Imam An-Nawawi Menasehati Penguasa Secara Terbuka

Fikroh.com - Perdebatan soal boleh dan tidaknya menasehati pemimpin secara terbuka terus bergulir dikalangan kaum muslimin. Antara yang pro dan kontra masing-masing berargumen dengan nash-nash yang dianggap valid.

Namun terlepas dari perdebatan soal 'hukum' dalam masalah ini, satu fakta yang tidak bisa dipungkiri dan harus diakui adalah sistem demokrasi yang menjadi sistem perpolitikan Indonesia saat ini. Dalam sistem demokrasi menyampaikan aspirasi, pendapat dan kritikan secara terbuka adalah legal dan dilindungi.

Maka menyampaikan nasehat dan kritik secara terbuka kepada pemimpin sejatinya bukan sebuah pelanggaran dalam kacamata demokrasi. Lebih, lanjut cara seperti itu justru dinilai lebih efektif dan cepat membuahkan hasil untuk menentukan sebuah kebijakan pemerintah.

Sekiranya perkataan Imam An-Nawawi berikut ini adalah yang paling proporsional dan solutif dalam masalah ini. Imam An-Nawawi menuturkan sebuah komentar atas hadits tentang sikap antara rakyat dan pimpinan dalam menasehati.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِذِي سُلْطَانٍ فَلاَ يُبْدِهِ عَلاَنِيَةً، وَلَكِنْ يَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُوْبِهِ، فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَ إِلاَّ كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ. 

"Siapa saja yang ingin menasihati penguasa, janganlah ia menampakkan dengan terang-terangan. Hendaklah ia pegang tangannya lalu menyendiri dengannya. Jika penguasa itu mau mendengar nasihat itu, maka itu yang terbaik dan bila si penguasa itu enggan (tidak mau menerima), maka sungguh ia telah melaksanakan kewajiban amanah yang dibebankan kepadanya. (HR. Ibnu Abi ‘Ashim)

Komentar dan Penjelasan Imam Nawawi;

وَفِيهِ الْأَدَبُ مَعَ الْأُمَرَاءِ ، وَاللُّطْفُ بِهِمْ ، وَوَعْظُهُمْ سِرًّا ، وَتَبْلِيغُهُمْ مَا يَقُولُ النَّاسُ فِيهِمْ لِيَنْكَفُّوا عَنْهُ ، وَهَذَا كله اذا أمكن ذَلِكَ ، فَإِنْ لَمْ يُمْكِنِ الْوَعْظُ سِرًّا وَالْإِنْكَارُ ، فَلْيَفْعَلْهُ عَلَانِيَةً لِئَلَّا يَضِيعَ أَصْلُ الْحَقِّ.[النووي، شرح النووي على مسلم، ١١٨/١٨]

"(Dalam hadits ini) terkandung adab terhadap para pemimpin. Bersikap lembut kepada mereka, menasehati secara diam-diam serta menyampaikan apa yang orang-orang katakan tentang mereka, agar supaya mereka berhenti darinya. Hal  demikian jika kondisi memungkinkan. Jika tidak memungkinkan untuk menasehati dan mengingkari secara diam-diam, maka hendaknya dilakukan secara terang-terangan agar supaya kebenaran itu tidak hilang". (An-Nawawi, Syarah Shahih Muslim, 18/118).

Beberapa generasi salaf pernah mengkritik penguasa secara terbuka. Seperti yang pernah dilakukan Ibnu 'Umar kepada Al-Hajjaj

Termaktub di dalam siyar ‘alam nubala juz 3 halaman 230 :

قام ابن عمر إلى الحجاج وهو يخطب فقال: يا عدو الله! استحل حرم الله، وخرب بيت الله، فقال: يا شيخاً قد خرف فلما صدر الناس أمر الحجاج بعض مسودته فأخذ حربة مسمومة وضرب بها رجل ابن عمر فمرض ومات منها ودخل عليه الحجاج عائداً فسلم فلم يرد عليه وكلمه فلم يجبه

Artinya: Ibnu Umar mendatangi al-Hajjaj ketika dia sedang berpidato: “Wahai musuh Allah! Engkau menghalalkan apa yang diharamkan Allah, engkau menghancurkan rumah Allah.” Lalu Al-Hajjaj mengatakan: “Hai orang tua pikun!” Saat manusia mulai pergi maka ia memanggil seorang prajuritnya. Dia mengambil tombak beracun dan menusuk kaki ibn ‘Umar. Akibatnya, ia jatuh sakit dan meninggal dari itu. Ketika AlHajjaj menengoknya dan mengucapkan salam, maka beliau tidak membalasnya dan ketika AlHajjaj mengajaknya berbicara maka beliau tidak menjawabnya.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama