Tradisi Jahiliyah yang Terpuji dan Tercela

Fikroh.com - Pembahasan ini juga merupakan muqaddimah penting yang harus dikaji sebelum memasuki pembahasan-pembahasan sirah dan pelajaran-pelajaran yang terkandung di dalamnya. Sebab, masalah ini mengandung suatu hakikat yang sering dipalsukan oleh musuh-musuh Islam.

Secara singkat hakikat tersebut ialah, bahwa Islam hanyalah merupakan kelanjutan dari hanifiyah yang dibawa oleh Abul anbiya' (bapak para Nabi), Ibrahim as. Hakikat ini secara tegas telah dinyatakan oleh kitab Allah di banyak tempat, antara lain:

"Dan berjihadlah pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama (millah) orangtuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang Muslim dari dahulu...." (Q.S. al-Hajj :78)

Katakanlah, "Benar (apa yang difirmankan) Allah." Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus (hanif), dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik. (QS. Ali lmran :05)

Bangsa Arab adalah anak-anak Ismail as. Karena itu, mereka mewarisi millah dan minhaj yang pernah dibawa oleh bapak mereka. Millah dan minhaj yang menyerukan tauhidllah, beribadah kepada-Nya, mematuhi hukumhukum-Nya, mengagungkan tempat-tempat suci-Nya, khususnya Baitul-Haram, menghormati syi'ar-syi'ar-Nya dan mempertahankannya.

Setelah beberapa kurun waktu, mereka mulai mencampur-adukkan kebenaran yang diwarisinya itu dengan kebatilan yang menyusup kepada mereka. Seperti semua umat dan bangsa, apabila telah dikuasai kebodohan dan dimasuki tukang-tukang sihir dan ahli kebatilan, maka masuklah kemusyrikan kepada mereka. Mereka kembali menyembah berhala-berhala.

Tradisi-tradisi buruk dan kebejatan moral pun tersebar luas. Akhirnya, mereka jauh dari cahaya tauhid dan ajaran hanifiyah. Selama beberapa abad mereka hidup dalam kehidupan jahiliyah sampai akhirnya datang bi 'tsah Muhammad saw.

Orang yang pertama kali memasukkan kemusyrikan kepada mereka dan mengajak mereka menyembah berhala adalah Amr bin Luhayyi bin Qam'ah, nenek moyang Bani Khuza'ah.

Ibnu Ishaq meiiwayatkan dari Muhammad bin Ibrahim bin al-Harits at-Tamimy: Shalih as-Saman menceritakan kepadanya, bahwa ia pernah mendengar Abu Hurairah berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda kepada Aktsam bin Jun al-Khuza'i, "Wahai Aktsam, aku pernah melihat Amr bin Luhayyi bin Qam'ah bin Khandaf ditarik usus-ususnya ke dalam neraka. Aku tidak melihat seorang pun mirip (wajahnya) dengannya kecuali kamu." Lalu Aktsam berkata, "Apakah kemiripan rupa tersebut akan membahayakan aku, ya Rasulullah?" Rasulullah menjawab, "Tidak, sebab kamu Mu'min, sedangkan dia kafir. Sesungguhnya dia adalah orang yang pertama kali mengubah agama Isma'il as. Kemudian dia membuat patung-patung, memotong telinga binatang untuk dipersembahkan kepada taghut-taghut, menyembelih binatang untuk tuhan-tuhan mereka, membiarkan unta-unta untuk sesembahan, dan memerintahkan tidak menaiki unta tertentu, karena keyakinan kepada berhala."

Ibnu Hisyam meriwayatkan bagaimana Amr bin Luhayyi ini memasukkan penyembahan berhala kepada bangsa Arab. Ia berkata: Amr bin Luhayyi keluar Makkah ke Syam untuk suatu keperluannya. Ketika sampai di Ma'ab, di daerah Balqa', pada waktu itu di tempat tersebut terdapat anak keturunan 'Amliq bin Laudz bin Sam bin Nuh, dia melihat mereka menyembah berhala-berhala, lalu Amr bin Luhayyi berkata kepada mereka, "Apakah berhala-berhala yang kamu sembah ini?" Mereka menjawab, "Ini adalah berhala-berhala yang kami sembah. Kami minta hujan kepadanya, lalu kami diberi hujan. Kami minta pertolongan kepadanya, lalu kami ditolong." Kemudian Amr bin Luhayyi berkata lagi, "Bolehkah kamu berikan satu berhala kepadaku untuk aku bawa ke negeri Arab agar mereka (juga) menyembahnya?" Maka mereka pun memberinva satu berhala yang bernama Hubal Lalu dibawanya pulang ke Makkah dan dipasanglah berhala tersebut. Kemudian ia memerintahkan orang-orang untuk menyembah dan menghormatinya.

Demikianlah, penyembahan berhala dan kemusyrikan telah tersebar di Jazirah Arabia. Mereka telah meninggalkan aqidah tauhid dan mengganti agama Ibrahim. Juga Ismail dan yang lainnya. Akhirnya, mereka mengalami kesesatan, meyakini berbagai keyakinan yang keliru, dan melakukan tindakan-tindakan yang buruk, sebagaimana umat-umat lainnya.

Mereka melakukan itu semua karena kebodohan, keummiyan dan keinginan membalas dendam terhadap kabilah-kabilah dan bangsa-bangsa yang ada di sekitarnya.

Meskipun demikian, di antara mereka masih terdapat orang-orang, walaupun sedikit, yang berpegang teguh dengan aqidah tauhid dan berjalan sesuai ajaran (hanifiyah), meyakini hari kebangkitan, mempercayai bahwa Allah akan memberi pahala kepada orang-orang yang taat dan menyiksa orang yang berbuat maksiat, membenci penyembahan berhala yang dilakukan oleh orang-orang Arab, dan mengecam kesesatan pikiran dan tindakan-tindakan buruk lainnya. Di antara sisa-sisa hanifiyah ini yang terkenal antara lain: Qais bin Sa'idah al-Ayadi, Ri’ab asySyani dan pendeta Bahira.

Selain itu, dalam tradisi-tradisi mereka juga masih terdapat ”sisa-sisa" prinsip-prinsip agama yang hanif dan syi'ar-syi'arnya, kendatipun kian lama kian berkurang. Karena itu kejahiliyahan mereka, dalam hal dan kadar tertentu, masih ter-shibghah (terwarnai) oleh pengaruh, prinsip-prinsip, dan syi'ar-syi'ar hanifiyah. Sekalipun syi’ar-syi’ar dan prinsip-prinsip tersebut hampir tidak nampak dalam kehidupan mereka, kecuali sudah dalam bentuknya yang tercemar. Seperti memuliakan Ka'bah, thawaf, haji, umrah, wuquf di Arafah dan berkurban. Semua itu merupakan syari'at dan warisan peribadatan sejak Nabi Ibrahim as. Tetapi mereka melaksanakannya tidak sesuai dengan ajaran yang sebenarnya. Banyak hal yang sudah ditambahkan, seperti talbiyah haji dan umrah. Kabilah Kinanah dan Quraisy dalam talbiyahnya mengucapkan: Aku sambut (seruan-Mu), ya Allah, aku sambut (seruanMu). Aku sambut (seruan-Mu), tiada sekutu kecuali sekutu yang memang (pantas) bagi-Mu, yang Engkau dan dia miliki.

Setelah talbiyah ini, mereka membaca“ talbiyah yang mentauhidkan-Nya, dan memasuki Ka'bah dengan membawa berhala-berhala mereka.

Sebagai kesimpulan, bahwa pertumbuhan sejarah Arab hanya berlangsung di dalam naungan hanifiyah samhah yang dibawa oleh abul anbiya Ibrahim as. Pada mulanya, kehidupan mereka disinari oleh aqidah tauhid, cahaya petunjuk dan keimanan. Kemudian sedikit demi sedikit bangsa Arab menjauhi kebenaran tersebut. Dalam kurun waktu cukup lama, akhirnya kehidupan mereka berbalik dalam kehidupan yang penuh dengan kegelapan, kemusyrikan dan kesesatan-kesesatan pemikiran. Kendatipun kebenaran rambu-rambu yang lama masih "bergeliat" dalam perjalanan sejarah mereka secara amat lamban, semakin lama bertambah lemah dan berkurang pendukungnya.

Ketika cahaya ad Din al-Hanif merebak kembali, dengan bi ’tsah penutup para Nabi (Muhammad saw.), wahyu Ilahi datang menyentuh segala kegelapan dan kesesatan yang telah berkarat selama rentang zaman tersebut. Kemudian menghapuskan dan menyinarinya dengan cahaya iman, tauhid dan prinsip-prinsip keadilan, di samping menghidupkan kembali "sisa-sisa" hanafi'yah yang ada.

Perlu ditegaskan di sini, bahwa apa yang kami tetapkan ini merupakan suatu hal yang sangat jelas bagi orang yang membaca sejarah dan mempelajari Islam. Tetapi, untuk masa sekarang ini kita terpaksa membuang banyak waktu untuk menjelaskan hal-hal yang bersifat aksiomatik dan hal-hal yang sudah jelas. Karena adanya sebagian orang yang mengalahkan keyakinan-keyakinan mereka sekadar memperturutkan hawa nafsunya.

Ya, orang-orang seperti ini hidup tanpa mempedulikan bahwa tindakan memperturutkan hawa nafsu tersebut hanya akan membelenggu akalnya dengan rantai-rantai perbudakan dan perbudakan pemikiran. Setiap orang pasti mengetahui betapa besar perbedaan antara orang yang meletakkan hawa nafsunya di belakang aqidahnya, dan orang yang meletakkan aqidahnya di belakang hawa nafsunya.

Sebagian orang mengatakan, bahwa kendatipun apa yang kami kemukakan di atas sudah jelas, maka jahiliyah sudah mulai "menyadari" jalan terbaik yang harus diikutinya, tidak lama sebelum bi'tsah Rasulullah saw. Pemikiran-pemikiran Arab sudah mulai menentang kemusyrikan, penyembahan berhala dan segala khurafat jahiliyah. Puncak kesadaran dan revolusi ini tercermin dengan bi'tsah Muhammad saw. dan dakwahnya yang baru.

Makna dari pemikiran ini, bahwa sejarah jahiliyah semakin terbuka kepada hakikat-hakikat tauhid dan sinar hidayah. Yakni semakin jauh dari zaman Ibrahim as. Mereka semakin dekat dengan prinsip-prinsip dan dakwahnya, sehingga mencapai titik puncaknya pada bi'tsah Rasulullah saw.

Setiap pengkaji dan pembahas yang obyektif pasti mengetahui bahwa masa diutusnya Rasulullah merupakan masa jahiliyah yang paling jauh dari hidayah dakwah Rasulullah saw. jika dibandingkan dengan masa-masa yang lain. Reruntuhan rambu-rambu hanifiyah pada bangsa Arab di masa bi’tsah Nabi saw. yang tercermin pada percikan-percikan kebencian kepada berhala dan keengganan untuk menyembahnya, atau keengganan menolak nilai-nilai Islam. "Sisa-sisa reruntuhan" ini, tidak mencapai sepersepuluh dari apa yang muncul dengan jelas dalam kehidupan mereka beberapa abad sebelumnya. Sesuai dengan arti nubuwwah dan bi ’tsah oleh orang-orang tersebut, semestinya bi ’tsah Nabi saw. terjadi beberapa abad sebelumnya.

Ada pula sementara orang yang mengatakan bahwa ketika Muhammad saw. tidak mampu menghapuskan sebagian besar kebiasaan, tradisi, ritual dan keyakinan yang ada pada bangsa Arab, maka dia berusaha memberikan baju agama kepada semua hal tersebut dan menampilkannya dalam bentuk taklifat Ilahiyah. Dengan ungkapan lain, Muhammad hanya menambahkan kepada sejumlah keyakinan ghaibiyah bangsa Arab, suatu riqabah 'ulya (pengawasan tertinggi) yang berujud Ilah Yang Mahakuasa atas segala yang dikehendaki-Nya. Sesudah Islam, bangsa Arab masih terus meyakini sihir, jin dan kepercayaankepercayaan serupa. Sebagaimana halnya mereka masih melakukan thawaf di Ka'bah, memuliakan dan menunaikan ritual-ritual, serta syi'ar-syi'ar tertentu yang tidak jauh berbeda dari yang dahulu mereka lakukan.

Tuduhan mereka ini sesungguhnya beranjak dari dua hipotesa. Pertama, bahwa Muhammad saw. bukanlah Nabi. Kedua, bahwa "sisa-sisa" hanifiyah dari zaman Nabi Ibrahim yang terdapat di tengah-tengah kehidupan bangsa Arab yang kita bahas tadi, hanyalah kreasi mereka belaka, dan tradisi yang mereka ciptakan sendiri. Penghormatan kepada Ka'bah dan pengagungannya bukanlah pengaruh dari abul anbiya', lbrahim as. Tetapi hanya merupakan sesuatu yang diciptakan oleh sejumlah lingkungan Arab. Dengan demikian, ia hanyalah salah satu dan' sejumlah tradisi bangsa Arab yang beraneka ragam.

Untuk mempertahankan kedua hipotesa tersebut, mereka terpaksa menolak semua bukti dan data sejarah yang akan membatalkan hipotesa mereka dan menyatakan kepalsuannya.

Tetapi sebagaimana diketahui, pencarian suatu hakikat itu tidak mungkin dapat dicapai oleh seseorang selama dia tidak mau menempuh jalan yang menuju kepadanya, kecuali dalam batas hipotesa yang dengan apriori telah dibuatnya sebelum melakukan pembahasan apa pun. Tidak perlu dijelaskan, bahwa pembahasan hanya seperti salah satu bentuk "permainan yang lucu".

Kita tidak bisa menolak samasekali pemikiran tentang adanya bukti-bukti kenabian Muhammad saw. yang berav neka ragam, seperti fenomena wahyu, mujizat al-Qur'an, dan fenomena kesucian dakwahnya dengan dakwah para Nabi terdahulu bersama sejumlah sifat dan akhlaknya, hanya karena kita harus menerima hipotesa bahwa Muhammad bukan Nabi.

Kita juga tidak bisa menolak pemikiran sejarah yang menyatakan bahwa Ibrahim telah membangun Ka'bah yang mulia atas perintah dan wahyu dari Allah swt. Kita tidak bisa menolak pemikiran sejarah yangmenyatakan bahwa para Nabi secara berantai telah berdakwah kepada tauhidull'ah, meyakini masalah-masalah gaib yang berkaitan dengan hari kemudian (kebangkitan), pembalasan, surga dan neraka yang telah disebutkan oleh nash-nash kitab samawi terdahulu, dan telah dibenarkan oleh sejarah dan semua generasi, hanya karena kita harus menerima suatu hipotesa yang menyatakan bahwa apa yang disebut "sisa-sisa zaman Ibrahim" pada masa jahiliyah itu tidak lain hanyalah tradisi-tradisi yang diciptakan oleh pemikiran bangsa Arab, dan Muhammad saw. hanya datang untuk "mengecatnya" dengan cat "agama".

Perlu diketahui, bahwa orang-orang yang mengeluarkan tuduhan semacam ini tidak memiliki bukti dan dalildalil sama sekali. Mereka hanya mengemukakan lontaranlontaran pemikiran yang tidak ilmiah sama sekali.

Jika Anda memerlukan contohnya, bacalah kitab Sistem Pemikiran Agama yang ditulis oleh seorang orientalis Inggris kesohor bernama H.A.R. Gibb. Di dalam buku ini Anda dapat mencium bau fanatisme buta terhadap orangorang tersebut. Fanatisme aneh yang saling mendorong seseorang untuk menghindari faktor-faktor kehormatannya sendiri dan berlagak pilon terhadap segudang dalil dan bukti yang nyata, hanya supaya tidak memaksanya untuk menerimanya.

Sistem pemikiran agama di dalam Islam, menurut pandangan Gibb, tidaklah berbeda dengan berbagai kepercayaan pemikiranp-pemikiran transendental yang ada dalam diri bangsa Arab. Muhammad telah merenungkannya, kemudian mengubah bagian-bagian yang diubahnya. Untuk hal-hal yang tidak dapat dihindarinya, dia telah menutupinya dengan "kain" agama Islam. Kemudian tidak lupa mendukungnya dengan suatu kerangka pemikiran dan sikap-sikap agama yang cocok. Di sinilah dia menghadapi kemusykilan besar. Karena dia ingin membangun kehidupan agama ini bukan hanya untuk bangsa Arab, tetapi untuk semua bangsa dan umat. Maka dia tegakkan kehidupan agama ini dalam sistem al-Qur'an.

Itulah inti pemikiran Gibb di dalam bukunya tersebut. Jika Anda baca dari awal hingga akhir, Anda tidak akan menemukan suatu argumen pun yang dikemukakannya. Dan jika Anda perhatikan pendapat yang dilontarkannya, Anda tidak meragukan lagi bahwa pada waktu menulis, dia telah membesi-tuakan segala potensi intelektualnya, dan sebagai gantinya dia gunakan daya khayalnya sepuaspuasnya.

Nampaknya, ketika menuliskan pengantar terjemahan Arabnya, dia telah membayangkan bagaimana para pembaca akan menyerang pemikiran-pemikirannya yang telah menghina Islam tersebth Sehingga dia berkelit dengan mengatakan: Sesungguhnya pemikiran-pemikiran yang terkandung dalam buku ini bukanlah hasil pemikiran penulis, tetapi merupakan pemikiran-pemikiran yang sebelum ini telah dikemukakan oleh para pemikir dan pakar kaum Muslim, yang terlalu banyak untuk dikemukakan di sini. Tetapi cukup saya sebutkan salah seorang di antara mereka, yaitu Syaikh Syah Waliyullah ad-Dahlawi.

Kemudian Gibb mengutipkan suatu nash dari kitab Syaikh Waliyullah ad-Dablawi, Hujjatullah aI-Balighah (1:122). Nampaknya, dia menyangka tak seorang pun dari pembaca akan memeriksa teks kitab tersebut. lalu dengan sengaja dia ubah dan palsukan. Teks yang telah diubah dan dipalsukan oleh Gibb adalah:

"Sesungguhnya Nabi Muhammad saw. diutus dalam suatu bi'tsah yang meliputi bi'tsah lainnya. Yang pertama kepada Bani Israil. Bi'tsah ini mengharuskan agar materi syari'atnya berupa syi'ar-syi'ar, cara ibadat dan segi-segi kemanfaatan yang ada pada mereka. Sebab, syari'at hanyalah merupakan perbaikan terhadap apa yang ada pada mereka, bukan pembebanan dengan sesuatu yang tidak mereka ketahui sama sekali."

Padahal teks yang terdapat di dalam Hujjatullah al-Balighah secara utuh adalah sebagai berikut:

"Ketahuilah, bahwa Nabi Muhammad diutus dengan membawa hanifiyah Isma'il untuk meluruskan kebengkokannya, membersihkan kepalsuannya dan memancarkan sinarnya. Firman Allah, "Millah orang tuamu Ibrahim." Karena itu, dasar-dasar millah tersebut harus diterima dan sunnah-sunnahnya harus ditetapkan. Sebab, Nabi saw. diutus pada suatu kaum yang masih terdapat pada mereka sisa sunnah yang terpimpin. Jadi tidak perlu mengubahnya atau menggantinya. Bahkan wajib menetapkannya, karena hal itu lebih disukai oleh mereka, dan lebih kuat bila dijadikan hujjah atas mereka. Anak-anak keturunan Isma'il mewarisi ajaran bapak mereka (Isma'il).

Mereka melaksanakan syari'at tersebut sampai datang Amr bin Luhayyi yang memasukkan pemikiran-pemikiran yang sesat dan menyesatkan. Ia (Amr bin Luhayyi) mensvari'atkan penyembahan berhala dan kepercayaan-kepercayaan sesat lainnya. Sejak itulah agama menjadi rusak. Yang benar bercampur dengan yang batil, sehingga kehidupan mereka dikuasai oleh kebodohan, kerusakan dan kemusyrikan.

Kemudian Allah mengutus Nabi Muhammad saw. untuk meluruskan kebengkokan mereka dan memperbaiki kerusakan mereka, lalu Rasulullah meninjau syari'at mereka. Apa yang sesuai dengan ajaran Isma'il atau syi'ar-syi'ar Allah, ditetapkannya. Apa yang sudah dirusak atau diubah, atau termasuk syi'ar kemusyrikan atau kebatilan, dibatalkannya, dan dicatatnya pembatalan tersebut."

Tidak syak lagi, bahwa kami tidak mengemukakan pendapat "pembahas" ini untuk'vdibahas dan didiskusikan. Adalah siaosia mendiskusikan omong kosong seperti ini. Tetapi, kami bermaksud agar para pembaca mengetahui sejauh mana fanatisme buta ini mempengaruhi seseorang.

Hal inilah yang ingin penulis ingatkan. Yaitu, sejauh manakah metodologi dan obyektivitas pembahasan ilmuwan barat yang oleh sebagian orang diagung-agungkan itu.

Dari uraian terdahulu jelaslah bagaimana kaitan antara Islam dan pemikiran jahiliyah yang berkembang di kalangan orang Arab sebelum kedatangan Islam. Dan dapat diketahui pula bagaimana kaitan antara masa jahiliyah dan millah hanifiyah yang telah dibawa oleh lbrahim as.

Dari sini dapat diketahui pula mengapa Rasulullah saw. banyak menetapkan tradisi-tradisi dan prinsip-prinsip yang sebelumnya telah berkembang di kalangan orang Arab. Tetapi pada waktu yang sama, Rasulullah saw. juga menghapuskan dan memerangi yang lainnya.

Dengan demikian, kami telah cukup menjelaskan beberapa muqaddimah yang diperlukan untuk melakukan kajian terhadap esensi Sirah Nabawiyah dan mengistinbath fiqh dan pelajaran-pelajarannya.

Pada kajian-kajian mendatang, Anda akan mendapatkan bukti dan penjelasan yang menegaskan apa yang telah kami kemukakan di atas.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama