Fikroh.com - Tujuh belas Agustus tahun 1945, di Jakarta, Soekarno-Hatta atas nama Bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaan. Proklamasi ini disambut dengan penuh syukur dan gegap gempita oleh seluruh rakyat Indonesia di mana pun berada. Setelah ratusan tahun berada di bawah kungkungan penjajahan Belanda yang kemudian dilanjutkan oleh Jepang, akhirnya Bangsa Indonesia bisa merdeka, menentukan nasib mereka sendiri tanpa diatur oleh bangsa asing.

Namun kegembiraan itu tidak berlangsung lama. Penjajah Belanda, tidaklah mengakui kemerdekaan tersebut. Mereka pun ingin kembali ke nusantara untuk menjajah kembali Bangsa Indonesia. Dengan membonceng sekutu, satu persatu daerah Republik berusaha mereka kuasai.

Tak lepas dari incaran Belanda adalah Pulau Bangka. Sebuah pulau yang dikelilingi pantai indah serta dipenuhi berbagai kekayaan alam sebagai anugerah dari Allah Yang Maha Kuasa. Pada tanggal 11 Februari 1946, mendaratlah Belanda (NICA) yang membonceng sekutu di Pelabuhan Mentok setelah bertolak dari Singapura dengan kapal Racksand. 


Pendaratan ini tidak mengalami perlawanan dari TKR (Tentara Keamanaan Rakyat, cikal bakal TNI) Muntok karena beberapa alasan. Dari penuturan sejarawan Husnial Husin Abdullah, ketika itu TKR di Muntok tidaklah memiliki senjata api yang memadai. Ditambah lagi, kapal sekutu yang datang berbendera Inggris dan menyebutkan alasan kedatangan mereka adalah untuk melucuti tentara Jepang. Namun setelah mereka merasa aman, naiklah bendera Belanda, merah putih biru di gedung-gedung penting di Muntok, menunjukkan pemerintah kolonialis Belanda telah kembali mencengkramkan kekuasaannya di Pulau Bangka. Anggota TKR Muntok kemudian menyingkir ke luar kota bergabung dengan pejuang lainnya.

Belanda Hitam Mendominasi

Beberapa saksi mata menyebutkan bahwa pasukan Belanda ketika itu didominasi oleh Belanda Hitam (Londo Ireng). Belanda Hitam adalah sebutan bagi penduduk nusantara yang memilih bergabung bahkan menjadi loyalis penjajah Belanda. Mereka inilah yang kerap berhadapan dengan bangsanya sendiri bahkan terkadang mereka lebih sadis daripada Belanda yang berkulit putih.

Menuju Pangkalpinang

Tanpa menunggu lama, setelah berhasil menguasai Kota Muntok, Belanda langsung melanjutkan misinya untuk menguasai Pangkalpinang. Ada perbedaan penyebutan tanggal keberangkatan pasukan Belanda dari Muntok. Sejarawan Husnial Abdullah menyebutkan bahwa keberangkatan mereka pada tanggal 12 Februari 1946, sehari setelah tiba di Mentok.

Namun sejarawan Bangka Belitung, Ahmad Elfian menyebutkan bahwa keberangkatan pasukan Belanda tepat pada perayaan Maulid Nabi, tanggal 12 Rabiul Awal bertepatan dengan tanggal 14 Februari 1946. Wallahu a’lam, pendapat yang terakhir inilah yang tepat kalau kita coba cocokkan dengan kalender hijriyyah.

Menjelang tengah hari, diberangkatkanlah sekitar 30 truk berisi tentara dan amunisi. Belanda mengira perjalan mereka akan berlangsung mulus dan Pangkalpinang akan mudah dikuasai seperti Muntok. Tapi perkiraan mereka keliru. Di sepanjang jalan menuju Pangkalpinang, TKR dan rakyat bahu membahu membuat rintangan.

Di berbagai tempat, iringan truk tidak bisa meneruskan perjalanan. Serdadu-serdadu Belanda Hitam yang ada di atas truk terpaksa berlompatan turun untuk menyingkirkan rintangan-rintangan yang ada di sepanjang jalan.

Ketika melewati Kampung Puding Besar, TKR melancarkan serangan kepada mereka dari kanan dan kiri jalan. Walaupun jumlah personil dan persenjataan yang sangat kurang, penyerangan mendadak itu cukup membuat pasukan Belanda kalang kabut. Beberapa personil mereka menjadi korban serangan TKR.

Pasukan Belanda yang bersenjata lengkap kemudian membalas serangan TKR secara nonstop. Desingan peluru dari senjata otomatis mereka bagaikan hujan yang tercurah dari langit. Ini menyebabkan setelah terjadinya kontak senjata hampir satu jam, TKR terpaksa mundur dan kembali bersembunyi di hutan.

Diperkirakan ada enam orang di pihak Belanda. Sementara tercatat seorang pejuang bernama Haji Muhammad Nur gugur dalam serangan tersebut. Semoga Allah merahmati beliau, mengampuni dosanya dan memasukkan beliau ke dalam surga.

Pertempuran di KM 12

Setelah membalas dan mengusir TKR di Puding Besar, Belanda pun melanjutkan perjalannya menuju Kota Pangkalpinang. Ketika mereka akan memasuki Kampung Petaling, di KM. 12, iringan truk musuh terpaksa lagi harus berhenti karena terhalang oleh pohon-pohon kelapa, karet dan lain-lain yang bertebaran di tengah-tengah jalan.

Pasukan TKR Laut yang berjumlah kira-kira 20 orang di bawah pimpinan Amzah Aziz ternyata sejak kemarin sudah berada di Kampung Cengkong Abang dekat Kampung Petaling. Mereka berkumpul di rumah tokoh masyarakat yang bernama Haji Kadir. Berkumpul juga bersama mereka TKR dari Belinyu sebanyak 20 orang juga dengan 2 pucuk senapan mesin berat dan 20 pucuk karaben. Mereka dikenal dengan nama "Barisan Berani Mati".

Setelah pasukan TKR dapat laporan dari seorang penduduk yang bernama Kari bahwa Belanda sudah tiba dan sedang sibuk menyingkirkan rintangan, mereka pun bergegas menuju lokasi dan segera menembakkan peluru-peluru senapan mesin serta senapan karaben.

Belanda tidak siap menghadapi serangan ini. Puluhan Belanda Hitam bergelimpangan menjadi korban. Sambil menembak membabi buta, tentara-tentara NICA yang mengandalkan senjata mereka yang serba otomatis bertebaran berlari mencari tempat persembunyian di balik dan di bawah truk.

Qaddarallah, menurut penuturan komandan Amzah Aziz, di tengah pertempuran, salah satu senapan mesin rampasan dari Jepang yang diandalkan untuk menggempur musuh macet tak bisa berfungsi dengan normal. Hal ini disusul lagi dengan macetnya senapan mesin kedua. Sehingga serangan hanya tinggal mengandalkan senapan karaben.

Kesempatan baik ini benar-benar dimanfaatkan oleh musuh untuk membalas serangan TKR. Mereka kemudian menembakkan senjata-senjata mereka ke arah serangan pasukan TKR.

Pasukan TKR terpaksa mencari tempat perlindungan di balik pohon-pohon besar menanti kesempatan untuk membalas tembakan musuh. Namun serangan tentara NICA semakin intensif. Menyaksikan cukup banyak kawan mereka yang jadi korban, maka mereka pun dengan gencar melancarkan serangan balasan.

Setelah pihak TKR tidak dapat lagi memberikan perlawanan yang berarti, Saman Idris, Komandan TKR Belinyu memerintahkan pasukannya untuk mundur. Belanda pun kemudian menghentikan tembakan ke arah TKR dan mulai mengumpulkan mayat-mayat kawan mereka yang bergelimpangan.

Kedatangan TKR dari Pangkalpinang

Sekitar 10 menit setelah pertempuran selesai, tiba-tiba dari arah Pangkalpinang, datang sebuah mobil yang berisi 7 orang anggota TKR yang dipimpin oleh Kapten Munzir. Maksud kehadiran mereka di sana adalah untuk ikut membantu pasukan TKR yang sudah ada dan menyuplai amunisi. Mata pasukan Belanda melihat kedatangan mereka dari jauh. Tanpa diperintah, mereka yang masih dipenuhi kemarahan atas jatuhnya banyak korban segera menembaki mobil yang memasang bendera merah putih tersebut.

Diserang bertubi-tubi, pasukan TKR yang baru datang pun lari berpencar masuk ke dalam hutan. Kaki Kapten Munzir tertembak hingga cidera, tapi alhamdulillah beliau masih bisa meloloskan diri.

Setelah selesai mengumpulkan mayat-mayat dan menaikkannya ke dalam truk, iringan-iringan truk tentera Belanda kembali bergerak maju menuju arah Pangkalpinang. Saksi mata menyebutkan bahwa ada tiga buah truk yang mengangkut mayat-mayat kembali ke arah Muntok. Menunjukkan bahwa korban yang jatuh di kalangan mereka cukup signifikan.

Di sore harinya setelah pasukan Belanda dipastikan meninggalkan tempat pertempuran, rakyat bersama anggota-anggota TKR mulai menyisir bekas tempat pertempuran untuk mengumpulkan jenazah rekan-rekan mereka yang gugur dalam pertempuran. Ternyata ada dua belas pejuang yang gugur dalam pertempuran tersebut. Berikut nama pejuang tersebut sesuai yang disebutkan di monumen perjuangan pahlawan dua belas.

Enam orang di antaranya adalah TKR dari Belinyu seperti :

1. Suwandi Bungkel (di versi Husnial Husin disebut Suardi Marsam)

2. Abdus Somad Tolib

3. Adam Abdul Cholik

4. Salim Adok

5. Sulaiman Saimin, dan

6. Abdul Majid Gambang

Adapun yang enam orang lagi dari berasal dari Pangkalpinang dan sekitarnya. Mereka adalah:

1. Karto Saleh

2. Kamsem

3. Ali Samid

4. Sarimin Senen (di penelitian Husin disebut Samin Semin)

5. Apip Adi, dan

6. Jamak Asikin Jamaher.

Demikianlah kisah heroik perjuangan masyarakat Bangka dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Kisah ini merupakan salah satu fragmen yang menunjukkan bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan berlangsung di seluruh tempat di Indonesia. Ini menunjukkan pula perasaan senasib sepenanggungan, sebangsa dan setanah air yang demikian kokoh di antara rakyat Indonesia yang melahirkan persatuan serta semangat rela berkorban dalam berjuang.

Mudah-mudahan apa yang kami tulis ini bermanfaat bagi generasi muda Indonesia untuk lebih menghargai kemerdekaan dan mengisinya dengan hal-hal yang bermanfaat, teriring doa semoga Allah membalas pengorbanan para pejuang dengan balasan yang terbaik. Wallahu a’lam.


Ditulis oleh: Wira Mandiri Bachrun

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama