Fikroh.com - Bismillah. Pembaca yang budiman, pada kesempatan ini penulis akan menguraikan kajian tentang hukum sumpah dalam islam, mulai dari definisi, hukum, jenis dan keterangan antara sumpah yang boleh dan yang terlarang. Untuk memulai pembahasan ini kita fahami dulu apa itu sumpah?

Definisi Sumpah

الأيمان secara bahasa adalah bentuk plural dari kalimat يمين dan asal kalimat يمين secara bahasa adalah tangan kanan, dan digunakan atas sumpah karena ketika mereka melakukan sumpah dengan memukul setiap orang dari mereka dengan tangan kanannya pada tangan yang disumpah. (Lisaanul ‘Arab dan an Nihaayah karya Ibnul Atsir)

يمين secara agama adalah penetapan sesuatu dengan menyebut nama atau sifat Allah. (Fathul Baari (11/516).

Pensyariatan Sumpah

Pengertian Sumpah, Hukum dan Macam-macamnya

Sumpah disyariatkan berdasarkan Al-Qur'an, as-Sunnah dan ijma’:

Firman Allah Subhanahu wata'ala :

(وَلَا تَنقُضُوا الْأَيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيدِهَا)

“Janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah(mu) itu, sesudah meneguhkannya (An nahl, 91),

(قَدْ فَرَضَ اللَّهُ لَكُمْ تَحِلَّةَ أَيْمَانِكُمْ)

“Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepadamu sekalian membebaskan diri dari sumpahmu (at Tahrim: 2).

Allah -subhanahu wa ta`ala- telah memerintahkan nabi-Nya -shallallahu ‘alaihi wasallam- dengan sumpah di dalam tiga tempat di dalam kitab-Nya. Allah berfirman:

(وَيَسْتَنبِئُونَكَ أَحَقٌّ هُوَ ۖ قُلْ إِي وَرَبِّي إِنَّهُ لَحَقٌّ)

“Dan mereka menanyakan kepadamu, benarkah (azab yang dijanjikan) itu? Katakanlah: iya, demi tuhanku, sesungguhnya azab itu adalah benar (yunus: 53).

(قُلْ بَلَىٰ وَرَبِّي لَتَأْتِيَنَّكُمْ)

“Katakanlah, pasti, demi tuhanku akan datang kepada kalian (saba’ : 30)

)قُلْ بَلَىٰ وَرَبِّي لَتُبْعَثُنَّ)

“Katakanlah, memang, demi tuhanku benar-benar engkau akan dibangkitkan. (at Taghaabun: 7).

Dari As-sunnah: sabda nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam-:

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، إِنِّي لَأَرْجُو أَنْ تَكُونُوا نِصْفَ أَهْلِ الجَنَّةِ

“Dan demi dzat yang jiwa Muhammad ditangan-Nya, sesungguhnya aku memohon agar kalian menjadi barisan penduduk surga... (Shahih, Hadits riwayat: Al-Bukhariy (6528), dan Muslim (221).

sabda nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam-:

فَوَالَّذِي لَا إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ، فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ،

“Maka demi dzat yang tiada tuhan selain-Nya, sesungguhnya siapapun dari kalian telah beramal dengan amal ahli surga hingga tidak ada sesuatu di antaranya kecuali sehasta maka didahului atasnya al-kitab . . (Shahih, dikeluarkan dengan lafazh ini oleh Muslim (2643),

sabda nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam-:

مَا بَالُ أَقْوَامٍ يَتَنَزَّهُونَ عَنِ الشَّيْءِ أَصْنَعُهُ، فَوَاللَّهِ إِنِّي لَأَعْلَمُهُمْ بِاللَّهِ، وَأَشَدُّهُمْ لَهُ خَشْيَةً

“Apa yang ada di benak kaum yang mensucikan diri dari sesuatu yang kukerjakan, maka demi Allah sesungguhnya aku lebih tahu daripada kalian kepada Allah dan lebih kuat daripada kalian rasa takut kepada-Nya. (Shahih, Hadits riwayat: Al-Bukhariy (6101), dan Muslim (2356).

Dari Ibnu `Umar -radhiyallahu `anhu- berkata:

(كانت يمين النبي: لا, و مقلب القلوب)

“Sumpah nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam-: tidak, demi sang pembolak balik hati. (Al Mughni (11/160 -dengan syarah yang besar).

Yang selainnya banyak dan akan disebutkan setiap bagian dari hadits-hadits tersebut di dalam setiap bab, insyaa' Allah.

Seluruh umat telah sepakat atas pensyariatan sumpah, dan penetapan hukumnya. (Shahih, disalin oleh Al-Bukhariy (6628),

Sumpah-sumpah Seorang Muslim

Sumpah-sumpah yang diucapkan oleh kaum muslimin, sebagian darinya dikenakan hukum, dan bisa di terangkan di dalam dua bagian. (Al Mabsuth (8/126), dan lihat Majmu’ al-Fatawa (35/241).

Al-Qasam (Lafazh Sumpah) yaitu yang dimaksud dengan pemuliaan orang yang bersumpah, jenis ini tidak digunakan kecuali dengan Allah. Dialah yang berhak untuk pemuliaan dengan dzat-Nya atas segi tidak boleh merusak kehormatan nama-Nya dengan keadaan apapun.

Asy-Syarth wal jaza’ (syarat dan balasan) yaitu sumpah menurut Ahli Fiqih yang terdapat di dalamnya bagian dari makna sumpah, yaitu larangan atau persetujuan, dan jenis ini tidak diketahui oleh para ahli bahasa, termasuk kepada bagian ini adalah: bersumpah dengan nadzar, bersumpah dengan perceraian, bersumpah dengan pengharaman, bersumpah dengan zhihar dan yang sejenisnya.

Kita akan fokuskan di dalam pembahasan ini pada bagian pertama dan sebagian gambaran dari bagian kedua. Dan gambaran-gambaran selebihnya tersebar di dalam bab-bab fiqih.

Tidak Dianjurkan Memperbanyak Sumpah

Allah Subhanahu wata'ala berfirman:

(وَلَا تُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ مَّهِينٍ)

“Dan janganlah engkau ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina. (Al Qalam: 10) (Lihat At Tafsirul Kabir karya ar-Razi (6/75, 30/83), dan Al Mabsuth (8/127).[1]

Orang yang banyak bersumpah -menurut pendapat sebagian Ahli Tafsir-: memperbanyak sumpah di dalam kebenaran dan kebatilan, cukup baginya mencegah bagi yang terbiasa bersumpah. Allah Subhanahu wata'ala berfirman:

(وَاحْفَظُوا أَيْمَانَكُمْ)

“Dan jagalah sumpah kalian. (Surat Al Maaidah, 89).

Yang maksudnya adalah mencegah dari bersumpah -menurut salah satu pendapat- bahwa setelah bersumpah adapun menggambarkan kepada menjaga kebaikan, dan menjaga kebaikan disebutkan untuk makna pencegahan.

Bangsa Arab memuji manusia yang menyedikitkan sumpah, seperti yang dikatakan oleh Katsir:

(قليل الآلايا حافظ ليمينه و إن سبقت منه الألية برت)

Yang sedikit bersumpah maka dia menjaga sumpahnya- dan jika dia telah mengucapkan sumpah maka dia menaati. Plural dari kata آلية yaitu sumpah.

Hikmah di dalam perintah dengan menyedikitkan sumpah: bahwa siapa yang bersumpah di dalam segala sesuatu baik itu sedikit atau banyak dengan nama Allah, fasih lisannya dengan hal tersebut, dan tidak tersisa efek apapun dengan sumpah tersebut di dalam hatinya, maka dia tidak bisa dipercayai ucapan sumpah bohongnya maka hilanglah tujuan asli di dalam sumpah, oleh karena itu makruh bersumpah di dalam jual-beli. Berdasarkan sabda nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam-:

الحَلِفُ مُنَفِّقَةٌ لِلسِّلْعَةِ، مُمْحِقَةٌ لِلْبَرَكَةِ

“Sumpah menguntungkan bagi barang dagangan, namun meleyapkan keberkahan.” [1]

Tidak Boleh Bersumpah Selain Dengan Nama Allah

Dari Ibnu `Umar -radhiyallahu `anhu- bahwa nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- mendapati `Umar bin Khattab dan dia sedang berjalan di kendaraan sambil bersumpah dengan menyebut ayahnya, lalu beliau bersabda:

أَلاَ إِنَّ اللَّهَ يَنْهَاكُمْ أَنْ تَحْلِفُوا بِآبَائِكُمْ، مَنْ كَانَ حَالِفًا فَلْيَحْلِفْ بِاللَّهِ أَوْ لِيَصْمُتْ

“Tidakkah Allah telah melarang kalian untuk bersumpah dengan ayah-ayah kalian, siapa yang bersumpah maka bersumpahlah dengan nama Allah atau diamlah[2].

Hal ini menunjukkan kepada dua hal[3]:

Pertama: Mencegah dari bersumpah dengan selain Allah, adapun pengkhususan di dalam hadits `Umar dengan pengucapan ayah karena pengucapannya atas sebab yang telah disebutkan, dan khusus karena hal itu banyak terjadi. Berdasarkan Sabda nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- di dalam riwayat lain:

كَانَتْ قُرَيْشٌ تَحْلِفُ بِآبَائِهمْ

“Orang Quraisy bersumpah dengan ayah-ayah mereka[4].

menunjukkan makna umum dalam sabdanya:

مَنْ كَانَ حَالِفًا فَلاَ يَحْلِفْ إِلَّا بِاللَّهِ

“Bagi siapa yang hendak bersumpah maka janganlah bersumpah kecuali dengan nama Allah.

Kedua: Bahwa siapa yang bersumpah dengan selain Allah secara mutlak maka sumpahnya tidak dianggap, baik itu yang digunakan bersumpah memang berhak dimuliakan dengan makna selain ibadah seperti para nabi, malaikat, ulama’, orang-orang shalih, para ayah, dan ka’bah, atau tidak berhak dimuliakan seperti orang lain, berhak pada pelecehan atau penghinaan seperti syaitan atau yang menyembah kepada selain Allah. Dalil dari hadits ini bahwa umar tidak bersumpah dengan Allah dan tidak juga dengan yang dapat menggantikan kedudukannya.

Faedah: Jika seorang muslim bersumpah kepada saudaranya dengan nama Allah maka seharusnya dia dipercaya: Walaupun telah diketahui kebalikannya. Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

رَأَى عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَجُلًا يَسْرِقُ، فَقَالَ لَهُ: أَسَرَقْتَ؟ قَالَ: كَلَّا وَاللَّهِ الَّذِي لاَ إِلَهَ إِلَّا هُوَ، فَقَالَ عِيسَى: آمَنْتُ بِاللَّهِ، وَكَذَّبْتُ عَيْنِي

“Isa bin Maryam melihat seorang lelaki mencuri, lalu Isa bertanya: apakah engkau mencuri? Lalu dia menjawab: tidak, dan demi dzat yang tidak ada tuhan selain-Nya, lalu Isa berkata: aku telah beriman kepada Allah, dan mataku telah membohongiku[1].

Bersumpah Dengan Nama-Nama Allah Dan Sifat-Sifat-Nya

Bersumpah dengan nama-nama Allah[2]. Tidak ada perbedaan di antara para ulama’ bahwa siapa yang berkata: wallahi, billahi atau tallahi yang artinya demi Allah lalu dia melanggar -dikenakan kafarat karena pengucapan sumpahnya, dan begitu juga bersumpah dengan nama-nama Allah yang tidak disebut kepada selainnya, seperti Ar-Rahman (yang Maha Pengasih), Al-Awwal (yang Pertama yang tidak didahului oleh apapun), Tuhan semesta alam, yang Hidup yang tidak pernah mati dan sejenisnya.

Adapun nama yang juga disebut kepada selainnya secara majaz, dan ditetapkan kemutlakannya kepada Allah, seperti Al-Khaliq (sang pencipta) dan ar Raazaq (sang pemberi rezeki) dan ar Rabb (Tuhan) dan ar Rahim (sang penyayang) dan al Qahar(sang perkasa) dan yang sejenisnya, nama-nama itu juga digunakan kepada selain Allah secara majaz dengan dalil firman Allah Subhanahu wata'ala :

(وَتَخْلُقُونَ إِفْكًا)

“Dan kalian membuat dusta.

firman Allah -subhanahu wa ta`ala[3]- :

(وَتَذَرُونَ أَحْسَنَ الْخَالِقِينَ)

“Dan kalian meninggalkan sebaik-baik pencipta.[4]

firman Allah -subhanahu wa ta`ala- :

(ارْجِعْ إِلَىٰ رَبِّكَ)

“Kembalilah kepada tuhanmu.[5]

firman Allah Subhanahu wata'ala :

(اذْكُرْنِي عِندَ رَبِّكَ)

“Terangkanlah keadaanku kepada tuhanmu.(6)

Maka semua itu jika diniatkan sebagai nama Allah atau melepaskannya, maka menjadi sumpah karena secara mutlak ditetapkan kepada Allah, dan jika diniatkan kepada selain Allah maka tidak menjadi sumpah, karena digunakan terhadap selain-Nya maka ditetapkan kepada selain-Nya dengan niat.

Adapun yang disebut kepada Allah dan selain-Nya dan tidak ditetapkan kepada-Nya dengan pemutlakan-Nya, seperti Al-Hay (yang hidup) dan Al-‘Alim (yang mengetahui) dan Al-Karim (yang mulia) dan yang sejenisnya, maka jika dimaksudkan kepada sumpah dengan nama Allah maka menjadi sumpah, dan jika dimaksudkan kepada selain Allah maka tidak menjadi sumpah.

Bersumpah dengan sifat-sifat Allah

a. Boleh -menurut mayoritas ulama- bersumpah dengan salah satu dari sifat-sifat dzat Allah yang tidak dimaksudkan kepada selain-Nya, seperti: kebesaran-Nya, kesombongan-Nya, keagungan-Nya, dan dianggap sebagai sumpah.

Dari Anas -radhiyallahu `anhu- berkata: nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

لاَ تَزَالُ جَهَنَّمُ تَقُولُ: هَلْ مِنْ مَزِيدٍ، حَتَّى يَضَعَ رَبُّ العِزَّةِ فِيهَا قَدَمَهُ، فَتَقُولُ: قَطْ قَطْ وَعِزَّتِكَ، وَيُزْوَى بَعْضُهَا إِلَى بَعْضٍ

“Jahannam selalu berkata: apakah ada tambahan? Hingga Tuhan yang Agung meletakkan kakinya di dalamnya, lalu jahannam berkata: cukup cukup, demi keagungan-Mu, dan disingkirkan sebagiannya kepada sebagian yang lain[1].

Dalam hadits Abu Bakar -radhiyallahu `anhu- -penyebutan lain tentang yang keluar dari neraka-:

فَلا يَزَالُ يَدْعُو اللَّهَ، فَيَقُولُ: لَعَلَّكَ إِنْ أَعْطَيْتُكَ أَنْ تَسْأَلَنِي غَيْرَهُ، فَيَقُولُ: لاَ وَعِزَّتِكَ لاَ أَسْأَلُكَ غَيْرَهُ

“Dan dia masih meminta kepada Allah, lalu Dia berfirman: barangkali jika aku memberikan kepadamu maka engkau akan meminta kepadaku selainnya, dan berkata: tidak, demi keagungan-Mu aku tidak akan meminta selainnya kepada-Mu.”[2].

Dari Abu Hurairah dari nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

بَيْنَا أَيُّوبُ يَغْتَسِلُ عُرْيَانًا، فَخَرَّ عَلَيْهِ جَرَادٌ مِنْ ذَهَبٍ، فَجَعَلَ أَيُّوبُ يَحْتَثِي فِي ثَوْبِهِ، فَنَادَاهُ رَبُّهُ: يَا أَيُّوبُ، أَلَمْ أَكُنْ أَغْنَيْتُكَ عَمَّا تَرَى؟ قَالَ: بَلَى وَعِزَّتِكَ، وَلَكِنْ لاَ غِنَى بِي عَنْ بَرَكَتِكَ

“Disela-sela Ayub sedang mandi bertelanjang, lalu jatuh kepadanya belalang emas, lalu Ayub memakai pakaiannya, lalu Tuhannya memanggilnya: wahai Ayub, tidakkah aku menjadikan kekayaanmu dari apa yang engkau lihat? Dia menjawab: tidak, demi keagungan-Mu, dan tetapi tidak ada kekayaan bagiku dari keberkahan-Mu[1].

Dari Ibnu `Abbas -radhiyallahu `anhu- bahwa nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- pernah bersabda:

أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ، الَّذِي لاَ إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ الَّذِي لاَ يَمُوتُ، وَالجِنُّ وَالإِنْسُ يَمُوتُونَ

“Aku berlindung dengan keagungan-Mu yang tiada tuhan selain-Mu, yang tidak pernah mati, sedangkan jin dan manusia akan mati[2].

Sisi pendalilannya adalah bahwa boleh meminta perlindungan dengan menyebut salah satu dari sifat-sifat Allah, maka begitu juga sumpah, karena keduanya tidak dianggap kecuali dengan menyebut Allah.

b. Adapun sifat pekerjaan Allah, dan telah disebutkan di dalam hadits Ibnu `Umar:

(كانت يمين النبي لا و مقلب القلوب)

“Sumpahnya nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- adalah; tidak, demi Sang pembolak balik hati[3].

Ibnu al-‘Arabi -rahimahullah- berkata: dalam hadits dibolehkan bersumpah dengan menyebut pekerjaan Allah jika disifati dengan-Nya dan tidak menyebut nama-Nya, jika bersumpah dengan menyebut salah satu dari sifat-sifat-Nya atau dengan menyebut salah satu dari pekerjaan-Nya secara mutlak maka tidak dianggap sebagai sumpah seperti yang telah disebutkan dari sabdanya -shallallahu ‘alaihi wasallam-:

مَنْ كَانَ حَالِفًا فَلَا يَحْلِفْ إِلَّا بِاللهِ أَوْ لِيَصْمُتْ

“Siapa yang hendak bersumpah maka bersumpahlah dengan menyebut nama Allah atau diamlah”.

Jika bersumpah dengan menyebut salah satu dari sifat-sifat-Nya maka telah menjadi sumpah dan diwajibkan kepadanya kafarat dengan pelanggarannya. seperti itu juga pendapat para ulama’ seperti Malikiyah, Syafi’iyah, dari zaman Malik dan Syafi’I hingga zaman sekarang[4]. Wallohu a'lam


Footnote:

[1]Shahih, Hadits riwayat: Al-Bukhariy (2087), dan Muslim (1606).

[2]Shahih, Hadits riwayat: Al-Bukhariy (6646), dan Muslim (1646).

[3] Fathul Baari (11/533).

[4] Al-Bukhariy (3836), dan Muslim (1646).

[5]Shahih, Hadits riwayat: Al-Bukhariy (3444), dan Muslim (2368).

[6] Al Mughni (11/182), dan Al Majmu’ (18/22).

[7]Al-Qur`an Surat. Al ‘Ankabut,17.

[8]Al-Qur`an Surat as Shaffat, 125.

[9]Al-Qur`an Surat Yusuf, 50.

[10]Al-Qur`an Surat Yusuf, 42.

[11]Shahih, Hadits riwayat: Al-Bukhariy (6661), dan Muslim (2848).

[12]Shahih, Hadits riwayat: Al-Bukhariy (6573), dan Muslim (183), dan ditempatnya tidak ada penguat.

[13] Disalin oleh Al-Bukhariy (279), dan Muslim (2806).

[14] Disalin oleh Al-Bukhariy (7383), dan Muslim (2717).

[15]Shahih, telah disebutkan.

[16] ‘Aaridhatul Ahwadzi (7/23).

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama