Hukum Shalat Sendirian Di Belakang Shaf Menurut 4 Madzhab


Fikroh.com - Makmum shalat jama’ah sebenarnya harus bershaf dengan lurus dan rapat seperti yang telah dijelaskan. Apabila makmum sendirian di belakang shaf jama’ah maka para ulama berbeda dalam tiga pendapat.

Pertama: Shalat makmum tersebut tidak sah. Ini pendapat Mazhab Imam Ahmad, Ishaq, an-Nakha’i, Ibnu Abi Syaibah dan Ibnu Mundzir. Mereka berdalil sebagai berikut:

Diriwayatkan dari ‘Ali bin Sya’ban radhiallahu 'anhuma ia berkata:

خَرَجْنَا حَتَّى قَدِمْنَا عَلَى النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم فَبَايَعْنَاهُ وَصَلَّيْنَا خَلْفَهُ ثُمَّ صَلَّيْنَا وَرَاءَهُ صَلاَةً أُخْرَى فَقَضَى الصَّلاَةَ فَرَأَى رَجُلاً فَرْدًا يُصَلِّى خَلْفَ الصَّفِّ. قَالَ: فَوَقَفَ عَلَيْهِ نَبِىُّ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم حِينَ انْصَرَفَ قَالَ: اسْتَقْبِلْ صَلاَتَكَ لاَ صَلاَةَ لِلَّذِى خَلْفَ الصَّفِّ.

“Kami keluar dan bertemu Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam dengan membai’atnya dan shalat berjama’ah dengannya. Pada waktu lain kami shalat di belakangnya dan beliau melihat laki-laki shalat di belakang shaf. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam berdiri di depannya ketika selesai shalat kemudian bersabda, “Ulangi shalatmu, karena tidak ada shalat di belakang shaf.” [Hadits Riwayat: Ibnu Majah (1003), Ahmad (4/23), Ibnu Hibban (2202). Shahih]

Diriwayatkan dari Wabishah bin Ma’bad radhiallahu 'anhuma :

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم رَأَى رَجُلاً صَلّى خَلْفَ الصَّفِّ وَحْدَهُ فَأَمَرَهُ أَنْ يُعِيدَ الصَّلاَةَ.

“Bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam melihat seorang laki-laki melaksanakan shalat sendiri dibelakang shaf kemudian Rasul Shallallahu 'alaihi wasallam menyuruhnya untuk mengulangi shalatnya.” [Hadits Riwayat: At-Tirmidzi (230,231)), Abu Daud (682), Ibnu Majah (1002), Ahmad (4/228), lihat “Al Irwa” (541). Shahih dengan jalur-jalurnya]

Mereka mengatakan bahwa apabila shalatnya tidak batal maka tidak ada perintah untuk mengulangi shalat karena perintah mengulangi shalat merupakan kewajiban dan taklif. Apabila shalatnya tidak batal maka Rasul Shallallahu 'alaihi wasallam tidak memerintahkan untuk mengulanginya.

Kedua: Shalatnya sah dan makruh apabila tidak ada uzur. Pendapat ini diungkapkan oleh Mazhab Abu Hanifah dan teman-temanya, Imam Malik, Auza’i dan Imam Syafi’i. [Al Badai’i (1/218), Mughnil Muhtaj (1/247), Jawahirul Iklil (1/80) dan Al Ausath (4/183).] dalil-dalil mereka adalah sebagai berikut.

Hadits Abu Bakrah radhiallahu 'anhu, bahwa ia mendatangi Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam ketika beliau sedang ruku’ sehingga ikut melakukan ruku’ sebelum sampai pada shaf. Lalu ia menceritakan ini kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam dan bersabda:

زَادَكَ اللَّهُ حِرْصًا وَلاَ تَعُدْ.

“Semoga Allah menambah semangatmu dan jangan mengulanginya.”[Hadits Riwayat: Al-Bukhari (783), Abu Daud (683), An-Nasa`i (3/118), Ahmad (5/39).]

Mereka mengatakan bahwa Abu bakrah datang di pertengahan shalat di belakangshaf dan tidak diperintahkan untuk mengulangi shalat. Larangan untuk mengulangi perbuatan tersebut seakan-akan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam menunjukan perbuatan yang lebih utama dengan dalil hadits riwayat Wabishah yang menunjukan bahwa perintah mengulangi shalat adalah sunnah. Ini menggabungkan dua dalil.

Mazhab pertama menjawab dalil diatas dengan mengatakan bahwa adanya kemungkinan menggabungkan dua dalil tersebut dengan pandangan lain [Fathul Bari (2/314), Majmu’ Al Fatawa (23/397)] yaitu hadits Abu Bakrah mengkhususkan mutlaknya hadits Wabishah. Siapa yang memulai shalat sendiri di belakang shaf kemudian bergabung dengan shaf sebelum berdiri dari ruku’ maka tidak wajib mengulangi shalat sesuai dengan hadits Abu Bakrah. Apabila tidak bergabung dalam shaf maka wajib mengulangi shalat sesuai dengan hadits Wabishah dan ‘Ali bin Syaiban.

Ketika Ibnu Abbas dipindahkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam dari sisi kiri ke samping kanan -seperti dalam hadits yang telah disebutkan- ia berdiri sedikit dibelakang Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam. Mereka berpendapat bahwa sesuatu yang banyak atau sedikit dapat menyebabkan batalnya shalat.

Dijawab: sama seperti hadits riwayat Abi Bakrah bahwa tidak mengapa melakukan shalat sendiri sebelum bergabung dengan shaf. 

Mereka mengartikan penafian yang terdapat dalam hadits, “Tidak ada shalat bagi orang yang shalat sendiri dibelakang shaf” dengan penafian yang sempurna bukan penafian sahnya shalat.

Dijawab: Bahwa hakekatnya penafian wujud dan hal ini tertolak, kemudian penafian kesahan. Apabila ada dalil yang menunjukan larangan penafian kesahan maka bisa menjadi penafian kesempurnaan. Pada hadits tersebut tidak ada dalil yang menunjukan larangan penafian kesahan dan ini tertolak dengan perintah Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam untuk mengulangi shalat.

Ummu Sulaim shalat sendiri di belakang shaf yang terdiri dari Anas dan anak yatim, mereka semua berjama’ah di belakang Rasulullah.

Dijawab: Bahwa dalil tersebut lemah untuk menguatkan pendapatnya karena wanita yang berdiri di belakang shaf laki-laki adalah sunnah dan makruh apabila berdiri bersama dengan shaf laki-laki, maka qiyas tersebut tidak benar. Wanita tersebut berdiri sendirian karena tidak ada seseorang yang dapat membentuk shaf. Apabila ada wanita lain maka bisa membentuk shaf. Jika tidak maka wanita tersebut hukumnya seperti laki-laki sendiri di belakang shaf. [Majmu’ Fatawa (23/395)]

Ketiga: Harus diperinci. Apabila shalat sendiri karena ada uzur maka shalatnya sah dan apabila tidak ada uzur maka batal shalatnya. Ini pendapat Hasan Bashri, Abu Hanifah dalam satu riwayatnya dan dipilih oleh Syaikhul islam dan muridnya yaitu Ibnu Qayyim kemudian di kuatkan oleh Ibnu ‘Utsaimin [Al Badai’I (1/218), Al Inshaf (2/289), Majmu’ Al Fatawa (23/396), ‘Ilamul Muwaqi’in (2/41), Tahzibu Sunan (2/266- Al ‘Aun) dan Al Mumti’ (4/383).]. Dalil mereka sama dengan pendapat kedua namun mereka mengatakan bahwa penafian kesahan hanya bisa terwujud apabila dengan melakukan hal yang haram atau meninggalkan yang wajib sedangkan kaidah mengatakan, “Bahwa tidak ada kewajiban bersama dengan ketidakmampuan”.

Penulis berkata: Pendapat ini merupakan pendapat yang adil, berikutnya pendapat yang pertama. Waalahu a’alam.

Pendapat : Terbesit di hatiku bahwa maksud dari hadits ”Tidak ada shalat bagi orang yang shalat sendirian di belakang shaf” adalah orang yang shalat di belakang shaf namun tidak ikut berjama’ah dengan imam oleh karena itu hadits ini tidak sulit difahami. Penulis tidak menemukan maksud seperti ini dari salafusshalih, aku tidak bisa menekankan pemahaman tersebut –meskipun sangat kuat kemungkinannya berdasarkan kalimat dan selaras dengan ushul syari’ah-. Waallahu a’alam.

Apa Yang Harus Dilakukan Oleh Orang Yang Baru Datang Dan Shaf Telah Sempurna?

Hendaknya menghindari shalat dibelakang shaf sebisa mungkin karena makruh menurut mayoritas ulama dan sah menurut Hanabilah.

1. Apabila ada celah di shaf akhir maka hendaknya menempatinya

2. Apabila menemukan celah di shaf pertama maka dia boleh melewati shafsebelumnya untuk menempati celah tersebut karena kesalahan mereka. Apabila tidak menemukan celah sama sekali maka berdiri disamping imam. Dalil ini telah disebutkan.

3. Apabila merasa kesulitan dan mengetahui ada orang lain akan datang membuat shafbersamanya maka shalat sendiri di belakang shaf.

4. Apabila tidak mengetahui ada orang lain untuk membuat shaf bersamanya maka apakah boleh menarik satu orang supaya membuat shaf bersamanya?

Ulama berselisih pendapat tentang hal ini. Mazhab Hanafiyah dalam satu riwayatnya, Mazhab Syafi’iyah, Mazhab Hanabilah, riwayat Atha’ dan an-Nakha’i mengatakan boleh melakukan hal tersebut karena keperluan. Ulama Syafi’iyah memberi syarat yakni harus memperoleh persetujuan dari orang yang ditarik untuk menghindari fitnah. Imam Ahmad dan Ishaq menyatakan tidak boleh menariknya.

Penulis berkata: Dalil yang membolehkan menarik seseorang dari shaf adalah sebagai berikut. Diriwayatkan dari Ubay Bin Ka’ab radhiallahu 'anhuma yang menarik laki-laki dan menempati tempatnya. Ketika selesai shalat ia berkata :

إِنَّ هَذَا عَهْدٌ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَيْنَا أَنْ نَلِيَهُ

“Bahwa hal ini merupakan pesan Rasul kepada kami untuk mengambil tempat di belakang imam”.[Shahih]

Namun hal ini tetap harus ada pertimbangan lain yang akan dibahas pada bab selanjutnya.

Imam Malik mengatakan bahwa dia seharusnya sendirian di belakang shaf karena menarik orang lain adalah makruh dan menganjurkan orang yang ditarik supaya menolaknya. Hal ini juga diungkapkan oleh al-Awza’i dan dipilih oleh Syaikhul Islam. Penarikan tersebut mengakibatkan hal-hal buruk sebagai berikut:

1. Mengganggu orang yang ditarik. Penarikan tersebut merupakan tindakan yang buruk karena memindahkan orang dari tempat yang afdhal.

2. Membuka celah di dalam shaf dan ada kemungkinan hal ini termasuk dalam ancaman memutus shaf.

3. Hal ini termasuk tindakan yang merugikan shaf karena mereka semua bergerak supaya menutup cela yang ada di dalam shaf.

Penulis berkata: Lebih baik adalah tidak menarik seseorang dan boleh shalat sendiri di belakang shaf karena ada uzur. Wallahu a’lam.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama