Penting! Ini Waktu Shalat Dzuhur dan Ashar

Fikroh.com - Seluruh ulama telah sepakat bahwa shalat lima waktu masing-masing memiliki waktu khusus untuk melaksanakannya. Bahkan masuk waktu shalat merupakan syarat wajib shalat. Dasar hal tersebut adalah firman Allah Subhanahu wata'ala :

إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَّوْقُوتًا

“Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”. [An-Nisa: 103]

Dari ayat ini jelas bahwa shalat itu mempunyai waktu tertentu. Sebagaimana Jibril pernah turun, lalu mengajarkan Nabi tentang waktu-waktu shalat. 

Jibril berkata kepada Nabi “Berdirilah dan kerjakan shalat.” Lalu, beliau mengerjakan shalat zhuhur ketika matahari mulai tergelincir ke sebelah barat. 

Kemudian tiba waktu Ashar, lalu Jibril berkata, “Berdirilah dan kerjakan shalat.” Kemudian Nabi mengerjakan shalat Ashar ketika bayangan segala sesuatu itu panjangnya sama. Selanjutnya tibalah waktu Maghrib, lalu Jibril berkata, “Berdirilah dan kerjakan shalat.” 

Kemudian, beliau mengerjakan shalat Maghrib ketika matahari telah terbenam, kemudian datang waktu Isya' lalu Jibril berkata, “Berdirilah dan kerjakan shalat.” Kemudian Nabi mengerjakan shalat Isya.

Ketika sinar merah matahari saat terbenam telah lenyap, kemudian datang waktu Subuh ketika fajar telah terbit, kemudian datang waktu Zhuhur pada hari berikutnya, lalu Jibril berkata, “Berdirilah dan kerjakan shalat”, lalu Nabi mengerjakan shalat Zhuhur ketika bayangan segala sesuatu itu panjangnya sama. 

Kemudian tibalah waktu Ashar lalu dia berkata, “Berdirilah dan kerjakan shalat”, lalu beliau mengerjakan shalat Ashar ketika bayangan segala sesuatu itu panjangnya dua kali lipat, kemudian datang waktu Maghrib, satu waktu masih tetap sama dengan sebelumnya, kemudian datang waktu Isya‘ ketika seperdua malam telah lewat, atau sepertiga malam, lalu beliau mengerjakan shalat Isya', kemudian dia mendatanginya ketika fajar sangat kuning, lalu berkata, “Berdirilah dan kerjakan shalat”, lalu beliau mengerjakan shalat Subuh, kemudian beliau bersabda, “Antara dua inilah waktunya.” (HR. An-Nasa'i: 1/263, dan Imam Ahmad: 3/113)

Penjelasan waktu-waktu shalat fardhu tersebut sebagai berikut:

1. Shalat Dzuhur

Dzuhur adalah waktu zawal. Yang dimaksud dengan zawal adalah condongnya matahari ke arah barat.[3] Shalat dzuhur adalah shalat yang diwajibkan saat masuknya waktu dzuhur. Oleh karena itu dinamakan shalat dzuhur. Juga dinamakan shalat Al-Ula yang artinya pertama. Karena shalat ini yang pertama dilakukan oleh Jibril dan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam. Juga dinamakan dengan Shalat Al-Hajirah.

Diriwayatkan dari Abi Barzah Al-Aslami ia berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي يُصَلِّي الْهَجِيرَ الَّتِي تَدْعُونَهَا الْأُولَى حِينَ تَدْحَضُ الشَّمْسُ

“Rasulullah melakukan shalat Hajirah (dzuhur) yang mereka menamakannya Al-Ula saat matahari condong”. [1]

Permulaan waktu dzuhur: yaitu ketika tergelincirnya matahari. Yaitu tergelincirnyamatahari dari tengah langit ke arah barat. Para ulama telah sepakat mengenai hal ini karenaterdapat hadist Rasulullah bahwa beliau shalat dzuhur ketika matahari tergelincir. Sebagaimana hadist riwayat Barzah tadi.

Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiallahu 'anhu, rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

وَقْتُ الظُّهْرِ إِذَا زَالَتِ الشَّمْسُ وَكَانَ ظِلُّ الرَّجُلِ كَطُولِهِ مَا لَمْ يَحْضُرِ الْعَصْرُ وَوَقْتُ الْعَصْرِ مَا لَمْ تَصْفَرَّ الشَّمْسُ وَوَقْتُ صَلاَةِ الْمَغْرِبِ مَا لَمْ يَغِبِ الشَّفَقُ وَوَقْتُ صَلاَةِ الْعِشَاءِ إِلَى نِصْفِ اللَّيْلِ الأَوْسَطِ وَوَقْتُ صَلاَةِ الصُّبْحِ مِنْ طُلُوعِ الْفَجْرِ مَا لَمْ تَطْلُعِ الشَّمْسُ فَإِذَا طَلَعَتِ الشَّمْسُ فَأَمْسِكْ عَنِ الصَّلاَةِ فَإِنَّهَا تَطْلُعُ بَيْنَ قَرْنَىْ شَيْطَانٍ

“Waktu dzuhur adalah apabila matahari telah tergelincir dan bayangan orang sama dengan bayangannya maka belum masuk ashar. Dan waktu ashar ketika matahari belum menguning. Waktu shalat maghrib adalah sebelum hilangnya syafaq (senja matahari). Dan waktu shalat isya’ (mulai hilangnya senja matahari) hingga setengah malam pertengahan. Dan waktu shalat shubuh adalah mulai terbitnya fajar hingga sebelum matahari terbit. Jika matahari telah terbit maka jangan melaksanakan shalat. Karena matahari itu terbit di antara kedua tanduk setan”. [2]

Akhir waktu dzuhur: para ulama berbeda pendapat mengenai hal ini. Pendapat yang paling benar bahwa akhir waktu dzuhur adalah panjang bayangan suatu benda sama dengan benda tersebut.[3] Jika bertambah maka telah masuk waktu shalat ashar. Ini mazhab jumhur ulama. Berbeda halnya dengan pendapat Abu Hanifah yang mengatakan akhir waktu shalat dzuhur adalah ketika panjang bayangan adalah dua kali penjang benda asli. [4]

Dalil-dalil yang digunakan oleh Jumhur ulama adalah sebagai berikut:

Hadist Ibnu ‘Umar radhiallahu 'anhuma di atas:

وَقْتُ الظُّهْرِ إِذَا زَالَتِ الشَّمْسُ وَكَانَ ظِلُّ الرَّجُلِ كَطُولِهِ مَا لَمْ يَحْضُرِ الْعَصْرُ

“Waktu dzuhur adalah jika matahari telah tergelincir dan bayangan orang sama dengan bayangannya maka belum masuk ashar”.

Hadist Jabir bin ‘Abdullah radhiallahu 'anhu :

خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصَلَّى الظُّهْرَ حِينَ زَالَتْ الشَّمْسُ وَكَانَ الْفَيْءُ قَدْرَ الشِّرَاكِ ثُمَّ صَلَّى الْعَصْرَ حِينَ كَانَ الْفَيْءُ قَدْرَ الشِّرَاكِ وَظِلِّ الرَّجُلِ ثُمَّ صَلَّى الْمَغْرِبَ حِينَ غَابَتْ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى الْعِشَاءَ حِينَ غَابَ الشَّفَقُ ثُمَّ صَلَّى الْفَجْرَ حِينَ طَلَعَ الْفَجْرُ ثُمَّ صَلَّى مِنْ الْغَدِ الظُّهْرَ حِينَ كَانَ الظِّلُّ طُولَ الرَّجُلِ ثُمَّ صَلَّى الْعَصْرَ حِينَ كَانَ ظِلُّ الرَّجُلِ مِثْلَيْهِ قَدْرَ مَا يَسِيرُ الرَّاكِبُ سَيْرَ الْعَنَقِ إِلَى ذِي الْحُلَيْفَةِ ثُمَّ صَلَّى الْمَغْرِبَ حِينَ غَابَتْ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى الْعِشَاءَ إِلَى ثُلُثِ اللَّيْلِ أَوْ نِصْفِ اللَّيْلِ شَكَّ زَيْدٌ ثُمَّ صَلَّى الْفَجْرَ فَأَسْفَرَ

“Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam keluar dan shalat dzuhur ketika mataharitergelincir dan bayangan setinggi tali sandal. Kemudian shalat ashar ketika bayangan setinggi tali sandal ditambah dengan bayangan setinggi orang. Kemudian shalat maghrib ketika matahari terbenam. Kemudian shalat isya’ ketika senja matahari menghilang. Kemudian shalat subuh ketika terbit fajar. Kemudian keesokan harinya beliau shalat dzuhur ketika bayangan setinggi orang. Kemudian shalat ashar ketika bayangan dua kali tinggi orang seukuran perjalanan penunggang unta ke dzil Halifah. Dan shalat maghrib ketika matahari terbenam. Lalu shalat isya’ hingga sepertiga malam atau pertengahan malam (Zaid ragu)kemudian beliau shalat subuh saat telah terang”.[1]

Besar kemungkinan Rasulullah selesai dari shalat dzuhur ketika panjang bayangan benda sama dengan aslinya. Jadi waktu shalat zuhur dan ashar tidak bersamaan. Keliru jika mengatakan bahwa shalat ashar ketika panjang bayangan benda sama dengan aslinya.[2] Tetapi masih terdapat waktu dzuhur empat rakaat boleh digunakan shalat ashar dan dzuhur sebagaimana yang dikatakan sebagian ulama.[3] Pendapat ini dikuatkan oleh hadist abu qatadah, ia berkata, rasul Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

إِنَّمَا التَّفْرِيطُ فِيمَنْ لَمْ يُصَلِّ الصَّلَاةَ حَتَّى يَجِيءَ وَقْتُ الصَّلَاةِ الْأُخْرَى

“Sesungguhnya yang menyepelekan adalah orang yang tidak shalat hingga datang waktu shalat yang lain”.[4]

Catatan tambahan : Boleh menggunakan hitungan dengan jam untuk mengetahui waktu shalat. Yaitu dengan cara menghitung waktu antara terbitnya matahari hingga terbenamnya. Sedangkan waktu dzuhur berada persis di tengah-tengahnya.

Disunnahkan mensegerakan shalat dzuhur di awal waktu. Dengan dasar hadist Jabir bin Samirah berkata: “Rasulullah shalat dzuhur jika matahari tergelincir”.[1] Yaitu tergelincir dari pertengahan langit ke arah barat. Juga hadist Abu Barzah di atas.

Disunnahkan mengakhirkan shalat dzuhur jika panas terik mataharibersangatan. Dari Anas bin Malik radhiallahu 'anhu berkata:

كَانَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - إِذَا اشْتَدَّ الْبَرْدُ بَكَّرَ بِالصَّلاَةِ، وَإِذَا اشْتَدَّ الْحَرُّ أَبْرَدَ بِالصَّلاَةِ

“Rasulullah jika cuaca sangat dingin beliau menyegerakan shalat dan jika terik sangat panas, beliau menunggu hinggi dingin untuk shalat”.[2]

كُنَّا مَعَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَأَرَادَ الْمُؤَذِّنُ أَنْ يُؤَذِّنَ الظُّهْرَ فَقَالَ « أَبْرِدْ ». ثُمَّ أَرَادَ أَنْ يُؤَذِّنَ فَقَالَ « أَبْرِدْ ». مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلاَثًا حَتَّى رَأَيْنَا فَىْءَ التُّلُولِ ثُمَّ قَالَ « إِنَّ شِدَّةَ الْحَرِّ مِنْ فَيْحِ جَهَنَّمَ فَإِذَا اشْتَدَّ الْحَرُّ فَأَبْرِدُوا بِالصَّلاَةِ

“Kami bersama Rasulullah kemudian seorang mu’min ingin adzan dzuhur maka Rasulullah bersabda: tunggu (sampai dingin). Kemudian orang itu ingin adzan. Rasulullah bersabda: tunggu (sampai dingin) beliau mengatakannya dua atau tiga kali hingga kita melihat bayangan bukit. Kemudian beliau bersabda: “sesungguhnya teriknya panas sebagian darihembusan Jahannam. Jika terik sangat panas maka tunggulah hingga dingin untuk shalat”.[3]

Ukuran menunggu hingga dingin adalah: yang benar adalah sesuai kondisi dengan syarat tidak sampai ke akhir waktu.

2. Shalat Ashar

Kata Ashar adalah sebutan untuk sore hari hingga matahari memerah. Yaitu akhir waktu siang. Sedangkan shalat ashar adalah shalat yang diwajibkan ketika masuk waktu ashar. Juga dinamakan Ash-Shalah Al-Wustha.

Awal waktu Ashar adalah apabila ukuran panjang bayangan benda sama dengan aslinya. Ini menurut jumhur ulama. berbeda dengan pendapat Abu Hanifah yang mengatakan bahwa awal waktu shalat ashar adalah ukuran panjang bayangan benda dua kali ukuran aslinya. Sedangkan dalil-dalil yang kami sebutkan di atas telah memperkuat pendapat jumhur ulama.[4]

Akhir waktu shalat Ashar: zahir hadist seakan terdapat pertentangan mengenai akhir waktu shalat ashar.

Dalam hadist riwayat Jabir saat Jibril menjadi Imam untuk Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam. Bahwa beliau shalat ashar di hari pertama ketika ukuran bayangan benda sama dengan aslinya. Di hari kedua ketika ukuran bayangan dua kali ukuran benda aslinya. Kemudian ia berkata: waktunya adalah di antara kedua waktu ini”. [1] Hal ini juga dikatakan oleh Imam Syafii akan tetapi ini hanya pada waktu ikhtiyar danpendapat Imam Malik dalam salah satu dari kedua riwayatnya.[2]

Dalam hadist riwayat Abdullah bin ‘Amr radhiallahu 'anhu yang diriwayatkan secara marfu’:

وَوَقْتُ الْعَصْرِ مَا لَمْ تَصْفَرَّ الشَّمْسُ

“Waktu shalat ashar adalah selama matahari belum memerah”.[3]

Ini juga dikatakan oleh Ahmad, Abu Tsur dan suatu riwayat dari Malik.[4]

Juga terdapat hadist riwayat Abu Musa dalam kisah seseorang yang bertanya tentang waktu shalat. Dalam hadist dikatakan: bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam shalat ashar di hari pertama saat matahari tinggi. Dan di hari kedua beliau mengakhirkan shalat dzuhur dan selesai shalat -ia mengatakan- matahari telah memerah”. [5]

Dalam hadist riwayat Abu Hurairah Radhiallahu 'anhu:

من أدْرك رَكْعَة من الْعَصْر قبل أَن تغرب الشَّمْس فقد أدْركَ العصرَ

“Siapa mendapatkan satu rakaat shalat ashar sebelum terbenamnya matahari maka ia telah mendapatkan shalat ashar”.[6]

Ishaq dan mazhab zhahiri mengatakan[7]: Akhir waktu shalat ashar adalah sebelum terbenamnya matahari seukuran satu rakaat.

Penulis berkata: setelah beberapa dalil di atas dikumpulkan maka menunjukkan bahwa Jibril menjelaskan waktu pilihan. Sedangkan hadist Ibnu ‘Amr menunjukkan waktu yang dibolehkan. Hadist Abu Hurairah menunjukkan waktu uzur dan terpaksa. Kita katakan: waktu akhir yang kita pilih adalah seukuran bayangan benda dua kali ukuran benda aslinya hingga matahari memerah. Dimakruhkan mengakhirkan shalat ashar setelah waktu tersebut jika tanpa uzur. Hal ini berdasarkan hadist Anasradhiallahu 'anhu:

تِلْكَ صَلَاةُ الْمُنَافِقِ جَلَسَ يَرْقُبُ صَلَاةَ الْعَصْرِ حَتَّى إِذَا كَانَتْ بَيْنَ قَرْنَيْ الشَّيْطَانِ قَامَ فَنَقَرَ أَرْبَعًا لَا يَذْكُرُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ فِيهَا إِلَّا قَلِيلًا

“Itu adalah shalat orang munafik. Duduk sambil menunggu shalat ashar hingga shalat ashar itu sampai di antara kedua tanduk setan, ia bediri dan rukuk empat kali dan tidak menyebut Allah Azza wa Jalla dalam shalat itu kecuali sedikit”.[8]

Jika terdapat uzur atau hal darurat maka boleh mengerjakan shalat ashar tanpa dimakruhkan saat sebelum tenggelamnya matahari seukuran satu rakaat. Wallahu A’lam.

Anjuran bersegera mengerjakan shalat ashar di awal waktu

Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiallahu 'anhu.

كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّي الْعَصْرَ وَالشَّمْسُ مُرْتَفِعَةٌ حَيَّةٌ، فَيَذْهَبُ الذَّاهِبُ إِلَى الْعَوَالِي فَيَأْتِيهِمْ وَالشَّمْسُ مُرْتَفِعَةٌ

“Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam shalat ashar saat matahari meninggi (di tengah langit) dan seserong pergi ke dataran tinggi dan sampai pada mereka saat matahari tinggi.”[1] Sebagian dataran tinggi berjarak empat mil dari Madinah.

Diriwayatkan dari Rafi’ bin Khudaij radhiallahu 'anhu, ia berkata:

كُنَّا نصلي الْعَصْر مَعَ رَسُول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ ثمَّ نَنْحَر الْجَزُور ، فتقسم عشر قسم ، فنأكل لَحْمًا نضيجاً ، قبل مغيب الشَّمْس

“Kami shalat ashar bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam kemudian kamimenyembelih hewan. Lalu kami membaginya menjadi sepuluh bagian. Kemudian kami memakan daging yang telah masak sebelum matahari terbenam”.[2]

Sangat dianjurkan untuk menyegerakan shalat ashar saat hari sedang mendung. Karena waktunya dapat membingungkan. Jika terdapat waktu luang maka mungkintelah habis waktunya atau matahari telah menguning sebelum melaksanakan shalat.

Diriwayatkan dari Abu Al-Mulaih ia berkata:

كُنَّا مَعَ بُرَيْدَةَ فِي غَزْوَةٍ ، فَقَالَ : بَكَّرُوْا بِصَلاَةِ الْعَصْرِ ؛ فَإِنَّ النَّبِيَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : « مَنْ تَرَكَ صَلاَةَ الْعَصْرِ حَبِطَ عَمَلُهُ

“Kami bersama Buraidah dalam suatu peperangan dan ia berkata: bersegeralah kalian shalat ashar. Karena Rasulullah bersabda: siapa meninggalkan shalat ashar maka sia-sialah amalannya”.[3]

Anjuran untuk menjaga shalat ashar dan ancaman bagi yang meninggalkannya.

Allah Subhanahu wata'ala berfirman:

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ

“Peliharalah semua shalat (mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa (ashar)”[4]

Shalat wustha yang dimaksud adalah shalat ashar menurut pendapat yang benar berdasarkan hadist Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam saat perang Ahzab:

شَغَلُونَا عَنِ الصَّلاَةِ الْوُسْطَى صَلاَةِ الْعَصْرِ

“Mereka telah menyibukkan kita dari shalat wusthaa: shalat ashar”.[1]

Diriwayatkan dari Abu Bashrah Al-Ghiffari radhiallahu 'anhu, ia berkata

صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعَصْرَ بِالْمُخَمَّصِ قَالَ إِنَّ هَذِهِ الصَّلَاةَ عُرِضَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ فَضَيَّعُوهَا وَمَنْ حَافَظَ عَلَيْهَا كَانَ لَهُ أَجْرُهُ مَرَّتَيْنِ وَلَا صَلَاةَ بَعْدَهَا حَتَّى يَطْلُعَ الشَّاهِدُ وَالشَّاهِدُ النَّجْمُ

“Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam shalat di Mukhammash lalu beliau bersabda: shalat ini telah ditunjukkan kepada orang-orang sebelum kalian dan mereka menyia-nyiakannya. Siapa yang menjaganya maka untuknya pahala dua kali lipat. Dan tidak ada shalat setelahnya sehingga terbit bintang”. [2]

Diriwayatkan dari Ammarah Bin Ruwaibah dari bapaknya, dia berkata, aku mendengar rasulullah bersabda:

لَنْ يَلِجَ النَّارَ أَحَدٌ صَلَّى قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا

“Tidak akan masuk neraka seseorang yang shalat sebelum terbitnya matahari dan sebelum terbenamnya”. (Yaitu shalat subuh dan ashar).[3]

Diriwayatkan dari Buraidah radhiallahu 'anhu, ia berkata:

بَكَّرُوْا بِصَلاَةِ الْعَصْرِ ؛ فَإِنَّ النَّبِيَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : « مَنْ تَرَكَ صَلاَةَ الْعَصْرِ حَبِطَ عَمَلُهُ

“Bersegeralah kalian shalat ashar. Karena Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: siapa meninggalkan shalat ashar maka sia-sialah amalannya”.

Ibnu Qayyim berkata:[4] “Hadist tersebut dengan jelas –Allah Subhanahu wata'alaMaha Tahu apa yang sebenarnya dikehendaki Rasul Shallallahu 'alaihi wasallam- bahwa meninggalkan shalat ada dua macam: pertama: meninggalkan semuanya dan selamanya tidak shalat. Ini yang menjadikan amalannya sia-sia. Dan yang kedua adalah meninggalkan shalat tertentu dan pada hari tertentu. Orang ini yang sia-sia adalah amalannya dihari itu. Jika dikatakan: bagaimana bisa amlan sia-sia tanpa adanya riddah (keluar dari Islam)? Maka jawabannya: ya, Al-Quran, Hadist dan perkataan shahabat telah mengatakan bahwa amal kejelekan dapat menghapus amal kebaikan. Sebagaimana amal baik dapat menghapus amal jelek. Allah Subhanahu wata'ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُم بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima)”.[1]

Juga firman Allah Subhanahu wata'ala berikut ini:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَن تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنتُمْ لَا تَشْعُرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak terhapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari”.[2]

Penulis berkata: Ini berlaku bagi orang yang menyia-nyiakan shalat dan meremehkan keutamaannya sementara ia mampu melaksanakannya. Wallahu A’lam.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar radhiallahu 'anhuma, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

الَّذِي تَفُوتُهُ صَلَاةُ الْعَصْرِ كَأَنَّمَا وُتِرَ أَهْلَهُ وَمَالَهُ

“Orang yang kehabisan waktu shalat ashar seperti orang yang kehilangan keluarga dan hartanya”.[3]

Atau seperti orang yang dirampas keluarga dan hartanya hingga seperti orang yang tidak memilki keluarga dan harta. Ini adalah perumpamaan bagi amalannya yang terhapus karena meninggalkan shalat ashar.[4] Bisa juga dikatakan makna hadist tersebut adalah: hendaknya seseorang berhati-hati agar tidak kehilangan shalat ashar sebagaimana ia berhati-hati agar tidak kehilangan keluarga dan hartanya.


Footnote;

[1] Hadits Riwayat: Al-Bukhari (349) dan Muslim (162) secara panjang.

[2] Al-Qur`an Surat: An-Nisaa: 103

[3] Al-Mishbah Al-Munir dan Al-Majmu’ (3/24) dan Al-Mughni (1/372)

[1] Hadits Riwayat: Al-Bukhari: 541)

[2] Hadits Riwayat: Muslim (612)

[3] Setiap sesuatu memiliki bayangan sebelum dzuhur. Kemudian panjang bayangan ini makin berkurang. Setelah itu bertambah. Saat bertambah ini waktu zawal. Yaitu awal mula waktu dzuhur. Jika panjang bayang-bayang ini bertambah hingga menyamai benda aslinya maka ini waktu akhir shalat dzuhur.

[4] Mawaahibul Jalil (1/382), Mughni al-Muhtaaj (1/121), Al-Mughni (1/371), Al-Ausath (2/327), Badaai’u ash-Shanaai’ (1/123) dan Al-Ashlu (1/144)

[1] Hadits Riwayat: An-Nasaai (1/261) dan lihat juga Al-Irwaa’ (1/270). Shahih.

[2] Nailul Authar (1/374)

[3] Imam Nawawi mengatakan dalam sharah Muslimnya bahwa pendapat ini adalah milik Imam Malik begitu juga yang beliau katakan dalam kitab “Bidaayatul Mujtahid (1/125) dari Malik. Yang dikatakan Ibnul Mundzir (2/327) bahwa Imam Malik mengatakan: “Waktu Dzuhur telah habis!!”. Hendaknya lebih dicermati.

[4] Hadits Riwayat: Al-Bukhari (595) dan Muslim (681) dalan hadist yang panjang.

[1] Hadits Riwayat: Muslim (618), Abu Daud (403) dan Ibnu Majah (673).

[2] Hadits Riwayat: Al-Bukhari (906). Hadist sejenis riwayat Al-Bukhari (534) dan Muslim dari Jabir (615).

[3] Hadits Riwayat: Al-Bukhari (539) dan Muslim (616)

[4] Jawaahirul Iklil (1/32), Mughnil Muhtaaj (1/121), Al-Mughni (1/375) dan Fathul Qadiir (1/195).

[1] Shahih. Telah kami sebutkan takhrijnya.

[2] Bidayatul Mujtahid (1/126) dan Al-Umm (1/73)

[3] Shahih. Sudah kami sebutkan takhrijnya di atas.

[4] Bidayatul Mujtahid (1/126), Al-Mughnii (1/376), Al-Ausath (2/331) dan mengatakan dalam masalah ini terdapat enam pendapat.

[5] Hadits Riwayat: Muslim (622), Abu Daud (409) dan An-Nasaai (1/260).

[6] Hadits Riwayat: Al-Bukhari (579) dan Muslim (163 dan 608)

[7] Bidayatul Mujtahid (1/126), Al-Ausath (2/332) dan Al-Muhalla.

[8] Hadits Riwayat: Muslim (622), Abu Daud (409), At-Tirmidzi (160) dan An-Nasaai (1/254).

[1] Hadits Riwayat: Al-Bukhari (550) dan Muslim (621).

[2] Hadits Riwayat: Al-Bukhari (2485) dan Muslim (625)

[3] Hadits Riwayat: Al-Bukhari (553) dan An-Nasaai (1/83) dan Ahmad (5/349).

[4] Al-Qur`an Surat: Al-Baqarah: 238

[1] Hadits Riwayat: Muslim (2931) dan Muslim (627) dengan lafadznya.

[2] Hadits Riwayat: Muslim (830)

[3] Hadits Riwayat: Muslim (634)

[4] Ash-Shalah wa Hukmu Tarikuhaa (43-44)

[1] Al-Qur`an Surat: Al-Baqarah: 264

[2] Al-Qur`an Surat: Al-Hujuraat: 2

[3] Hadits Riwayat: Al-Bukhari (552) dan Muslim (200 dan 626)

[4] Ash-Ashalah : Ibnu Qayyim (44)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama