Kisah Sepasang Kakek Nenek yang Mengharukan

Fikroh.com - Diceritakan dari sudut kota di Malaysia, Seorang dokter bercerita, di klinik saya ini, Ada sepasang kakek nenek. Umur lebih kurang 70 tahun.

Setiap bulan mereka datang untuk mengambil persediaan obat mereka. Keduanya mengidap kencing manis dan darah tinggi.

Si isteri perawakannya kecil saja orangnya. Kurus. Tapi kalau bercakap, Suaranya kuat menggelegar macam halilintar. Bawel bukan main. Kalau jumpa saya, Dia ngoceh tak henti. Ada saja dia cakapkan.

Si suami pendiam. Di dalam bilik konsultasi dia jarang bercakap. Dia hanya akan berdiri di samping isterinya. Tersenyum bila isterinya melawak. Mengiyakan bila isterinya bercerita.

Bila sudah agak lama isterinya bercerita segala macam. Nanti si suami akan sentuh bahu sang isteri dan mengajaknya pulang. Dengan nada bergurau dia akan bilang "Oke. Nanti bulan depan kita sambung cerita lagi."

Kemudian sebelum pulang, Si isteri selalunya membalas begini "Dok, Tolong suruh dia ni makan obat. Pemalas makan obat dia ni. Kalau saya tak teriak di telinga, Mesti dia tak makan. Dah tua bangka beginipun kena paksa makan obat, Macam anak kecil."

"Oke... Oke... Oke... Saya janji akan makan obat itu" ujar si suami.

Terhibur tengok gelagat mereka berdua. Masih mesra bergurau walaupun sudah berpuluh tahun berumahtangga.

Cara mereka bergurau tu seolah-olah macam baru tadi malam mereka jatuh cinta.

Kalau mereka datang ke klinik, Saya mesti jadi gembira.

Mereka berdua selalu bersama tak pernah terlepas datang ambil obat. Bacaan tekanan darah dan level gula darah mereka pun selalu stabil. Bagus betul.

Lama mereka setiap bulan selalu berkunjung ke klinik.

Lalu suatu hari si suami datang.

Dia masuk dalam bilik konsultasi seorang diri.

Saya melongok keluar dari celah pintu.

Tak nampak isterinya.

Jadi, saya tanyalah dia adakah dia datang seorang saja "Mana istri bapak?".

Mendadak berkaca-kaca mata dia melihat saya. Jakunnya naik turun. Sulit dia bicara.

Hati saya terus jadi tak sedap.

Tersekat-sekat tuturnya. Sang isteri telah tiada.

Seketika. Bilik konsultasi terasa sangat sunyi. Perasaan yang amat janggal melingkupi seisi ruangan.

Biasanya bapak ini membawa hingar hingar dari suara si isteri.

Biasanya ia ceria dengan celoteh belahan jiwanya.

Tapi hari ini semua itu tiada.

Hati saya jadi sebak.

(Diterjemahkan dari bahasa Malaysia, sumber asli tidak disebutkan)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama