Notification

×

Iklan

Iklan

Mediterrania Memanas: Armada Spanyol Kawal Kapal Bantuan Gaza Susul Italia

Rabu | September 24, 2025 WIB | 0 Views
Mediterrania Memanas: Armada Spanyol Kawal Kapal Bantuan Gaza

Fikroh.com - Perairan Mediterania kini menjadi panggung geopolitik yang semakin memanas. Setelah Italia mengonfirmasi pengiriman fregat angkatan laut untuk mengawal Global Sumud Flotilla, Spanyol pun menyatakan langkah yang sama. Perdana Menteri Pedro Sánchez membuat pengumuman itu di New York, menegaskan pentingnya melindungi kapal bantuan serta warga Spanyol yang berada di dalam armada tersebut.

Langkah berani ini muncul setelah flotilla diserang drone pada 24 September kemarin. Serangan di sekitar Kreta itu menyebabkan beberapa kapal mengalami ledakan kecil, semburan bahan kimia, dan flashbang. Kejadian ini memicu kemarahan internasional karena flotilla berlayar dengan misi kemanusiaan, membawa makanan dan obat-obatan ke Gaza.

Italia lebih dahulu bertindak dengan mengirimkan Virginio Fasan (F-591), fregat kelas FREMM yang termasuk paling modern di armada Eropa. Kapal ini dilengkapi radar canggih, sistem pertahanan udara Aster, meriam kaliber 127 milimeter, meriam 76 milimeter Strales, serta helikopter NH90 untuk patroli. Kapal tersebut didesain untuk operasi peperangan anti-kapal selam, tetapi juga mampu mengendalikan ruang udara jarak menengah.

Kehadiran Fasan mengirimkan pesan jelas bahwa Roma tidak akan membiarkan warganya terancam tanpa perlindungan. Italia ingin menunjukkan bahwa solidaritas terhadap misi kemanusiaan tidak cukup hanya dengan pernyataan, melainkan harus hadir secara nyata di laut.

Spanyol pun mengonfirmasi bahwa kapal perangnya juga akan digerakkan. Berdasarkan pengumuman resmi, kapal itu berbentuk “kapal aksi maritim” dengan mandat perlindungan diplomatik, sesuai dengan doktrin angkatan laut Spanyol. Walaupun tidak disebutkan kelas kapal yang dikirim, kehadiran ini tetap bermakna karena membawa bendera negara anggota NATO ke wilayah konflik.

Kedua negara ini mengirimkan sinyal penting. Eropa Selatan yang terkenal dengan tradisi maritimnya memilih untuk terlibat langsung di laut, bukan sekadar mengeluarkan kecaman dari jauh. Hal ini menandai perubahan sikap yang lebih tegas terhadap blokade Israel.

Bagi Israel, langkah ini tentu menimbulkan kekhawatiran. Selama ini mereka menolak flotilla dengan alasan keamanan, menegaskan bahwa semua bantuan harus melalui pelabuhan yang mereka kendalikan. Kehadiran kapal perang Eropa mempersempit ruang gerak mereka untuk bertindak kasar karena risiko diplomatik jauh lebih besar.

Di jalanan Eropa, ribuan orang berunjuk rasa menentang blokade atas Gaza. Para politisi dan anggota parlemen juga mendesak tindakan lebih konkret setelah flotilla diserang drone. Di kampus-kampus, mahasiswa melancarkan protes besar-besaran. Tekanan domestik ini membuat pengiriman kapal perang hampir tidak bisa dihindarkan.

Pemerintah Italia dan Spanyol sadar reputasi mereka menjadi taruhannya. Jika kapal yang membawa anggota parlemen Eropa, dokter, dan aktivis diserang tanpa perlindungan, citra mereka akan hancur. Karena itu, kehadiran kapal perang menjadi pilihan yang paling rasional.

Secara teknis, fregat Italia seperti Fasan memiliki sistem pertahanan berlapis. Rudal Aster mampu mencegat ancaman udara jarak menengah, meriam Strales dengan amunisi pintar bisa menangkis drone, sementara NH90 memberi kemampuan patroli tambahan. Spanyol pun memiliki aset sepadan yang dirancang untuk operasi pengawasan dan perlindungan maritim.

Eropa menyadari risiko yang ada. Kehadiran kapal perang di dekat armada sipil menuntut disiplin tinggi, karena salah tafsir radar atau provokasi drone dapat memicu insiden. Oleh karena itu, mandat kapal perang lebih difokuskan pada pencegahan, pengawasan, dan pengumpulan bukti, bukan untuk menyerang.

Strategi flotilla juga jelas. Mereka membawa bukan hanya makanan dan obat-obatan, tetapi juga tokoh politik, dokter, dan aktivis dari berbagai negara. Jika kapal ini diserang, masalahnya bukan lagi soal perbatas
×
Berita Terbaru Update