Sejarah Perang 6 Oktober, Perangnya Ahli Shufi

Fikroh.com - Perang 6 Oktober tahun 1973 atau Perang Ramadhan (Karena terjadi di bulan Ramadhan), dikenal juga dengan Perang Yom Kippur di Israel karena terjadi saat hari raya Yahudi adalah perang Arab-Israel yang ke empat setelah perang tahun 1948, perang Suez tahun 1956 dan perang 6 hari tahun 1967, dan juga satu-satunya perang yang dimenangkan oleh negara Arab versus Israel dimana pasukan Mesir berhasil melewati Bar Lev line yang terkenal sulit dilewati. 

***

Abu Al-'Arifin begitulah ia dikenal, sebagian orang menyebutnya dengan Imam Ghazali Mesir di era modern, dialah Al-'Arif billah Al-Imam Al-Akbar Syeikhul Azhar Syeikh Abdul Halim Mahmud rahimahullah. Sisa ulama salaf yang pernah hidup di akhir zaman. 

Sebelum perang oktober, beliau bermimpi melihat Rasulullah Saw bersama para ulama melewati terusan Suez sebagai isyarat kemenangan. Berita gembira ini kemudian beliau sampaikan kepada Presiden Anwar Sadat agar mengambil keputusan untuk menyerang Israel. Karena beliau yakin Mesir akan menang dan begitulah kenyataannya. 

Tak hanya itu, beliau memfatwakan kepada para pasukan Mesir bolehnya berbuka puasa bahkan sunnah mengingat panasnya cuaca di bulan oktober meskipun ditolak oleh sebagian pasukan Mesir sambil berkata: "Kami ingin berbuka di Surga".

Kemudian beliau menaiki mimbar Al-azhar Sharif dan menyampaikan khutbah yang ditujukan kepada pemerintah, para jenderal dan semua pasukan bahwa "Perang kita dengan Israel adalah jihad fi sabilillah, barang siapa yang meninggal maka dia syahid dan berhak untuk mendapatkan surga. Sebaliknya, siapapun yang berpaling lalu dia mati maka ia mati dalam satu cabang kemunafikan".

***

Al-Imam Al-Akbar Sheikh Abdul Halim Mahmud adalah salah satu contoh terbaik yang pernah ada untuk menggambarkan bagaimana seharusnya seorang Shufi. Sebagaiman para shufi umumnya, ia menyeru kepada cinta, sebenar-benarnya cinta. Al-Imam hadir dan menyeru kepada cinta dan kasih sayang ketika terjadi perang saudara di Lebanon, beliau hadir dengan cinta saat Al-Jazair dan Maroko berkonflik. Namun Cinta yang ia seru sama sekali tak menghalanginya untuk menggelorakan semangat jihad melawan pendudukan Israel di Sinai dan Palestina.

Ia memang dekat dengan Anwar Saadat, tapi itu tak menghalanginya untuk bersikap keras kepada Sang Presiden saat berusaha membatasi kewenangannya sebagai Syeikhul Azhar, iapun mundur dari Masyaikhatul Azhar hingga kemudian memaksa Saadat untuk mengurungkan keputusannya dan mengembalikan semua kewenangan Syeikhul Azhar. 

Lulus dari Univ Sorbonne Perancis dan menjadi murid seorang orientalis besar Perancis Luis Massignon tak menjadikannya seorang liberal dan membebek ke Barat.  Ia justeru menuntut Pemerintah untuk mengaplikasikan syariat islam secara kaffah. Bahkan membentuk panitia dari ulama-ulama Al-Azhar dan menyusun draft undang-undang yang sesuai dengan syariat islam. Yang sayangnya, tidak pernah ditanggapi oleh pemerintah hingga ajal menjemputnya. 

Ia menyeru dengan cinta, kehidupannya sebagai seorang shufi tak lantas membuatnya dimusuhi oleh tokoh-tokoh dakwah Salafi dan Ikhwan. Ia menghormati Ibnu Taimiyah. Simaklah dalam kitabnya tentang komunisme bagaimana ia mensifati para raja dan pangeran Saudi dan mengutip perkataan mereka. Dan seperti biasa, cinta itu terbalas dengan cinta. Bukalah surat-surat kritik Syeikh Bin Baz terhadap beliau, kita akan menemukan betapa Syeikh Bin Baz sangat menghormati Al-Imam Al-Akbar. Dan karena cinta pula, Umar At-Tilmisani mursyid Ikhwan sering menemui Al-Imam Al-Akbar untuk meminta nasehatnya. Hingga Ikhwan menganggap Al-Imam sebagai salah seorang ulamanya. Dan memang benar,  Al-Imam Al-Akbar adalah Imam untuk semua. 

Beliau sama sekali tidak takut dengan Pemerintah, beliau pernah bersitegang dengan Pengadilan Militer terkait dengan penyikapan terhadap Jama'ah Takfir Wal hijrah. Sebagaimana beliau pernah menentang keras wacana Paus Shenouda III untuk mencetak buka agama yang mengajarkan pelajaran keislaman dan kristen dalam satu buku lalu diajarkan untuk siswa-siswi di sekolah mereka. 

Nasionalisme dan cinta tanah air tak perlu mengorbankan aqidah. Sebagaimana cinta dan kasih sayang tak harus menggerus makna jihad. Rahimahullah.

Penulis: Taufiq M Yusuf Njong

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama