Notification

×

Iklan

Iklan

Benarkah Indonesia Memiliki Hutang Sejarah kepada Palestina? Ini Faktanya

Selasa | Maret 10, 2026 WIB | 0 Views
Benarkah Indonesia Memiliki Hutang Sejarah kepada Palestina? Ini Faktanya

Fikroh.com - Dunia Islam hari ini bagaikan sebuah raga yang kehilangan detak jantungnya. Sejak runtuhnya Khilafah Utsmaniyyah pada 3 Maret 1924, umat Muslim di seluruh dunia kehilangan "induk" yang menaungi dan melindungi mereka. Fragmentasi politik menjadi negara-negara kecil membuat negeri-negeri Muslim menjadi hidangan lezat bagi imperium Barat dan Zionisme. Di tengah kerapuhan global ini, bumi Palestina terus merana; Masjid Al-Aqsha dinista, dan darah para syuhada membasahi tanah suci itu setiap kali Ramadhan tiba.

Bagi bangsa Indonesia, penderitaan Palestina bukanlah sekadar isu kemanusiaan global atau berita di layar televisi. Lebih dalam dari itu, terdapat ikatan batin, ideologi, dan sejarah yang sangat kuat. Ada sebuah narasi besar yang sering terlupakan dalam buku-buku teks sejarah konvensional: bahwa Indonesia memiliki "hutang sejarah" yang mendalam kepada Palestina, sebuah hutang budi yang telah terpintal sejak abad ke-15 hingga fajar kemerdekaan 1945.

Jejak Wali dari Baitul Maqdis


Hubungan mesra antara Nusantara dan Palestina dimulai jauh sebelum terminologi "Indonesia" lahir. Jejak ini tertanam kuat dalam sejarah dakwah Walisongo. Pada abad ke-15, seorang ulama dari Baitul Maqdis (Palestina) bernama Maulana Utsman Haji, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Sunan Ngudung, mengarungi samudra menuju Jawa. Beliau bukan sekadar musafir, melainkan putra seorang Sultan di Palestina, Sayyid Fadhal Ali Murtazha.

Kedatangan Sunan Ngudung membawa pengaruh militer dan dakwah yang signifikan. Di Kesultanan Demak, beliau diangkat menjadi Panglima Perang dan Imam Masjid Agung Demak. Keahlian taktisnya bahkan diakui oleh Kerajaan Majapahit, di mana atas rekomendasi Sunan Ampel, beliau dipercaya menjadi pelatih militer tentara Majapahit.

Salah satu bukti nyata pengaruhnya adalah keberadaan komunitas Muslim pertama di Bali. Sejarah Dalem Waturenggong mencatat adanya 60 prajurit terbaik Majapahit yang dikirim ke Kerajaan Gel Gel (Karangasem, Bali) sebagai hadiah. Mereka disebut sebagai "Nyamaselam" (saudara Islam), dan mereka semua adalah hasil didikan militer Maulana Utsman Haji yang berasal dari Palestina. Fakta ini menegaskan bahwa denyut nadi Islam di Bali pun memiliki keterkaitan sejarah dengan tanah Palestina.

Sunan Kudus: Sang Arsitek Kerinduan akan Al-Quds


Hutang sejarah ini semakin mengakar melalui putra Sunan Ngudung, yakni Sayyid Ja’far Shadiq Azmatkhan atau Sunan Kudus. Beliau adalah sosok jenius yang memadukan kedalaman ilmu fikih, ketatanegaraan, dan strategi militer. Sebagai Syaikhul Islam dan Qadhi (Hakim Agung) Kesultanan Demak, Sunan Kudus bersama Sunan Giri menyusun kitab undang-undang "Angger-Angger Suryangalam" yang menjadi fondasi hukum pidana dan perdata di Jawa kala itu.

Namun, warisan paling puitis dari Sunan Kudus adalah kota yang ia bangun. Karena besarnya rasa rindu terhadap tanah kelahirannya di Palestina, beliau menamai tempat dakwahnya dengan nama Al-Quds, yang kemudian dalam lidah masyarakat Jawa bergeser menjadi Kudus. Inilah satu-satunya kota di tanah Jawa yang namanya berasal dari bahasa Arab, sebuah replika kerinduan akan kota suci Yerusalem.

Monumen persaudaraan ini tidak berhenti pada nama kota. Masjid yang dibangunnya pun diberi nama Masjid Al-Aqsha Manarat Qudus. Konon, peletakan batu pertamanya menggunakan batu yang dibawa langsung dari Baitul Maqdis. Bahkan, topografi spiritual di sekitar Kudus pun meniru Palestina; keberadaan Gunung Muria di sebelah utara kota seolah menjadi miniatur Bukit Moriah di Palestina. Jika di Bukit Moriah terdapat Masjid Umar, maka di Gunung Muria terdapat makam dan warisan dakwah Sunan Muria (Umar Said). Kudus, dengan demikian, adalah sebuah monumen hidup yang membuktikan bahwa hubungan Indonesia-Palestina adalah hubungan "rahim" spiritual.

Diplomasi Revolusi: Dukungan di Kala Genting


Lompat ke abad ke-20, saat Indonesia berada di ambang pintu kemerdekaan, Palestina kembali hadir sebagai saudara tua yang memberikan perlindungan. Ketika Jepang menjanjikan kemerdekaan bagi Indonesia pada tahun 1944, dukungan internasional pertama justru datang dari Palestina melalui Mufti Besar Syaikh Muhammad Amin Al-Husaini.

Di tengah situasi beliau yang sedang bersembunyi di Jerman untuk menghindari kejaran imperialis Inggris, Syaikh Amin Al-Husaini menggunakan Radio Berlin berbahasa Arab untuk mengumumkan dukungannya atas kemerdekaan Indonesia selama dua hari berturut-turut. Dukungan ini bukan sekadar retorika; beliau mendesak negara-negara Timur Tengah lainnya untuk mengikuti jejaknya. Seruan inilah yang kemudian memicu Mesir menjadi negara pertama yang mengakui kedaulatan RI secara de jure pada Maret 1946.

Selain Sang Mufti, sejarah juga mencatat jasa Muhammad Taher Ali, seorang saudagar kaya dan jurnalis asal Palestina yang memberikan dukungan finansial dan pemberitaan bagi perjuangan revolusi Indonesia. Tanpa pengakuan dari tokoh-tokoh Palestina ini, jalan Indonesia menuju pengakuan kedaulatan internasional akan jauh lebih terjal dan sunyi.

Kewajiban Membayar Hutang Sejarah


Melihat rentetan fakta sejarah di atas, sangat ironis jika hari ini bangsa Indonesia bersikap dingin atau sekadar "kasihan" terhadap penderitaan Palestina. Dukungan kita kepada Palestina bukanlah sekadar bantuan kemanusiaan biasa, melainkan upaya membayar hutang budi yang belum lunas.

Akar masalah Palestina adalah penjajahan zionisme, bukan sekadar masalah kemiskinan atau kesehatan. Selama entitas penjajah itu masih merampas bumi Al-Aqsha, maka selama itu pula kewajiban moral bangsa Indonesia tetap ada. Masjid Al-Aqsha adalah milik seluruh umat Islam, tempat Rasulullah ﷺ bertolak menuju Sidratul Muntaha dalam peristiwa Mi'raj. Status kesuciannya mutlak dan melintasi batas-batas geopolitik modern.

Hadirnya Masjid Al-Aqsha di Kudus dan jejak para keturunan Palestina dalam dakwah Walisongo seharusnya menjadi pengingat bagi setiap Muslim di Nusantara bahwa ada darah Palestina yang mengalir dalam sejarah kebudayaan kita. Kita adalah saudara seiman yang dipersatukan oleh kalimat Tauhid, yang telah menghapus sekat ras, suku, dan warna kulit.

Penutup: Menuju Pembebasan yang Hakiki
Hutang sejarah ini harus terus digaungkan kepada anak cucu kita. Kita tidak boleh membiarkan Palestina berjuang sendirian bagaikan anak ayam yang kehilangan induknya. Sejarah telah membuktikan bahwa kekuatan besar hanya bisa dilawan dengan kekuatan yang sepadan. Penjajahan sistematis harus dilawan dengan persatuan yang sistematis pula.

Dukungan politik, bantuan materi, dan doa-doa di setiap sujud adalah langkah awal. Namun, lebih jauh dari itu, dunia Islam memerlukan kepemimpinan sejati yang mampu bertindak sebagai Junnah (pelindung) bagi kaum Muslimin, sebagaimana peran Khilafah di masa lalu yang menjaga kehormatan setiap jengkal tanah Islam.

Hingga hari di mana azan kemenangan berkumandang dengan bebas dari menara Al-Aqsha di Palestina, maka selama itulah janji setia dan hutang budi bangsa Indonesia akan terus tertagih. Persaudaraan yang dibangun oleh Sunan Kudus dengan batu dari Baitul Maqdis harus kita jaga dengan komitmen yang tak tergoyahkan. Palestina adalah kita, dan kita adalah Palestina.
Wallahu a’lam bi al-shawab.
×
Berita Terbaru Update