Notification

×

Iklan

Iklan

Jejak Akhir Kehidupan Imam Al-Bukhari: Ujian, Pengusiran, dan Wafatnya Sang Muhaddits

Sabtu | Maret 28, 2026 WIB | 0 Views
Jejak Akhir Kehidupan Imam Al-Bukhari: Ujian, Pengusiran, dan Wafatnya Sang Muhaddits

Fikroh.com - Wafatnya Imam Al-Bukhari merupakan salah satu kisah yang sarat pelajaran tentang keteguhan dalam menjaga prinsip ilmu dan integritas. Di penghujung hayatnya, beliau menghadapi tekanan berat dari para penguasa di beberapa kota besar dunia Islam bagian timur, seperti Neyshabur, Bukhara, dan Samarkand. Tekanan tersebut tidak lepas dari sikap tegas beliau yang menolak tunduk pada kekuasaan, khususnya ketika diminta untuk mengajarkan ilmu secara eksklusif kepada kalangan istana. Dengan penuh prinsip, beliau menyatakan bahwa ilmu harus didatangi oleh penuntutnya, bukan dibawa mendekati penguasa. Selain itu, kemasyhuran dan kedudukan ilmiahnya yang tinggi juga memicu rasa iri di kalangan tertentu, yang kemudian memperkeruh situasi.

Ujian demi ujian terus menimpa beliau hingga akhirnya terjadi pengusiran berulang. Saat mencapai usia sekitar 62 tahun, beliau diperintahkan meninggalkan Neyshabur dan kembali ke tanah kelahirannya di Bukhara. Kedatangannya disambut hangat oleh masyarakat dan para penuntut ilmu, namun justru memicu kecemburuan di kalangan tertentu. Tidak lama berselang, tekanan politik kembali muncul hingga beliau harus meninggalkan Bukhara secara mendadak. Bahkan, beliau sempat menetap sementara di pinggiran kota hanya untuk merapikan kitab-kitabnya sebelum melanjutkan perjalanan tanpa kepastian tujuan.

Perjalanan beliau berlanjut menuju wilayah Samarkand, namun tidak sampai memasuki pusat kota. Beliau singgah di desa Khartank, di rumah kerabatnya. Akan tetapi, tekanan kembali datang. Utusan penguasa setempat membawa perintah yang sama: beliau harus segera meninggalkan wilayah tersebut. Perintah itu datang pada malam Idul Fitri, sebuah waktu yang seharusnya dipenuhi kebahagiaan. Demi menjaga keselamatan orang-orang yang menampungnya, beliau memilih untuk segera pergi meski dalam kondisi fisik yang sangat lemah.

Dalam perjalanan itulah, detik-detik terakhir kehidupan beliau terjadi. Setelah berjalan beberapa langkah, kondisi beliau semakin melemah hingga akhirnya meminta waktu untuk beristirahat. Beliau duduk di pinggir jalan, kemudian terlelap. Tak lama kemudian, ruh beliau kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Imam Al-Bukhari wafat pada malam Idul Fitri, 1 Syawal 256 Hijriah, dalam keadaan sederhana dan jauh dari kemewahan dunia.

Kisah wafatnya Imam Al-Bukhari menjadi bukti nyata bahwa kemuliaan sejati tidak terletak pada kekuasaan atau kedudukan duniawi, melainkan pada keteguhan prinsip dan warisan ilmu yang ditinggalkan. Hingga hari ini, nama beliau tetap harum dikenang oleh umat Islam di seluruh dunia melalui karya agungnya, sementara nama-nama penguasa yang pernah menekannya justru tenggelam dalam sejarah. Semoga Allah merahmati beliau dan menempatkannya di derajat tertinggi bersama para nabi, syuhada, dan orang-orang saleh.
×
Berita Terbaru Update