Notification

×

Iklan

Iklan

Uruguay Desak Hentikan Serangan Israel ke Palestina, Tegaskan Ancaman Serius

Rabu | September 24, 2025 WIB | 0 Views
Uruguay Desak Hentikan Serangan Israel ke Palestina, Tegaskan Ancaman Serius

Fikroh.com - BOGOTA, Kolombia – Dunia internasional kembali menyoroti konflik berkepanjangan di Palestina, terutama setelah Presiden Uruguay, Yamandú Orsi, dalam pidatonya di Sidang Majelis Umum PBB ke-80 di New York, menyerukan penghentian segera serangan Israel terhadap rakyat Palestina. Seruan tersebut menegaskan kembali posisi konsisten Uruguay sejak lebih dari tujuh dekade lalu: mendukung prinsip penentuan nasib sendiri dan solusi dua negara sebagai jalan damai.
 

Sikap Tegas di Panggung Internasional


Dalam pidatonya, Orsi menegaskan bahwa Uruguay memandang penting penghentian operasi militer yang menargetkan warga sipil. Ia menyebut, “Sejak 1948, Uruguay telah mempertahankan sikap yang konsisten dan teguh sesuai dengan prinsip penentuan nasib sendiri dan hidup berdampingan secara damai. Dalam hal ini, Uruguay selalu berpegang pada posisi dua negara, dua bangsa.”

Pernyataan ini disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan di Gaza dan Tepi Barat, di mana serangan udara, blokade, dan eskalasi militer telah menyebabkan korban sipil terus berjatuhan. Orsi juga mendesak pembebasan sandera, menekankan bahwa tindakan kemanusiaan harus menjadi prioritas utama.

Lebih jauh, Orsi menegaskan dukungan pemerintahnya terhadap laporan dan rekomendasi yang dihasilkan komunitas internasional, khususnya PBB. Menurutnya, rekomendasi itu perlu segera diterapkan untuk menghentikan penderitaan rakyat Palestina dan mendorong penyelesaian politik yang adil.

Jejak Diplomasi Uruguay


Sikap yang ditunjukkan Orsi bukanlah hal baru bagi Uruguay. Negara kecil di Amerika Selatan itu memiliki tradisi panjang dalam diplomasi internasional, khususnya terkait isu Palestina.

Sejak 1947, Uruguay termasuk salah satu negara di Majelis Umum PBB yang mendukung Resolusi 181, yang mengusulkan pembagian wilayah Palestina menjadi dua negara: satu untuk bangsa Yahudi dan satu untuk bangsa Arab. Langkah ini menunjukkan bahwa Uruguay sejak awal menerima gagasan solusi dua negara.

Meskipun demikian, Uruguay juga konsisten menyuarakan pentingnya hak-hak rakyat Palestina. Dukungan mereka tidak hanya simbolik, melainkan juga tercermin dalam berbagai forum internasional, di mana Uruguay sering mengedepankan pendekatan hukum internasional dan prinsip hak asasi manusia.
 

Dua Negara, Dua Bangsa: Prinsip yang Tak Goyah


Prinsip “dua negara, dua bangsa” menjadi inti kebijakan Uruguay selama puluhan tahun. Konsep ini diyakini sebagai satu-satunya jalan untuk mencapai perdamaian abadi di Timur Tengah.

Uruguay memandang bahwa Israel berhak atas keamanan dan keberadaan negaranya, tetapi pada saat yang sama Palestina juga memiliki hak yang sama untuk berdiri sebagai negara berdaulat. Keteguhan ini membuat Uruguay dipandang sebagai salah satu suara moderat di Amerika Latin yang mampu menjaga keseimbangan antara mendukung Israel dan membela hak-hak Palestina.

Dalam konteks global, posisi Uruguay sejalan dengan mayoritas negara di PBB yang mendukung solusi dua negara. Namun, pernyataan tegas Orsi di tengah eskalasi konflik saat ini menambah bobot diplomasi Uruguay, mengingat banyak negara lain masih enggan bersuara keras terhadap Israel.
 

Sorotan pada Isu Kemanusiaan


Selain menekankan solusi politik, Orsi juga memberi perhatian besar pada dimensi kemanusiaan. Ia mendesak penghentian segera operasi militer dan mengutuk pembunuhan warga sipil yang tidak bersalah.

“Pada saat yang sama, kami mendesak penghentian segera operasi militer, diakhirinya pembunuhan warga sipil yang tidak bersalah, serta meminta pembebasan para sandera,” tegasnya.

Pesan ini mencerminkan keprihatinan internasional yang semakin meluas atas krisis kemanusiaan di Gaza. Laporan dari berbagai lembaga internasional, termasuk PBB, menunjukkan situasi darurat: ribuan warga sipil tewas, infrastruktur hancur, dan akses bantuan kemanusiaan sangat terbatas.

Uruguay, meskipun negara kecil dengan pengaruh politik terbatas, memilih untuk berdiri di sisi hukum internasional dan kemanusiaan.
 

Mengangkat Isu Ketidaksetaraan Global


Selain soal Palestina, Orsi juga menyinggung ketidaksetaraan global dalam pidatonya. Ia menyoroti jurang yang semakin lebar antara mereka yang memiliki kekayaan berlimpah dan mereka yang hidup dalam penderitaan.

Sorotan ini relevan dengan konflik Palestina-Israel, di mana kesenjangan akses terhadap sumber daya, keamanan, dan kedaulatan politik menjadi salah satu akar persoalan. Dengan menekankan isu ketidaksetaraan, Orsi ingin menegaskan bahwa konflik Palestina bukan hanya persoalan regional, melainkan juga simbol dari ketidakadilan global.
 

Respon Dunia dan Kawasan


Seruan Uruguay mendapat perhatian di kawasan Amerika Latin. Negara-negara di wilayah tersebut memiliki sikap beragam terhadap Israel dan Palestina. Sebagian, seperti Brasil dan Chile, sering mengkritik kebijakan Israel, sementara yang lain memilih berhati-hati agar tidak mengganggu hubungan diplomatik dan perdagangan.

Dalam konteks ini, suara Uruguay menambah bobot moral bagi negara-negara yang cenderung berpihak pada Palestina. Bagi banyak pengamat, langkah Orsi juga menunjukkan bahwa solidaritas internasional terhadap Palestina tidak terbatas pada negara-negara mayoritas Muslim, tetapi juga meluas ke Amerika Latin.
 

Signifikansi di Tengah Krisis Gaza


Pidato Orsi datang pada saat yang kritis. Serangan Israel ke Gaza telah memicu gelombang protes global, termasuk di Eropa, Asia, dan Amerika Latin. Dukungan Uruguay untuk penghentian serangan militer memberi legitimasi moral tambahan bagi seruan gencatan senjata yang juga disuarakan oleh Sekjen PBB dan berbagai organisasi internasional.

Dengan menekankan solusi dua negara, Uruguay mencoba mengingatkan dunia pada resolusi-resolusi PBB yang selama ini diabaikan. Pesan ini penting, mengingat sebagian besar perundingan perdamaian Palestina-Israel mandek selama bertahun-tahun tanpa kemajuan nyata.
 

Kesimpulan


Pidato Presiden Uruguay, Yamandú Orsi, di Sidang Majelis Umum PBB bukan sekadar pernyataan politik, tetapi cerminan konsistensi sebuah negara kecil yang memegang teguh prinsip keadilan internasional.

Dengan menyerukan penghentian segera serangan Israel, pembebasan sandera, serta menekankan solusi dua negara, Uruguay menegaskan bahwa perdamaian di Palestina hanya bisa dicapai melalui jalan diplomasi yang adil, bukan kekerasan.

Dalam dunia yang semakin terbelah, suara Uruguay menjadi pengingat bahwa prinsip kemanusiaan dan keadilan tetap harus ditempatkan di atas kepentingan geopolitik. Seruan ini sekaligus menegaskan bahwa isu Palestina bukan hanya masalah kawasan Timur Tengah, melainkan persoalan moral global yang membutuhkan perhatian seluruh umat manusia.
×
Berita Terbaru Update