Neraka Apa yang Paling Panas?


Fikroh.com - Sebagaimana dengan surga yang bertingkat-tingkat, maka neraka pun bertingkat-tingkat. Hanya saja tingkatan neraka ini kebawah, berbeda dengan surga yang tingkatannya ke atas, semakin besar karunia Allah yang diberikan atas jerih payah seorang hamba, maka semakin tinggi juga kedudukannya di jannah nanti. Begitu juga dengan neraka, semakin seorang hamba bermaksiat kepada Allah, maka semakin dalam tempat tinggalnya di neraka kelak. Hal ini diisyaratkan oleh Firman Allah Subhanahu wa Ta’alaa :

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الأسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka” (QS. An Nisaa` : 145).

Al-Imam ath-Thabari Rahimahullah dalam “tafsirnya” (IX/337-338) berkata :

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu berada di tingkatan yang paling bawah dari tingkatan-tingkatan Jahannam, setiap tingkatan Jahannam disebut “Darki”.

Asy-Syaikh Umar bin Sulaiman al-Asyqar Hafidzahullah dalam kitabnya “al-Jannah wa an-Naar” (hal. 25) mengatakan :

“Neraka itu bertingkat-tingkat dalam intensitas panasnya dan apa-apa yang Allah janjikan berupa azab kepada penghuninya, tidak dalam satu tingkatan saja. Allah Subhanahu wa Ta’alaa berfirman :

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka” (QS. An Nisaa` : 145).

Orang arab biasa memutlakkan kata “ad-Dark” untuk sesuatu yang menurun, sebagaimana mereka memutlakkan “ad-Daraja” untuk sesuatu yang meninggi. Maka dikatakan untuk Jannah itu berderajat-derajat, sedangkan untuk neraka berdarakat-darakat, semakin kebawah tingkatan neraka, maka akan semakin panas dan semakin nyala apinya” –selesai-.

Namun terkait berapa banyak tingkatan neraka, maka berdasarkan penelitian para ulama kita tidak ada satupun riwayat yang shahih yang terangkat kepada Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam yang menceritakan akan hal tersebut. Al-Imam Suyuthi dalam kitabnya “ad-Durul Mantsuur” (V/80-82) tatkala menyebutkan tafsir surat Al Hijr ayat ke-44 :

لَهَا سَبْعَة أَبْوَاب

“Jahannam itu mempunyai tujuh pintu”.

Beliau Rahimahullah menyebutkan dua atsar terkait penyebutkan nama-nama tingkatan neraka tersebut :

A. Atsar Shahabi Jaliil, penerjemah Al Qur`an, Abdullah bin Abbas Rodhiyallahu ‘anhumaa :

جَهَنَّم والسعير ولظى والحطمة وسقر والجحيم والهاوية وَهِي أَسْفَلهَا

“(tingkatan neraka) adalah Jahannam, as-Sa’iir, Lazhaa, al-Khuthomah, Saqar, al-Jahiim, dan al-Haawiyyah, ini adalah tingkatan yang paling rendah”.

Imam Suyuthi Rahimahullah menisbatkan atsar ini kepada Ibnu Abi Hatim. Memang benar Imam Ibnu Abi Hatim Rahimahullah memiliki kitab tafsir yang berisi riwayat-riwayat dari Nabi, shahabat, Tabi’in dan para Imam salaf lainnya seputar penafsiran ayat-ayat dalam Al Qur`an. Namun untuk atsar diatas, saya belum mendapatkannya dalam kitab tafsir Ibnu Abi Hatim secara bersanad, sehingga bisa kita ketahui nilai validitasnya.

B. Atsar Imam Ibnu Juraij Rahimahullah, beliau berkata :

أوّلها جَهَنَّم ثمَّ لظى ثمَّ الحطمة ثمَّ السعير ثمَّ سقر ثمَّ الْجَحِيم ثمَّ الهاوية والجحيم فِيهَا أَبُو جهل

“Tingkatan pertama adalah Jahannam, lalu Lazhaa, lalu al-Khuthomah, lalu as-Sa’iir, lalu Saqar, lalu al-Jahiim, dan terakhir al-Haawiyah. Al-Jahiim adalah tempat tinggalnya Abu Jahl berada”.

Atsar Ibnu Juraij diriwayatkan dengan sanad bersambung oleh beberapa ulama, seperti Imam ath-Thabari dan Imam Ibnu Abid Dunya dalam kitabnya “Sifat an-Naar” (no. 8), semua sanadnya bermuara kepada :

حَدَّثَنَا حَجَّاجٌ، قَالَ: قَالَ ابْنُ جُرَيْجٍ:

“Telah menceritakan kepada kami Hajjaaj ia berkata, Ibnu Juraij berkata : “al-Atsar”.

Al-Hajjaaj adalah Abu Muhammad al-Hajjaaj bin Muhammad al-A’war, beliau perowi yang tsiqoh dan tsabat, namun dikatakan oleh Al Hafidz Ibnu Hajar bahwa ia menjadi mukthalith (bercampur hapalannya) setelah berusia senja dan sejak kembali datang ke Baghdad. Namun al-‘Alamah al-Mu’alimiy al-Yamaaniy Rahimahullah memiliki pembahasan yang sangat bagus terkait justifikasi bahwa al-Hajjaaj ini sebagai perowi mukhtalith dalam kitabnya yang berfaedah yang berjudul “at-Tankiil”, singkat kata klaim bahwa al-Hajjaaj mukhtalith tidak bisa diterima begitu saja.

Adapun Ibnu Juraij adalah Abdul Malik bin Abdul Aziz bin Juraij (w. 150 H atau setelahnya), seorang Aimah yang masyhur yang sezaman dengan sighor Tabi’in. Oleh karena beliau tingkatannya adalah Tabi’in atau Atbaut Tabi’in, maka atsar ini dalam ilmu hadits disebut sebagai hadits maqtu’. Atsar ini shahih, dishahihkan oleh Imam Suyuthi dan selainnya, namun karena bukan hadits marfu’, sehingga tidak memiliki nilai hujjah yang bisa kita pastikan bahwa memang seperti itu, karena penyebutan tentang neraka adalah khabar ghoib, yang mau tidak mau pembenarannya adalah lewat wahyu Ilahiyyah.

Kemudian saya mendapatkan atsar yang selevel dengan atsar Imam Ibnu Juraij ini, yakni Imam Muqootil bin Sulaiman (w. 150 H) dalam kitab tafsirnya, beliau mengatakan :

لَها سَبْعَةُ أَبْوابٍ بعضها أسفل من بعض كل باب أشد حرا من الذي فوقه بسبعين جزءا بين كل بابين سبعين سنة أولها جهنم، ثم لظى، ثم الحطمة، ثم السعير، ثم الجحيم، ثم الهاوية، ثم سقر

“Neraka memiliki tujuh pintu, sebagiannya lebih rendah dari sebagian lainnya, setiap pintu sangat dahsyat panasnya….(tingkatan) yang pertama Jahannam, lalu Lazhaa, lalu al-Khuthomah, lalu as-Sa’iir, lalu al-Jahiim, lalu al-Haawiyyah lalu Saqar”.

Al-‘Alamah al-Aluusiy Rahimahullah telah mensinyalir akan kelemahan khobar yang menyebutkan tentang urutan tingkatan neraka ini dalam kitab tafsirnya yang berjudul “Ruuh al-Ma’aanniy” (VII/296), beliau berkata :

وذكر السهيلي في كتاب الاعلام أنه وقع في كتب الرقائق أسماء هذه الأبواب ولم ترد في أثر صحيح وظاهر القرآن والحديث يدل على أن منها ما هو من أوصاف النار

“As-Suhaily dalam kitabnya al-A’laam menyebutkan bahwa dalam kitab-kitab ar-Raqaa’iq terdapat penyebutan nama-nama pintu tersebut, namun tidak datang atsar shahih terkait hal tersebut, bahkan zhahirnya Al Qur`an dan al-Hadits menunjukkan bahwa nama-nama (tingkatan tersebut) adalah untuk sifat-sifat neraka”.

Beberapa ulama salaf juga menyebutkan siapa-siapa saja yang menghuni tingkatan tersebut, namun sekali lagi tanpa dilandasai atsar shahih yang terangkat kepada Nabi kita Sholallahu ‘alaihi wa Salaam. Oleh sebab itu, kesimpulan yang bagus disampaikan oleh asy-Syaikh al-Asyqor sebagaimana dalam kitabnya diatas :

“Tidak shahih pembagian manusia didalam neraka, sesuai dengan pembagian yang telah disebutkan, sebagaimana tidak shahihnya juga penamaan tingkatan-tingkatan neraka sebagaimana yang telah disebutkan. Yang benar masing-masing nama tersebut yaitu Jahannam, Lazhaa, al-Khuthomah dan seterusnya adalah nama untuk nama-nama neraka, bukan bagian tertentu dari neraka yang berbeda dengan yang lainnya dan yang benar manusia bertingkat-tingkat (siksaannya) sesuai dengan kadar kekufuran dan dosa-dosa mereka” -selesai-.

Maksud asy-Syaikh bahwa nama-nama yang diklaim sebagai tingkatan neraka adalah nama lain untuk menyebut neraka, sebagaimana Al Qur’an memiliki beberapa nama untuknya, misalnya Al-Furqaan, Al-Kitab dan selainnya, sehingga bukan berarti Al Furqan ini berbeda dengan Al Qur’an, namun itu adalah nama yang menunjukkan bahwa Al Qur’an memiliki sifat al-furqan yaitu pembeda antara kebenaran dengan kebatilan.

Abu Sa’id Neno Triyono

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama