Begini Kronologi Karbala Versi Ahlussunnah


Fikroh.com - Bermula pada tahun 60 H, Muawiyyah meninggal dunia. Tampuk Kekhilafahan diberikan kepada putranya Yazid.

Di Madinah, para utusan Yazid bin Muawiyah meminta para sahabat untuk memberikan bai'at kepada Yazid. Abdullah bin Zubair dan Husain bin Ali radhiyallahu anhum menolak. Secara diam-diam mereka pergi ke Makkah.

Di Makkah, Al Husain mendapatkan 500 surat yang berisi dukungan masyarakat Kufah atas diri beliau untuk menjadi khalifah. Husain kemudian mengutus sepupunya yang bernama Muslim bin Aqil bin Abi Thalib untuk berangkat ke Kufah memastikan kondisi di sana.

Tiba di Kufah, Muslim ditampung oleh tokoh masyarakat sana yang bernama Hani bin Urwah. Penduduk Kufah kemudian memberikan bai'at kepada Husain bin Ali melalui Muslim bin Aqil.

An Nu'man bin Basyir yang menjadi Gubernur Kufah ketika itu tidak melakukan apa-apa terhadap gerakan Muslim bin Aqil. Para loyalis Yazid melaporkan hal ini kepada Yazid sehingga Yazid mengganti An Nu'man bin Basyir dengan Ubaidillah bin Ziyad.

Ubaidillah bin Ziyad adalah Gubernur Basrah, dengan penunjukkan ini wewenangnya diperluas sampai ke Kufah.

Ubaidillah kemudian pergi ke Kufah untuk mengambil alih tugas dari An Nukman bin Basyir. Di Kufah orang-orang mengelu-elukan Ubaidillah, mereka mengira Ubaidillah adalah Al Husain yang baru tiba. Dari sini Ubaidillah menyadari bahwa perkara penduduk Kufah tidak bisa dianggap enteng.

Muslim bin Aqil setelah memastikan loyalitas penduduk Kufah, dia mengirimkan utusan kepada Al Husain bin Ali agar segera berkumpul dengan mereka di Kufah.

Al Husain bin Ali kemudian bersiap-siap untuk menuju Kufah. Para sahabat yang mulia seperti Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar, Abu Said Al Khudri dll. berusaha untuk menghalangi. Tapi Al Husain tetap bersikeras untuk berangkat.

Adapun di Kufah, Ubaidillah segera menyelidiki siapa otak dari gerakan pendukung Husain. Dia menugaskan seorang agen (mata-mata) yang bernama Ma'qil untuk menyusup dalam gerakan tersebut dan mengumpulkan info.

Ma'qil kemudian menyamar sebagai seorang saudagar kaya dan mengekspresikan dukungannya kepada Husain. Dia pun berkoar-koar akan mendanai gerakan Al Husain. Ma'qil kemudian diterima oleh Hani bin Urwah. Dari sini Ma'qil menyedot banyak informasi.

Ma'qil kemudian melapor kepada Ubaidillah. Ubaidillah langsung menangkap Hani bin Urwah dan menginterogasinya. Ubaidillah kemudian melakukan beberapa langkah yang diperlukan untuk menghentikan gerakan pendukung Husain. Dia mengumpulkan beberapa orang pemuka Kufah yang bisa dia ajak bekerjasama.

Begitu mengetahui bahwa Hani bin Urwah ditangkap oleh Ubaidillah, Muslim bin Aqil kemudian mengumpulkan loyalis Husain untuk menyerang istana gubernur untuk membebaskan Hani. Terkumpul 4000 pasukan ketika itu.

Sampai di istana, ternyata di istana sudah banyak pemuka Kufah yang telah dibeli oleh Ubaidillah. Pemuka ini kemudian menyeru para loyalis Husain untuk meninggalkan Muslim, menakut-nakuti mereka dengan Pasukan Yazid dari negeri Syam apabila mereka meneruskan gerakan mereka dan menjanjikan hadiah bagi siapa yang meninggalkan Muslim bin Aqil.

Dari 4000 pasukan, tinggal 30 orang saja yang masih bersama Muslim bin Aqil, dan tidaklah matahari terbenam ketika itu melainkan Muslim bin Aqil tinggal sendirian kehausan.

Muslim bin Aqil kemudian menumpang berteduh dan meminta air kepada seorang wanita Kindah. Anak wanita itu lalu melapor kepada Ubaidillah bin Ziyad. Muslim pun ditangkap.

Sebelum dieksekusi, Muslim berwasiat kepada Umar bin Sa'ad bin Abi Waqqash untuk menyampaikan pesan kepada Husain agar tidak pergi ke Kufah. Muslim lalu dieksekusi oleh Ubaidillah bin Ziyad.

Di hari tarwiyah, 8 Dzulhijjah, Al Husain berangkat dengan rombongannya ke Kufah. Di tengah perjalanan, dia bertemu dengan utusan Umar bin Saad bin Abi Waqqash yang menyampaikan khabar dan wasiat dari Muslim bin Aqil.

Al Husain ingin kembali, namun anak-anak Muslim bin Aqil yang ikut dalam rombongan tidak terima dengan berita kematian ayah mereka. Al Husain pun kemudian melanjutkan perjalanan.

Di Al Qadishiyyah, rombongan Al Husain bertemu dengan 1000 pasukan yang dikirim oleh Ubaidillah bin Ziyad di bawah pimpinan Al Hurr bin Yazid. Al Hurr bin Yazid melakukan usaha persuasi kepada Husain agar tidak melanjutkan perjalanan. Husain tetap bersikeras melanjutkan perjalanan

Husain singgah di suatu tempat. Dia bertanya nama tempat tersebut. Ternyata namanya Karbala. Kata Husain, "Ini adalah tempatnya karbun dan bala', musibah dan bencana"

Di Karbala, rombongan Husain didatangi oleh 4000 pasukan yang dipimpin oleh Umar bin Sa'ad bin Abi Waqqash. Terjadi negosiasi antara Umar dan Husain. Husain meminta agar dia diperbolehkan memilih tiga perkara:

  1. Kembali ke Makkah
  2. Ke Syam untuk membaiat Yazid
  3. Ke perbatasan negeri kaum muslimin

Umar pun kemudian mengirimkan utusan untuk menyampaikan opsi tersebut kepada Ubaidillah bin Ziyad.

Ubaidillah tidak keberatan dengan usulan Husain, sampai ada seorang pembisik bernama Syamr bin DzilJausyan yang memprovokasi agar Husain datang dulu ke istana sebagai bukti ketundukan kepada Ubaidillah.

Al Husain menolak perintah Ubaidillah. Terjadilah peperangan yang tidak seimbang ketika itu. Rombongan Husain yang berjumlah 72 orang harus berhadapan dengan 5000 pasukan Ubaidillah.

Sebelum berperang, mereka sempat shalat berjamaah dhuhur dan ashr dengan Al Husain sebagai imam.

Al Hurr bin Yazid yang sebelumnya bagian dari pasukan Ubaidillah memilih bergabung dengan Husain.

Meletuslah pertempuran. Seluruh rombongan Husain gugur. Banyak di antara mereka merupakan anak cucu dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu. Husain sendiri menjadi orang yang terakhir gugur. Sebagian mengatakan bahwa yang membunuh adalah Syamr bin Dzil Jausyan, sebagian lagi mengatakan bahwa yang membunuhnya adalah Sinan bin Anas An Nakha'i.

Berita gugurnya Husain sampai kepada Yazid. Dia menangis tersedu-sedu menyesalkan kejadian ini dan kemudian melaknat Ubaidillah yang telah berbuat melampaui batas kepada Al Husain.

Diringkas oleh akhukum Wira Mandiri Bachrun dari sumber:

  • Hiqbah minat Tarikh, DR Utsman Khumais
  • Ashr Ad Daulatain, Prof. DR. Ali Shallabi
  • Al Ashr Al Umawi, Prof. DR. Abdusy Syafi Muhammad Abdil Lathif

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama