Fikroh.com - Usai mendengarkan pidato Donald Trump secara utuh—satu jam penuh, tanpa fast-forward—bukan karena penasaran, melainkan untuk memastikan apakah video yang beredar itu benar. Ternyata lebih buruk. Bukan sekadar “mencium pantat saya” (kissing my ass) yang disebutkan Trump tentang Mohammed bin Salman. Itu bukan slip of the tongue. Itu adalah inti doktrin luar negerinya: para penguasa Teluk adalah klien yang harus membayar proteksi, dan Trump adalah bos yang berhak menghina mereka di depan umum.
Sepanjang pidato di hadapan para pejabat Teluk, Trump tak henti-hentinya memuji mereka—bukan karena visi strategis, melainkan karena uang yang mereka transfer. Ia menjelaskan dengan bangga bagaimana ia “meminta mereka membayar”, bagaimana mereka “membutuhkan saya untuk melindungi mereka”, dan bagaimana triliunan dolar Saudi serta sekutu Teluk mengalir ke Amerika. Bahkan ia secara khusus memuji Menteri Keuangan Saudi Mohammed Al-Jadaan yang hadir di sana, seolah-olah sang menteri hanyalah bendahara pribadi yang patut diacungi jempol karena lancarnya proses pembayaran.
Lalu datang bagian yang paling memalukan. Trump mengutip pujian MBS: “Amerika berada di titik terendah, saya tidak menyangka Anda bisa mengangkatnya seperti ini!” Respons Trump? Ia tak menemukan kata lain selain “mencium pantat saya”. Ia ulangi frasa kasar itu dengan senyum puas, seolah-olah itu pujian tertinggi yang pantas diterima seorang presiden dari seorang pangeran mahkota. Inilah “pria perdamaian” yang mengklaim pantas menerima Nobel—sambil merendahkan sekutu-sekutunya di hadapan mereka sendiri.
Tapi puncak hipokrisinya muncul ketika Trump menyinggung Abraham Accords. Ia memerintahkan: “Kita harus mulai.” MBS menjawab dengan nada hati-hati: “Tunggu sebentar, biarkan saya selesaikan ini dan itu terlebih dahulu.” Trump langsung memotong: “Kita tidak punya waktu lagi untuk menunda! Sekarang adalah waktu yang tepat!”
Pertanyaan yang tak terjawab—dan sangat penting—adalah: apa sebenarnya yang sedang “diselesaikan” MBS?
Jawabannya tak ada di panggung diplomasi. Jawabannya ada di penjara-penjara Saudi, di ruang interogasi, dan di ruang-ruang sidang yang tak transparan. Yang sedang diselesaikan MBS adalah membersihkan rumah dari segala bentuk oposisi: tokoh reformis, aktivis hak perempuan, intelektual kritis, bahkan ulama yang tak sejalan. Ruang bagi “perusak” justru semakin terbuka—mereka yang siap mendukung normalisasi dengan Israel tanpa syarat, tanpa peduli nasib Palestina.
Ini bukan penundaan teknis. Ini kalkulasi politik yang kejam. MBS butuh waktu untuk memastikan bahwa ketika Abraham Accords dihidupkan kembali, tak ada suara kritis di dalam negeri yang bisa mengganggu. Ia butuh stabilitas otoriter sebelum menjual Palestina di meja perundingan. Trump tahu itu. Dan Trump tak peduli. Baginya, perdamaian Timur Tengah bukan soal keadilan, melainkan soal deal: uang dari Teluk, pengakuan Israel, dan citra “pria perdamaian” yang siap dijual ke pemilih Amerika.
Inilah wajah sebenarnya dari “perdamaian” versi Trump-MBS: satu pihak merendahkan, pihak lain menindas. Yang ditunda bukan sekadar perjanjian, melainkan harapan bagi rakyat Palestina yang terus menjadi korban transaksi kekuasaan. Sementara Trump tertawa bangga di podium dan MBS mengatur waktu eksekusi berikutnya, jutaan orang di Gaza dan Tepi Barat tetap terjebak dalam realitas yang tak pernah diundang ke meja itu.
Ini bukan diplomasi. Ini pemerasan yang dibungkus jas dan sorban. Dan sejarah tak akan melupakan siapa yang tertawa sambil mengucapkan “kissing my ass”—dan siapa yang diam-diam menyiapkan penjara untuk membungkam suara yang berani bertanya: perdamaian untuk siapa?
