Sunnah-sunnah Setelah Menguburkan Jenazah


Fikroh.com - Saat selesai menguburkan jenazah seorang muslim hendaknya menghindari amalan terlarang dan berusaha mengerjakan amalan sunnah. Amalan sunnah setelah menguburkan jenazah ada banyak. Mengamalkannya mendapat pahala dan bermanfaat bagi mayit. Berikut ini yang boleh dan yang terlarang dilakukan setelah memakamkan jenazah.

1. Beristighfar (memohon ampun) bagi jenazah serta mendoakannya. 

Disunnahkan bagi orang yang ikut menghadiri acara pemakaman untuk memohonkan ampunan bagi jenazah dan memohon keteguhan baginya ketika ditanya malaikat. Karena Nabi bersabda, 

استغفِروا لأخيكُم ، وسَلوا لَهُ التَّثبيتَ ، فإنَّهُ الآنَ يُسأَلُ

“Mohonkanlah ampunan dan keteguhan bagi saudara kalian, karena sesungguhnya sekarang dia sedang ditanya (oleh malaikat).” (HR. Al-Bukhari: 2/111, Muslim: 63, kitab Al-janaiz, dan An-Nasa'i: 4/27, 94) 

Beliau mengatakan demikian setelah selesai acara pemakaman. Bahkan, sebagian dari kalangan salafush shaleh ada yang berdoa: 

“Ya Allah! ini hamba-Mu singgah kepada-Mu, dan Engkau lah sebaik-baik tempat singgah, maka ampunilah dia dan luaskanlah tempat masuknya.”

2. Meratakan kuburan.

Semestinya kuburan itu diratakan dengan tanah karena Nabi memerintahkan untuk meratakan kuburan dengan tanah. Hanya saja menggundukkan kuburan itu pun dibolehkan, yaitu menaikkan kuburan seukuran satu jengkal, dan itu disunnahkan menurut jumhur ulama, karena kuburan Nabi juga berbentuk gundukan. 

Tidak mengapa meletakkan tanda atau ciri pada kuburan, agar dapat dikenal berupa batu atau lainnya. Karena Nabi, memberikan tanda pada kuburan Utsman bin Madz‘un dengan batu besar, dan beliau bersabda: 

«أَتَعَلَّمُ بِهَا قَبْرَ أَخِي، وَأَدْفِنُ إِلَيْهِ مَنْ مَاتَ مِنْ أَهْلِي»

“Aku memberikan tanda pada kuburan saudaraku dengan batu itu, dan aku akan menguburkan (dengan memberikan tanda dengannya) orang yang wafat dari keluargaku.” (Abu Daud: 2/230, hadits hasan) 

3. Haram menyemen kuburan dan membangun sesuatu di atasnya. 

Larangan menyemen kuburan atau membangun sesuatu diatasnya. Berdasarkan riwayat Muslim bahwasanya Nabi melarang menyemen kuburan dan membangun sesuatu di atasnya. 

4. Makruh duduk di atas kuburan. 

Makruh bagi seorang muslim duduk di atas kuburan saudaranya yang muslim, atau melangkahinya (menginjaknya) dengan kakinya. Hal ini berdasarkan sabda Nabi،

لا تَجْلِسُوا عَلَى الْقُبُورِ وَلا تُصَلُّوا إِلَيْهَا

“Janganlah kalian duduk di atas kuburan, dan jangan pula kalian shalat menghadapnya (menghadap kearahnya).” (HR. Muslim (33) kitab Al-janaiz) Dan sabda beliau, 

لَأَنْ يَجْلِسَ أَحَدُكُمْ عَلَى جَمْرَةٍ فَتَحْرِقَ ثِيَابَهُ فَتَخْلُصَ إِلَى جِلْدِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَجْلِسَ عَلَى قَبْرٍ

“Sungguh, salah seorang dari kalian duduk di atas bara api sehingga pakaiannya itu terbakar dan mengelupas kulitnya itu lebih baik daripada dia duduk di atas kuburan.” (HR. Muslim: 33, kitab Al-jana‘iz, dan Abu Daud: 3228) 

5. Haram membangun masjid di atas kuburan. 

Diharamkan membangun masjid di atas kuburan dan memasang lampu di atasnya. 

Hal ini berdasarkan sabda Nabi 

"لَعَنَ رسول الله صلى الله عليه وسلم زائرات القبور، والمُتَّخذين عليها المساجد والسُّرُج"

“Allah melaknat para perempuan yang menziarahi kuburan, serta para perempuan yang menjadikan kuburan sebagai masjid memasang di atasnya lampu-lampu.” (HR. Al-Baihaqi dalam kitab As-Sunanul Kubra: 2/ 78) Juga sabda beliau,

Allah melaknat orang Yahudi, mereka telah menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai masjid.” (HR. Al-Bukhori: 1/116, Muslim: 3, kitab Al-Masajid, dan Ahmad: 1/218) 

6. Haram membongkar kuburan dan memindahkan jasad mayat tanpa sebab.

Diharamkan membongkar kuburan dan memindahkan jasad mayat di dalamnya, atau mengeluarkan isinya kecuali karena sangat terpaksa, misalnya seperti dikubur tanpa dimandikan. 

Sebagaimana dimakruhkan memindahkan mayat yang belum dikubur dari satu negara ke negara lain, kecuali jika tempat tujuan dari pemindahannya itu salah satu dari tanah haram yang dimuliakan, Mekah Madinah, atau Baitul Maqdis. 

Hal ini berdasarkan sabda Nabi,

“Kuburkanlah (mayit) orang-orang yang terbunuh di tempat mereka meninggal." (HR. An-Nasa'i (4/79) dan lainnya, dan merupakan hadits shahih) 

7. Sunnah ta‘ziyah (melayat).

Disunnahkan melayat kepada keluarga orang yang meninggal, baik laki-laki atau perempuan. Sebelum dimakamkan ataupun sesudahnya sampai tiga hari, kecuali jika salah seorang pelayatnya itu sedang tidak berada di tempat atau dia berada di tempat yang jauh. Sehingga, boleh baginya melayat walaupun terlambat. 

Berdasarkan sabda Nabi , 

مَا مِنْ مُؤْمِنٍ يُعَزِّي أَخَاهُ بِمُصِيبَةٍ ، إِلَّا كَسَاهُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ مِنْ حُلَلِ الْكَرَامَةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Tidaklah seorang mukmin melayat saudaranya karena suatu musibah melainkan Allah Azza wa ]alla akan memakaikannya pakaian dari pakaian kemuliaan pada hari kiamat.” (HR. Ibnu Majah: 1601, hadits hasan) 

Makna ta'ziyah

Ta'ziyah adalah memberikan nasehat untuk bersabar kepada keluarga yang ditinggal dan menyebutkan sesuatu yang dapat meringankan musibahnya, dan menghilangkan kesedihannya. 

Ta'ziyah dapat dilakukan dengan lafadz apa saja. Di antara riwayat yang menyebutkan hal itu yaitu sabda Nabi kepada putri beliau yang mengutus seseorang mengabarkan kematian putranya, lalu beliau mengutus seseorang untuk menyampaikan salam kepadanya dan berkata kepadanya.

8. Berbuat baik kepada keluarga jenazah. 

Disunnahkan membuat makanan bagi keluarga jenazah, yang dilakukan oleh kerabat-kerabatnya atau tetangganya di hari kematian jenazah. Berdasarkan sabda Nabi

“Buatkanlah makanan bagi keluarga ja'far, karena sesungguhnya mereka. telah didatangi (ditimpa) satu perkara yang menyibukkan mereka (dari memasak makanan untuk mereka sendiri).” (HR. Ahmad: 1/205, At-Tirmidzi: 1/272, Abu Daud: 3132, dan Ibnu Majah: 1610) 

Jika keluarga yang ditinggal membuat makanan sendiri untuk orang lain maka hukumnya makruh, tidak semestinya dilakukan. Karena dapat menambah berat musibah yang dialaminya. 

Tapi jika seseorang datang, maka wajib dilayani, seperti orang asing contohnya,-maka disunnahkan bagi tetangga dan kerabat untuk menjamunya dan menggantikan keluarga jenazah. 

9. Bersedekah untuk jenazah. 

Disunnahkan bersedekah atas jenazah berdasarkan riwayat Muslim dari Abu Hurairah; bahwasanya ada seorang laki-laki berkata, “Wahai Rasulullah! sesungguhnya ayahku telah meninggal dan beliau meninggalkan sejumlah harta tapi beliau tidak memberikan wasiat, apakah dapat menghapus dosanya jika aku bersedekah atasnya?”, Beliau menjawab. “Ya”. 

Ketika Ummu Sa'ad bin 'Ubadah meninggal, dia berkata, “Wahai Rasulullah! sesungguhnya ibuku telah meninggal, apakah aku (boleh) bersedekah atasnya? ”, Beliau menjawab, “Ya”, Dia bertanya lagi, “Sedekah apa yang paling utama?”, Beliau menjawab, “Memberi minum.” (HR. Ahmad: 5/285, An-Nasa'i: 6/254, 255, dan Ibnu Majah: 3684).

10. Membaca Al-Qur’an untuk jenazah. 

Tidak mengapa seorang muslim duduk di dalam masjid atau di rumahnya lalu membaca Al-Qur'an, apabila telah selesai membacanya lalu memohon kepada Allah 5; ampunan dan rahmat bagi jenazah, dengan bertawasul kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan bacaan Al-Qur’an yang dia baca. 

Adapun berkumpulnya para pembaca Al-Qur’an di rumah yang terkena musibah untuk membaca Al-Qur'an, lalu menghadiahkan pahala bacaan mereka bagi jenazah, dan dari pihak keluarga jenazah memberikan kepadanya upah (bayaran) atas perbuatan itu maka itu merupakan bid'ah dan kemungkaran yang wajib ditinggalkan. 

Wajib bagi kita mengajak saudara-saudara sesama muslim untuk menjauhinya. Karena para salafushshaleh dari kalangan umat ini tidak mengenal akan hal itu, dan orang-orang yang hidup pada masa penuh keutamaan (para shahabat) itu tidak ada yang berpendapat seperti itu. 

Sesuatu yang tidak ditentukan syariat pada umat generasi awal, tidak juga menjadi ketentuan agama bagi umat generasi akhir dalam situasi bagaimanapun. 

11. Ziarah kubur

Menziarahi kuburan itu termasuk perbuatan yang dianjurkan, karena dapat mengingatkan akan akhirat serta memberikan manfaat kepada ienazah dengan doa dan permohonan ampunan baginya. Berdasarkan sabda Nabi,

“Dulu aku melarang kalian dari menziarahi kuburan, (tapi sekarang) berziarahlah, karena itu dapat mengingatkan kalian akan akhirat.” (HR, Al-Hakim dalam kitab Al-Mustadrak: 1/376).

Demikian perkara yang boleh dan yang terlarang untuk dilakukan setelah prosesi pemakaman jenazah. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayahnya kepada kita dan meneguhkan hati kita untuk istiqomah dalam mengikuti sunnah Nabi yang mulia.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama