Notification

×

Iklan

Iklan

Anies Baswedan Murka: Prajurit Perdamaian Indonesia Gugur, Dunia Harus Bertindak

Senin | Maret 30, 2026 WIB | 0 Views
Anies Baswedan Murka: Prajurit Perdamaian Indonesia Gugur, Dunia Harus Bertindak

Fikroh.com - Gelombang duka menyelimuti bangsa Indonesia menyusul gugurnya seorang prajurit penjaga perdamaian dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) di Lebanon selatan. Peristiwa tragis ini tidak hanya menyisakan luka mendalam bagi keluarga korban dan institusi militer, tetapi juga memantik kemarahan dan keprihatinan luas di tingkat nasional maupun internasional.

Salah satu respons tegas datang dari Anies Baswedan melalui pernyataannya di platform X (Twitter). Dalam tulisannya, ia menyampaikan kemarahan mendalam atas insiden yang merenggut nyawa prajurit Indonesia tersebut.

“Kami sangat marah. Seorang penjaga perdamaian Indonesia dibunuh. Yang lainnya kini berjuang mempertahankan hidupnya. Israel mengebom markas tempat mereka bertugas,” tulisnya.

Ia menegaskan bahwa kejadian ini bukanlah kecelakaan ataupun dampak samping dari konflik. Menurutnya, tindakan tersebut mencerminkan sikap rezim Benjamin Netanyahu yang dinilai mengabaikan hukum internasional, tidak menghormati personel Perserikatan Bangsa-Bangsa, serta tidak peduli terhadap nyawa mereka yang mendedikasikan diri untuk perdamaian dunia.

Lebih jauh, Anies menyoroti kontribusi besar Indonesia dalam misi perdamaian global. Indonesia, kata dia, telah mengirim lebih dari 1.200 personel di bawah bendera PBB. Selain itu, pemerintah Indonesia juga aktif dalam berbagai forum internasional untuk mendorong solusi damai yang adil dan berkelanjutan di kawasan Timur Tengah.

“Kita telah mengulurkan tangan dengan itikad baik. Namun balasannya adalah bom yang dijatuhkan di markas prajurit kita. Ini adalah penghinaan terhadap setiap upaya damai yang telah Indonesia lakukan,” lanjutnya.

Dalam perspektif yang lebih luas, ia menilai bahwa tindakan tersebut bukanlah sesuatu yang mengejutkan. Menurutnya, rezim Netanyahu berulang kali menunjukkan sikap abai terhadap seruan dunia internasional untuk menahan diri. Ia menyinggung berbagai pelanggaran yang terjadi, mulai dari pengabaian resolusi PBB, serangan terhadap fasilitas PBB, hingga jatuhnya korban dari kalangan sipil, jurnalis, pekerja kemanusiaan, dan kini penjaga perdamaian.

“Tidak ada yang menjadi batas. Tidak ada yang aman. Dan ini terus terjadi karena dunia membiarkannya,” tegasnya.

Kepada Sekretaris Jenderal PBB, Anies menyampaikan apresiasi atas pernyataan belasungkawa dan kecaman yang telah disampaikan. Namun, ia menilai bahwa pernyataan semata tidak lagi cukup dalam menghadapi situasi yang semakin memburuk.

“PBB harus melampaui sekadar pernyataan. Yang dibutuhkan saat ini adalah tindakan nyata, tegas, dan segera. Kredibilitas PBB sedang dipertaruhkan. Jika lembaga dunia ini tidak mampu melindungi penjaga perdamaiannya sendiri, maka apa sebenarnya yang dilindunginya?” ujarnya.

Ia juga menyerukan kepada negara-negara di dunia untuk bersatu dalam menegakkan keadilan. Menurutnya, pelaku harus dimintai pertanggungjawaban melalui mekanisme hukum internasional. Ia menekankan pentingnya komitmen nyata dari negara-negara dalam menegakkan hukum internasional, bukan sekadar retorika.

“Hukum internasional hanya akan kuat jika ada kemauan dari negara-negara untuk menegakkannya. Dan selama ini, kemauan itu terus diuji—dan sayangnya, dunia kerap gagal,” ungkapnya.

Dalam nada yang lebih reflektif, Anies mengingatkan agar peristiwa ini tidak berlalu begitu saja sebagai bagian dari siklus berita. Ia menegaskan pentingnya menjaga ingatan kolektif atas tragedi ini serta mendorong tuntutan keadilan secara berkelanjutan.

“Jangan biarkan kematian ini dilupakan. Jangan biarkan ia hanya menjadi angka dalam daftar panjang pelanggaran. Tuntut keadilan. Tuntut pertanggungjawaban. Pastikan bahwa setiap serangan terhadap penjaga perdamaian PBB akan menghadapi konsekuensi nyata,” serunya.

Di akhir pernyataannya, ia menyampaikan penghormatan kepada prajurit TNI yang gugur dalam tugas. Doa dan simpati juga disampaikan kepada keluarga yang ditinggalkan, serta harapan kesembuhan bagi personel yang terluka.

“Kepada prajurit TNI yang gugur, selamat jalan, Pahlawan. Doa kami menyertai keluarga yang ditinggalkan. Kepada yang terluka, semoga lekas pulih. Indonesia berduka, namun kita yakin—Indonesia tidak akan diam.”

Dalam perspektif Islam, gugurnya seorang prajurit yang menjalankan tugas menjaga perdamaian dan melindungi kemanusiaan merupakan pengorbanan yang mulia. Nilai-nilai keadilan, perlindungan terhadap nyawa, serta komitmen terhadap perdamaian merupakan prinsip universal yang sejalan dengan ajaran Islam. Oleh karena itu, tragedi ini tidak hanya menjadi duka nasional, tetapi juga panggilan moral bagi umat manusia untuk menegakkan keadilan dan menghentikan kezaliman di muka bumi

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa perjuangan menjaga perdamaian bukanlah tugas yang ringan. Dibutuhkan keberanian, pengorbanan, dan komitmen yang kuat dari seluruh pihak. Dan ketika darah para penjaga perdamaian tertumpah, dunia seharusnya tidak hanya berduka—tetapi juga bertindak.

×
Berita Terbaru Update