Apa Prestasi Islam?

Fikroh.com - Ada yang bertanya, saat ini, apa yang bisa dibanggakan dari Islam? Umat Islam kalah dimana-mana, di berbagai bidang kehidupan. Benar, dulu Islam jaya. Islam pernah memimpin dunia. Islam pernah unggul dalam segala bidang kehidupan: politik, ekonomi, militer dan ilmu pengetahuan. Tetapi, sekarang, apa yang bisa dibanggakan lagi dari Islam?  Semua bidang yang dulu dicapai oleh Islam, kini telah dilampaui oleh Barat. Barat kini memegang kendali politik, ekonomi, militer, sains dan teknologi? Mana prestasi Islam lagi?

 Pertanyaan semacam itu wajar terungkap. Bukan hanya dari kalangan non-Muslim, tetapi juga muncul dari kalangan Muslim sendiri. Sebagian pernyataan itu tidaklah keliru. Barat memang telah melampui prestasi Islam di masa lalu, dalam berbagai bidang kehidupan. Tetapi, ada prestasi Islam yang belum pernah dapat dilampaui oleh Barat, yaitu prestasi Islam di bidang pembangunan manusia. 

Sejarah Islam pernah melahirkan manusia-manusia yang luar biasa kualitasnya, yang belum pernah dilahirkan oleh peradaban lain. Islam pernah melahirkan manusia seperti Abu Bakar ash-Shiddiq. Sehari setelah dilantik menjadi kepala negara, beliau tetap membawa dagangannya ke pasar, karena enggan menggantungkan hidupnya dari gaji pemerintah. Dengan kekuasaan yang digenggamnya, Abu Bakar r.a. tetaplah seorang ahli ibadah yang luar biasa. Beliau acapkali menangis tersedu-sedu tatkala menjadi imam dan membaca ayat-ayat al-Quran tertentu yang berkaitan dengan tanggung jawab manusia di Hari Kiamat nanti. 

Sejarah Islam pernah melahirkan manusia seperti Umar bin Khathab, yang begitu perkasa dan kekuasaannya meliputi seluruh jazirah Arab, Afrika, dan Asia Tengah. Tapi, penguasa yang hebat seperti Umar r.a., suatu ketika bisa dihentikan pidatonya oleh seorang rakyatnya, hanya gara-gara soal baju yang dipakainya. Umar dicurigai telah mengambil jatah lebih dalam pembagian kain, sehingga pidatonya dihentikan. Setelah dijelaskan bahwa ia mendapat tambahan dari jatah anaknya, Abdullah bin Umar, barulah sang kepala negara diijinkan melanjutkan pidatonya. 

Adalah Umar bin Khatab, kepala negara, yang suatu ketika memanggul gandum sendiri untuk diberikan kepada seorang rakyatnya. Umar r.a. juga yang menyatakan, jika ada kambing tergelincir di Irak karena jalanan yang rusak, maka itu menjadi tanggung jawabnya. Umar r.a. juga yang menolak untuk mengangkat anaknya sebagai penggantinya, dengan menyatakan, ”Cukuplah, dari keluarga Khatab, aku saja yang akan bertanggung jawab di hari akhirat nanti.” 

Dunia mencatat, bagaimana kisah-kisah teladan yang ditunjukkan oleh Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Ibn Abbas, Abn Mas’ud, Abu Hurairah, Ammar bin Yasir, dan para sahabat Nabi lainnya. Merekalah generasi terbaik yang pernah lahir di muka bumi ini. Mereka adalah para pejuang dan sekaligus ilmuwan-ilmuwan yang tangguh. 

Setelah era sahabat, Islam juga berhasil memunculkan ulama-ulama yang sangat tangguh dan sulit dicari bandingannya. Islam pernah melahirkan ulama seperti Imam Abu Hanifah, yang lebih memilih dicambuk setiap hari, ketimbang menerima jabatan sebagai qadhi negara. Islam juga pernah melahirkan sosok Imam Syafii yang sangat tinggi ilmu, akhlak, dan ibadahnya. 

Imam Syafii sendiri menceritakan, bahwa beliau sudah menghafal al-Quran saat berumur 7 tahun, dan hafal Kitab al-Muwattha’ karya Imam Malik pada umur 10 tahun. Ketinggian Imam Syafii dalam ilmu agama sangat masyhur dan mendapatkan pengakuan yang luas. Pada umur 18 tahun, beliau sudah diminta oleh para ulama agar memberikan fatwa. Itu berarti pengakuan atas statusnya sebagai seorang mujtahid. Imam Ahmad bin Hanbal menyatakan, bahwa Imam Syafii adalah seorang yang sangat memahami al-Quran dan Sunnah Rasulullah saw. Beliau tidak pernah merasa puas dalam mencari dan mengumpulkan hadits. Kata Imam Ahmad : ‘’Tidak seorang pun yang memegang pena dan tinta kecuali dia berfigur kepada Imam Syafii.’’

Bukan hanya itu, Imam Syafii juga memiliki akhlak yang sangat mulia dan seorang ahli ibadah yang tekun. Di bulan Ramadhan, beliau sanggup mengkhatamkan al-Quran sebanyak 60 kali dalam shalat. Sang Imam pun dikenal ahli ibadah dan sangat sedikit tidurnya. Selama kurun waktu 16 tahun, misalnya, beliau hanya pernah makan sampai kenyang, satu kali saja, dan kemudian disesalinya, karena berdampak negatif terhadap daya pikir dan ibadah. Kedermawanan Imam Syafii juga luar biasa. Pernah beliau sampai bangkrut tiga kali, menjual harta sampai perhiasan istrinya, hanya untuk menolong orang yang membutuhkan. Jangan ditanya, bagaimana kegigihan Imam Syafii dalam belajar dan mengajarkan ilmunya. 

Itulah riwayat hidup Imam Syafii yang hingga kini, pemikiran-pemikirannya bagitu banyak diikuti oleh kaum Muslimin sepanjang zaman. Imam Syafii meninggal pada malam Jumat di hari terakhir bulan Rajab, 204 Hijriah. Ada yang menceritakan, bahwa Imam Syafii menderita sakit untuk waktu yang lama, namun beliau tidak pernah berhenti untuk mengajarkan ilmunya. 

Kita bisa membandingkan dan meneliti, adakah peradaban lain yang pernah melahirkan manusia-manusia seperti para sahabat dan ulama-ulama Islam di masa lalu? Islam melahirkan pemimpin-pemimpin politik yang menggenggam kekuasaan dunia tetapi begitu zuhud kehidupan pribadinya. Islam melahirkan ulama-ulama dan ilmuwan-ilmuwan yang bukan hanya sangat pintar, tetapi juga sangat tinggi akhlaknya. 

Prestasi itulah – melahirkan manusai-manusia mulia, yang beriman, bertaqwa, dan berkhlak mulia -- yang hingga kini tidak berhasil dilampaui oleh peradaban Barat, juga peradaban lainnya. 

Maka, jika Islam ingin kembali meraih kejayaan dan kemuliaan, lahirkanlah manusia-manusia yang mulia! Inilah tugas pendidikan. Khususnya, Pendidikan Tinggi! Wallahu a’lam. (*)

Oleh: Dr. Adian Husain, i(Direktur At-Taqwa College Depok)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama