Waktu Shalat Subuh dan Batas Akhirnya

Fikroh.com - Asal kata fajar artinya adalah syafaq. Maksudnya adalah cahaya di subuh hari. Cahaya Fajar di akhir malam sama dengan syafaq di awal malam. Shalat subuh biasa disebut juga shalat fajar.

Fajar ada dua macam:

Pertama: fajar kadzib (fajar bohong) yaitu cahaya putih melingkar yang terlihat dari bagian langit. Orang Arab dahulu biasa menyebutnya dengan ekor srigala. Kemudian sinar itu menghilang dan langit kembali menjadi gelap. [3]

Kedua: fajar shadiq (fajar benar). Yaitu sinar yang melingkar yang muncul dari ufuk. Dan sinarnya terus bertambah sampai matahari terbit. Dalam hadist disebutkan:

لَا يَمْنَعَنَّكُمْ مِنْ سَحُورِكُمْ أَذَانُ بِلَالٍ وَلاَ الْفَجْرُ الْمُسْتَطِيْلُ وَلكِنْ الفَجْرُ الْمُسْتَطِيْرُ فِى الأُفُقِ

“Janganlah adzan bilal dan fajar yang menjulang menghalangi sahur kalian, tetapi hentikan makan sahur ketika cahaya fajar yang melintang di ufuk”.[4]

Jenis fajar kedua ini yang berhubungan dengan semua hukum syariah bukan jenis fajar yang pertama. Dinamakan shalat fajar karena shalat tersebut dilaksanakan pada waktu ini. Juga dinamakan shalat subuh dan shalat al-ghadah.

Awal Waktu Shalat Subuh

Para ulama telah sepakat bahwa permulaan waktu shalat subuh adalah saat terbitnya fajar shadiq.

Akhir waktu shalat fajar, akhir waktu shalat subuh adalah ketika matahari terbit.

Dianjurkan menyegerakan shalat subuh (ketika ghalas):

Jumhur ulama diantaranya Malik, Syafi’i, Ahmad, Ishaq dan Abu Tsur[5] berpendapat bahwa mengerjakan shalat subuh saat ghalas (terang waktu subuh masih bercampur dengan gelapnya malam) lebih baik daripada saat subuh sudah terang. Pendapat ini diriwatkan dari empat Khulafa’ ar-Rasyidin dan Ibnu Mas’ud radhiallahu 'anhum. Dalil-dalil yang mereka gunakan adalah:

Hadist-hadist yang menerangkan bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam shalat saat waktu taghlis di antaranya adalah:

Hadits aisyah radhiallahu 'anha, ia berkata:

كُنَّ نِسَاءُ الْمُوْمنَاتِ يَشْهَدْنَ مَعَ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم صَلاَةَ الْفَجْرِ مُتَلَفِّعَاتٍ بِمُرُوطِهِنَّ، ثُمَّ يَنْقَلِبْنَ إِلَى بُيُوتِهِنَّ حِينَ يَقْضِينَ الصَّلاَةَ لاَ يَعْرِفُهُنَّ أَحَدٌ مِنَ الْغَلَسِ

“Wanita-wanita mu’minat mengikuti shalat fajar bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam tertutup dengan selendangnya. Kemudian mereka pulang ke rumah mereka ketika selesai melaksanakan shalat dan tidak ada orang yang (dapat) melihat mereka karena gelapnya”.[1]

Hadits riwayat abu barzah al-aslami radhiallahu 'anhu:

أًنَّ رسولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ يُصَلِّي الصُّبْحَ ، ثُمَّ يَنْصَرِفُ وَمَا يَعْرِفُ الرَّجُلُ مِنَّا جَلِيْسَهُ

“Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam shalat subuh dan selesai. Sedangkan seorang di antara kita tidak mengetahui siapa yang duduk di sampingnya”[2].

Hadits riwayat anas dari zaid bin tsabit radhiallahu 'anhuma, berkata:

تَسَحَّرْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قُمْنَا إِلَى الصَّلَاةِ قُلْتُ كَمْ كَانَ بَيْنَهُمَا قَالَ قَدْرُ مَا يَقْرَأُ الرَّجُلُ خَمْسِينَ آيَةً

“Kami sahur bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam lalu kamimelaksanakan shalat. Lalu aku berkata: berapa ukuran di antara keduanya? Beliau berdabda: seukuran seseorang membaca lima puluh ayat”.[3]

Hadits riwayat abu mas’ud al-anshari radhiallahu 'anhu:

أن رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- صَلَّى الصُّبْحَ مَرَّةً بِغَلَسٍ ثُمَّ صَلَّى مَرَّةً أُخْرَى فَأَسْفَرَ بِهَا ثُمَّ كَانَتْ صَلاَتُهُ بَعْدَ ذَلِكَ التَّغْلِيسَ حَتَّى مَاتَ وَلَمْ يَعُدْ إِلَى أَنْ يُسْفِرَ

“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam shalat subuh sekali pada saat gelap dan shalat subuh sekali saat ufuk menguning. Kemudian setelah itu shalat beliau selalu di waktu gelap hingga beliau wafat dan tidak lagi shalat saat ufuk terang.[4]

Menyegerakan shalat subuh masuk dalam keumuman hadist-hadist yang menerangkan disunnahkan melaksanakan semua shalat fardhu di awal waktu. Akan kami sebutkan beberapa hadistnya setelah ini.

Menyegerakan shalat adalah sesuatu yang selalu dikerjakan Khulafa’ ar-rasyidinradhiallahu 'anhum.[1]

Sebagian Ulama seperti Syafi’i dan Ahmad mereka mengatakan makna memerahnya ufuk adalah terbit dan munculnya fajar dengan jelas. Ketika makan memerahnya ufuk memiliki dua makna maka hadist-hadist Shahih dari Rasul Shallallahu 'alaihi wasallam yang tidak memilki kemungkinan kecuali satu makna lebih diutamakan.

Abu Tsauri, Abu Hanifah dan pengikutnya berpendapat bahwa melaksanakan shalat subuh saat ufuk terang adalah lebih utama. [2] Mereka berdalil dengan:

Hadits Rafi’ Bin Khudaij radhiallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallambersabda:

أَسْفِرُوا بِالْفَجْرِ فَإِنَّهُ أَعْظَمُ لِلْأَجْرِ

"Akhirkanlah shalat Fajar hingga subuh menebarkan cahayanya, karena pahalanya lebih besar ." [3]

Ibnu Hibban berkata tentang hadist ini: Maksud Nabi Shallallahu 'alaihi wasallamdengan kata “asfiruu” adalah hanya saat malam-malam yang berbulan terang yang tidak jelas terbitnya matahari. Agar orang-orang tidak mengerjakan shalat kecuali jika yakin telah mengetahui terangnya langit karena terbitnya fajar. Jadi, shalat subuh yang dikerjakan pada waktu yang kami sebutkan tadi lebih besar pahalanya daripada mengerjakan shalat yang tidak yakin apakah fajar sudah terbit”.[4]

Dari abdullah bin mas’ud radhiallahu 'anhu :

وَصَلَى الْفَجْرِ يَوْمَئِذٍ قَبْلَ مِيقَاتِهَا

“Nabi shalat pada waktu itu sebelum waktunya (yaitu pada waktu ghalas)”.

Mereka mengatakan bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam shalat fajar saat langit masih gelap sebelum waktu yang biasa diketahui Ibnu Mas’ud radhiallahu 'anhu. Maka waktu untuk shalat shubuh adalah ketika fajar terang.

Penulis berkata: Ini tidak jelas dalilnya. Shalat fajar Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam saat gelap sebelum waktu yang ditentukan, tidak menafikan bahwa waktu yang ditentukan itu adalah saat gelap juga tetapi sedikit lebih lambat daripada ini. Atau bisa juga makna hadist tersebut adalah seperti zahir lafadznya.

Ath-Thahaawi yang bermazhab Hanafi menggabungkan dalil-dalil antara gelap dan terang dengan cara melaksanakan shalat subuh saat gelap dan memanjangkan bacaan hingga selesai saat fajar terang.[5]

Penulis berkata: Ini adalah usaha yang baik. Akan tetapi pendapat jumhur ulama lebih kuat yaitu lebih mengutamakan untuk menyegerakan shalat subuh saat masih gelap. Karena perbedaan pendapat di sini adalah waktu masuknya shalat bukan waktu habisnya shalat. Wallahu A’lam.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama