Latar Belakang Ketegangan dengan Istanbul
Syarif Husain bukanlah figur pinggiran. Sebagai keturunan Bani Hasyim dan penjaga dua kota suci, ia menikmati otonomi relatif di Hijaz di bawah payung Utsmaniyah. Namun, hubungannya dengan pemerintahan Committee of Union and Progress (CUP) yang berkuasa setelah Revolusi Turki Muda 1908 semakin memburuk. Kebijakan Turkiifikasi, pembatasan otonomi lokal, dan kecurigaan terhadap loyalitas Arab menciptakan ketegangan. Jamal Pasha, yang dikenal sebagai “Banteng” dan bertugas sebagai Gubernur Suriah serta Panglima Tentara Keempat, sempat berusaha membujuk Husain mengirim pasukan bantuan untuk kampanye Suez. Pada Februari 1916, Jamal masih berharap Husain akan kooperatif, tetapi pada 2 Juni 1916, pemberontakan meledak dan menjadi “pukulan mematikan” bagi rencana Utsmaniyah.
Pasukan Utsmaniyah di Hijaz, yang sebagian besar terdiri dari sukarelawan Arab dan suku-suku Badui, melihat ikatan loyalitas mereka terputus. Banyak perwira Arab yang ditawan Inggris dalam kampanye Suez pertama memilih bergabung dengan pasukan pemberontak. Hal ini mengubah dinamika medan perang di Sinai dan Palestina.
Kerja Sama dengan Inggris dan Janji yang Rapuh
Di balik layar, diplomasi rahasia telah berlangsung. Melalui putranya Abdullah, Husain berkomunikasi dengan Sir Henry McMahon, Komisaris Tinggi Inggris di Mesir. Dalam Korespondensi Husain-McMahon, Inggris menjanjikan dukungan bagi “kerajaan Arab” yang merdeka sebagai imbalan atas pemberontakan. Inggris menyediakan senjata, dana, penasihat militer, dan pengakuan politik. T.E. Lawrence, yang kemudian dikenal sebagai Lawrence of Arabia, menjadi simbol paling terkenal dari keterlibatan Inggris ini.
Revolusi ini bukan sekadar pemberontakan lokal. Pasukan Arab di bawah Faisal bin Husain melakukan operasi gerilya yang cerdas: menyerang jalur kereta api Hijaz, mengganggu logistik Utsmaniyah, dan mendukung serangan utama Jenderal Edmund Allenby dari selatan. Allenby, dalam laporan kepada Kementerian Perang Inggris pada 28 Juli 1918, menyampaikan terima kasih kepada “Yang Mulia Husain bin Ali, Raja Hijaz” atas kesetiaan luar biasa kepada Sekutu, serta memuji kepemimpinan Faisal dalam memimpin Tentara Arab.
Dalam laporan lain, Allenby menekankan bagaimana Tentara Arab memutus jalur komunikasi musuh sebelum pertempuran kunci, mencegah pelarian Angkatan Darat Keempat Utsmaniyah, dan menimbulkan kerugian besar selama gerak maju ke Damaskus. Lawrence menambahkan bahwa Faisal mengerahkan upaya besar dalam menyebarkan revolusi, menawan sekitar 35.000 tentara Turki, mengeluarkan jumlah serupa dari garis pertempuran, dan menguasai wilayah seluas 100.000 mil persegi. “Bangsa Arab memberikan layanan ini di saat kami sangat membutuhkannya,” katanya.
Perancis pun memberikan pengakuan serupa. Perdana Menteri Georges Clemenceau menganugerahi Faisal medali kehormatan yang menyebutkan perannya dalam mendampingi tentara Sekutu, mengatur serangan, memimpin front besar, menawan banyak tawanan, dan ikut serta memasuki Damaskus serta Aleppo.
Harga yang Dibayar dan Pengkhianatan Berlipat
Meski demikian, kemenangan militer ini disertai pengkhianatan diplomatik. Sementara Husain berjuang, Inggris dan Prancis telah menyepakati Perjanjian Sykes-Picot (1916) yang membagi wilayah Utsmaniyah: Prancis menguasai Suriah dan Lebanon, Inggris menguasai Palestina, Irak, dan Transyordania. Deklarasi Balfour (1917) yang mendukung pendirian “rumah nasional bagi bangsa Yahudi” di Palestina semakin memperumit situasi. Ketika Bolshevik Rusia membongkar perjanjian rahasia itu, rasa dikhianati melanda kalangan Arab.
Setelah perang, Faisal sempat mendeklarasikan Kerajaan Suriah Arab pada 1920, tetapi pasukan Prancis mengusirnya. Inggris kemudian menempatkan Faisal sebagai Raja Irak dan Abdullah sebagai Emir Transyordania—dua negara di bawah mandat kolonial. Husain sendiri, yang sempat menyatakan diri sebagai Khalifah, kehilangan Hijaz pada 1925 setelah dikalahkan oleh Abdulaziz bin Saud. Visi sebuah negara Arab bersatu runtuh, digantikan oleh negara-negara baru yang dibentuk sesuai kepentingan Eropa.
Warisan Historis yang Kontroversial
Dalam perspektif Turki, Revolusi Arab sering disebut sebagai “tikaman dari belakang” yang mempercepat runtuhnya Khilafah dan hilangnya wilayah Arab. Jamal Pasha dalam memoarnya menggambarkannya sebagai bencana bagi dunia Arab sendiri. Bagi nasionalis Arab, peristiwa ini adalah awal kebangkitan melawan penjajahan asing, meski dirusak oleh imperialisme Barat. Bagi Palestina, ia menjadi bagian dari rantai sebab yang berujung pada mandat Inggris, imigrasi Yahudi yang didukung, dan konflik yang berlarut-larut.
Sejarawan mencatat bahwa pemberontakan ini relatif terbatas skalanya dibandingkan front utama di Eropa, tetapi dampaknya strategis. Ia mengikat puluhan ribu pasukan Utsmaniyah di belakang garis, memfasilitasi terobosan Allenby di Palestina, dan mempercepat akhir kekuasaan Turki di wilayah Arab.
Kesimpulan
Revolusi Arab di bawah Syarif Husain adalah perpaduan antara ambisi lokal, nasionalisme Arab yang sedang bangkit, dan permainan kekuasaan besar-besaran oleh Inggris. Bukan sekadar kisah pengkhianatan hitam-putih, melainkan babak tragis di mana berbagai pihak—Utsmaniyah yang sedang melemah, pemimpin Arab yang mencari kemerdekaan, dan kekuatan Eropa yang haus wilayah—saling memanfaatkan satu sama lain. Hasilnya adalah Timur Tengah modern yang lahir dari janji palsu, perang saudara, dan batas-batas buatan yang hingga kini menjadi sumber konflik.
Memahami episode ini dengan nuansa sejarah yang lengkap—bukan simplifikasi politik—sangat penting untuk mengurai akar masalah di Palestina, Suriah, dan kawasan Arab secara keseluruhan. Seperti kata pepatah, sejarah ditulis oleh pemenang, tetapi kebenaran sering terletak di antara garis-garisnya.
