Benarkah Demonstrasi Haram Mutlak?

Fikroh.com - Sikap para ulama dalam mengharamkan demonstrasi - berupa pengerahan masa guna memaksakan kehendak terhadap penguasa - adalah sebuah sikap yang sangat bijak dan penuh dengan hikmah.

Demonstrasi seperti yang sering kita lihat pada zaman ini tidak lebih hanyalah sekedar alat dalam membela kepentingan politik tertentu, bahkan pada umumnya para pelakunya adalah orang-orang bayaran.

Demonstrasi pada umumnya berujung kepada fitnah yang akan merugikan masyarakat luas, karena mengakibatkan tumbangnya pemerintah yang sah, pecahnya persatuan dan persaudaraan, timbulnya pengrusakan terhadap aset-aset penting dan masih banyak keburukan lainnya.

Demonstrasi seringkali merupakan sikap tasyabbuh – tiru meniru – terhadap budaya dan tradisi orang-orang kafir yang sekuler dan menghalalkan segala cara, serta jauh dari kemuliaan akhlaq Islam.

Para ulama ahlussunnah wal-jamaah tidak menginginkan demonstrasi menjadi sebuah sunnah yang akan menjadi suatu tradisi dan kebiasaan buruk di masyarakat.

Namun, apakah dengan begitu demonstrasi secara mutlak “demonstrasi” menjadi selalu haram? setiap saat? pada semua keadaan? di semua tempat? tanpa pengecualian?

Tentunya tidak, karena pada suatu saat tertentu dan pada keadaan tertentu demonstrasi bisa menjadi suatu kebutuhan mendesak dan solusi alternatif dihadapan kebuntuan komunikasi, serta menjadi jembatan penyelamat dihadapan pilihan yang lebih buruk.

Ibnu Abbas RA menceritakan tentang dialog diantara Rosululloh SAW dengan Umar ibnul-Khotthob RA pada saat dia masuk Islam, dimana Umar Al-Faruq RA bertanya : “bukankah kita berada diatas kebenaran?”, Beliau menjawab : “benar”. Umar RA kembali bertanya : “mengapa kita mesti bersembunyi?”, maka beliau memberi izin kepada Umar untuk berkeliling Mekkah menampilkan Islam.

Sehingga Abdulloh ibnu Mas’ud mengatakan : “kami dulu tidak berani melakukan sholat terang-terangan hingga masuk islamnya Umar”.

Al-Imam Ahmad ibnu Hambal dengan beraninya berceramah dihadapan khalayak ramai mengungkapkan kesalahan pendapat yang dianut oleh kholifah pada saat itu yaitu “Al-Qur’an adalah makhluq”. Akibatnya beliaupun masuk penjara.

Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah dengan beraninya menentang bid’ah yang diusung oleh orang-orang dekat dengan kekuasaan pada saat itu, beliau mendapat dukungan dari khalayak ramai pada saat itu.

Sikap-sikap berani yang tetap pada relnya, dilakukan dengan perhitungan yang matang akan punya pengaruh yang sangat luas dan memancarkan manfaat yang sangat panjang, bahkan bisa melampaui beberapa generasi berikutnya, contohnya apa yang kita rasakan hasilnya hingga hari ini adalah merupakan tunas yang ditanam oleh Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah di zamannya, walaupun beliau harus masuk penjara akibatnya.

Diamnya ulama dihadapan kebejatan, tidak peduli kepada keadaan yang bobrok, membenarkan apapun yang dilakukan oleh penguasa walaupun perbuatan bathil dan berbahaya yang imbasnya sangat luas dan berkepanjangan, adalah perbuatan setan yang berjubah ulama.

Pada saat ini kita dibenturkan dengan tingkah polah kaum musyrikin dan kafirin yang begitu beraninya menohok mata kita dan menusuk telinga kita serta mendebarkan dada kita, ternyata disambut hanya dengan sikap skeptis yang dilahirkan oleh keraguan dan sikap selalu memutlakkan fatwa ulama.

Padahal setiap fatwa tentunya sangat terkait dengan situasi dan kondisi yang meliputinya, sehingga setiap wilayah yang memiliki situasi dan kondisi tertentu tidak bisa dikenai fatwa dari ulama dari wilayah yang memiliki situasi dan kondisi yang berbeda, sehingga pemberi fatwa harus benar-benar mengerti situasi dan kondisi wilayah itu secara persis.

Kemarin kita menyaksikan bagaimana seorang penguasa kafir begitu beraninya menistakan Al-Qur’an, sehingga dihadapi oleh muslimin dengan demonstrasi besar-besaran, hasilnya alhamdulillah dia dijebloskan kedalam sel penjara.

Hari-hari ini kita menyaksikan pula betapa bejatnya moral para tentara Myanmar yang dengan bengisnya merobek-robek kehormatan muslimin Rohingya, merebut harta mereka dan menumpahkan darah mereka, tentunya wajib atas muslimin untuk menyelamatkan mereka dan menuntut hak-hak mereka, terutama atas muslimin yang bertetangga langsung dengan mereka.

Akibatnya Myanmar bisa jadi ambon kedua, disaat kebengisan itu terus-menerus dibiarkan, dalam waktu yang sama kemarahan muslimin terus memuncak dan meluap terutama di kalangan para pemudanya, maka cepat ataupun lambat akan terjadi migrasi mujahidin besar-besaran dari berbagai penjuru dunia ke Myanmar untuk melawan tentara Myanmar.

Tidak mungkin manhaj salafy mengajarkan sikap acuh tak acuh terhadap kekejaman dan kebiadaban yang menimpa kaum muslimin dimanapun mereka berada.

Umat islam tidaklah bisa dipisahkan oleh tempat dan waktu, mereka saling bersudara, saling membantu, saling melindungi dan siap berkorban dalam membela nasib buruk yang menimpa siapapun diantara mereka.

Kalau ada ajaran yang membawa muslimin kepada “egoisme” dan “ego sektoral” mesti bukan dari ajaran para ulama assalafus-sholih, ajaran itu mestinya datang dari orang yang tidak menguasai dengan baik manhaj salafy, karena ajaran yang benar tidak mungkin membenarkan sikap ananiyah dan ashobiyah.

Solusi paling mudah dan ringan adalah : Muslimin mesti menunjukkan kekuatan dan kesiapan mereka yang sangat besar dalam membela dan melindungi saudara mereka yang teraniaya.

Kalau ada cara lain selain demonstrasi maka segera disebutkan agar segera jadi solusi yang lebih baik, tapi kalau memang tidak ada, apa mau dikata? Karena ini adalah solusi yang bersifat mendesak dan lebih ringan keburukannya daripada tertumpahnya darah dan terinjak-injaknya kehormatan kaum muslimin.(*)

Oleh : Yusuf Utsman Baisa

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama