Notification

×

Iklan

Iklan

Siapa yang Lebih Berhak Menjadi Imam Tarawih, Yang Bagus Suaranya atau Banyak Hafalannya?

Rabu | Maret 18, 2026 WIB | 0 Views
Siapa yang Lebih Berhak Menjadi Imam Tarawih

Fikroh.com - Di bulan Ramadan, suasana masjid terasa lebih hidup dengan pelaksanaan shalat tarawih. Salah satu hal yang sering menjadi perhatian jamaah adalah siapa yang akan menjadi imam. Tidak jarang, pilihan jatuh kepada seseorang yang memiliki suara merdu dan bacaan yang indah. Namun, pertanyaannya: apakah suara merdu menjadi معيار utama dalam memilih imam, ataukah ilmu dan kefakihan yang lebih diutamakan?

Standar Imam dalam Perspektif Ulama


Seorang ulama besar dari mazhab Maliki, Ibnu Al-Hajj Al-Maliki rahimahullah, memberikan kritik tajam terhadap fenomena yang terjadi di tengah masyarakat. Beliau menyatakan bahwa:

“Sepatutnya imam dalam qiyam Ramadan adalah orang yang memiliki ilmu, kebaikan, dan agama yang baik. Tidak seperti yang dilakukan sebagian orang pada masa ini. Sebab, kebanyakan mereka justru mendahulukan seseorang karena bagus suaranya, bukan karena baik agamanya.”

Lebih lanjut, beliau menukil pernyataan tegas dari Imam Malik rahimahullah ketika melihat suatu kaum yang mengutamakan imam karena suara merdu:

“Sebenarnya mereka memajukannya agar ia bernyanyi untuk mereka.”

Pernyataan ini menunjukkan adanya peringatan keras agar ibadah tidak bergeser menjadi sekadar hiburan spiritual yang mengedepankan estetika semata, tanpa memperhatikan substansi syariat.

Urutan Prioritas dalam Memilih Imam

Dalam literatur fikih, para ulama telah menyusun kriteria yang sistematis tentang siapa yang paling berhak menjadi imam. Dalam kitab Al-Imtaa’ bi Syarh Matn Abi Syuja’, dijelaskan urutan sebagai berikut:

1. Yang paling fakih (afqah) — paling memahami hukum-hukum shalat dan agama

2. Yang paling banyak hafalan Al-Qur’an (aqra’)

3. Yang paling wara’ (paling menjaga diri dari hal syubhat)

4. Yang paling tua usianya

5. Yang paling baik nasabnya

6. Yang paling baik penyebutannya (fasih lisannya)

7. Yang paling bersih pakaiannya

8. Yang paling bagus suaranya

9. Yang paling baik akhlaknya

10. Yang paling baik penampilannya

Dari urutan tersebut, terlihat jelas bahwa suara merdu bukanlah prioritas utama, melainkan berada di urutan yang jauh setelah aspek ilmu, hafalan, dan ketakwaan.

Mengapa Kefakihan Didahulukan?

Kefakihan (kedalaman ilmu agama) sangat penting karena imam bukan hanya memimpin bacaan, tetapi juga memimpin ibadah secara keseluruhan. Seorang imam harus memahami:

  • Rukun dan syarat sah shalat
  • Hal-hal yang membatalkan shalat
  • Cara memperbaiki kesalahan (sujud sahwi, dll.)
  • Adab dan tuntunan dalam berjamaah

Tanpa ilmu yang memadai, seorang imam berpotensi melakukan kesalahan yang berdampak pada sah atau tidaknya shalat jamaah.

Indahnya Bacaan: Pelengkap, Bukan Penentu

Islam tidak menafikan keindahan suara. Bahkan, membaca Al-Qur’an dengan tartil dan suara yang baik adalah sesuatu yang dianjurkan. Namun, keindahan tersebut harus berada dalam koridor ilmu dan ketakwaan, bukan menggantikannya.

Suara merdu seharusnya menjadi nilai tambah (fadlilah), bukan dasar utama dalam menentukan imam.

Pengecualian: Imam Tetap Lebih Diutamakan

Perlu dicatat, jika dalam suatu masjid sudah memiliki imam tetap (rawatib), maka ia lebih berhak untuk menjadi imam, selama tidak ada uzur syar’i. Hal ini demi menjaga ketertiban dan adab dalam berjamaah.

Refleksi untuk Umat

Fenomena mengutamakan suara indah dalam memilih imam seringkali tidak disadari telah menggeser orientasi ibadah. Tarawih yang seharusnya menjadi momentum tadabbur dan penguatan iman, terkadang berubah menjadi ajang “menikmati lantunan”.

Padahal, tujuan utama shalat adalah khusyuk, benar secara syariat, dan mendekatkan diri kepada Allah.

Penutup

Memilih imam bukan sekadar soal siapa yang paling merdu suaranya, tetapi siapa yang paling layak memimpin ibadah di hadapan Allah. Ilmu, ketakwaan, dan kefakihan harus menjadi prioritas utama, sementara keindahan suara hanyalah pelengkap.

Semoga kita termasuk orang-orang yang menjaga kemurnian ibadah, tidak hanya indah di telinga, tetapi juga benar di sisi syariat dan diterima di sisi Allah Ta’ala.
×
Berita Terbaru Update