Contoh Sifat yang Mencerminkan Kejujuran

Fikroh.com - Seorang muslim adalah orang yang jujur, mencintai kejujuran dan membiasakannya secara lahir dan batin, baik dalam perkataan maupun perbuatannya. Kejujuran itu membawa pada kebaikan dan kebajikan itu membawa ke surga, sedangkan surga itu tujuan akhir dan cita-cita tertinggi seorang muslim. Di sisi lain, dusta itu membawa pada kejahatan dan kejahatan itu membawa ke neraka, sedangkan neraka itu keburukan yang sangat ditakuti oleh seorang muslim. 

Seorang muslim menilai sifat jujur bukan sekedar akhlak yang mulia, akan tetapi lebih dari itu. Jujur adalah bagian tak terpisahkan dari pribadi seorang mukmin, karena jujur merupakan penyempurna keimanan.

"Berlaku jujurlah kalian, maka sesungguhnya kejujuran akan megantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka. Jika seseorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR Muslim)

Berikut ini adalah buah yang dapat di petik oleh orang yang jujur: 

1. Ketenteraman hati dan ketenangan jiwa.

Tidak ada keadaan yang paling disukai oleh setiap manusia kecuali hadirnya rasa tenang di dalam hatinya. Hidup dengan hati tenang tidak lebih berharga dari harta sebanyak apapun jua. Jujur kuncinya!

Rasulullah & bersabda:  

فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ 

Kejujuran itu adalah ketenangan.” 

2. Keberkahan dalam usaha dan bertambahnya kebaikan

Keberkahan adalah segalanya, setiap uasaha yang kita lakukan jika diberkahi akan besar manfaat yang dirasakan. Modal untuk meraih berkah adalah dengan jujur saat jual beli.

Rasulullah bersabda: 

البَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا، فَإِنْ صَدَقا وَبيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِي بَيْعِهِمَا، وَإِنْ كَتَمَا وَكَذَبَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا

“Penjual dan pembeli itu boleh memilih (dalam tempat akad) selama keduanya itu belum berpisah, jika keduanya itu jujur dan terus terang niscaya keduanya akan diberkahi dalam jual-belinya, tapi jika keduanya itu menyembunyikan (cacatnya) dan berdusta maka akan dicabut berkah jual-beli mereka berdua. ” (HR. Al-Bukhari: 3/76, 77, 84, 85) 

3. Mendapatkan kedudukan para syuhada.

Diantara buah kejujuran yang paling tinggi adalah meraih kedudukan syuhada di surga. Ditempatkan di tempat terbaik diantara para syuhada yang mulia.

Rasulullah bersabda: 

اللَّهِ ﷺ قَالَ: مَنْ سأَلَ اللَّه تَعَالَى الشَّهَادةَ بِصِدْقٍ بلَّغهُ اللهُ منَازِلَ الشُّهَداءِ وإنْ ماتَ على فِراشِهِ

“Barang siapa meminta mati syahid kepada Allah dengan jujur, niscaya Allah akan menyampaikannya pada kedudukan orang-orang yang syahid, meskipun dia meninggal di atas tempat tidurnya. ” (HR. Muslim: 157, kitab Al-Imarah) 

4. Selamat dari sesuatu yang tidak disukai. 

Pernah ada suatu kisah dimana ada seseorang yang kabur berlindung kepada salah seorang shaleh dan berkata kepadanya, “Sembunyikan aku dari orang yang mencariku.” Orang shaleh itu berkata kepadanya, “Tidurlah di sini.” Dia menutupinya dengan seikat daun kurma. 

Ketika orang-orang yang mencarinya itu datang dan menanyakan :entang orang yang dicarinya, orang shaleh itu berkata kepada mereka, “Di sini, di bawah daun kurma. ” Mereka mengira dia mengejeknya, lalu mereka meninggalkannya dan akhirnya orang yang sembunyi selmat karena kejujuran orang sholeh.

Contoh Penerapan Sifat Jujur

Kejujuran adalah akhlak yang akan tercermin dalam beberapa aspek kehidupan manusia. Karenanya jujur memiliki banyak aspek yang bisa dipraktekan oleh setiap individu. Diantara contoh cerminan sifat jujur adalah:

1. Jujur dalam berbicara. 

Hendaknya seorang muslim berkata jujur dan memberi kabar sesuai dengan kenyataan yang ada. Karena, berbicara dusta itu termasuk salah satu ciri-ciri perbuatan munafik. Rasulullah iix: bersabda: 

يَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ : إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

“Ciri-ciri orang munafik itu ada tiga: apabila berbicara dia berdusta, apabila berjanji dia mengingkari, dan apabila dipercaya dia berkhianat.” (HR. AlBukhari: 1/15, 3/236, Muslim: 107, 109, kitab Al-Iman, dan Imam Ahmad: 1/357) 

2. Jujur dalam bermuamalah. 

Apabila seorang muslim bermuamalah dengan orang lain, dia harus jujur dan tidak menipu, memanipulasi dan membuat kepalsuan dalam kondisi apapun. 

3. Jujur dalam tekad. 

Apabila seorang muslim bertekad mengerjakan sesuatu yang semestinya dikerjakannya, dia tidak ragu-ragu dan segera mengerjakannya, tidak melirik ke hal yang lain, sehingga pekerjaannya selesai. 

4. Jujur dalam berjanji. 

Apabila seorang muslim berjanji dengan orang lain, dia akan melaksanakan apa yang dia janjikan kepadanya. Karena, mengingkari janji termasuk salah satu ciri-ciri orang munafik, seperti yang telah disebutkan sebelumnya dalam hadits nabi. 

5. Jujur dalam keadaan. 

Seorang muslim tidak akan menampakkan sesuatu yang bukan aslinya, dan tidak memperlihatkan sesuatu yang berbeda dengan batinnya, tidak memakai baju palsu, tidak riya, dan tidak membebani dirinya dengan sesuatu yang tidak semestinya. Karena, Rasulullah bersabda: 

المُتَشَبِّعُ بِمَا لَمْ يُعْطَ كَلاَبِسِ ثَوْبَيْ زُورٍ

“Orang yang pura-pura kenyang dengan apa yang tidak diberikan kepadanya itu seperti orang yang memakai dua baju palsu.” (HR. Muslim: 126, 127 kitab Al Libas)

Dengan kata lain, orang yang berhias dan menampakkan keindahannya dengan sesuatu yang tidak dimilikinya agar terlihat sebagai orang kaya, ia laksana orang yang memakai dua baju usang agar terlihat zuhud, padahal dia bukan orang yang zuhud. 

Sebagian dari contoh sifat jujur yang luhur adalah sebagai berikut:

1. Menepati janji

Imam At-Tirmidzi meriwayatkan dari Abdullah bin Al-Hamsa berkata, “Aku pernah berbaiat kepada Rasulullah sebelum beliau diutus. Aku menjual suatu barang kepada beliau. Namun, barang tersebut masih kurang. Kemudian aku berjanji mengantarkan sisanya ke tempat beliau. Akan tetapi, aku lupa dan baru ingat tiga hari kemudian. Lalu, aku mendatangi beliau, ternyata beliau ada di tempat itu, beliau g, bersabda: 

يَا فَتًى لَقَدْ شَقَقْتَ عَلَيَّ أَنَا هَاهُنَا مُنْذُ ثَلَاثٍ أَنْتَظِرُكَ

“Wahai pemuda! engkau benar-benar telah menyusahkanku, aku ada di sini sejak tiga hari menunggumu.” 

Peristiwa di atas dialami oleh Rasulullah dan dialami pula oleh kakek beliau, Ismail bin Ibrahim Al-Khalil 3595492, sehingga Allah memujinya dalam Al-Qur'an dengan firman-Nya: 

“Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al-Qur'an. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan Dia adalah seorang Rasul dan Nabi. ” (Maryam [19]: 54) 

2. Jujur untuk menyampaikan kebenaran

Pada suatu hari Al-Hajjaj bin Yusuf sedang berkhutbah. Ia memanjangkan khutbahnya, lalu salah seorang yang hadir berkata, “Shalatlah! karena waktu itu tidak menunggumu, sedangkan Rabb itu tidak memberimu udzur.” Kemudian dia memerintahkan agar orang itu dipenjara, lalu kaumnya mendatanginya. 

Mereka menganggap orang itu sedang gila, lalu Al-Hajjaj berkata, “Jika dia mengaku gila, aku akan melepaskannya dari penjara.” Orang itu berkata,” Tidak pantas bagiku untuk mengingkari nikmat Allah yang telah diberikan kepadaku dan aku menetapkan bagi diriku sifat gila yang telah Allah bersihkan aku darinya." Ketika Al-Hajjaj melihatnya, dia membenarkannya dan membebaskannya. 

3. Jujur terhadap binatang

Imam Al-Bukhari meriwayatkan bahwa beliau pernah mencari hadits dari seorang laki-laki. Tiba-tiba beliau melihat kuda orang itu lari. Orang Itu menunjukkan pada kuda itu dengan sorbannya, seolah-olah di dalam sorban itu ada gandumnya. Lalu kuda itu mendekatinya, dan orang itu pun mengambil kembali kuda itu. Imam Al-Bukhéri bertanya, “Apakah padamu tadi ada gandum?” Orang itu menjawab, “Tidak, aku hanya mengiming-iminginya.” Setelah mendengar jawaban laki-laki tersebut, Imam Al-Bukhéri berkata, “Aku tidak akan mengambil hadits dari orang yang membohongi hewan.” 

Dalam sikap Al-Bukhari tersebut terdapat permisalan yang tinggi dalam merealisasikan kejujuran. 

Demikian penjelasan mengenai akhlak jujur yang diambil dari kitab Minhajul Muslim karya Syaikh Abu Bakar Al Jazairi. Semoga kita semua termasuk hamba-Nya yang jujur serta kelak kita dihimpun dalam barisan orang-orang jujur. Aamiin.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama