Kisah Lengkap Kaum Tubba'

Fikroh.com - Ibnu Katsir menuturkan tentang kisah ini, Ibnu Ishaq berkata, “Pada suatu masa Yaman secara keseluruhan dikuasai oleh Hassan bin Tayyan As'ad Abu Karab. Tubba' adalah gelar bagi siapa yang menguasai seluruh negeri-negeri Yaman: Himyar, Saba', dan Hadhramaut. Gelar Tubba' tidak diberikan kepada seorang raja pun kecuali raja yang menguasai tiga wilayah Yaman tersebut. Dan, Tubba' yang dimaksudkan dalam Al-Qur'an adalah As'ad yang dikenal dengan kunyah Abu Karab. Kekuasaan As'ad ini terbilang besar. 

Abdul Malik menuturkan bahwa ia (Hassan bin Tayyan) datang ke Madinah. Dia membawa dua pendeta Yahudi ke Yaman. Dia memakmurkan Baitul Haram dan memberinya kiswah (kain penutup Ka'bah). Dia adalah raja Hijaz sebelum Rabi'ah bin Nashr berkuasa. Dia membuat jalan menujuMadinah sepulang melancarkan agresi militer ke negeri-negeri timur. Pada saat berangkat sebelum perang, ia sudah melintasi Madinah. Saat meninggalkan Madinah, ia meninggalkan anaknya untuk memimpin Madinah. Namun anaknya ini kemudian dibunuh. Kemudian ia datang ke Madinah dengan niat untuk menghancurkan kota tersebut, melenyapkan seluruh penduduk di sana, dan menebang pohon-pohon kurmanya. Mendengar hal itu, penduduk setempat dari kalangan kaum Anshar berkumpul untuk menghadapi raja Hassan bin Tayyan dengan dipimpin Amr bin Thalhah. 

Ibnu Ishaq menuturkan, “Ketika Tubba' (Hassan bin Tayyan) memerangi penduduk Madinah, tanpa diduga dua pendeta Yahudi dari Bani Quraizhah yang memiliki ilmu mendalam, datang menemui Tubba' ketika keduanya mendengar Tubba' hendak membinasakan Madinah dan penduduknya. Keduanya berkata kepada Tubba', 'Wahai Paduka Raja! Janganlah engkau melakukan niat itu. Jika engkau tetap bersikeras untuk melakukannya, kau pasti terhalang untuk melancarkan niat itu, dan kami tidak menjamin engkau tidak akan terkena azab. Tubba' bertanya kepada keduanya, “Mengapa bisa seperti itu?" Kedua pendeta itu memberikan jawaban, Kota ini adalah tempat hijrah seorang nabi yang akan muncul dari tanah Haram ini dari kaum Quraisy di akhir zaman nanti. Kota ini akan menjadi rumah dan tempat menetap baginya.” 

Tubba‘ akhirnya mengurungkan rencana untuk menyerang Madinah, dan tahu bahwa kedua pendeta Yahudi itu memiliki ilmu. Dia kagum mendengar penuturan keduanya. Akhirnya ia meninggalkan Madinah dan menganut agama kedua pendeta Yahudi itu. 

Ibnu Ishaq menuturkan bahwa Tubba' dan kaumnya adalah penyembah berhala. Tubba' suatu ketika bergerak menuju Mekah saat menempuh perjalanan menuju Yaman. Saat tiba di antara kawasan Asafan dan Amaj, sekelompok orang Hudzail datang menghampirinya. Mereka berkata kepadanya, “Wahai Paduka raja! Maukah kutunjukkan kepadamu tempat penyimpanan harta benda terbengkalai yang tidak disadari keberadaannya oleh raja-raja sebelummu? Di dalamnya terdapat mutiara, zabarjad, yaqut, emas dan perak. Tubba' menjawab, “Tentu saja." Mereka berkata, “Sebuah rumah di Mekah yang disembah penduduk setempat, dan mereka shalat di dekatnya.

Orang-orang Hudzail ini hanya bermaksud untuk membinasakan raja Tubba', karena mereka tahu raja-raja yang sebelumnya berbuat semena-mena di Baitullah pasti binasa. Ketika Tubba' bertekad untuk beraksi sesuai informasi yang disampaikan orang-orang Hudzail itu, ia mengirim utusan untuk menemui dua pendeta Yahudi, lalu menanyakan tentang hal itu. Keduanya memberikan penjelasan, “Mereka (orang-orang Hudzail) hanya bermaksud untuk membinasakanmu dan juga pasukanmu. Aku tidak mengetahui satu rumah pun yang dijadikan Allah di bumi ini untuk diri-Nya, selain rumah itu. Jika kau melancarkan aksi seperti yang diserukan (orang-orang Hudzail) itu, kau dan pasukanmu pasti akan binasa.' Tubba' kemudian bertanya, “Lantas apa yang kalian berdua perintahkan kepadaku jika aku datang ke rumah itu?’ Kedua pendapat menjawab, ‘Lakukan seperti yang dilakukan penduduk setempat: berthawaf mengelilingnya, mengagungkan dan memuliakannya, lalu kau mencukur rambutmu di dekatnya, dan tunduk untuknya sampai kau pergi meninggalkannya.” 

Raja Tubba' bertanya, “Lalu apa yang menghalangi kalian berdua untuk melakukan hal itu?’ Kedua pendeta menjawab, ‘Demi Allah, rumah itu adalah rumah ayah kami: Ibrahim, dan rumah itu seperti yang sudah aku sampaikan kepadamu. Namun penduduk setempat menghalangi kami dengan adanya berhala-berhala yang mereka pasang di sekitar rumah itu, dan dengan darah-darah yang mereka tumpahkan di dekatnya. Mereka orang-orang najis dan musyrik, atau kata-kata lain seperti yang diucapkan kedua pendeta tersebut. Dari alasan itu, Tubba' tahu kedua pendeta tersebut tulus, dan ia percaya pada kata-kata mereka berdua. 

Orang-orang dari Hudzail kemudian didatangkan, lalu tangan dan kaki mereka dipotong. Setelah itu Tubba' berangkat hingga tiba di Mekah lalu berthawaf di Baitullah, menyembelih hewan kurban di dekatnya, mencukur rambut, lalu singgah di Mekah selama enam hari. Menurut sumber yang ada, selama itu Tubba' menyembelih hewan untuk orang-orang, memberi makan penduduk setempat, dan memberi mereka madu. Dalam tidur, ia bermimpi memberikan kain penutup Baitullah. Dia kemudian menutup Baitullah dengan kain tebal. Setelah itu ia bermimpi memberikan penutup Baitullah dengan kain yang lebih baik dari itu. Dia kemudian menutupi Baitullah dengan kain ma'afir. Setelah itu ia bermimpi memberikan penutup Baitullah dengan kain yang lebih baik dari itu. Dia kemudian menutupi Baitullah dengan kain malla‘ dan washa‘il

Konon, Tubba’ adalah orang pertama yang memberi kain penutup Ka'bah. Dia memerintahkan para walikotanya dari Jurhum untuk merawat Baitullah, memerintahkan mereka untuk membersihkannya, jangan sampai ada darah yang ditumpahkan di dekatnya, jangan ada bangkai, atau pun wanita-wanita haid di dekatnya. Dia juga membuatkan pintu dan kunci untuk Baitullah. 

Terkait hal tersebut terdapat untaian bait syair: 

Wahai anakku! Janganlah engkau berbuat zalim di Mekah Baik terhadap anak kecil maupun orang dewasa 

jagalah kesucian-kesuciannya, wahai anakku! 

Dan jangan sampai si penipu itu (setan) memperdaya dirimu Anakku, Siapa berbuat zalim di Mekah 

Niscaya ia menemui berbagai keburukan 

Setelah itu dikatakan: 

Tubba' pernah menghampirinya 

lalu ia menutupi bangunannya dengan kain 

Dia menundukkan diri kepada Rabbku, Pemilik rumah itu 

Lalu ia memenuhi nazarnya 

Dia berjalan ke sana tanpa alas kaki 

Dan menyembelih dua ribu unta di halamannya 

Dia terus memberi makan penduduk setempat 

Dengan daging unta 

Memberi mereka minum madu murni 

Dan juga memberi mereka gandum yang bersih 

Ibnu Ishaq menuturkan bahwa setelah itu Tubba' berangkat menuju Yaman bersama rombongan pasukan dengan mengajak serta dua pendeta. Setelah memasuki Yaman. ia mengajak kaumnya memasuki agama baru yang ia anut. Namun mereka enggan memenuhi ajakannya, hingga mereka memperkarakan Tubba' ke api. Di Yaman-menurut penuturan penduduk setempat-ada api yang memutuskan perkara di antara mereka terkait segala persoalan yang mereka perselisihkan. Api ini konon melahap orang zalim dan tidak mengakui kezaliman. Akhirnya kaum Tubba' pergi dengan membawa patung dan apa yang mereka percaya! menurut keyakinan agama mereka. 

Sementara itu, kedua pendeta itu pergi dengan membawa kitab suci dengan dikalungkan ke leher sampai mereka semua duduk menantikan api tepat di tempat munculnya. Tidak lama setelah itu api muncul menghampiri mereka. Saat api datang menghampiri, mereka merasa takut. Tubba' kemudian memerintah semua yang hadir agar sabar menghadapi api yang datang, hingga akhirnya api meliputi mereka semua. Api kemudian melahap patung-patung dan apa pun yang mereka persembahkan. Setelah itu dua pendeta datang menghampiri dengan membawa kitab suci yang dikalungkan di leher mereka berdua dengan dahi dipenuhi keringat. Ternyata api tidak membahayakan kedua pendeta itu. Saat itulah penduduk Himyah bertepuk tangan mengakui agama kedua pendeta itu. Itulah awal-mula munculnya agama Yahudi di Yaman. Nabi bersabda, “Janganlah kalian mencela Tubba', karena ia telah masuk Islam.” 

As-Suhaili menyebutkan bait-bait syair yang ia nyatakan bersumber dari Tubba': Aku bersaksi untuk Ahmad bahwa ia Utusan dari Allah, Pencipta nyawa Andaikan aku berumur panjang hingga bertemu dengannya Tentu aku akan menjadi menteri dan sepupu baginya Aku akan memerangi musuh-musuhnya dengan pedang Dan aku akan melenyapkan sem ua kesedihan dari dadanya Kata-kata Tubba' ini riwayat di atas sahih-menunjukkan bahwa ia selamat dari kebinasaan. Mungkin Allah membinasakan kaumnya setelah ia meninggal dunia, atau ketika ia sedang pergi.

Pelajaran

  1. Manusia ibarat bahan tambang seperti emas dan perak: ada yang menerima kebaikan bahkan meski ia seorang raja. Dan ada juga yang memiliki bahan tambang buruk yang tidak menyerap kebaikan bahkan meski ia seorang fakir. Orang seperti ini tidak memahami bahwa: Kemuliaan itu milik Yang Mahamulia Dan siapa menyembah hamba, Allah pasti menghinakannya.
  2. Orang alim memiliki kelebihan atas seorang ayah. Karena seorang alim menjadi sebab keluarnya seseorang dari kegelapan menuju cahaya. Sedangkan seorang ayah menjadi sebab keluarnya seseorang dari ketiadaan menuju alam nyata.
  3. Siapa yang mengetahui tempat kembalinya yang sejati, niscaya ia mengontrol semua tutur kata dan tindakannya agar tidak terjerumus ke dalam kebinasaan. Sebab, tidak ada satu suku bangsa, individu, raja, atau pun kaum jelata yang selamat dari kematian. Berapa banyak kematian melipat umat dan kaum juga suku bangsa di bumi yang memiliki kemampuan hebat Berkelanalah ke berbagai negeri untuk melihat seperti apa kondisi mereka Sisa-sisa bangunan yang ada adalah berita bisu Berapa banyak orang besar runtuh setelah berlaku sewenang-wenang Dan terkubur di dalam tanah Sultan yang menjadi tempat kita berlindung, tetap tidak mencegah kematian Tidak juga anak-anak, prajurit, dan para pembela 

Demikian pula dokter atau pun segala upaya yang dilakukan. semuanya tetap tidak berguna ketika ajal telah tiba. Dengan pengobatan dan obatnya, dokter Tidak mampu menangkal nasib yang telah tiba Mengapa dokter mati karena penyakit Bukankah. semua yang pernah ia sembuhkan sebelumnya. Orang yang mengobati, yang diobati. Yang mendatangkan obat, yang menjual dan yang membelinya semua mati.

Sumber: Kitab Shahih Qishoshyl Qur'an, Syaikh DR. Hamid Ahmad Ath-Thahir

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama