Fikroh.com - Hal-hal yang tentu saja sangat berbeda dengan keyakinan-keyakinan lain yang kosong dan menipu. Seperti keyakinan akan tebusan dosa, merasa menjadi manusia pilihan yang dikecualikan, janji syafaat orang suci atau pemberian sejumlah korban kepada sesembahan palsu. 

Semuanya berujung pada keyakinan akan adanya keringanan untuk berbuat sesuka hati tanpa harus susah payah membersihkan hati dan menambah amal shalih. Harapan untuk sukses tanpa kerja keras tentu sangatlah aneh bagi hati yang bersih dan akal yang sehat. 

Nilai Perlombaan

Surat al- Ashr mengajarkan kepada kita bahwa semua manusia berada di dalam kerugian, lengkap dengan sumpah Allah, demi waktu, untuk menegaskannya. Dan dikecualikan dari keadaan merugi ini, hamba-hamba Allah yang menyempurnakan kekuatan ilmiahnya dengan iman, dan kekuatan amaliahnya dengan amal shalih. Kemudian saling menyempurnakannya dengan berwasiat agar menetapi kebenaran dan kesabaran, agar terbebas dari kerugian yang nyata. 

Kesemuanya ini tidak akan diperoleh selain dengan menghadapkan diri secara utuh keoada Allah. Dengan kebersihan hati menerima petunjuk kebenaran berupa al Qur'an, seraya berusaha untuk memahami makna-maknanya, merenungi arahannya, mereguk manis perbendaharaannya, mencurahkan perhatian kepadanya, serta antusias untuk menerapkan hukum-hukum yang terkandung di dalamnya semaksimal mungkin. Karena kita percaya, inilah jalan lurus yang menjamin keselamatan dan kemaslahatan bagi kita, kini dan nanti. 

Inilah pula wilayah perlombaan, persaingan, dan kompetisi antar manusia yang jujur, sehat, dan adil, seadil-adilnya. Karena ia digantungkan kepada kualitas hati dan amal shalih. Tanpa memandang suku, bangsa, bahasa, bentuk tubuh, status sosial, kadar intelektualitas, atau seabreg penilaian primordial ‘duniawi’ yang lain. 

Qalbun Salim

Bermula dari hati yang bersih, kebaikan dan kesempurnaan seorang hamba akan menanjak perlahan menuju ufuk jiwa tanpa batas. Hingga ia menembus bahasa langit meski hamba ini berjalan-jalan di muka bumi. Sebab hati yang bersih akan membawa pemiliknya terbang tinggi berinteraksi dengan Sang Maha Tinggi. Ia juga disebut Qalbun Salim, kalbu yang sehat dan menyelamatkan, sebagai lawan dari sakit dan menyesatkan. Hal ini karena hanya hamba yang datang menghadap Allah dengan membawanya sajalah yang akan selamat. Sebagaimana Allah berfirman, 

“Pada hari yang harta dan anakanak tiada berguna, kecuali ( hamba) yang datang kepada Allah dengan qalbun salim (hati yang sehat).” (QS. Asy-Syu'ara': 88-89).

Qalbun salim adalah kalbu yang bernilai jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan harta dan anak-anak yang menjadi kebanggaan manusia di dunia. Sehingga upaya pembersihan, penyehatan, dan perwujudannya mestilah menjadi agenda pertama dan utama setiap manusia dalam menjalani hidupnya. Kalbu yang akan menjadi jiwa dari semua pilihan ibadah manusia kepada Allah. 

Untuk memandu proses perwujudan dan ' penjagaan qalbun salim ini, pertama yang harus kita lakukan adalah menyepakati definisi qalbun salim terlebih dahulu. Karena sesungguhnya, definisi atau ta'rif yang kita pilih dari sesuatu katalah yang akan membingkai setiap tahap perjalanan demi mewujudkannya. Termasuk memahami apa yang boleh dan tidak boleh, dan bilakah ia gagal atau berhasil. 

Muaranya Takwa 

Banyak ungkapan yang muncul berkenaan dengan arti qalbun salim. Ibnul Qayyim meringkasnya dengan sebuah definisi yang menyeluruh, yaitu hati yang terbebas dari setiap bentuk syahwat yang bertentangan dengan perintah dan larangan Allah, serta terbebas dari setiap syubhat yang bertetangan dengan kabar dari-Nya. 

Dari ta'rif ini, kita bisa memahami bahwa hati yang bersih atau qalbun salim itu adalah hati yang sukses berhubungan dengan Allah. Siap menerima kebenaran dan menjalankannya seperti apa yang dikehendaki oleh Sang Pembuat Kebenaran itu sendiri. 

Ia tidak sudi tunduk, patuh, atau mengabdi kepada selain-Nya. Ia juga enggan berhukum kepada selain Rasulullah &. Baginya, keridhaan Allah di atas segalanya. Ia akan meraihnya sebisa mungkin dengan segala daya upaya, dan menjauhinya sebisa mungkin dengan segala tenaga yang dipunyainya. Inilah sesungguhnya hakikat ibadah itu. Bukan hanya rangkaian gerakan tubuh tanpa ruh, olah raga tanpa jiwa. Semua itu tidak boleh dipersembahkan kepada siapa pun selain Allah Ta'ala. Dan, inilah Takwa!

Karena itu ia mengharamkan kesyirikan dengan segala bentuknya, dari yang nampak kecil dan sepele, hingga yang besar dan rumit; Karena ia faham, bahwa setiap bentuk kesyirikan, hakikatnya adalah cacat dan khianat atas aqidah dan ibadah. 

Syubhat dan Syahwat

Kegagalan manusia mewujudkan qalbun salim secara umum disebabkan oleh dua hal; syubhat dan syahwat. Artinya, hal yang menyebabkan manusia enggan menjadi hamba Allah yang sesungguhnya, adalah karena dua hal ini. Pertama ketika ia tidak memahami arahan, atau memahaminya secara salah. Hingga ia tidak menjalankan perintah dan menjauhi larangan, atau menjalankannya dengan bentuk yang menyimpang. Dan inilah yang disebut syubhat. 

Sedang yang kedua adalah masalah kegagalan menjalankan perintah Allah apa adanya karena benturan kepentingan. Selain menjadi tidak tulus karena khawatir mengalami kerugian, ia juga ingin meraih berbagai kepentingan yang lain. Akhirnya ia, mungkin, mengerj akannya dengan malas, atau dengan berbagai agenda milik sendiri yang tersembunyi. 

Hanya hati yang terbebas dari keduanya sajalah yang akan ringan melenggang menuju peribadatan yang sempurna. Tanpa syak wasangka dan penolakan. Ialah qalbun salim sejatinya. Semoga hati kita termasuk di dalamnya. Wallahu A'lam.

Sumber: Majalah Ar-risalah

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama