Fikroh.com - Wafatnya KH. Muhammad Adnan Arsal terjadi pada Jumat, 27 Maret 2026, sekitar pukul 18.30 WITA. Kabar duka ini menjadi pukulan mendalam, khususnya bagi masyarakat Kabupaten Poso dan Sulawesi Tengah, yang selama ini mengenal beliau sebagai tokoh agama sekaligus juru damai yang berperan besar dalam merajut harmoni di tengah konflik.
Kepergian beliau tidak hanya meninggalkan kesedihan, tetapi juga jejak perjuangan yang begitu kuat dalam membangun perdamaian melalui pendekatan dialog dan kemanusiaan. Sosoknya yang tenang, sederhana, dan penuh hikmah akan selalu dikenang, sementara warisan nilai-nilai damai yang beliau tanamkan diharapkan terus hidup dan menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya.
Mengenang Kyai Adnan Arsal Sang Panglima Poso
Nama Poso masih kerap membangkitkan ingatan kolektif tentang salah satu fase paling kelam dalam sejarah sosial Indonesia. Pada masa itu, malam tidak lagi identik dengan ketenangan, melainkan menjadi ruang di mana api berkobar di kejauhan dan rasa takut merayap ke setiap sudut permukiman. Di tengah pusaran konflik yang menghancurkan tatanan masyarakat tersebut, muncul sosok Muhammad Adnan Arsal—figur yang perlahan menenun kembali jalinan sosial yang telah tercerai-berai.
Sebelum konflik pecah, Adnan Arsal dikenal sebagai seorang pendidik yang mengabdikan hidupnya pada dunia keilmuan dan pembinaan spiritual. Aktivitasnya berputar di sekitar pengajian, pendidikan santri, serta pendampingan masyarakat dalam kehidupan keagamaan. Ia bukanlah sosok yang dipersiapkan untuk memimpin dalam situasi konflik, apalagi terlibat dalam dinamika kekerasan.
Namun, realitas sejarah sering kali bergerak di luar rencana manusia. Ketika bentrokan mulai meluas dan permukiman berubah menjadi puing-puing, masyarakat kehilangan arah dan figur rujukan. Dalam situasi penuh kepanikan tersebut, mereka beralih kepada Adnan Arsal. Tanpa ambisi pribadi, ia menerima peran yang tidak pernah dimintanya—sebuah tanggung jawab moral untuk hadir sebagai pemimpin di tengah krisis.
Salah satu momen paling menentukan dalam perjalanan hidupnya terjadi saat sebuah kampung berada dalam ancaman serangan. Alih-alih memilih jalur konfrontasi yang berisiko tinggi, Adnan Arsal mengambil keputusan strategis yang berorientasi pada penyelamatan nyawa. Ia memimpin evakuasi warga secara senyap melalui jalur hutan pada malam hari. Perempuan, anak-anak, dan lansia digerakkan tanpa cahaya, dengan langkah yang ditahan agar tidak menimbulkan suara. Dalam keheningan yang menegangkan itu, keselamatan menjadi satu-satunya tujuan. Keberhasilan operasi tersebut bukan hanya menyelamatkan banyak jiwa, tetapi juga mengubah cara pandangnya: bahwa menjaga kehidupan jauh lebih bernilai daripada sekadar memenangkan pertempuran.
Perubahan mendasar dalam dirinya semakin menguat setelah sebuah pertemuan tak terduga pascakonflik. Ia berhadapan dengan seorang pria tua dari pihak yang berseberangan. Tanpa membawa senjata maupun amarah, pria itu hanya menyampaikan satu pertanyaan sederhana namun menghujam: “Jika perang ini berakhir, siapa yang dapat mengembalikan anak saya?” Kalimat tersebut menjadi refleksi mendalam bagi Adnan Arsal. Ia menyadari bahwa dalam konflik bersenjata, kemenangan sering kali bersifat semu, sementara kehilangan yang ditinggalkan bersifat permanen.
Keputusan untuk keluar dari lingkaran konflik bukanlah langkah yang mudah. Ia menghadapi risiko dicap sebagai pengkhianat oleh kelompoknya sendiri, sekaligus kecurigaan dari pihak lawan. Meski demikian, Adnan Arsal tetap melangkah menuju jalur dialog. Dalam sebuah forum perdamaian yang berlangsung dengan ketegangan tinggi, ia menyampaikan pernyataan yang kemudian menjadi titik balik: “Jika kita tidak menghentikan ini hari ini, anak-anak kitalah yang akan mewarisi perang ini.” Pernyataan tersebut menghadirkan perspektif baru—bahwa konflik bukan hanya tentang masa kini, tetapi juga tentang masa depan generasi berikutnya.
Seiring meredanya konflik dan mulai tumbuhnya benih perdamaian di Poso, Adnan Arsal tidak memilih jalan kekuasaan atau panggung politik. Ia justru kembali pada akar pengabdiannya sebagai pendidik. Fokusnya diarahkan pada pembangunan jangka panjang melalui pendidikan dan rekonsiliasi sosial. Ia terlibat dalam pembinaan lembaga pendidikan dengan menanamkan nilai-nilai toleransi, membangun komunikasi lintas kelompok di tingkat akar rumput, serta membagikan pengalaman hidupnya sebagai pelajaran tentang mahalnya harga sebuah perdamaian.
Kisah Muhammad Adnan Arsal menjadi refleksi penting bahwa di tengah konflik yang paling gelap sekalipun, selalu ada ruang bagi kemanusiaan untuk bangkit. Ia tidak hanya berperan sebagai saksi sejarah, tetapi juga sebagai agen perubahan yang membuktikan bahwa keberanian sejati bukan terletak pada kemampuan bertempur, melainkan pada keteguhan untuk memilih jalan damai.
Kepergian KH. Muhammad Adnan Arsal bukanlah akhir dari kisah perjuangan, melainkan awal dari tanggung jawab bersama untuk menjaga api perdamaian tetap menyala. Apa yang telah beliau tanamkan di tanah Poso—tentang pentingnya dialog, kemanusiaan, dan keberanian untuk memaafkan—adalah warisan yang tidak boleh padam oleh waktu. Kini, estafet itu berada di tangan generasi penerus, untuk memastikan bahwa luka lama tidak kembali terbuka, dan bahwa masa depan dibangun di atas fondasi persaudaraan. Semoga setiap jejak langkahnya menjadi amal jariyah yang terus mengalir, dan namanya abadi sebagai simbol bahwa di tengah gelapnya konflik, selalu ada cahaya yang memilih untuk menuntun menuju damai.
