Notification

×

Iklan

Iklan

Sikap Orang Tua yang Tanpa Sadar Melemahkan Mental Anak

Rabu | September 10, 2025 WIB | 0 Views
Sikap Orang Tua yang Tanpa Sadar Melemahkan Mental Anak

Fikroh.com - Orang tua sering diyakini sebagai sosok pelindung sekaligus pembimbing utama bagi anak. Mereka adalah tempat pertama anak belajar mengenal dunia, menumbuhkan rasa percaya diri, serta mengasah kemampuan menghadapi tantangan hidup. Namun, tidak semua niat baik orang tua berbuah positif. Ada sikap-sikap tertentu yang dilakukan secara tidak sadar, tetapi justru merusak daya tahan mental anak.

Tulisan ini akan membahas berbagai sikap yang sering dianggap sepele, padahal bisa melemahkan mental anak. Untuk memperjelas, akan disertakan juga contoh kasus nyata dari penelitian maupun ilustrasi kehidupan sehari-hari.
 
Terlalu Melindungi Anak

Banyak orang tua merasa bahwa menjaga anak dari bahaya adalah bentuk cinta terbesar. Namun, jika perlindungan itu berlebihan, anak justru tumbuh rapuh.

Contoh kasus:
Seorang anak berusia 10 tahun di Jakarta selalu ditemani ibunya ke sekolah. Sang ibu tidak pernah mengizinkan anaknya berjalan sendiri, bahkan untuk membeli makanan di warung depan rumah. Akibatnya, ketika suatu hari anak tersebut harus berkemah bersama sekolah, ia merasa sangat cemas, bingung, dan tidak mampu mengambil keputusan sederhana seperti memilih makanan atau menyiapkan perlengkapan.

Proteksi berlebihan membuat anak tidak terbiasa menghadapi risiko kecil dan kegagalan. Padahal, pengalaman jatuh-bangun itulah yang melatih ketangguhan mental.
 
Sering Mengkritik dan Merendahkan

Kritik memang penting untuk mendidik anak, tetapi jika terlalu sering, apalagi disampaikan dengan nada merendahkan, hal itu bisa melukai harga diri anak.

Ilustrasi nyata:
Seorang remaja SMP bercerita bahwa setiap kali ia mendapat nilai 80, ayahnya berkata, “Kenapa tidak 100? Lihat temanmu, dia bisa.” Lama-kelamaan, ia merasa bahwa usaha apa pun selalu salah di mata ayahnya. Hasilnya, ia kehilangan motivasi belajar dan tumbuh menjadi pribadi yang minder.

Kritik yang berlebihan bukan hanya membuat anak ingin menyerah, tetapi juga meninggalkan luka batin yang bisa terbawa hingga dewasa.
 
Menuntut Anak Sempurna

Orang tua sering menaruh harapan tinggi pada anak: menjadi juara kelas, masuk universitas bergengsi, atau berkarier sesuai impian orang tua. Harapan ini kadang melampaui minat dan kemampuan anak.

Kasus penelitian:
Sebuah studi di Korea Selatan menunjukkan bahwa tingkat depresi pada remaja meningkat tajam ketika mereka merasa gagal memenuhi ekspektasi orang tua dalam bidang akademik. Banyak anak akhirnya belajar semata-mata karena takut mengecewakan orang tua, bukan karena dorongan dari dalam diri.

Ekspektasi yang tidak realistis ini membuat anak merasa dirinya tidak pernah cukup, sehingga tumbuh dengan mental yang mudah hancur saat menghadapi kegagalan.
 
Mengabaikan Perasaan Anak

Ada orang tua yang sibuk bekerja atau kurang peka terhadap emosi anak. Misalnya, ketika anak bercerita tentang masalah dengan temannya, orang tua hanya menjawab singkat: “Ah, itu sepele.”

Contoh nyata:
Seorang anak SD yang sering di-bully di sekolah mencoba menceritakan pengalamannya kepada ibunya. Namun, ibunya malah berkata, “Kamu jangan cengeng, hadapi sendiri.” Akibatnya, anak tersebut merasa tidak didukung, dan akhirnya menyimpan semua perasaan dalam hati.

Pengabaian emosional seperti ini membuat anak belajar bahwa perasaan mereka tidak penting. Dalam jangka panjang, anak kesulitan mengungkapkan emosi dan cenderung menekan rasa sakitnya, yang bisa berujung pada masalah kesehatan mental.
 
Tidak Memberi Kesempatan untuk Mandiri

Banyak orang tua mengambil keputusan penuh atas hidup anak. Dari hal kecil seperti pakaian hingga keputusan besar seperti pilihan jurusan kuliah, semua ditentukan oleh orang tua.

Ilustrasi kasus:
Seorang mahasiswa baru di Bandung menceritakan bahwa ia tidak pernah memilih jurusan kuliahnya sendiri. Semua diputuskan oleh ayahnya. Di semester kedua, ia merasa tidak betah, stres, dan ingin pindah jurusan, tetapi takut mengecewakan orang tuanya.

Jika anak tidak diberi kesempatan mandiri sejak kecil, mereka tumbuh bingung, ragu mengambil keputusan, dan mudah kehilangan arah ketika tidak ada figur yang mengatur.
 
Membandingkan Anak dengan Orang Lain

Kebiasaan membandingkan anak dengan saudara kandung atau teman sebaya masih sering ditemukan. Maksudnya mungkin untuk memotivasi, tetapi kenyataannya lebih banyak menimbulkan rasa iri dan rendah diri.

Contoh sederhana:
Seorang anak perempuan selalu dibandingkan dengan kakaknya yang pandai matematika. Setiap kali ia mendapat nilai baik di pelajaran seni, ayahnya berkata, “Itu bagus, tapi tidak sehebat kakakmu di matematika.” Hasilnya, anak tersebut merasa bakatnya tidak dihargai dan tumbuh dengan rasa iri terhadap kakaknya.

Perbandingan terus-menerus membuat anak merasa dirinya tidak pernah cukup, sehingga kepercayaan dirinya semakin rapuh.
 
Menggunakan Hukuman Keras

Masih banyak orang tua yang menganggap pukulan, bentakan, atau hukuman fisik sebagai cara ampuh mendidik anak. Padahal, penelitian menunjukkan hukuman fisik justru menimbulkan trauma.

Contoh kasus nyata:
Sebuah penelitian di Amerika Serikat menemukan bahwa anak-anak yang sering dihukum dengan pukulan cenderung mengalami gangguan kecemasan dan agresivitas saat dewasa. Mereka mungkin patuh sesaat, tetapi di balik itu tumbuh rasa takut, marah, dan dendam.

Hukuman keras melemahkan mental karena membuat anak belajar bahwa dunia adalah tempat yang keras, dan masalah diselesaikan dengan kekerasan, bukan dialog.
 
Bagaimana Cara Menghindari Sikap Ini?

Setelah melihat berbagai dampak negatif di atas, orang tua perlu belajar mengubah pola asuh. Berikut beberapa langkah sederhana:
  • Biarkan anak mencoba sendiri, meski akan ada kegagalan.
  • Berikan kritik yang membangun, bukan merendahkan.
  • Tetapkan harapan sesuai minat dan kemampuan anak.
  • Dengarkan perasaan anak dengan empati.
  • Libatkan anak dalam keputusan kecil, agar mereka belajar bertanggung jawab.
  • Hargai keunikan anak, tanpa membandingkan dengan orang lain.
  • Gunakan disiplin yang mendidik, misalnya dengan memberi konsekuensi logis.
Penutup

Orang tua sering kali tidak menyadari bahwa sikap sehari-hari mereka bisa melemahkan mental anak. Proteksi berlebihan, kritik tajam, ekspektasi tidak realistis, pengabaian emosi, pembatasan kemandirian, kebiasaan membandingkan, dan hukuman keras adalah pola yang harus diwaspadai.

Dengan kesadaran dan perubahan sikap, orang tua dapat menjadi pilar yang memperkuat, bukan melemahkan mental anak. Anak yang tumbuh dengan kasih sayang, empati, dan ruang untuk mandiri akan lebih siap menghadapi tantangan hidup. Mereka tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga tangguh secara mental dan emosional.
×
Berita Terbaru Update