Siapa Saja Yang Boleh Dan Sah Menjadi Imam Shalat?

Fikroh.com - Imam shalat adalah orang yang memiliki kriteria tertentu yang disyaratkan oleh syariat. Sah dan tidaknya imam shalat sangat bergantung pada pemenuhan syarat-syarat yang telah ditetapkan. Lalu siapa saja Orang Yang Sah Menjadi Imam Shalat? Berikut ini orang yang boleh menjadi imam dan sah imamnya.

1. Bolehkah orang buta menjadi imam?

Hadits Mahmud Bin Rabi’, bahwa ‘Itban Bin Malik radhiallahu 'anhuma menjadi imam untuk kaumnya padahal ia seorang buta. Suatu hari ia meminta Rasul Shallallahu 'alaihi wasallam dan berkata:

يَا رَسُولَ اللَّهِ ، إِنَّهَا تَكُونُ الظُّلْمَةُ وَالسَّيْلُ وَأَنَا رَجُلٌ ضَرِيرُ الْبَصَرِ ، فَصَلِّ يَا رَسُولَ اللَّهِ فِى بَيْتِى مَكَانًا أَتَّخِذُهُ مُصَلًّى ، فَجَاءَهُ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ: أَيْنَ تُحِبُّ أَنْ أُصَلِّىَ؟ فَأَشَارَ إِلَى مَكَانٍ مِنَ الْبَيْتِ فَصَلَّى فِيهِ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم.

“Wahai Rasulullah telah terjadi mendung dan hujan deras sedangkan aku adalah seorang yang buta, shalatlah di rumahku wahai Rasulullah, akan kusiapkan tempat untuk dijadikan tempat shalat.” Rasulullah pun mendatanginya dan bertanya, “Dimana tempat yang kau suka untukku mengerjakan shalat?” Kemudian ia menunjukan satu tempat di rumahnya dan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam melaksanakan shalat di tempat tersebut.[Hadits Riwayat: Al-Bukhari (667), Muslim (33)]

Diriwayatkan dari Aisyah radhiallahu 'anha :

أن النبى صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ استخلف ابن أم مكتوم على المدينة يصلى بالناس

“Bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam mengangkat Ibnu Ummi Maktum menjadi imam di madinah.” [Hadits Riwayat: Ibnu Hibban (2134), Abu Ya’la (4456)]

Catatan Tambahan:

Bahwa seorang yang mendapat uzur boleh menjadi imam atas orang yang sehat karena tidak ada perbedaan antara orang sehat dengan orang buta. Ini pendapat yang rajih. Waallahu a’alam. [Lihat kitab “Asailul Jarar” (1/253)]

2. Budak dan maula (mantan budak) yang menjadi imam

Diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiallahu 'anhuma berkata,

لَمَّا قَدِمَ الْمُهَاجِرُونَ الأَوَّلُونَ الْعُصْبَةَ - مَوْضِعٌ بِقُبَاءٍ - قَبْلَ مَقْدَمِ رَسُولِ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - كَانَ يَؤُمُّهُمْ سَالِمٌ مَوْلَى أَبِى حُذَيْفَةَ ، وَكَانَ أَكْثَرَهُمْ قُرْآنًا.

“Ketika kaum Muhajirin datang ke ‘Ushbah –daerah Quba’- sebelum kedatangan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam, Salim menjadi imam karena orang yang paling banyak hafal al-Qur’an padahal ia seorang budak Abu Huzaifah.” [Shahih dan telah disebutkan sebelumnya]

Petunjuk yang bisa diambil dari hadits di atas adalah ijma’ diantara para sahabat Quraisy untuk menjadikan Salim sebagai imam padahal pada waktu itu ia belum merdeka.

Diriwayatkan dari Nafi’ bahwa Umar radhiallahu 'anhu bertanya kepadanya:

مَنِ اسْتَعْمَلْتَ عَلَى أَهْلِ الْوَادِى؟ فَقَالَ: ابْنَ أَبْزَى. قَالَ: وَمَنِ ابْنُ أَبْزَى؟ قَالَ: مَوْلًى مِنْ مَوَالِينَا. قَالَ: فَاسْتَخْلَفْتَ عَلَيْهِمْ مَوْلًى؟ قَالَ: إِنَّهُ قَارِئٌ لِكِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَإِنَّهُ عَالِمٌ بِالْفَرَائِضِ. قَالَ عُمَرُ: أَمَا إِنَّ نَبِيَّكُمْ صلى الله عليه وسلم قَدْ قَالَ: إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ.

“Siapa yang engkau jadikan imam dari penduduk desa?” “Ibnu Abza”, jawabnya. Umar bertanya lagi, “Siapa Ibnu Abza?” “Ia adalah salah satu budak kami”, jawabnya. Umar pun bertanya lagi, “Kamu jadikan seorang budak sebagai imam bagi mereka?” “ia adalah orang yang banyak hafal al-Qur’an dan faham tentang ilmu faraidh”, jawabnya. Kemudian Umar berkata, “Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda bahwa sesungguhnya Allah Subhanahu wata'ala mengangkat kaum dengan kitab ini dan merendahkan dengan kitab ini juga.” [Hadits Riwayat: Muslim (817), Ibnu Majah (218), Ahmad (1/35)]

Oleh karena itu mayoritas ulama mengatakan bolehnya seorang budak menjadi imam, berbeda dengan imam Malik.

3. Anak kecil yang mumayyiz (mampu membedakan yang baik dan buruk) menjadi imam

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa ‘Amr Bin Salamah menjadi imam bagi kaumnya padahal ia berusia enam atau tujuh tahun karena perintah Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam pada orang yang lebih banyak hafal al-Qur’an untuk menjadi imam bagi mereka.

Ini pendapat Imam Syafi’i dan menyelisihi jumhur ulama. Ada bantahan terhadap pendapat ini yang menyatakan, “Siapa yang berpendapat bahwa mereka melakukan hal tersebut dengan ijtihad mereka dan tidak diketahui oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam, maka alasan ini tidak tepat. Karena ini kesaksian yang menyatakan penolakan. Dan pada masa kewahyuan tidaklah suatu perkara didiamkan jika tidak dibolehkan. Seperti dalil yang diriwayatkan dari Abu Sa’id dan Jabir atas bolehnya melakukan ‘azl karena mereka melakukannya pada masa Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam. Apabila hal tersebut tidak boleh maka al-Qur’an akan melarangnya. [Fathul Bari (8/23) cet. Al Ma’rifah]

4. Orang fasik menjadi imam

Orang fasik boleh menjadi imam menurut Mazhab Abu Hanifah, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad menurut satu riwayat. [ Al Mabsuth (1/40), Al Majmu’ (4/134), Al Insof (2/252)] Dalil-dalil mereka adalah sebagai berikut:

Hadits-hadits yang menunjukan bahwa orang yang paling banyak hafal al-Qur’an lebih diutamakan. Hadits-hadits tersebut telah disebutkan sebelumnya.

Hadits Abu Hurairah Radhiallahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

يُصَلُّونَ لَكُمْ ، فَإِنْ أَصَابُوا فَلَكُمْ ، وَإِنْ أَخْطَئُوا فَلَكُمْ وَعَلَيْهِمْ .

“Mereka melakukan shalat untuk kalian (imam), apabila mereka benar maka itu untuk kalian, jika mereka salah maka kalian tetap mendapat pahala dan kesalahan menjadi tanggungan bagi mereka.” [Hadits Riwayat: Al-Bukhari (695), Ahmad (2/355)]

Hadits Ubaidillah Bin ‘Adi Bin Khayyar bahwa ia datang menemui Utsman radhiallahu 'anhu pada saat terkepung kemudian berkata,

إِنَّكَ إِمَامُ عَامَّةٍ، وَنَزَلَ بِكَ مَا تَرَى وَيُصَلِّى لَنَا إِمَامُ فِتْنَةٍ وَنَتَحَرَّجُ. فَقَالَ: الصَّلاَةُ أَحْسَنُ مَا يَعْمَلُ النَّاسُ ، فَإِذَا أَحْسَنَ النَّاسُ فَأَحْسِنْ مَعَهُمْ ، وَإِذَا أَسَاءُوا فَاجْتَنِبْ إِسَاءَتَهُمْ.

“Sesungguhnya engkau adalah imam besar. Engkau sudah mengundurkan diri seperti apa yang kami lihat dan shalat kami diimami oleh imam fitnah sehingga kami menjadi susah. Utsman mengatakan bahwa shalat merupakan amal terbaik manusia. Apabila manusia berbuat baik maka berbuat baiklah bersama mereka. Jika mereka berbuat buruk maka jauhilah keburukannya.”[Hadits Riwayat: Al-Bukhari (695), Abdurazaq (1991)]

Para sahabat dan Ibnu Umar melaksanakan shalat jama’ah di belakang Hajaj Bin Yusuf, seperti diketahui ia adalah orang yang paling fasik. [Hadits Riwayat: Al-Bukhari (1660), An-Nasa`i (5/254)]

Namun makruh shalat di belakangnya sebagaimana hadits Tsauban bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

إِنَّمَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِى الأَئِمَّةَ الْمُضِلِّينَ.

“Sesungguhnya yang aku takutkan pada umatku adalah para imam yang menyesatkan.”[Hadits Riwayat: At-Tirmidzi (2229), Abu Daud (4252), Ahmad (6/278)]

Apabila ada kemungkinan shalat berjama’ah di belakang orang yang tidak fasik maka hendaknya meninggalkan jama’ah bersama orang fasik, namun apabila tidak mungkin dan tidak bisa melakukan shalat jama’ah sama sekali maka boleh shalat bersamanya. Waallahu a’alam.

Catatan Tambahan:

Shalat di belakang orang kafir hukumnya tidak sah, karena shalat untuk dirinya sendiri saja tidak sah apalagi menjadikannya sebagai imam sebagaimana firman Allah Subhanahu wata'ala:

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ.

“Dan Sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. "Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu Termasuk orang-orang yang merugi”.[Al-Qur`an Surat: Az Zumar: 65]

وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا.

“Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.”[Al-Qur`an Surat: Al Furqaan: 23]

5. Orang yang tidak diketahui identitasnya menjadi imam

Boleh melakukan shalat di belakang orang yang tidak diketahui tentang kefasikan dan kebid’ahannya menurut kesepakatan para ulama. Seorang makmum tidak harus mengetahui akidah imam atau menguji dengan menanyakan akidahnya. [Majmu’ Fatawa (23/351)]

Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

فَإِنْ أَصَابُوا فَلَكُمْ ، وَإِنْ أَخْطَئُوا فَلَكُمْ وَعَلَيْهِمْ.

“Apabila mereka benar maka itu untuk kalian, jika mereka salah maka kalian tetap mendapat pahala dan kesalahan menjadi tanggungan bagi mereka.”[Shahih dan telah disebutkan sebelumnya]

Diriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiallahu 'anhuma ia berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

مَنْ صَلَّى صَلاَتَنَا ، وَاسْتَقْبَلَ قِبْلَتَنَا ، وَأَكَلَ ذَبِيحَتَنَا ، فَذَلِكَ الْمُسْلِمُ الَّذِى لَهُ ذِمَّةُ اللَّهِ وَذِمَّةُ رَسُولِهِ ، فَلاَ تُخْفِرُوا اللَّهَ فِى ذِمَّتِهِ.

“Siapa yang shalat seperti shalat kami, menghadap kiblat kami, makan hewan sembelihan kami, maka mereka adalah seorang muslim yang menjadi tanggungan Allah dan Rasul-Nya. Janganlah kalian merusak perjanjian dengan Allah Subhanahu wata'ala yang menjadi tanggungan-Nya.” [Hadits Riwayat: Al-Bukhari (1/391), Abu Daud (2641), At-Tirmidzi (2608), An-Nasa`i (2/105)]

Ibnu Hazm berkata, “Apabila shalat di belakang orang yang dikira muslim kemudian diketahui ternyata ia orang kafir atau belum baligh maka shalatnya sah karena kita tidak diperintah oleh Allah untuk mengetahui isi hati manusia. Kita hanya dibebani oleh Allah sesuai dengan perintah-Nya. Apabila waktu shalat tiba maka sebagian dari kita menjadi imam sesuai dengan perintah. Siapa yang melakukan hal demikian maka shalatlah sesuai dengan perintah-Nya.” Jumhur ulama mengatakan bahwa wajib mengulangi shalat apabila setelah shalat mengetahui imam adalah orang kafir. [Al Muhalla (4/51)]

6. Wanita menjadi imam bagi jama’ah wanita

Telah dijelaskan pada Bab “Hukum berjama’ah bersama wanita” tentang ‘Aisyah dan Ummu Salamah yang menjadi imam bagi wanita-wanita lain. Tidak dibolehkan seorang laki-laki dan anak kecil melaksanakan shalat di belakang wanita menurut para ulama dahulu hingga sekarang sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam:

لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمُ امْرَأَةً.

“Tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada kaum wanita.”[Hadits Riwayat: Al-Bukhari (4425), At-Tirmidzi (2262,) An-Nasa`i (8/227)]

Tidak ada pernyataan dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam tentang bolehnya wanita menjadi imam bagi laki-laki dan tidak pernah terjadi pada masa Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam, sahabat dan tabi’in. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam menjadikan shaf wanita di belakang shaf laki-laki karena mereka adalah ‘aurat. Seorang wanita yang menjadi imam bagi laki-laki adalah hal yang bertolak belakang dengan petunjuk Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam. Tidak bisa dikatakan bahwa asal suatu masalah adalah sah, karena ada petunjuk yang menyatakan bahwa wanita tidak layak untuk mendapatkan posisi yang tinggi dalam mengatur perkara. Menjadi imam merupakan salah satu perkara yang penting dan mulia. [As Sailul Jaror (1/250)]

7. Orang Yang Menjadi Imam Namun Tidak Disukai Oleh Kaumnya

Diriwayatkan dari Abu Umamah radhiallahu 'anhu ia berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

ثَلاَثَةٌ لاَ تُجَاوِزُ صَلاَتُهُمْ آذَانَهُمُ الْعَبْدُ الآبِقُ حَتَّى يَرْجِعَ وَامْرَأَةٌ بَاتَتْ وَزَوْجُهَا سَاخِطٌ وَإِمَامُ قَوْمٍ وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ.

“Tiga golongan yang shalatnya tidak diterima yaitu, budak yang melarikan diri sampai ia kembali kepada tuannya, istri yang tidur malam dalam keadaan suaminya marah dan seorang yang menjadi imam yang dibenci oleh kaumnya.” [Hadits Riwayat: At-Tirmidzi (360) dan hadits penguat pada Sunan Abi Daud (593), Hadits Riwayat: Ibnu Majah (970). Hasan]

Ancaman ini khusus ditujukan pada orang yang tidak disukai suatu kaum karena agamanya, penyimpangan terhadap sunnah dan sebagainya yang banyak menimpa para imam pada masa sekarang yang hanya bertujuan untuk mendapatkan posisi imam tetap namun tidak memahami agama Allah. Ini merupkan musibah bagi ia sendiri dan keluarganya, semoga Allah Subhanahu wata'ala melindungi kita dari kehinaan. Dosa akan menimpa seseorang yang membenci orang yang menegakan sunnah.

Diriwayatkan dari Ibnu Umar Radhiallahu 'anhuma ia berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam menjadikan Usamah sebagai panglima untuk suatu kaum tetapi mereka mencela terhadap kepemimpinannya kemudian Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

إِنْ تَطْعُنُوا فِى إِمَارَتِهِ فَقَدْ كُنْتُمْ تَطْعُنُونَ فِى إِمَارَةِ أَبِيهِ مِنْ قَبْلُ ، وَايْمُ اللَّهِ ،لقد كَانَ خَلِيقًا لِلإِمَارَةِ ، وَإِنْ كَانَ مِنْ أَحَبِّ النَّاسِ إِلَىَّ ، وَإِنَّ هَذَا لَمِنْ أَحَبِّ النَّاسِ إِلَىَّ بَعْدَهُ.

“Apabila kalian mencela terhadap kepemimpinannya maka kalian juga mencela terhadap kepemimpinan ayahnya yang lalu. Demi Allah, ia adalah orang yang paling layak menjadi panglima. Ayahnya adalah orang yang paling aku cintai, dan anaknya ini adalah orang yang paling aku cintai setelah ayahnya.” [Hadits Riwayat: Al-Bukhari (667), Muslim (33)]

Demikian ulasan tentang syarat-syarat menjadi imam shalat atau syarat sah seseorang menjadi imam. Semoga tulisan ini bermanfaat. Wallahu a'lam.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama