Fikroh.com - Tan Malaka, salah satu tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia, dikenal bukan hanya karena kiprah politiknya, tetapi juga karena gagasan filosofisnya yang dituangkan dalam karya “Madilog” (Materialisme, Dialektika, dan Logika). Buku tersebut ditulis sebagai upaya untuk mengajarkan pola pikir rasional, kritis, dan sistematis kepada bangsa Indonesia pada masa penjajahan.
Namun, di balik ambisinya membangun tradisi berpikir ilmiah, banyak pandangan Tan Malaka yang menimbulkan kontroversi, khususnya ketika ia membawa kerangka Marxisme untuk menilai dan mengkritisi ajaran agama, termasuk Islam.
Tan Malaka dan Konsep “Bayangan Masyarakat”
Dalam salah satu bagiannya, Tan Malaka menulis tentang konsep “bayangan masyarakat” yang ia adopsi dari teori base–superstructure Karl Marx.
Menurut Marx, struktur ekonomi (basis) menjadi fondasi yang menentukan lahirnya struktur politik, hukum, budaya, hingga agama (superstruktur). Dengan kata lain, kesadaran manusia dianggap bukan sesuatu yang otonom, melainkan cerminan dari kondisi material tempat ia hidup.
Tan Malaka mengadaptasi kerangka ini untuk menjelaskan fenomena sosial-budaya masyarakat, termasuk ajaran agama. Ia menilai bahwa ajaran tentang surga dan syariat Islam dalam beberapa aspek bukanlah wahyu ilahi yang murni, melainkan refleksi dari kondisi sosio-kultural bangsa Arab di gurun pasir.
Ia mencontohkan:
- Surga digambarkan dengan taman hijau, air mengalir, dan sungai jernih—menurutnya itu cerminan kerinduan bangsa Arab akan tanah subur di tengah gurun.
- Kenikmatan surga berupa bidadari disebutnya sebagai proyeksi hasrat kaum laki-laki Arab pada masa itu.
- Syariat menutup aurat bagi perempuan dipandangnya sebagai bentuk budaya patriarki masyarakat Arab, bukan ajaran transenden.
Dengan demikian, Tan Malaka menempatkan Islam—terutama aspek eskatologis dan syariat tertentu—sebagai produk historis dan budaya, bukan sebagai kebenaran wahyu.
Kritik terhadap Pandangan Tan Malaka
Di titik inilah kontroversi muncul. Ada dua sisi yang perlu dilihat secara hati-hati.
Dari sudut ilmu sosial
Apa yang dilakukan Tan Malaka merupakan penerapan teori Marx untuk membaca realitas budaya dan agama. Pendekatan seperti ini memang banyak digunakan kalangan akademisi sekuler, baik di Barat maupun Timur. Mereka melihat agama sebagai konstruksi sosial yang terkait erat dengan kondisi material suatu masyarakat.
Dari sudut iman dan syariat
Bagi umat Islam, pandangan Tan Malaka jelas problematis. Surga, kenikmatan akhirat, serta kewajiban menutup aurat adalah bagian dari rukun iman dan syariat yang bersumber dari wahyu Allah, bukan dari proyeksi hasrat manusia. Menilai ajaran tersebut sebagai sekadar produk budaya adalah bentuk reduksionisme: menyempitkan ajaran ilahi menjadi sekadar refleksi kondisi sosial.
Karena itu, sebagian kalangan menyebut pemikiran Tan Malaka sebagai bentuk cacat akidah. Bukan karena ia sekadar berpikir kritis, melainkan karena ia menjadikan ideologi materialis sebagai standar untuk menilai wahyu. Dalam tradisi Islam, hal ini dianggap sebagai kesalahan epistemologis yang serius.
Antara Warisan Intelektual dan Kontroversi Ideologis
Di satu sisi, Tan Malaka adalah bagian dari sejarah bangsa. Ia berperan dalam perjuangan kemerdekaan, menulis banyak gagasan, dan mengilhami generasi muda untuk berpikir kritis.
Namun di sisi lain, warisan intelektualnya perlu ditempatkan secara proporsional. Madilog bisa dihargai sebagai karya filsafat, tetapi bukan sebagai tafsir agama. Ketika Tan Malaka membawa Marxisme untuk menilai Islam, di situlah letak problematisnya.
Marxisme sebagai ideologi memang berangkat dari materialisme—memandang dunia hanya dari sisi materi, bukan spiritual. Sementara Islam meletakkan fondasi keyakinan pada wahyu ilahi, realitas gaib, dan kehidupan setelah mati. Maka, keduanya bertolak belakang secara paradigmatik.
Relevansi bagi Generasi Sekarang
Mengapa perdebatan ini penting diulas kembali? Karena hingga kini, nama Tan Malaka masih sering dikagumi sebagian kalangan, bahkan diposisikan sebagai ikon pemikiran kritis. Mengagumi semangat intelektual Tan Malaka boleh saja, tetapi perlu ada ketegasan dalam memilah: mana yang relevan sebagai metode berpikir, dan mana yang berbahaya bagi akidah.
Bagi seorang Muslim, iman tidak bisa ditimbang dengan neraca materialisme. Akhirat, surga, dan syariat bukan produk budaya, tetapi ajaran ilahi. Menerima atau menolak ajaran itu bukan perkara akademis semata, melainkan perkara keimanan.
Dengan demikian, apresiasi terhadap Tan Malaka sebagai tokoh bangsa tidak boleh berubah menjadi pembenaran terhadap pandangan yang bertentangan dengan iman.
Penutup
Tan Malaka memang meninggalkan warisan pemikiran yang luas dan kompleks. Ia adalah bagian dari sejarah Indonesia, namun bukan tanpa catatan kritis. Ketika ia menggunakan Marxisme untuk menafsirkan ajaran Islam, jelas terlihat adanya benturan paradigma: materialisme versus wahyu.
Maka, posisi yang arif adalah:
- Menghargai Tan Malaka sebagai tokoh sejarah dan penulis Madilog.
- Mengkritisi pandangan-pandangannya yang mereduksi agama menjadi sekadar produk sosial.
- Menegaskan bahwa ajaran Islam, baik tentang surga maupun syariat, adalah wahyu Allah yang tidak bisa ditakar dengan kerangka materialisme.
Dengan cara inilah kita bisa belajar dari sejarah tanpa kehilangan akidah. Karena pada akhirnya, iman kepada Allah dan ajaran-Nya adalah fondasi sejati yang tidak dapat digantikan oleh ideologi manapun.
