-Syaqa’) ini, kita harus mendekatkan diri kepada Allah, seraya merasa takut akan adzab-Nya serta mentaati segala perintah-Nya. 

Ini sesuai dengan doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits 'Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa, 

اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُولُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ

“Ya Allah, jadikanlah untuk kami bagian dari rasa takut kepada-Mu yang dapat menghalangi kami dari perbuatan maksiat (kepada-Mu). Dan jadikanlah untuk kami bagian dari ketaatan kepada-Mu yang dapat menyampaikan kami kepada surga-Mu.” (HR. at-Tirmidzi)

Juga sesuai dengan doa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana yang diriwayatkan ‘Abdullah bin 'Umar radhiyallahu ‘anhu, 

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ من جَمِيعِ سَخَطِكَ

“Ya Allah, saya berlindung kepada-Mu dari seluruh murka-Mu.“ (HR. Muslim) 

Murka Allah akan datang ketika manusia berpaling dari ajaran-Nya, melanggar aturan-aturan-Nya, tidak mau menyembah-Nya, bahkan membuat sesembahan tandingan-tandingan di hadapan-Nya. 

PELAJARAN KETIGA: Buruknya Takdir

 وَسُوءِ الْقَضَاءِ 

“Buruknya takdir”

Termasuk keyakinan Ahlus Sunnah wal-Jama’ah adalah beriman kepada takdir yang baik, maupun takdir yang buruk. 

Maksud dari (Su’u al-Qadha’) dalam  hadits di atas, ada dua hal: 

(1) Su’u al-Qadha’ artinya buruknya hukuman atau putusan.

Kadangkala seseorang keliru ketika memutuskan suatu hukuman kepada orang lain. Ini berlaku bagi para hakim yang menghukumi perkara manusia. Berlaku juga pada perorangan yang menghukumi atau memutuskan sesuatu pada dirinya sendiri ataupun kepada orang lain, kemudian ternyata hukuman dan putusan tersebut keliru. Maka kita diperintahkan untuk berlindung kepada Allah dari kesalahan atau kekeliruan dalam menghukum atau memutuskan. 

(2) Su’u al Qadha’ artinya buruknya takdir Allah.

Maksud dari buruknya takdir Allah adalah akibat buruk yang dirasakan seseorang dari suatu takdir, bukan takdir Allah yang buruk. Sebagai contoh, seseorang ditakdirkan mengalami kecelakan yang menyebabkan kakinya patah. Orang yang mengalami kecelakan ini merasakan sakit yang berkepanjangan. Ini yang dimaksud dengan buruknya takdir atau takdir buruk. 

Ketika Allah mentakdirkan sesuatu yang kelihatan buruk di mata manusia, tidak serta merta hal itu berakibat buruk juga, kadang justru malah membawa kebaikan bagi hamba tersebut. Ini sesuai dengan firman Allah, 

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ 

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Qs. al-Baqarah: 216) 

Nabi Yusuf 'alaihi as-sallam yang ditakdirkan masuk ke dalam sumur, dan masuk penjara, ternyata itu semua mengantarkannya kepada kekuasaan di Mesir. Nabi Musa 'alaihi as-sallam  yang waktu bayi dihanyutkan di sungai Nil, ternyata membawanya ke istana Fir’aun. Di dalam kehidupan sehari-hari, kita dapatkan orang yang sakit disuntik oleh dokter. Suntik bagi pasien itu menyakitkan, tetapi membawa kebaikan baginya.

Demikian penjelasan hadits tentang doa perlindungan dari takdir buruk. Semoga Alloh SWT menjauhkan kita dari keburukan makhluk-makhluknya.

Penulis: DR. Ahmad Zain An-Najah, MA.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama