Tanda-tanda Masuk Waktu Maghrib dan Berakhirnya

Fikroh.com - Mengetahui waktu sholat sangat penting karena ini termasuk syarat wajibnya shalat. Diantara waktu shalat yang perlu kita ketahui adalah kapan masuk waktu shalat maghrib dan kapan berakhirnya. Untuk mendapat jawabannya simak ulasan di bawah ini.

Asal kata Maghrib

Asal kata maghrib adalah dari kata gharabat asy-syams; terbenamnya matahari. Dan menurut bahasa biasa disebut waktu dan tempat tenggelamnya matahari. Juga shalat yang dikerjakan pada waktu ini. [5] Kadang kata maghrib juga dipakai untuk waktu isya’. Akan tetapi sebutan ini kurang disukai karena hadist Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam yang terdapat dalam shahih Bukhari dan Muslim:

“Jangan sampai orang-orang Arab badui mempengaruhi kalian dalam menamai shalat maghrib. sebab Orang-orang badui mengatakan maghrib itu adalah isya’.

Awal waktu shalat maghrib: adalah saat matahari tenggelam dengan sempurna. Ini menurut ijma’ ulama. Hal ini akan tampak jelas di padang pasir. Sedangkan di daerah penduduk dapat diketahui dengan menghilangnya cahaya dari puncak gunung dan datangnya kegelapan serta terlihatnya bintang-bintang.[1]

Kapan waktu maghrib berakhir?

Akhir waktu Maghrib: ada dua pendapat ulama dalam hal ini:

Pendapat pertama: Maghrib mempunyai satu waktu saja. Setelah terbenamnya matahari seukuran seseorang bersuci lalu menutup auratnya, adzan dan mendirikan shalat. Ini adalah mazhab Imam Malik, Auzaa’i dan Imam Syafi’i. [2] Dalil yang mereka gunakan adalah hadist Jibril ‘alaihissalam yang menjadi Imam (telah kami sebutkan hadistnya). Bahwa Jibril Shalat maghrib di hari pertama dan kedua ketika matahari telah terbenam dalam waktu yang sama. Juga hadist yang diriwayatkan oleh Suwaid bin Ghaflah ia berkata: Aku mendengar umar bin Khathab berkata: shalatlah shalat ini (maghrib) saat matahari tenggelam.[3]

Pendapat kedua: Akhir waktu maghrib adalah sampai hilangnya syafaq: ini adalah pendapat Imam Tsauri, Ahmad, Ishaaq, Abu Tsuur, Ashabur ra’yi, sebagian pengikut syafi’i dan pendapat ini dibenarkan oleh Nawawi. Ibnu Mundzir juga memilih pendapat ini[4]. Ini adalah pendapat yang benar. Dalilnya adalah:

Hadist riwayat ‘Abdullah bin ‘Amr radhiallahu 'anhu, ia berkata, rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

وَوَقْتُ صَلاَةِ الْمَغْرِبِ مَا لَمْ يَغِبِ الشَّفَقُ

“Waktu shalat maghrib adalah sebelum hilangnya cahaya syafaq (senja matahari)”.

Hadist Abu Musa radhiallahu 'anhu yang menceritakan orang yang bertanya tentang waktu-waktu shalat. Dalam hadist tersebut disebutkan bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam shalat maghrib di hari pertama ketika matahari terbenam. Dan di hari kedua beliau mengakhirkan maghrib hingga ketika senja matahari hampir menghilang.

Juga hadist Zaid bin Tsabit radhiallahu 'anhu:

مَا لَك تقْرَأ فِي صَلَاة الْمغرب بقصار الْمفصل ؟ ! وَلَقَد رَأَيْت رَسُول الله - صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسلم - يقْرَأ فِي الْمغرب (بطولى الطولين) قَالَ : قلت : (فَمَا) طولى الطولتين ؟ قَالَ : الْأَعْرَاف)

“Mengapa kamu membaca surat-surat pendek dalam shalat maghrib? Aku telah melihat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam shalat maghrib dengan membaca Thulai Ath-Thulain. Ia berkata: apa itu Thulai Ath-Thulain? Ia menjawab: Yaitu Al-A’raaf”.[5]

Bacaan Shalat Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam adalah dengan tartil jelas setiap hurufnya dengan menyempurnakan ruku’ dan sujud. Hal ini menunjukan bahwa waktu maghrib panjang hingga hilangnya senja atau cahaya merah.

Hadist riwayat Anas bin Malik radhiallahu 'anhu, rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

إِذَا قُدِّمَ الْعَشَاءُ فَابْدَءُوا بِهِ قَبْلَ أَنْ تُصَلُّوا صَلاَةَ الْمَغْرِبِ، وَلاَ تَعْجَلُوا عَنْ عَشَائِكمْ

“Jika makan malam disajikan maka makanlah sebelum shalat maghrib dan jangan tergesa-gesa dengan shalat isya’mu”.[1]

Sedangkan hadits dalam redaksi aisyah radhiallahu 'anha :

“Apabila iqamah (untuk shalat) telah dikumandangkan sementara makan malam telah dihidangkan maka mulailah menyantap makan malam”[2]

Hadist ini dengan jelas menunjukkan bahwa boleh mengakhirkan shalat maghrib hingga selesai makan walau sudah masuk waktu maghrib.

Hadist Mu’adz radhiallahu 'anhu:

أنَّ مُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ كَانَ يُصَلِّي مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم الْمَغْرِبَ ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى قَوْمِهِ فَيَؤُمُّهُمْ

“Mu’adz bin Jabal shalat maghrib bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallamkemudian ia kembali ke kaumnya dan menjadi imam shalat mereka”.[3]

Disunnahkan Menyegerakan shalat Maghrib.

Diriwayatkan oleh rafi’ bin khudaij radhiallahu 'anhu berkata:

كُنَّا نُصَلِّي الْمَغْرِبَ مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَيَنْصَرِفُ أَحَدُنَا وَإِنَّهُ لَيُبْصِرُ مَوَاقِعَ نَبْلِهِ

“Kami shalat maghrib bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam, kemudian salah seorang dari kami pergi dan masih melihat tempat anak panahnya jatuh”.[4]

Diriwayatkan dari Uqbah Bin Amir radhiallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

لاَ تَزَالُ أُمَّتِى بِخَيْرٍ - أَوْ قَالَ عَلَى الْفِطْرَةِ - مَا لَمْ يُؤَخِّرُوا الْمَغْرِبَ إِلَى أَنْ تَشْتَبِكَ النُّجُومُ

“Umatku tetap dalam kebaikan selagi tidak mengakhirkan Maghrib hingga bintang-bintang bermunculan”.[5]

Demikian artikel tentang waktu shalat maghrib beserta dalil-dalilnya. Semoga bermanfaat bagi kita semua.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama