Bahaya merokok bagi kesehatan dan finansial

Fikroh.com - Sudah tak terhitung lagi jumlah orang yang dinyatakan meninggal akibat pengaruh buruk dari rokok. Meski telah demikian jelas bahaya yang terkandung, namun tetap saja ledakan penggemarnya tak terbendung. Dan yang lebih menyedihkan, khususnya di Indonesia sebagian besar pecandunya adalah saudara kita seagama. Sebenarnya, bagaimanakah rokok dalam perspektif Islam? 

Menurut Guru Besar dan Mufti al-Azhar, Syeikh Mahmud Syaltuth, rokok baru dikenal pada akhir abad ke-X Hijriyah. Semenjak masyarakat mengkonsumsinya sebagai bahan isapan, para ulama mulai menjadikannya sebagai bahan kajian fikih. Karena belum adanya pendapat dari madzhab terdahulu dan gambaran tentang substansi masalah serta dampak rokok berdasarkan riset medis yang akurat, wajar jika saat itu terjadi perbedaan pendapat. Sebagian berpendapat mubah dan yang lain makruh dan haram. 

Namun, dibanding dengan yang membolehkan, ulama yang memakruhkan atau mengharamkan jumlahnya jauh lebih banyak. 

Salah satu alasan yang membolehkan adalah bahwa asal mula segala sesuatu adalah boleh hingga ada nash yang melarang. Atau barangkali pertimbangan beberapa manfaat yang bisa didapat dalam rokok seperti dapat meningkatkan semangat dan konsentrasi. Akan tetapi dengan kemajuan teknologi saat ini, terungkaplah bahwa sejatinya, manfaat dalam rokok adalah manfaat semu yang jauh dari sebanding dengan madharat yang diakibatkannya. 

Fakta Dari Temuan Medis Pengetahuan modern telah menyingkap kandungan rokok jauh lebih detail daripada apa yang didapatkan para ilmuwan zaman dahulu. Sehingga saat ini, gerakan anti rokok pun telah marak digencarkan. Betapa tidak, menurut penelitian organisasi kesehatan dunia (WHO) ada sekitar 3800 jenis zat berbahaya yang dihasilkan dalam pembakaran rokok. Sebagian besar merupakan racun dan karsinogen (zat pemicu kanker). Lebih dari itu, beberapa zat yang terkandung sejatinya sama sekali tidak pantas masuk ke dalam paru-paru kita seperti, nikotin, tar, karbon monoksida, naphtalene (kapur barus), arsenic (racun semut putih) , ammonia (bahan pembersih lantai), hydrogen cyanide (racun untuk hukuman mati) dan lainolain. 

Tinjauan Syar'i

Disamping dukungan faktor medis, alasan yang digunakan dalam fatwa pengharaman rokok relatif lebih kuat, diantaranya: 

Pertama: Menimbulkan madharat jasmani. Rokok dapat melemahkan tubuh sebagai akibat dari racunvracun yang terkandung didalamnya. Orang yang merokok ibarat orang yang meminum racun sedikit demi sedikit. Sedang syariat dengan tegas melarang membahayakan diri sendiri maupun orang lain. Berbagai penyakit ganas mengancam kesehatan mulut, tenggorokan, paru-paru, jantung dan ginjal pecandu rokok. Bahkan beberapa diantaranya telah tertera dalam setiap bungkus rokok yang beredar. 

Kedua: Menimbulkan madharat finansial. Merokok berarti membakar uang hanya untuk sesuatu yang sia-sia dan merupakan tabdzir yang dilarang. Allah berfirman, Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Rabbnya.” (QS. al Isra' :27) 

Tak dipungkiri bahwa merokok adalah aktivitas menghambur-hamburkan uang yang semestinya bisa dipakai untuk hal yang lebih bermanfaat. 

Ketiga: merokok tidak hanya membahayakan pelaku tapi juga orang yang berada di dekatnya atau yang disebut perokok pasif. Sedang Rasulullah telah bersabda, 

“Tidak boleh ada bahaya dan sikap saling membahayakan orang lain.” (HR. Ahmad, Malik, al Hakim dan lainnya) 

Lebih lanjut, Syeikh Mahmud Syaltuth menerangkan, meski rokok tidak mengakibatkan mabuk, namun madharat yang ditimbulkan zat-zat berbahaya di dalamnya sudah cukup untuk menjadikannya barang haram. Di sisi lain, pengeluaran belanja untuk rokok adalah tindakan sia-sia yang tidak diperbolehkan. 

Imam Ibnu Hazm dalam kitab al Muhalla juz VII halaman 503 menetapkan haramnya memakan sesuatu yang menimbulkan mudharat berdasarkan nash umum. Beliau mengatakan, “Segala sesuatu yang membahayakan adalah haram berdasarkan sabda Nabi ; “Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat baik pada segala sesuatu.” (HR. Muslim). 

Maka menurut beliau, barangsiapa yang menimbulkan mudharat pada dirinya sendiri dan orang lain berarti ia tidak berbuat baik pada segala sesuatu. 

Imam Nawawi dalam kitab Raudhahnya juga Syiekh Abu Bakar Jabir al Jazai'ri dalam Minhajul Muslim, menjelaskan bahwa segala sesuatu yang bila dimakan dapat membahayakan seperti kaca , batu, dan racun maka memakannya adalah haram. 

Meski demikian, karena perkara ini perkara khilafiyah, maka hukum pelakunya juga tidak sebagaimana orang yang melanggar keharaman yang ditetapkan oleh nash. Akan tetapi seorang muslim tentulah akan menjauhi hal-hal yang haram apalagi memiliki efek destruktif seperti minuman keras dan rokok. 

Kekhawatiran Berlebihan 

Hal lain, kekhawatiran sebagian pihak bila rokok difatwakan haram mengakibatkan madharat dengan timbulnya pengangguran dan matinya pekerjaan secara dramatis dan drastis karena ditutupnya pabrik rokok, anggapan semacam ini adalah berlebihan, terlalu apriori, pragmatis, pesimis dan fatalis. 

Karena, kekhawatiran itu tidak bertekad memikirkan dan mengusahakan alternatif pengganti yang lebih baik dan halal, bukankah Nabi SAW menjanjikan bagi siapa yang meninggalkan sesuatu karena takwa kepada Allah, maka Dia akan menggantinya dengan yang lebih baik untuknya. Demikian menurut Dr. Setiawan Budi Utomo. Wallahu a'lam.

Sumber: Majalah Ar risalah

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama