Benarkah Gambar Avatar Hukumnya Haram?


Fikroh.com - Belakangan ini viral aplikasi Avatar Facebook. Banyak dari kalangan muslimin yang ikut menggunakannya. Rata-rata untuk sekedar hiburan alias seru-seruan saja. Jika kita berbicara dari sisi hukumnya, maka tidak akan lepas dari masalah hukum menggambar makhluk bernyawa. Kalau kita mengetahui hukum masalah ini, otomatis kita akan tahun hukum aplikasi Avatar. Karena jika kita perhatikan, di dalam aplikasi ini terdapat sebuah “proses” yang menghasilan gambar.

Para ulama berbeda pendapat dalam masalah hukum menggambar makhluk bernyawa menjadi tiga pendapat :

  1. Mengharamkan mutlak, baik digambar dengan tangan atau dengan alat seperti kamera, baik memilki bayangan atau tidak. Pendapat ini mengambil pendalilan dengan zahir dan keumuman dalil-dalil larangan yang datang dalam masalah ini.
  2. Diperinci, jika dibuat dengan tangan hukumnya haram, adapun jika dengan kamera maka boleh. Menurut pendapat ini, dalil-dalil yang melarang menggambar makhluk bernyawa, khusus untuk yang dibuat dengan tangan. Adapun yang dilakukan dengan kamera, maka hakikatnya bukan menggambar, tapi hanya menangkap bayangan dengan bantuan cahaya Matahari lalu dipindahkan ke obyek lain.
  3. Boleh secara mutlak, baik dibuat dengan tangan atau dengan kamera, baik tanpa bayangan ataupun dengan bayangan, selama tidak ada unsur-unsur pelanggaran syari’at di dalamnya seperti menampakkan aurat atau yang sejenisnya dan tidak untuk diagungkan secara melampaui batas yang akan mengarah kepada kesyirikan. Menurut pendapat ini, bahwa ‘illat (sebab) larangan dalam masalah ini adalah pengagungan yang melampaui batas yang akan menjadi wasilah kepada kesyirikan. Ketika ‘illat ada, maka hukum ada. Jika tidak ada, maka hukum juga tidak ada.

Demikian berbagai pendapat dalam masalah ini. Kesemuanya memiliki sisi istidal (pendalilan) yang cukup kuat (khilaf mu'tabar). Pendapat manapun yang kita ikuti, maka yakini dan amalkan dengan tetap menghormati pendapat yang lainnya. Masalah ini termasuk masalah khilafiyyah ijtihadiyyah, bukan masalah ushul (prinsip) agama. Tidak boleh dijadikan bahan untuk bertikai, apalagi untuk menyesatkan saudaranya sesama muslim. Demikian para ulama Salaf telah memberikan teladan kepada kita sekalian. Barakallahu fiikum jami’an. Wallahu a’lam.

Oleh : Ust. Abdullah Al-Jirani

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama