Hitungan Jumlah Rakaat Makmum Masbuq

Fikroh.com - Masbuq adalah istilah yang dipakai untuk menyebut orang yang tertinggal shalat berjamaah dari awal atau rakaat pertama. Lawan kata masbuq adalah muwafiq. Meski tetap memperoleh pahala berjamaah namun keutamaannya berkurang dibanding makmum muwafiq. Apa dan bagaimana status makmum masbuq? Ikuti penjelasan selengkapnya di bawah ini.

Menjadi ma'mum Masbuq dengan Mendapatkan Jama’ah bersama imam. Meskipun hanya satu rakaat terakhir. Mendapatkan jama’ah ada dua macam yaitu:

Mendapatkan keutamaan jama’ah yaitu dengan mengikuti imam walaupun sebentar seperti mengikutinya ketika duduk akhir sebelum salam. Pendapat ini diungkapakan oleh mayoritas ulam Hanafiyah, Hanabilah dan pendapat yang shahih menurut mazhab Syafi’iyah dan Malikiyah. [Ibnu ‘Abidin (1/483), Dasuqi (1/320), Mughnil Muhtaj (1/231), Kasyaful Qonna’ (1/460)]

Pendapat ini adalah mazhab yang shahih karena apabila tidak mendapat keutamaan jama’ah maka tidak diperintahkan untuk mengikutinya. Pendapat ini dikuatkan oleh sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam :

إِذَا سَمِعْتُمُ الإِقَامَةَ فَامْشُوا إِلَى الصَّلاَةِ ، وَعَلَيْكُمْ بِالسَّكِينَةِ وَالْوَقَارِ وَلاَ تُسْرِعُوا ، فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا.

“Apabila kalian mendengar iqamah maka berjalanlah ke masjid untuk shalat, hendaknya kalian berjalan dengan tenang dan tidak tergesa-gesa. Apabila kalian mendapati rakaat maka shalatlah dan apa yang tertinggal sempurnakanlah.” [Hadits Riwayat: Al-Bukhari (636) dan lainya telah disebutkan]

Dari seorang laki-laki penduduk Madinah dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bahwa beliau mendengar bunyi sandalku saat sujud, ketika selesai shalat beliau bersabda:

مَنْ هَذَا الَّذِي سَمِعْتُ خَفْقَ نَعْلِهِ؟» قَالَ: أَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: «فَمَا صَنَعْتَ؟» قَالَ: وَجَدَتُكَ سَاجِدًا فَسَجَدْتُ، فَقَالَ: «هَكَذَا فَاصْنَعُوا وَلَا تعْتدُّوا بِهَا، مَنْ وَجَدَنِي رَاكِعًا، أَوْ قَائِمًا، أَوْ سَاجِدًا، فَلْيَكُنْ مَعِي عَلَى حَالِي الَّتِي أَنَا عَلَيْهَا

“Siapa orangnya yang tadi aku mendengar suara sandalnya?, Ia menjawab, “Aku wahai Rasulullah, kemudian Rasul Shallallahu 'alaihi wasallam bertanya, “Apa yang kamu lakukan?, ia menjawab, “Aku menjumpaimu dalam keadaan sujud maka aku ikut sujud, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Seperti itulah sebaiknya kalian lakukan, namun jangan menganggapnya sebagai satu rakaat. Siapa yang mendapatiku dalam keadaan ruku’, berdiri atau sujud, hendaknya mengikuti keadaanku waktu itu.” [Hadits Riwayat: Ibnu Abi Syaibah (1/284) dengan sanad shahih dan mempunyai pengauat dalam At-Tirmidzi (591) dengan sanad yang dha’if dan hadits lain dalam Abu Daud]

Tetapi pahalanya berbeda dengan orang yang mengikuti imam sejak awal. Wallahu a’alam.

Mendapatkan hukum berjama’ah dan hal yang berkaitan dengannya.

Yang dimaksud adalah adanya hukum yang menyebabkan seseorang mengikuti imam seperti sujud sahwi karena imam lupa, shalat jum’at dua rakaat dan lainnya.

Mayoritas ulama menyatakan bahwa hukum shalat jama’ah hanya terjadi apabila mendapati satu rakaat yang sempurna bersama imam berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam :

مَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الصَّلاَةِ فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّلاَةَ.

“Siapa yang mendapati satu rakaat maka telah mendapati shalat.” [Shahih Muttafaq ‘Alaih dan telah disebutkan]

Pendapat ini adalah mazhab Malikiyah dan menjadi pilihan Syaikhul Islam. [Ad Dasuqi (1/320) dan Majmu’ Fatawa (23/330,331)]

Mendapatkan satu rakaat bersama Imam

Para ulama berbeda pendapat tentang ukuran yang sah mendapati rakaat bagi makmum untuk mengikuti imam dalam dua pendapat:

Pertama: Mendapati rakaat sempurna dengan mendapati ruku’ bersama imam. 

Pendapat ini dikemukakan oleh mayoritas ulama seperti empat imam dan lainnya. Pendapat ini juga dikuatkan oleh Ibnu Umar, Ibnu Mas’ud, Zaid Bin Tsabit dan sebagainya. [ Al Mabsuth (2/95), Fathul Qodir (1/483), Al Mudawwanah dan Al Um (1/135), Al Majmu’ (4/111), Al Mughni (1/299), Al Furu’ (1/587), Thorhut Tarstib (2/365) dan “Hukmu Man Adroka Ruku’” milik Shon’ani] Dalil-dalil mereka adalah sebagai berikut:

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

مَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الصَّلاَةِ فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّلاَةَ.

“Siapa yang mendapati satu rakaat shalat maka ia mendapati shalat.” [Hadits Riwayat: Al-Bukhari (570), Muslim (607)]

Mereka mengartikan kata (رَكْعَةً) sebagai ruku’. Pengertian ini dikuatkan oleh riwayat Ibnu Khuzaimah.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

مَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الصَّلاَةِ (قبل أن يقيم الإمام صلبه) فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّلاَةَ.

“Siapa yang mendapati satu rakaat shalat (sebelum imam meluruskan tulang punggungnya) maka ia mendapati shalat.” [Hadits Riwayat: Ibnu Khuzaimah (1595), Al-Baihaqi (2/89), Daruquthni (1/346), Al ‘Aqili dalam “Dhu’afa” (4/398) dan menjadikanya sebagai tambahan dari ucapan Az Zuhri, Al-Bukhari (47) dalam “Juz Qiroah” dari jalan yang sama tanpa tambahan tersebut. Munkar]

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallahu 'anhu secara marfu’:

إِذَا جِئْتُمْ إِلَى الصَّلاَةِ وَنَحْنُ سُجُودٌ فَاسْجُدُوا وَلاَ تَعُدُّوهَا شَيْئًا وَمَنْ أَدْرَكَ الرَّكْعَةَ فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّلاَةَ.

“Jika kalian datang untuk shalat sedangkan kami sedang sujud maka sujudlah dan jangan menganggapnya satu rakaat, siapa yang mendapati satu rakaat maka ia mendapati shalat.” [Hadits Riwayat: Abu Daud (893), Daruquthni (1/347), Hakim (1/216)]

Diriwayatkan dari Abu Bakrah radhiallahu 'anhu :

انْتَهَى إِلَى النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم وَهْوَ رَاكِعٌ ، فَرَكَعَ قَبْلَ أَنْ يَصِلَ إِلَى الصَّفِّ ، فَذَكَرَ ذَلِكَ لِلنَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ: زَادَكَ اللَّهُ حِرْصًا وَلاَ تَعُدْ.

“Ia mendapati Rasul Shallallahu 'alaihi wasallam dalam keadaan ruku’ lalu ia pun ruku’ sebelum sampai masuk ke shaf kemudian ia melaporkan hal tersebut kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam. Beliau bersabda, “Semoga Allah Subhanahu wata'ala menambah semangatmu dan jangan mengulanginya’.” [Hadits Riwayat: Al-Bukhari (783) dan lainya]

Mereka mengatakan bahwa hal tersebut sudah dianggap secara lahir dengan tidak ada perintah untuk mengulangi lagi dan tidak mungkin baginya untuk membaca Al Fatihah ketika itu. Adapun maksud kalimat “dan jangan mengulanginya” adalah larangan memulai shalat sebelum masuk ke dalam shaf.

Diriwayatkan dari Ibnu Umar Radhiallahu 'anhuma beliau berkata:

إِذَا جِئْتَ وَالْإِمَامُ رَاكِعٌ , فَوَضَعْتَ يَدَيْكَ عَلَى رُكْبَتَيْكَ قَبْلَ أَنْ يَرْفَعَ رَأْسَهُ فَقَدْ أَدْرَكْتَ

“Jika kamu datang ketika imam ruku’ maka taruhlah kedua tanganmu di kedua lututmu sebelum imam mengangkat kepalanya, maka kamu telah mendapati rakaat.” [Hadits Riwayat: Ibnu Abi Syaibah (1/243), Al-Baihaqi (2/90). Shahih sanadnya]

Diriwayatkan dari Zaid Bin Wahb radhiallahu 'anhuma ia berkata:

خَرَجْتُ مَعَ عَبْدِ اللَّهِ، مِنْ دَارِهِ إِلَى الْمَسْجِدِ، فَلَمَّا تَوَسَّطْنَا الْمَسْجِدَ رَكَعَ الْإِمَامُ، فَكَبَّرَ عَبْدُ اللَّهِ، ثُمَّ رَكَعَ وَرَكَعْتُ مَعَهُ، ثُمَّ مَشَيْنَا رَاكِعَيْنِ، حَتَّى انْتَهَيْنَا إِلَى الصَّفِّ، حَتَّى رَفَعَ الْقَوْمُ رُءُوسَهُمْ، قَالَ: فَلَمَّا قَضَى الْإِمَامُ الصَّلَاةَ قُمْتُ أَنَا، وَأَنَا أَرَى لَمْ أُدْرِكْ، فَأَخَذَ بِيَدِي عَبْدُ اللَّهِ فَأَجْلَسَنِي، وَقَالَ: «إِنَّكَ قَدْ أَدْرَكْتَ

“Aku keluar bersama ‘Abdullah Bin Mas’ud menuju masjid, ketika sampai di tengah masjid imam ruku’ seketika Abdullah bertakbir dan ruku’ sehingga akupun ikut ruku’ bersamanya. Kami berjalan menuju shaf sampai para makmum mengangkat kepala. Ketika imam selesai shalat, aku berdiri karena menurutku tidak mendapat satu rakaat namun Abdullah memegang tanganku dan menyuruhku duduk kemudian ia berkata: Kamu telah mendapatkan satu rakaat.” [Hadits Riwayat: Ibnu Abi Syaibah (1/255), At Thahawi (1/397), Al-Baihaqi (2/90). Sanadnya shahih]

Diriwayatkan dari Abu Umamah Bin Sahl radhiallahu 'anhuma ia berkata:

رَأَيْتُ زَيْدَ بْنَ ثَابِتٍ دَخَلَ الْمَسْجِدَ وَالنَّاسُ رُكُوعٌ , فَمَشَى حَتَّى إِذَا أَمْكَنَهُ أَنْ يَصِلَ إِلَى الصَّفِّ وَهُوَ رَاكِعٌ , كَبَّرَ فَرَكَعَ ثُمَّ دَبَّ وَهُوَ رَاكِعٌ حَتَّى وَصَلَ الصَّفَّ ثُمَّ يَعْتَدُّ بِهَا إِنْ وَصَلَ إِلَى الصَّفِّ أَوْ لَمْ يَصِلْ.

“Aku melihat Zaid Bin Tsabit masuk masjid saat makmum ruku’ kemudian berjalan untuk bergabung ke shaf dalam keadaan ruku’ akhirnya ia takbir, ruku’ dan merangkak dalam keadaan ruku sampai bergabung dengan shaf. [Hadits Riwayat: Ath Thahawi (1/398) pada riwayat pertama, Al-Baihaqi (2/91). Lihat Al Irwa (2/264). Shahih]

Dalam riwayat Kharijah Bin Zaid dengan lafal, “Kemudian menghitungnya satu rakaat baik sampai masuk ke shaf ataupun tidak.”

Kedua: Makmum yang tertinggal dan tidak membaca al-Fatihah di belakang imam maka tidak dianggap mendapat satu rakaat.

Ini merupakan pendapat Imam Al-Bukhari, Ibnu Hazm, Taqiyyudin Ash Shubki dari Syafi’iyyah. Pendapat ini dianggap lebih baik menurut Imam Syaukani, Imam al-Mu’allimi al-Yamani dan lainnya dalam Al Qira’ah Khalfal Imam (164), Al Muhalla (3/243), Nailul Authar (2/ ) Hal Yudrikul Makmum Ar Rak’ata (43), dalil-dalil mereka adalah sebagai berikut:

Sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam:

إِذَا سَمِعْتُمُ الإِقَامَةَ فَامْشُوا إِلَى الصَّلاَةِ ، وَعَلَيْكُمْ بِالسَّكِينَةِ وَالْوَقَارِ وَلاَ تُسْرِعُوا ، فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا.

“Apabila kalian mendengar iqamah maka berjalanlah menuju shalat, hendaklah kalian tenang dan jangan tergesa-gesa. Apabila kalian mendapati maka shalatlah dan apabila tertinggal maka sempurnakanlah.”

Mereka mengatakan bahwa siapa yang hanya mendapati ruku’ maka tidak mendapati berdiri dan membaca al-Fatihah sedangkan keduanya adalah fardhu yang tidak boleh ditinggalkan. Hal tersebut diperintahkan Rasulullah dengan mengqadha dan menyempurnakan sesuatu yang tertinggal. Karena itu tidak boleh mengkhususkan hal tersebut dengan sesuatu yang tidak ada nash dan tidak ada cara untuk mendapatkannya.

Adapun hadits, “Siapa yang mendapatkan rakaat maka ia telah mendapatkan shalat”adalah benar adanya namun maknanya melemahkan dalil mazhab yang pertama karena orang tersebut wajib mengulangi rakaat shalat yang tertinggal. Hal ini merupakan masalah yang tidak ada perselisihan diantara para ulama. Hadits tersebut bukan berarti bahwa orang yang mendapatkan ruku’ berarti mendapatkan rakaat.Penulis berkata: Mereka mengartikan kalimat “rakaat” dengan rakaat yang sempurna secara hakikat kalimatnya

Mengenai tambahan hadits “sebelum imam menegakan punggungnya” tidak shahih karena salah satu perawinya hanya menduga makna hadits “siapa yang mendapati imam ruku’ maka mendapati satu rakaat”. Karenanya tambahan ini adalah tafsir dalam dugaannya saja seperti yang diungkapkan oleh sebagian ulama bahwa tambahan ini berasal dari Az Zuhri.

Begitu juga dengan hadits “jika kalian datang shalat dan kami sedang bersujud” merupakan hadits dha’if tidak kuat dijadikan landasan hukum.

Tentang hadits yang diriwayatkan oleh Abu Bakrah juga tidak bisa menjadi dalil karena tidak menunjukan bahwa dirinya sudah memasuki rakaat dan tidak ada kewajiban untuk mengulanginya.

Adapun atsar sahabat bertentangan dengan perkataan Abu Hurairah “Bahwa tidak dihitung satu rakaat hinngga ia membaca al-Fatihah”. Dan pendapat sahabat tidak menjadi bantahan terhadap pendapat sebagian yang lain.

Pendapat Yang Rajih

Setelah meneliti beberapa dalil dari kedua mazhab penulis menemukan bahwa dalil-dalil mazhab pertama tidak bisa menenangkan hati untuk menggugurkan dua rukun dalam shalat yaitu berdiri dan membaca al-Fatihah. Asal suatu masalah adalah ketetapan dalil pada keumumannya dan tanggungan mengerjakan shalat dengan sempurna namun tidak bisa dipungkiri apabila pendapat sebagian sahabat dianggap cukup kuat untuk menenangkan hati. Namun penulis berpendapat seperti mazhab yang kedua. Menurut penulis apabila ada seseorang yang mendapati imam sedang ruku’ maka hendaknya menunggu sampai ia berdiri dari ruku’ kemudian masuk menjadi makmum bersamanya sehingga tidak mendapat satu rakaat. Hal ini untuk menghindari perselisihan dan lebih hati-hati dalam urusan agama.Wallahu a’lam.

Catatan Tambahan

Apakah boleh ruku’ sebelum masuk ke dalam shaf agar mendapatkan ruku’ bersama imam?

Telah dijelaskan sebelumnya bahwa Abu Bakrah ketika ruku’ diluar shaf dan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda kepadanya dalam hadits ini

زَادَكَ اللَّهُ حِرْصًا وَلاَ تَعُدْ.

“Semoga Allah menambah semangatmu, dan jangan kamu mengulanginya."

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam melarang untuk mengulangi ruku’ tanpa shaf.

Diriwayatkan dari Abdulllah Bin Zubair radhiallahu 'anhuma bahwa ia berkhutbah diatas mimbar dan berkata:

إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ وَالنَّاسُ رُكُوعٌ فَلْيَرْكَعْ حِينَ يَدْخُلُ، ثُمَّ لِيَدُبَّ رَاكِعًا حَتَّى يَدْخُلَ فِي الصَّفِّ؛ فَإِنَّ ذَلِكَ السُّنَّةُ

“Apabila kalian masuk masjid saat para jama’ah sedang ruku’ maka ikutlah ruku’ kemudian berjalanlah sambil ruku’ sampai bergabung dengan shaf karena sesungguhnya hal itu disunnahkan.” [Hadits Riwayat: Al Hakim (1/214), Ibnu Khuzaimah (1571), Al-Baihaqi (3/106) dari jalan Ibnu Juraij dan Atha’. Ibnu Juraij adalah seorang Mudallis dan meriwayatkan hadits ‘an’anah. sebagian ulama meriwayatkan Atha dengan bersambung sanadnya. Rawi tsiqah]

Ada sedikit kritikan terhadap sanad hadits tersebut dan para ulama berselisih pendapat tentang hadits marfu’ pada kalimat “itu disunnahkan”. Dalam keadaan apapun hadits ini tidak kuat menyanggah hadits yang diriwayatkan dari Abu Bakrah yang shahih walaupun hal ini sudah dilakukan oleh Ibnu Mas’ud dan lainnya tetapi ada juga yang melarangnya seperti, Abu Hurairah dan Ubay Bin Ka’ab Radhiallahu 'anhum.

Karena itu tindakan yang lebih utama adalah tidak melakukan ruku’ sebelum masuk ke dalam shaf karena adanya larangan yang kuat dan lemahnya dalil yang menyanggahnya.

فمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا.

“Apabila yang kalian dapati maka shalatlah dan apabila tertinggal maka sempurnakanlah.”

Apakah disyaratkan thuma’ninah ketika ruku’ untuk mendapatkan satu rakaat’? [Al Mubdi’ (2/48), Al Inshaf (2/224), Al Majmu’ (4/113)]

Sebagian ulama menyatakan bahwa disyaratkan bagi makmum untuk thuma’ninah ketika ruku’ bersama imam sebelum bangun dari ruku’ yang dianggap cukup. Sebagian besar ulama mengatakan bahwa satu rakaat bisa didapat dengan ruku’ apabila disertai thuma’ninah, sebagian ulama menganggap cukup dengan dengan ruku’ saja tanpa harus thuma’ninah.

Apabila makmum merasa ragu mendapatkan ruku’ bersama dengan imam.

Pendapat yang benar menyatakan bahwa makmum tidak mendapatkannya. [Al Inshaf (2/224), Al Majmu’ (4/114)] Ada juga sebagian ulama yang menyatakan bahwa hukum mendapatkan rakaat dengan mendapati ruku’ bersama imam adalah sebagai rukhsah karena itu harus ada keyakinan mendapatkannya.

Sebagian ulama mengatakan bahwa hal tersebut dianggap mendapat ruku’ karena imam sebenarnya masih dalam ruku’ dan merasa yakin bahwa ia masih belum bangun dari ruku’.

Apakah makmum dianggap cukup dengan satu takbir untuk mendapatkan ruku’?

Apabila mendapatkan imam dalam keadaan ruku’ maka makmum mengerjakan dengan satu takbir yaitu takbiratul ihram yang dianggap cukup mewakili takbir untuk ruku’, apabila melaksanakan dua takbir yaitu takbiratul ihram dan takbir untuk ruku’ maka hal tersebut lebih baik. [Al Inshaf (2/224), Al Majmu’ (4/112), Qawaid Ibnu Rajab (Al Qa’idah 18)]

Catatan tambahan:

Mengerjakan takbiratul ihram harus dalam keadaan berdiri, apabila melakukannya setelah badan membungkuk ruku’ maka tidaklah sah karena mengerjakan rukun bukan pada tempatnya. Dan berdiri adalah salah satu rukun shalat.

Apakah imam menunggu apabila mengira ada orang yang baru datang supaya ia mendapatkan ruku’ atau jama’ah?

Disyari’atkan bagi imam memperpanjang rakaat pertama dari rakaat kedua supaya jama’ah memperoleh rakaat pertama seperti yang pernah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam.

Diriwayatkan dari Abu Qatadah radhiallahu 'anhu :

أَنَّ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَقْرَأُ فِى الظُّهْرِ فِى الأُولَيَيْنِ بِأُمِّ الْكِتَابِ وَسُورَتَيْنِ ، وَفِى الرَّكْعَتَيْنِ الأُخْرَيَيْنِ بِفاتحة الكتاب ، وَيُسْمِعُنَا الآيَةَ أحيانا، وَيُطَوِّلُ فِى الرَّكْعَةِ الأُولَى مَا لاَ يُطَوِّلُ فِى الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ ، وَهَكَذَا فِى الْعَصْرِ وَهَكَذَا فِى الصُّبْحِ .فظننا أنه يدرك الناس الركعة الأولى.

“Bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam shalat zhuhur dengan membaca al-Fatihah serta surat lainnya pada dua rakaat pertama dan hanya membaca al-Fatihah pada dua rakaat terakhir, terkadang kami mendengar beliau membaca ayat, beliau memanjangkan rakaat pertama dari rakaat kedua. Begitu juga dengan shalat ashar dan shubuh, karena itu kami mengira bahwa beliau memberi kesempatan kepada para sahabat untuk memperoleh rakaat pertama.” [Hadits Riwayat: Al-Bukhari (776), Muslim (451), Abu Daud (798) dan tambahan darinya]

Diriwayatkan dari Abu Sa’id Radhiallahu 'anhu :

لَقَدْ كَانَتْ الصَلاَةُ تُقَامُ فَيَذْهَبُ الذَّاهِبُ إِلَى الْبَقِيعِ فَيَقْضِى حَاجَتَهُ ثُمَّ يَتَوَضَّأُ ثُمَّ يَأْتِى وَرَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِى الرَّكْعَةِ الأُولَى مِمَّا يُطَوِّلُهَا.

“Bahwa iqamah shalat telah dikumandangkan namun ada seseorang yang pergi menunaikan hajatnya kemudian berwudhu namun ia masih memperoleh rakaat pertama bersama Rasul Shallallahu 'alaihi wasallam yang dipanjangkannya.” [Hadits Riwayat: Muslim (454), An-Nasa`i (2/164), Ibnu Majah (825)]

Dari hadits tersebut sebagian ulama menyimpulkan bahwa apabila imam dalam keadaan ruku’ merasa ada orang yang baru datang maka hendaklah menunggunya supaya ia memperoleh rakaat namun dengan syarat makmum tidak merasa keberatan. Pendapat ini diungkapakan oleh Imam Syafi’i, Imam Ahmad dan Ishaq. [ Al Mughni (1/236), Nailul Authar (3/116)]

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama