Dalil Bolehnya Wanita Haid Berdiam di Dalam Masjid


Fikroh.com - Umumnya ceramah-ceramah agama di masjid-masjid terbuka untuk laki-laki maupun perempuan. Namun permasalahannya adalah bagaimana hukumnya seorang wanita haidh duduk beberapa saat di masjid dalam rangka mendengarkan ceramah agama? Apakah diperbolehkan atau tidak? Tentunya dengan catatan darah haidhnya tidak ada potensi menetes di lantai masjid dan ini kelihatannya dapat teratasi dengan baik setelah inovasi teknologi dengan adanya pembalut yang secara efektif mencegah darah haidh bertetesan dari sang wanita yang sedang haidh.

Madzhab mayoritas ulama dari kalangan empat madzhab adalah tidak membolehkan seorang wanita haidh duduk menetap di masjid. Asy-Syaikh Kamaal ibnu as-Sayyid menukil hal tersebut dalam kitabnya "Shahih fiqih Sunnah" (1/184) :

ذهب جمهور أهل العلم من الأئمة الأربعة وغيرهم -خلافًا للظاهرية- إلى تحريم مكث الحائض والنفساء والجنب في المسجد، وهو مروي عن ابن عباس وابن مسعود من الصحابة

"Mayoritas ulama dari kalangan empat madzhab dan selain mereka -kecuali dhohiriyyah- berpendapat haramnya wanita haidh, nifas dan orang yang junub untuk tinggal di masjid. Pendapat ini diriwayatkan dari ibnu Abbas dan ibnu Mas'ud radhiyallahu anhum" -selesai-.


Oleh karena itu, ada sebagian ulama yang jumlahnya minoritas menganggap tidak ada masalah bagi wanita haidh dan orang junub untuk tinggal di masjid. Ini adalah pendapatnya imam ibnu Hazm dari kalangan madzhab dhohiri, beliau berkata dalam kitabnya "al-Muhalla" (1/400-402) :

وَجَائِزٌ لِلْحَائِضِ وَالنُّفَسَاءِ أَنْ يَتَزَوَّجَا وَأَنْ يَدْخُلَا الْمَسْجِدَ وَكَذَلِكَ الْجُنُبُ، لِأَنَّهُ لَمْ يَأْتِ نَهْيٌ عَنْ شَيْءٍ مِنْ ذَلِكَ، وَقَدْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - «الْمُؤْمِنُ لَا يَنْجُسُ» وَقَدْ كَانَ أَهْلُ الصُّفَّةِ يَبِيتُونَ فِي الْمَسْجِدِ بِحَضْرَةِ رَسُولِ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - وَهُمْ جَمَاعَةٌ كَثِيرَةٌ وَلَا شَكَّ فِي أَنَّ فِيهِمْ مِنْ يَحْتَلِمُ، فَمَا نُهُوا قَطُّ عَنْ ذَلِكَ.

"Boleh bagi orang yang haidh dan nifas melangsungkan pernikahan dan boleh baginya juga masuk masjid, demikian juga orang yang junub, karena tidak ada larangan sedikitpun tentang hal ini, dan juga Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

الْمُؤْمِنُ لَا يَنْجُس

"Orang mukmin itu tidak najis".

Ahlu Sufah pada masa Nabi juga menginap di masjid dan jumlah mereka banyak, sehingga tidak ragu lagi bahwa diantara mereka mungkin ada yang mimpi basah, namun tidak ada nash yang melarang (mereka tinggal) sedikitpun" -selesai-.

Kemudian setelah beliau menyanggah dalil-dalil yang dibawakan oleh jumhur, diakhir pembahasan beliau menyebut siapa saja yang berpendapat menyelisihi jumhur ulama, kata beliau :

وَهَذَا قَوْلُ الْمُزَنِيّ وَدَاوُد وَغَيْرِهِمَا

"Ini adalah pendapatnya al-Muzaniy dan Dawud (adz-Dzhohiry) serta selain keduanya" -selesai-.

Kemudian dari kalangan ulama kontemporer yang berpendapat bolehnya wanita haidh duduk di masjid adalah Imam al-albani.

Asy-syaikh Kamal dalam kitabnya "Shahih Fiqhus Sunnah" (1/184-188) telah memaparkan dengan apik hujjah dan sanggahan masing-masing kelompok yang melarang dan membolehkannya, kemudian diakhirnya beliau berkesimpulan :

فالذي يظهر أن أدلة المانعين لا ترقى للقطع بالحُرمة، وإن كنت أتوقف في هذه المسألة، والله أعلم بالصواب.

"Yang nampak bahwa dalil-dalil yang disampaikan oleh pihak yang melarang, tidaklah sampai kepada tingkatan pasti haramnya, sekalipun begitu aku (asy-syaikh Kamal) tawaquf dalam masalah ini" -selesai-.

Para ulama yang menganalisa dalil-dalil tentang pengharaman wanita haidh duduk di masjid, mereka menarik kesimpulan bahwa dalil tersebut shahih namun tidak sharih (gamblang), sedangkan yang sharih (gamblang) statusnya tidak shahih. Oleh karenanya para ulama yang membolehkan wanita haidh berdiam di masjid, berdalil dengan dalil "Baro'ah Ashliyyah" (kembali ke hukum asal) yakni asalnya seorang mukminah walapun sedang haidh tidak ada larangan untuk keluar-masuk masjid, diam dan duduk di masjid, sehingga hukum asal ini tetap berlaku selama tidak ada yang mengharamkannya. Dan nash yang mengharamkan secara gamblang tidak shahih.

Barangkali pendapat yang tepat adalah hukumnya sekedar makruh, karena jika ada larangan tapi tidak pasti pelarangannya, maka hukum taklifinya didowngrade dari haram menjadi makruh", sebagaimana penjelasan asy-syaikh Abdullah Fauzan dalam "Syarah al-Waraqaat" :

ﻣﺎ ﻃﻠﺐ ﺍﻟﺸَّﺎﺭِﻉُ ﺗﺮﻛﻪ ﻃﻠﺒﺎً ﻏﻴﺮَ ﺟَﺎﺯِﻡٍ

"(Makruh) adalah apa yang ditutut oleh Syaari' untuk meninggalkannya dengan tuntutan yang tidak pasti".

Oleh karena itu, jika sang wanita yang sedang haidh punya kebutuhan untuk mendengarkan pengajian, maka tidak mengapa hadir di masjid dengan tetap menjaga kebersihan masjid dari tetesan darah haidhnya. Lebih Bagus lagi jika didekat masjid ada aula atau ruangan kelas yang bukan bagian dari masjid, yang diperuntukkan khusus bagi wanita ketika ada pengajian, sehingga menjadi jalan keluar yang memuaskan dalam masalah ini.  Wallahu A'lam.


Oleh: Abu Sa'id Neno Triyono

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama